Mafia Boss Little Wife

Mafia Boss Little Wife
Part 73



Darren membuka seluruh penutup tubuhnya yang berbaur dengan ruang operasi. Dia menatap sebentar ke arah Ros. "Bagaimana nanti aku bisa menjelaskan pada Rhadika. Sial, satu masalah belum selesai, namun masalah lainnya muncul kembali," batin Darren.


"Bawa Nyonya ke ruang rawat inap pasien," perintah Darren. Di keluar dari ruangan IGD dan disambut tatapan tidak sabar dari tiga pria yang ada disana. Bahkan salah satu dari mereka ada yang tidak bisa berdiri tegak dan harus dibantu.


Wajah pucatnya masih menampakkan kesakitan di bagian terluka tubuhnya. Namun dia tetap bertahan demi wanita yang sudah dianggap sebagai kakak kandungnya itu.


"Bagaimana keadaan istriku," tanya Dika tidak sabaran. Darren menghela napas dan mempersilahkan para perawat membawa Ros ke ruang rawat inap pasien.


"Kenapa Nyonya belum sadar?" Kini giliran Max yang buka suara. "Kalian bertiga ikut ke ruangan ku, aku akan memberitahu detail informasi tentang Kakak ipar," ucap Darren berjalan mendahului tiga orang yang berada diasana.


Melihat keresahan diwajah Darren, Dika berusaha untuk manguatkan hatinya. Jika Darren sudah serius seperti ini, pasti ada sesuatu yang terjadi pada istri kecilnya.


Ketiga pria disana menatap wajah pucat wanita yang membuat hari mereka lebih cerah. Bahkan saat ini dahi wanita wajah pucat itu dilapisi oleh kain kasa putih.


Levi dibantu berjalan oleh Dika dan Max. Bahkan saat ini ketiganya di rundung ketakutan yang mendalam. Levilah yang paling merasa bersalah meskipun ini belum sepenuhnya kesalahan dia.


"Ada apa Ren?" tanya Max. Dia menggunakan sebutan nama biasa Darren ketika mereka membahas suatu hal yang sangat penting.


"Aku harap tidak ada yang emosi. Kita semua harus berjuang untuk kesehatan Kakak ipar," seru Darren.


"Jelaskan saja intinya. Tidak usah membuang-buang waktuku," Dika buka suara dan menatap tajam ke arah Darren.


"Baiklah," Darren terlihat menghirup udara dengan dalam.


"Masalah pertama, kakak ipar kekurangan darah. Selama perjalanan di sini dia banyak mengeluarkan darah dan menyebabkan Kakak ipar tidak sadarkan diri. Dia memiliki golongan darah yang sangat langka. Bahkan aku juga belum pernah menangani pasien yang memiliki golongan darah seperti ini," jelas Darren.


"Berapa lama istriku bisa bertahan?"


"Maksimal seminggu, itu sudah dalam keadaan darurat."


"Apakah golongan darah itu sebegitu sulitnya ditemukan?" Kali ini Levi yang buka suara.


"Benar, bahkan pusat rumah sakit negara kita tidak menyediakan golongan darah itu. Ralat, dalam beberapa tahun ini memang tidak pernah ditemukan lagi."


"Jadi solusinya bagaimana," tanya Max.


"Kita harus berusaha untuk mendapatkan darah itu sebelum satu minggu ini. Jika tidak aku tidak bisa berkata apapun."


Dika mengusap wajahnya frustasi. "Mengapa masalah selalu bertubi-tubi menghampiri keluargaku disaat aku sudah nyaman berada di dunia ini," batin Dika.


"Apakah hanya itu masalahnya?" tanya Dika kembali. Darren menghela napas panjang. Inilah hal tersulit untuk mengatakan kondisi pasien selama dia bekerja. Mengapa? Karena yang akan dihadapinya adalah seorang bos mafia kejam sekaligus sahabatnya.


"Saat aku memeriksa perut Kakak ipar, aku melihat luka lebam yang cukup lebar. Apakah Kakak ipar tidak menggunakan sabuk pengaman waktu kecelakaan itu Lev?" Levi menggelengkan kepalanya.


"Sudah kuduga," batin Darren. "Aku belum menganalisis secara detail dengan alat. Namun dari analisa ku, luka lebam itu disebabkan oleh benturan keras yang menyebabkan tuba falopi atau saluran rahim kakak ipar terganggu. Itu akan mengganggu proses kehamilan nantinya." Wajah ketiga pria didepan Darren sudah menggelap seperti putus asa.


"Akan sulit namun bukan tidak ada kemungkinan kakak ipar nanti jika ingin memiliki anak."


"Jangan membuat teka teki Darren saat ini. Beritahu saja! Apa istri ku bisa hamil nantinya?" Dika berdiri dan menatap tajam kearah Darren.


"Seperti yang kukatakan, bisa tapi mungkin akan sedikit sulit." Darren mengatakan sesuai fakta, jika sudah saatnya wanita itu nanti sadar, dengan bantuan obat secara perlahan pembengkakan itu akan berkurang.


Prang


Dika melemparkan gelas yang ada didepannya. Kenyataan ini begitu sulit. Padahal dia ingin sekali memiliki anak dari Ros, karena dengan itu jika ada masalah yang menerjang mereka, Dika bisa menahan istri kecilnya itu. Namun harapannya kini kian menipis.


