
"Clasy, apa yang kau lakukan?" tanya Max setelah berhasil keluar dari bekapan tangan wanita yang menindihnya. Saat suara Ros yang terdengar dari luar, Clasy yang awalnya masih menikmati perlakuan pria dibawahnya, terkejut ketika mendengar suara nyonya mudanya.
Tanpa pikir panjang dia langsung bergerak cepat untuk menyembunyikan diri dengan menyeret tangan Max.
Tapi dia tidak tau bersembunyi dimana, waktunya saja sangat sempit. Clasy lebih memilih bersembunyi di bawah selimut ranjang pasien. Dia menutup tubuh mereka berdua didalam selimut.
"Maaf Tuan, saya tadi hanya terkejut ketika mendengar suara nyonya. Saya takut nyonya melihat kita tadi," jawab Clasy sambil menunduk.
"Takut? Memangnya apa yang kita lakukan tadi?" tanya Max berdiri dari ranjang menuju sofa. Dia berpura-pura bodoh akan kejadian sebelumnya.
"Mmm, itu ...ta...di kita,, Tuan men...ci...."
"Apa kamu tidak ingin menjelaskan sesuatu pada Nyonya nanti?" Max memotong pembicaraan Clasy yang ingin membahas tingkah tak terduga Max tadi.
"Bagaimana jika istri tuan menceritakan kejadian tadi kepada tuan. Melihat tingkah nyonya yang seperti anak kecil, dia pasti bisa menjelaskan lebih detail bahkan menambahkan kronologi kejadian tadi," Max menabur garam di air laut.
Saat berada di sofa Max tidak bisa menahan diri dan langsung meraup bibir tipis wanita di depannya. Entah mengapa Max begitu tertarik dengan bibir wanita di depannya.
Hal yang sangat menarik bagi Max adalah, gerakan lidah wanita itu begitu masih begitu kaku dan tidak lihai.
Clasy tiba-tiba berdiri, dia lupa dengan wanita yang hampir melihat aktivitas mereka tadi. "Pasti Nyonya salah paham tadi," batin Clasy. "Apa yang harus ku lakukan," tanya Clasy pada Max. Yang ditanya hanya mengedikkan bahu tak peduli.
"Itu masalah mu. Aku rasa nyonya pasti mengira bahwa kita sedang berc*inta tadi," seru Max lagi-lagi membuat wanita di sana semakin khawatir. Namun wajah Max tidak berubah sedikit pun. Dia tetap datar tanpa ekspresi.
Hal itu tentu saja membuat Clasy semakin khawatir. Dia menggigit jarinya sambil berusaha memikirkan apa alasan yang harus ia katakan.
Sedangkan Max, dia beralih ke iPad di meja dan duduk di sofa. Ia kembali pura-pura fokus pada benda pipih besar itu namun sebenarnya perhatiannya teralihkan pada wanita disana.
Tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu ruang kerja Darren. Seorang pengawal berpakaian hitam nampak membuka pintu.
"Tuan Max, anda dipanggil oleh ketua ke ruangannya bersama dengan pelayan pribadi nyonya," seru pria itu dari pintu. Max mengangguk dan pria di pintu langsung keluar dan kembali ke tugas awalnya sebagai penjaga keamanan rumah sakit.
**
"Baby, ada apa sebenarnya?" tanya Dika heran melihat tingkah istrinya. Ros menarik napas panjang agar bisa menceritakan yang dilihatnya tadi di ruangan Darren.
"Tadi saat aku ke ruang kerja Darren, tidak sengaja aku..."
BAM
Tiba-tiba pintu di banting dengan keras membuat dua orang didalamnya terkejut bukan main. Orang itu adalah Darren yang sedang ngos-ngosan sambil melihat dua orang di sana.
Terlebih dahulu perhatiannya jatuh ke pria yang sedang duduk di tempat tidur dan yang kedua adalah wanita yang sedang berdiri tegak disana. Tidak ada tanda-tanda keadaan yang darurat.
"Ada apa Kakak ipar. Apa kepala mu sakit kembali?" Ros menggelengkan kepalanya dengan pelan karena heran melihat Darren seperti baru lari maraton.
"Apa kaki Rhadika mengalami pendarahan kembali?" Ros menggeleng juga. "So, why?" perasaan Darren mulai tidak enak melihat keadaan saat ini yang terlihat baik-baik saja.
