Mafia Boss Little Wife

Mafia Boss Little Wife
Part 92



Di salah satu ruangan, Ros sedang di tatap tajam oleh suaminya. Setelah mendengar penjelasan Odion tadi, Dika merasa panas hatinya.


"Bagaimana tadi jika di jalan ada yang mengincar mu? Bagaimana jika ada yang mencelakai mu seperti kemarin? Kau pikir kau itu sudah hebat? Jika ingin datang ke sini aku bisa menjemput mu Nyonya muda Browns," seru Dika dengan penuh tekanan di setiap pertanyaannya.


Ros yang mendengar ceramah pria yang selalu melindunginya hanya bisa memilin-milin ujung baju sweater yang di pakainya.


"Tadi aku hanya terbawa emosi," seru Ros menatap sebentar ke arah suaminya. Dia belum berani menatap sepenuhnya pada sang suami.


"Satu menit emosi mu itu menguasai mu, bisa saja membahayakan nyawa mu," terang Dika kembali.


"Maaf," ucap Ros tidak berani menatap ke arah suaminya.


Sedangkan Levi yang melihat orang yang familiar di kerumunan para supporter, langsung berlari ke arah sana. Namun nihil, orang itu tidak di sana. Dia mendapatkan ruang kosong.


Para wanita yang tadinya berada di antara kerumunan itu sudah seperti spot jantung karena merasa salah satu di antara mereka lah yang ingin di kunjungi pria itu. Mereka mengira salah satu dia antara mereka akan berubah menjadi princess malam ini. Namun khayalan dan realita selalu berbeda jauh.


"Sial, tidak mungkin aku salah lihat. Jelas-jelas wanita itu ada di sini tadi," batin Levi kembali melihat ke sana-sini. Setelah melihat orang yang di cari tidak ada di sana, Levi langsung turun kembali dan naik ke atas ring untuk menerima penghargaannya.


Dia dengan beberapa luka di wajahnya memberikan pidato singkat atas kemenangannya. Suara itu begitu berat dan seksi hingga membuat para wanita bersorak-sorak karena rasa kagum mereka.


Setelah acara di panggung ring selesai, Levi turun dari ring dan menuju ruangan di mana di sana ada Kakak dan Kakak iparnya.


"Untuk mu Kakak ipar," seru Levi mengalungkan medali emas yang dia dapatkan. Sedangkan piala di tangannya di letakkan di atas meja.


Tidak seru sama sekali, pria itu tidak melihat rasa senang di wajah kakak iparnya. "Kenapa tidak senang?" tanya Levi ketika melihat kakak iparnya hanya menunduk dan memilin-milin sweaternya.


"Aku sedang di marahi," ucap Ros takut-takut melihat ke arah suaminya dan kemudian menatap adik iparnya.


"Kau sedang di marahi, seharusnya kau diam," seru Dika membuat istrinya semakin merasa selalu salah. Levi tertawa dalam hati. "Cih, dasar suami la*knat," batin Levi.


"Aku hanya menjawab pertanyaan Levi. Tidak sopan jika tidak menjawab orang yang sedang bicara," seru Ros lagi. Namun kali ini dia hanya menunduk tidak berani melihat ke arah suaminya. Dia saat ini mengelus-elus medali emas milik adik iparnya sebagai dalihannya.


"Besok dan seterusnya kau tidak boleh keluar rumah," seru Dika dengan menyimpulkan akhir dari percakapan mereka di tempat ini.


Ros yang mendengar hukuman yang di berikan suaminya menatap sendu ke arah suaminya. "Tidak bolehkah di kurangi hukumannya," seru Ros mencoba membuat tawaran ke pada suaminya.


"Tidak," jawab Dika dengan tegas. Ros tampak berpikir sebentar. Dia mendapatkan sebuah ide namun terasa sangat gila. Dengan mental yang cukup kuat Ros berdiri dan langsung duduk di pangkuan suaminya. "Hmmm, di temani Levi atau kamu boleh?" tanya Ros dengan suara yang di buat selembut mungkin.


Dika nampak diam menikmati sikap manja dan kekanak-kanakan istrinya. Hatinya tiba-tiba menjadi mudah rapuh di depan wanitanya. "Ahem, bisa tapi terbatas," putus Dika pada akhirnya. Ros yang mendengar itu langsung berdiri dan mencium pipi suaminya.


"Yes, besok kita jalan-jalan. Merayakan kemenangan Levi, bisa kan Sayang?" pinta Ros dengan wajah cerianya. Sejenak dia kembali melupakan kejadian hari ini yang bisa saja suatu hari nanti bisa menghancurkan hati dan hidupnya.


Siapa yang bisa tahan jika sudah melihat orang yang mereka cintai sudah berharap seperti ini? "Tentu saja Kakak ipar, tidak mungkin kakak menolak untuk merayakan ini kemenangan ku," ucap Levi setuju dengan perkataan kakak iparnya.


