
Seorang pria tua sedang membaca sebuah dokumen yang sudah sangat kotor dan berantakan. Dia membaca dan memastikan memperhatikan lekat tiap lembaran kertas itu.
Lama kelamaan ketika memeriksa lembaran per lembaran itu, wajah tuanya semakin marah. Dia melemparkan kertas itu ke sembarang arah.
Dia menggerakkan sendiri kursi roda yang sedang dia naiki. Pengawal yang sejak tadi berada disamping pria tua itu langsung bergerak dan membantu sang tuan.
"Kita keruangan bocah bodoh itu," perintah pria tua yang sedang duduk di kursi roda.
Tanpa mengetuk pintu, pria tua itu langsung masuk ke dalam ruangan dimana seorang pria disana sedang diberikan alkohol pada luka peluru yang bersarang di kakinya.
Peluru itu di ambil oleh salah satu anak buahnya. Namun pria itu bisa bertahan dan tidak mengeluarkan suara.
"Ada apa Dad?" tanya pria itu setelah peluru itu diangkat. Kini kakinya sedang di balut oleh perban.
"Berikan kertas sampah itu," perintah pria tua itu dengan marah. Thomas bingung mendengar perkataan daddynya.
Pria tua itu melempar kertas yang ada ditangannya ke wajah pria yang sedang terluka itu.
"Why Dad?" tanya pria itu. Emosinya sudah di ubun-ubun. Dia yang sudah bekerja keras dan hampir saja nyawanya hilang tapi tetap diperlakukan seperti ini. Siapa yang tidak marah?
"Apa kau tidak membaca surat itu dengan baik-baik. Gunakan matamu! Aku jauh-jauh dari tempat persembunyian ku datang karena berharap kau akan mendapatkan surat pemindahan kekuasaan itu, tapi hasilnya tetap nol. Semuanya sia-sia," marah pria tua itu.
"Apa maksudmu, Dad?" tanya Thomas tidak mengerti dengan pernyataan daddynya.
"Itu adalah surat palsu bekas tiruan bodoh! Kau memang benar-benar bodoh. Kau tidak memperhatikan isinya bodoh. Percuma saja, anggota kita banyak yang mati dan hasilnya tidak ada. Aku akan kembali, urus semuanya yang ada di sini. Bocah itu akan mencium jejak ku jika berlama-lama disini.
Dan ingat, berhati-hatilah, dia tidak akan membiarkan hidup mu lebih mudah mulai saat ini. Dan satu lagi, kurangi kebodohan mu" peringat pria tua itu.
Dia langsung keluar dan meninggalkan orang yang sedang kesakitan disana. Tidak ada basa basi untuk menanyakan keadaannya dan hanya fokus pada hasil saja.
"Bren*gsek kau Rhadika sialan," umpat Thomas membuang sembarangan kertas yang ada di tangannya itu.
"Bagaimana dengan sampel darah itu, apakah aman?" tanya Thomas pada salah satu pengawal yang ada di sana.
"Maaf Tuan, kantong darah itu sudah berada di tangan sahabat ketua Black Sky. Sepertinya mereka dipandu oleh adik dari ketua mereka."
"Sial, bagaimana dengan Maro? Apakah dia selamat?" tanya Thomas kembali.
"Maro mengalami beberapa luka yang serius Tuan. Dia mendapatkan beberapa luka tembakan. Dia sedang berada di ruang perawatan markas."
"Sh*it, apa ada laporan dari anggota kita yang mencari kedua pria itu?" Pengawal itu hanya menggelengkan kepalanya pertanda bahwa tidak ada yang memberikan kabar apapun.
Dengan amarah bercampur kesal, Thomas memukul dinding yang berada disamping ranjangnya. "Tidak ada yang berhasil satupun," seru pria itu. Sekarang identitasnya sudah diketahui oleh musuhnya, akan sangat sulit bergerak mengingat siapa pemimpin dari klan musuhnya.
**
"Bagaimana sudah ada jaringan?" teriak seorang pria di bawah sana. Pria yang sedang memanjat pohon yang sudah hampir sepuluh puluh meter itu sangat kesal mendengar suara teriakan bercampur tekanan itu. Dia diam dan kembali melakukan aktivitas melelahkannya. Dia menaikkan benda yang ada ditangannya.
Dia senang bukan main, satu garis sudah mulai nampak di benda yang seperti jam tangan itu. Itu adalah milik Rhadika, namun dia lah yang harus berjuang. Gelang kode darurat miliknya jatuh entah dimana.
"Sialan si bren*gsek Thomas itu, jika dia tidak memutuskan jaringan internet di daerah ini aku tidak perlu melakukan hal seperti ini," batin pria yang sedang memanjat pohon yang sangat panjang kesamping itu.
Dia melihat ke arah bawah. "Oh Sh*it, kenapa aku memanjat sangat tinggi?" pria itu berbicara sendiri dan mempererat pegangannya di barang pohon.