Pikiran Ros langsung melayang pada kegiatan dua orang tadi. "Bukan tentang kami, tapi tentang ruang kerja mu. Saat aku ingin datang ke ruang kerjamu untuk meminta kursi roda, ada sesuatu yang terjadi di ruang kerja mu," seru Ros antusias.
Darren menghela napas panjang mendengar keadaan darurat yang membuatnya lari sekencang mungkin dari bangsal darurat tadi.
Bahkan bebrapa penghuni rumah sakit sempat heran melihat Darren tadi berlari dengan cepat di koridor rumah sakit. Saat melihat lift yang full, Darren langsung mencari jalan intas lain yaitu turun dari tangga darurat.
"Mengkin, pasien yang sakit jiwa tadi mengira aku adalah sahabatnya karena aku berlari tidak jelas dan tidak tentu tujuan," batin Darren sambil mengangguk-angguk kan kepalanya.
"Kakak ipar, kau tau, aku tadi menangani pasien yang hampir mati. Dan aku langsung bergegas mendengar kau mengatakan ada kondisi gawat darurat. Mau tidak mau aku harus mengutamakan keselamatan kalian karena ku kira kau atau Rhadika yang sakit," suara Darren terdengar marah namun dengan nada oktaf yang rendah.
Ros yang mendengar kemarahan Darren langsung menunduk. Dia merasa bersalah karena harus membuat Darren susah. Dia terlihat memilin-milin baju pasiennya.
"Maaf," serunya tanpa melihat ke arah Darren. Dia malah melihat suaminya seperti meminta perlindungan.
"Itu kesalahan mu Baby," jawab Dika santai tidak ingin terlibat dalam situasi itu. Darren yang melihat tingkah konyol sekaligus imut istri sahabatnya terkekeh dalam hati.
"Konyol, aku kan hanya bercanda. Wanita ini, pantas saja Rhadika si iblis ini jatuh cinta pada wanita kecil ini. Tidak egois dan penyayang," batin Darren.
Mendengar ucapan suaminya, Ros menatap tajam ke arah suaminya sekilas. Kemudian dia maju dan berjalan ke arah depan Darren dengan pelan.
Ros mengangkat tangan Darren dan menyalimnya seperti seorang anak yang menyalim orang tuanya jika bepergian. Ros lalu melepaskan tangan Darren dan kembali memilin-milin bajunya.
Dia meminta maaf ala anak kecil yang baru menyadari kesalahannya.
"Maafkan aku, tadi aku hanya ingin melaporkan kejadian tak senonoh di ruang kerja mu. Aku pikir itu tidak etis dan bisa merusak nama mu. Nanti orang mengira kau mengizinkan orang lain di ruang kerjamu melakukan hal tidak etis seperti itu."
"Darren, kau jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan breng*sek," Dika mengumpat di sana melihat dengan mudahnya pria itu bisa memegang tangan istrinya.
"Iblis dengan malaikat, sangat cocok," batin Darren. Dia abai mendengar umpatan sahabatnya. Dia ingin lanjut mengerjai wanita di depannya.
Ditengah perdebatan mereka, nampak Max dan Clasy memasuki ruangan. Clasy yang terlihat seperti ketakutan sedangkan Max santai dan slow seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya.
Clasy melihat sekitar ruangan. Terlihat nyonya muda nya seperti di sidang oleh dokter Darren. Clasy menarik napas. "Sepertinya nyonya tidak mengingat kejadian tadi. Mungkin ada kesalahan baru yang di lakukan oleh nyonya," batinnya. Sedangkan Max, dia mengernyitkan dahinya ketika melihat istri Rhadika itu takut-takut melihat Darren.
"Sepertinya ini akan lebih seru," batin Darren. "Apa menurut Kakak ipar itu lebih penting dibandingkan dengan nyawa orang yang ku tangani saat itu?" tanya Darren lagi.
Ros kembali merasa bersalah jika di kaitkan dengan nyawa seseorang kembali. "Maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi," ucap Ros mengangkat dua jarinya keatas lalu menunduk.
"Haha, seperti anak kecil saja," batin Darren namun wajahnya tetap sok cool. "Ya memang seharusnya. Jangan pernah bermain-main dengan ku. Aku adalah orang penting di rumah sakit ini" seru Darren di sana dengan angkuh.