Dika tidak bisa menolak lagi, dua orang di depannya sudah di luar kendali. "Mmm, besok aku akan ikut," jawab Dika.


Akhirnya ketiga orang pria di sana pulang dengan membawa kemenangan meskipun memberikan luka pada orang yang baru saja bertanding.


"So?" Bukan Ros yang menjawab pertanyaan Levi melainkan Dika yang sedang menatap sengit ke arah adiknya.


"Banyak pelayan di rumah ini, tangan istri ku terlalu berharga untuk menyentuh wajah jelek mu," seru Dika memegang tangan istrinya. Dika langsung membawa istrinya menuju kamar pribadi mereka.


"Kakak, setidaknya kakak ipar harus mengobati luka ku sebentar!" teriak Levi dari bawah. Namun sayang, Dika mengabaikan teriakan adiknya.


Saat sampai di kamar, Ros langsung merebahkan diri di atas ranjang. "Lelah kah?" tanya Dika mengusap lembut rambut Istrinya. Ros bangun dan mengangguk. Dia menelusupkan kepalanya ke dada bidang suaminya.


"Kamu belanja apa hari ini di mall, hmmm. Kenapa bisa lelah?" Mendengar suaminya menyinggung kejadian di mall hari ini, Ros jadi berinisiatif.


"Boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Ros bergerak mengahadap suaminya saat ini. Dia mengabaikan pertanyaan sang suami. Wajah Ros terlihat lebih serius. "Ada apa Baby, kenapa tiba-tiba wajah mu jadi serius," kekeh Dika karena melihat wajah serius yang terkesan imut milik istrinya.


"Tapi kamu harus jawab jujur!" seru Ros dan diangguki oleh Dika. "Apa hanya aku istri satu-satu mu?" tanya Ros. Dika bingung mendengar pertanyaan istrinya. "Maksud mu aku memliki wanita lain di sana Baby? Of course not," jawab Dika.


Ros mengangguk-anggukkan kepalanya. "Next, apa hanya aku wanita yang pernah kau nikahi?" tanya Ros kembali. Lagi-lagi Dika bingung dengan pertanyaan istrinya.


"Maksud mu aku sudah duda menikah dengan mu, begitu?" tanya Dika. Pertanyaan dijawab dengan pertanyaan. Ros terlihat mengedikkan bahunya. "Sebegitu tidak percayanya kau pada ku," batin Dika.


"Aku hanya punya satu istri dan itu hanya kamu Baby. Bagaimana aku bisa memiliki lebih dari satu istri jika hanya menikah satu kali,' jawab Dika.


Hati Ros terasa sangat lega mendengar semua jawaban suaminya. "Sudah ku duga, Maura si nenek lampir itu memang seperti ular licik," batin Ros. Dia langsung masuk dalam dekapan sang suami.


"Aku mau tidur," seru Ros. Dika tau apa maksud dari istrinya. Dia juga langsung merebahkan diri dan memeluk sang istri. Dengan telaten Dika langsung menaikkan kaki sang istri ke perutnya. Dia sudah hapal betul dengan kebiasaan tidur sang istri.


Sedangkan Levi di kamarnya dia langsung masuk ke dalam kamar pribadinya. Luka yang dia dapatkan sebelumnya hanya di bersihkan dengan kain putih saja dengan tangannya sendiri.


"Cih, si pria posesif itu. Hanya membersihkan luka saja sangat pelit." Levi berbicara pada dirinya sendiri. Kemudian dia membuka laptopnya sendiri.


Dia kembali melakukan aksinya sebagai seorang peretas. Dia meretas keamanan CCTV yang berada di markas MMA. Saat ini pria itu terlihat dalam mode serius.


"Tidak mungkin seorang Levi salah lihat," batin Levi. Tangannya dengan lincah menekan tombol di komputer terutama angka-angka di keyboard itu.


"Got you," batin Levi. Dia mulai mencocokkan DNA wanita itu dan melakukan pencarian digital dengan identifikasi wajah.


Dia mendapatkan identitas orang itu. Meskipun sulit dan sepertinya sengaja di sembunyikan rapat-rapat, Levi akhirnya bisa menembus pertahanan keamanan orang itu.


"Anak kecil ini, bukankah dia putri dari wanita itu?" seru Levi. "Untuk apa dia datang ke pertandingan MMA di markas?" batin Levi.


Dia sebelumnya sudah mencari tahu tentang identitas dari wanita masa lalu kakaknya sebelumnya. Dia sudah menemukan bagaimana kehidupan wanita itu bersama putrinya. Oleh karena itu, Levi merasa familiar dengan gadis itu. Namun Levi masih bingung apa yang membuat gadis itu datang ke pertandingannya.


Jangan lupa likenya πŸ˜ŠπŸ‘πŸ‘


HorasπŸ‘