Mafia Boss Little Wife

Mafia Boss Little Wife
Part 95



"Cih, dasar banci. Kalah dengan wanita kecil." Dika langsung menatap tajam ke arah orang bicara. "Beraninya kau Max sialan," umpat Dika.


"Hanya melihat saja tadi kau sudah mundur seratus langkah, apa kabar kau pengecut," sindir Levi. Kedua pria itu tentu saja tidak terima jika di katakan banci oleh seorang pria pengecut.


"Kau mundur sebelum perang. Sejak kapan aku menempatkan pengecut di klan ku," sindir Rhadika. Wajah pucat itu masih terpampang jelas diwajah keduanya.


Sedangkan Max hanya mengedikkan bahunya tanda acuh. "Setidaknya aku tidak memalukan seperti ini," seru Max tidak mau kalah


**


"Mommy?" Ros dan Clasy saling memandang. Gadis itu nampak gelagapan. "Maksud saya, saya tidak apa-apa Nona," jawab gadis kecil itu.


"Aku harus pergi," seru gadis itu tiba-tiba. Tentu dan Clasy dan Rosaline bingung, namun mereka tidak terlalu memperhatikan hal itu.


Rosaline dan Clasy kembali pada tujuan mereka yaitu ke kamar mandi. Semua ruangan toilet nampak full. Rosaline dan Clasy menunggu didepan sebuah pintu.


Saat terbuka, sekilas Ros melihat tangan yang membuka pintu itu. Ada yang menarik perhatian Rosaline. "Cincin itu, jam tangan itu," batin Rosaline. Dia mengingat-ingat bahwa cincin dan arloji silver itu terlihat familiar. Ros mengingatnya, "Bukankah itu cincin dan arloji yang sama dan sering di pakai suami ku," batin Rosaline.


"Ada pa Nyonya?" tanya Clasy melihat sang nyonya sejak tadi terdiam dan tidak masuk-masuk ke dalam kamar mandi. Ros langsung berlari keluar dari kamar mandi dan mencari keberadaan wanita tadi.


Wanita itu tidak sempat melihat wajah pemilik cincin dan arloji silver tadi karena terlalu fokus pada benda yang ada ditangan wanita tadi. Namun nihil, wanita itu tidak ada di sana.


Entah mengapa perasaan Rosaline jauh dari kata baik sekarang. Dia merasa akan ada yang terjadi di hari-hari berikutnya. "Apa itu Felice?" tanya Ros dalam hati.


"Clasy, apakah kau melihat wanita yang keluar dari ruangan di depan kita tadi?" tanya Ros."Tidak Nyonya, wajahnya tadi tertutup," jawab Clasy.


Sedangkan wanita yang sedang bersembunyi di balik tembok tersenyum licik. "Rosaline Malorie," ucap wanita itu.


"Dia mengenali cincin dan arloji ini, itu artinya Rhadika masih menyimpan masa lalu kami. Nikmati waktu mu sebentar lagi bersama dengan pria ku Rosaline," seru wanita itu dan berlalu dari tempat wahana itu.


"Ada apa Nyonya, apa anda mengenal wanita itu. Apa dia kenalan anda?" tanya Clasy. Ros hanya menggeleng dan berbalik ke arah kamar mandi.


Setelah dari kamar mandi, Ros kembali ke wahana permainan tadi. Namun di sana hanya ada Levi. "Dimana kakak mu?" tanya Ros pada adik iparnya.


"Kakak kembali ke kantor bersama Max Kakak ipar," jawab Levi. Akhirnya Ros lebih memilih pulang ke mansion bersama Levi.


Saat sampai di mansion, matahari nampak sudah meredupkan cahayanya untuk menerangi bumi. Levi langsung menuju ruang belakang mansion sedangkan Ros dan Clasy langsung memasuki mansion.


Ros langsung menuju kamar, dia tidak merebahkan diri melainkan pergi ke walk in closet. Dia menuju tempat penyimpanan arloji suaminya. Dia ingin benar-benar memastikan sesuatu.


Ros terlihat mengambil arloji silver dan cincin silver yang berada di sana. "Persis, arloji ini dan cincin ini sama persis dengan milik wanita itu. Sebenarnya siapa dia?" batin Ros.