BUG
Dika melemparkan sebuah botol kaca kecil ke arah Darren. Untungnya si pria jas putih bisa menghindar dan tidak terkena botol kaca itu.
"Aku saja tidak pernah melakukan itu pada istri ku. Kemari!" perintah Dika pada istrinya. Ros menurut dan menaiki ranjang. Dika memeluk erat sang istri.
"Sebenarnya apa yang kau lihat di ruang kerja Darren?" tanya Dika. Clasy yang mendengar itu langsung melotot matanya ke arah Ros. Ternyata akar perdebatan ini adalah dirinya dan pria di sampingnya.
Mendengar itu Ros kembali antusias. Dia benar-benar ingin mengatakan ini sejak tadi. "Tadi saat aku ingin ke ruang kerja Darren, aku melihat ada sepasang kekasih sedang saling menindih di dalam selimut di ranjang pasien Darren," jelas Ros.
"Apa mungkin kau mengetahui mereka siapa Darren. Tidak mungkin orang itu berani asal masuk keruangan mu. Atau mungkin wanita itu hamil dan mengidam ingin berhubungan dengan suaminya?" Ros mulai menerka-nerka.
"Wanita ini lebih cocok menjadi wanita halu. Atau sekalian saja dia jadi penulis novel," batin Dika.
Mendengar penjelasan Ros, Darren mengalihkan pandangannya ke arah Max, begitu juga dengan Dika. Siapa yang berani masuk ke dalam ruangan itu dan melakukan hal mesum disana. Dika sudah bisa menebak orang itu.
"Aku tidak tau, tapi mungkin atau bisa saja pria itu adalah pria bren*gsek yang tidak sabaran dan ingin melakukannya saat itu juga," jawab Darren melirik ke arah Max. Kapan lagi dia bisa meaki pria dingin yang tidak bisa dikalahkan olehnya.
"Jika saja nyonya tidak ada disini, sudah ku bunuh dokter sialan yang tidak berguna ini," batin Max menatap tajam ke arah Darren.
"Tapi mungkin saja wanita itu yang mengajak si pria. Atau wanita nya selalu berotak mesum," jawab Ros. Clasy yang mendengar itu menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak mencium tuan Darren duluan. Dia yang melakukannya dulu," batin Clasy.
"Clasy, kenapa kau menggelengkan kepala mu," tanya Ros ketika melihat pelayan pribadinya itu menggeleng- gelengkan kepala.
"Tidak, tidak Nyonya," Clasy semakin gugup dan itu semakin membuat Clasy semakin gugup. Sedangkan Max dia begitu sangat santai dan tidak peduli dengan keadaan yang merujuk padanya.
"Atau kita lihat saja rekaman CCTV," tanya Ros antusias. Wajah Clasy semakin memerah disana. Dia takut sekaligus malu jika tertangkap basah.
"Apaka kalian sudah selesai membahas masalah pasangan mesum itu? Aku sudah lapar," seru Dika menatap orang yang ada di ruangan itu.
"Baby, tolong beli bubur di kantin rumah sakit. Bolehkah?"
"Tentu saja." jawab Ros tersenyum. Masak itu tidak lebih penting dari kondisi suaminya saat ini.
Ros kemudian keluar bersama Clasy dan di ikut oleh pengawal anggota Ghost Lion.
Max tau kode yang di berikan oleh tuannya. "Ada apa?" tanya Max setelah melihat para perempuan keluar dari ruangan itu.
"Darren, tadi malam istriku merasakan sakit di bagian perutnya. Tidak terlalu berat, tapi aku mendengar istri ku meringis sambil memegang bagian perutnya," jelas Dika. Kini fokusnya adalah pada pria berjas putih yang duduk di sofa.
"Aku juga ingin menyampaikan ini pada mu. Selama satu minggu, kau tunda dulu melakukan hubungan suami istri dengan Kakak ipar. Benturan itu menyebabkan luka kecil di tuba falopi (Saluran rahim) istrimu. Aku sudah memeriksa lebih rinci kemarin," jelas Darren. Dia juga ingin menjelaskan ini, tapi dia belum menemukan waktu yang tepat.
"Sial, selama itu?" tanya Dika memastikan.
"Ya benar. Ingat, kendalikan diri mu. Jika kau memaksa itu akan menimbulkan robekan nantinya pada rahim istri mu." Tiba-tiba pintu terbuka, menampakkan seorang wanita disana.