"No, aku tidak ingin naik lagi," seru pria itu. Lagi-lagi dia melihat ke bawah. Sebenarnya dia sudah biasa jatuh dari ketinggian seperti ini, bahkan lebih. Tapi ini bukanlah misi yang seperti biasa yang harus ia lakukan.
"Oh God, aku tidak berani lagi," seru pria itu. Jiwa seorang mafianya hilang entah kemana digantikan oleh rasa takut yang tidak biasanya dan tidak lazim di rasakan oleh seorang mafia.
Dengan memperkuat mental dan nyali, Max berusaha memanjat lebih tinggi dan lebih ujung lagi. Max berusaha sekuat tenaga.
Jaringan kembali ia dapatkan dengan jaringan full. Dia senang bukan main. Setelah menekan tombol merah di jam tangan itu, Max turun dengan hati-hati.
Sedangkan Dika sudah memegang ponselnya. Dia sudah mendapatkan jaringan sebelum dia berteriak memanggil Max. Bahkan dia sudah memberikan titik koordinat tentang keberadaannya kepada Odion, tapi Dika melarang memberitahukan keberadaannya kepada adik dan istrinya.
Setelah memberikan titik koordinat keberadaannya, Dika mengalihkan ponselnya ke bagian pencarian tentang kabar perusahaannya. Informasi kosong dan tidak ada isu apapun.
Kemudian dia beralih ke pasar saham perusahaannya. Stabil dan tidak terganggu.
"Tidak percuma aku memaksa bocah besar itu untuk belajar tentang perusahaan," batin Dika. Ditengah keseriusan pria itu memegang ponselnya dia mendengar suara ranting yang patah dan teriakan seseorang.
Dika mengalihkan tatapannya ke posisi Max, namun dia mencoba berdiri meskipun di kakinya ada sebuah kayu runcing yang sedang menancap.
Saat bom itu dilemparkan ke arah Dika dan Max, kedua pria itu spontan melompat ke balik pohon yang berada di samping mereka, namun sialnya kaki Rhadika tepat menancap pada pohon kecil yang sudah mati namun ujungnya runcing.
Terpaksa Max, harus mencabut akar pohon itu, karena jika dipaksa darah akan berembes keluar dari kaki Rhadika. Jika dipaksa, Rhadika akan kehabisan darah sebelum sampai di rumah sakit. Dan juga persiapan Max dan ketua Black Sky itu tidak ada sama sekali untuk pertolongan pertama.
Ketika para pria suruhan entah siapa, hanya Max lah yang harus berjuang untuk melawan para pria itu. Sedangkan Rhadika di ungsikan oleh Max ke tempat yang lebih aman dan tidak terlihat oleh musuh. Max dengan mudahnya membabat habis lawan yang menghadang jalan mereka.
Setelah menempuh jalan yang jauh dengan menopang Rhadika, mereka akhirnya sampai di puncak gunung itu. Lagi-lagi Max lah yang harus bekerja sendirian untuk mencari jaringan internet agar bisa menghubungi bagian Markas.
"Sshhh," desisnya ketika dia berusaha untuk berdiri dengan batang pohon sebagai tumpuannya.
"Max, where are you?" teriak Dika.
"I"m here. Aku ingin jatuh Rhadika sialan dan kau dengan santainya disana?" teriak Max emosi. Sekarang dia bergelantungan dengan kedua tangannya. Jurang di bawahnya saja tidak terlihat. Jika jatuh, dapat di pastikan nyawanya akan melayang.
"Cepatlah Max, apa kau mau kita bermalam dua hari disini?" teriak Dika dari tempatnya.
"Rhadika sialan, kau memang tidak memiliki otak," teriak Max. Dia yang sedang berjuang dengan mati-matian, tapi pria disana dengan santainya mengatakan cepat.
"Jangan membuat drama Max, bukan waktunya," teriak Dika kembali.
"Fu*ck you Rhadika. Kau memang sahabat yang paling menjijikkan," teriak Max. Kali ini dia sudah bisa menaiki pohon dan tidak bergelantungan seperti tadi. Bahaya sedikit mereda.
Max turun dengan perlahan dan berhasil menginjakkan kakinya di tanah. "Cih, dasar banci," cibir Dika.
"Banci? Bahkan bergerak saja kau harus ku bantu," jawab Max dengan santainya. "Jadi siapa yang banci di sini?"
"Sialan kau Max!" "Aku hanya mengatakan fakta. Kenapa kau marah," jawab Max santai.
"Kenapa sejak tadi kau memegang ponselmu?" tanya Max. Fokusnya teralihkan pada ponsel milik Rhadika.
"Odion sudah mengaktifkan jaringan internet dari alat yang diciptakan oleh Melvin waktu itu," jawab Dika santai.
"Sejak kapan?" Wajah Max mulai mengeras. "Sejak kau ingin mengambil jaringan ke atas sana."
Jangan lupa dukungannya ππ
Horasπ