Tiba-tiba ponselnya mengeluarkan bunyi pertanda ada notifikasi yang masuk. nomor itu adalah nomor Maura yang pernah menghubunginya.


"Besok, direstoran X, akan ada kejutan untuk mu. Suami mu juga akan di sana besok. Hapus pesan ini segera!" Setelah membaca isi pesan Maura, Rosaline langsung menghapus pesan yang ada di ponselnya karena takut ketauan sang suami.


Ros meletakkan benda yang di pegangnya lalu menggunakan pakaian yang lebih simpel. Dia merasa perutnya sudah lapar. Dia berpikir jika semakin lama maka pikirannya semakin liar jika terus memandang benda berwarna silver itu.


Melihat paman Vill lewat dari depannya, Ros buka suara. "Ada perayaan apa?" tanya Ros.


"Nona Felice akan segera tiba Nyonya. Tuan mengatakan harus membuat perayaan kecil-kecilan untuk menyambut kedatangan nya Nyonya," jawab paman Vill kemudian dia undur diri.


DEG


Jantung Ros berdetak lebih cepat. "Apakah ini waktunya aku akan di tendang dari rumah ini," batin Ros.


"Tidak, tidak. Aku adalah istri sah. Ingat Rosaline, ingat nasehat sahabat mu. Kau harus bisa melawan pelakor itu," batin Ros. Wajahnya menjadi menyeramkan.


Tiba-tiba para pelayan langsung bergerak dan berjejer di depan pintu. Nampak wanita seksi kurang bahan sedang berdiri di sana dengan koper kecilnya.


"Felice, jadi dia yang selama ini berhubungan dengan suami ku," batin Ros. Wanita itu tampak melewati barisan pelayan dan pengawal dengan wajah cuek.


"Jadi itu kamu Fel," teriak Rosaline. Ros berjalan cepat ke arah Felice.


PLAK


Satu tamparan melayang di wajah Felice. Meskipun harus menjinjitkan kakinya, namun Rosaline berusaha mencapai wajah Felice.


Levi di sana yang baru keluar dari ruangan dapur membawa stroberi langsung menjatuhkan mangkok stroberinya karena sakin tidak percayanya melihat aksi kakak iparnya.


Rhadika juga melihat kejadian itu karena dia baru saja memasuki mansion. Namun dia tidak melakukan apapun dan duduk di sofa ikut menyaksikan persoalan itu.


Felice yang di tampar memegang wajahnya karena merasa tamparan itu menyebabkan wajahnya panas.


"Kau," teriak Felice namun tidak membalas tamparan itu. Felice menatap tak percaya pada wajah wanita yang sedang berada didepannya terutama kekerasan yang di lakukan.


"Kenapa? Kau tidak terima? Dasar wanita pelakor!" teriak Ros. "Pelakor?" batin Felice. Kemudian dia melihat sekeliling mansion dan melihat sebuah foto. "Sialan, ternyata wanita kecil ini adalah Kakak ipar ku," batin Felice.


Felice tersenyum menanggapi teriakan Rosaline dan sukses membuat wanita di depannya tambah terbakar hatinya.


Felice dengan elegannya menjauh dari Ros dan menuju kakaknya yang sedang duduk di sofa.


Felice langsung duduk di pangkuan kakaknya dan mencium pipi kakaknya yang mengundang rasa jijik Rhadika namun tidak terlalu menunjukkannya. Bisa di katakan Rhadika juga kooperatif.


"What do you think Rosaline Browns?" tanya Felice tersenyum smirk. Ros yang melihat suaminya dengan senang hati menerima perlakuan wanita itu langsung luruh air matanya.


Dia berbalik dan berlari ke arah tangga. "Sialan kau Rhadika," teriak Rosaline namun yang di umpat malah tersenyum. Saat Ros akan menaiki tangga dia mendengar suara suaminya kembali.


"Baby, Felice adik ipar mu," jelas Rhadika. Ros yang mendengar itu ingin terjatuh karena terjungkal oleh kakinya sendiri. Untuk saja yang tangannya berpegangan pada terali pinggir tangga.


Jangan lupa likenya πŸ˜ŠπŸ‘πŸ‘


HorasπŸ‘