"Tenang kan diri mu Rhadika. Hal yang perlu kita lakukan sekarang adalah harus benar-benar fokus untuk mencari donor darah itu. emosimu mu tidak akan berguna saat ini" ucap Darren.


"Dan kau Lev, beristirahatlah setidaknya dalam tiga hari ini agar kau bisa bebas bergerak. Jika tidak nanti lukamu akan menganga kembali dan butuh waktu lama untuk melakukan pemulihan kembali."


Levi hanya diam disana dan matanya tidak berkedip sama sekali. Dika menoleh ke arah adiknya.


"Tenang saja, aku akan berusah mencari donor darah itu. Fokuslah pada pemulihan mu, agar hari esok kau bisa membantuku setiap saat," seru Dika dengan tenang sambil menepuk bahu adiknya.


"Jangan membantah ku," tambah Dika meninggalkan Levi dan Darren dusana dan diikuti oleh Max. Kedua pria itu bergegas dan keluar dari ruangan itu.


"Gunakan seluruh jaringan yang kita miliki Max. Waktu kita tidak banyak," seru Dika berjalan mendahului Max. Dia berusaha bersikap tenang dan tegar agar Max, Levi dan Darren tetap tenang dalam menjalankan tugas masing-masing. Bos adalah cerminan dari seluruh anggotanya. Jika bertahan anggota akan bertahan, jika maju, itu artinya anggota akan ikut maju.


"Mau kemana Tuan," tanya Max.


"Aku ingin ke kamar mandi," jawab Dika berlalu menuju ke arah toilet.


Max melihat kepergian tuannya. Dia pikir tuannya itu akan melakukan hal-hal diluar kendali lagi.


Di toilet, Dika melihat cerminan dirinya di kaca besar kamar mandi.


BUG


Rasa sakit ditangannya tidak seimbang dengan rasa sakit yang dirasakan oleh hatinya saat ini. "Tidak becus," ucapnya melihat dirinya sendiri di sela-sela cermin yang menampakkan wajahnya.


Dika merasa dirinya adalah seorang suami yang tidak becus dan tidak memiliki kemampuan apapun. Bahkan sudah berkali-kali dia membiarkan istrinya dalam bahaya. Adiknya sendiri juga terkena imbasnya sekarang.


"Untuk apa memiliki klan dan harta yang banyak? No, no, aku sudah mati-matian mengembangkan klan ini. Aku bersumpah akan tetap mengejar kemanapun kau pergi," seru Dika berlalu dari kamar mandi itu.


Dia keluar dan berjalan ke arah ruang VVIP tempat istrinya di rawat. Ia melihat seorang wanita disana. Dika melihat Clasy disana menangis tersedu-sedu.


Dika memberikan ruang sebentar. "Sepertinya wanita itu benar-benar tulus," batin Dika duduk diruang tunggu.


**


"Bagaimana hasil kerjamu? Apakah berjalan dengan lancar," tanya pria tua di seberang sana dengan berharap tinggi.


"Berhasil Dad. Istri Rhadika beserta adiknya mengalami kecelakaan hebat. Aku rasa mereka sedang di rumah sakit."


"Bagus, pantau terus. Jika ada informasi yang lebih menarik beritahu aku. Kita harus bisa membalas dendam dan harus bisa menguasai seluruh hartanya," jawab pria tua itu dengan tersenyum.


"Baik Dad. Tapi bagian pemimpin klan, aku akan tetap berada dibawah kuasaku bukan?"


"Tujuan kita belum tercapai sepenuhnya. Setelah kita mendapatkan harta pria itu, setelah itu akan melakukan penobatan sah bahwa kau adalah putra ku sekaligus pemimpin sah klan Ghost Lion. Jadi berusahalah!"


"Baik Dad," jawab pria bertopeng di seberang sana.


**


Selama lima hari Rhadika bersama anggota lainnya belum menemukan golongan darah yang cocok untuk Ros. Sudah hampir jatuh tempo. Bahkan mereka sudah memasang beberapa iklan di berbagai media platform dengan iming-iming yang besar namun tidak menemukan jejak apapun.


Ada empat orang pria yang saat ini berada di ruangan Ros. Dika, Darren, Max, dan Levi, wajah mereka saat ini terlihat seperti orang putus aja saja. Namun ada satu orang yang terlihat datar tanpa ekspresi, dia dalam diam menatap istrinya yang sedang terbaring di sana.


Tiba-tiba, dering ponsel Rhadika terdengar di keheningan keputus asaan itu. Dika dengan cepat menekan tombol hijau itu, dia berharap itu adalah donor darah yang sedang mereka tunggu-tunggu.


Dika membuat loud speaker agar semua pria yang berada di sana mendengarnya.


"Halo Rhadika Browns," seru pria diseberang sana.


Ketiga pria lainnya menatap satu sama lain. "Cih, kau tetap berlaku seperti pengecut," seru Dika dengan langsung mencemooh pria disana yang tetap mengunakan speaker suara.


"Ohw, Slowly. Aku hanya ada berita bagus untukmu. Sebelumnya aku turut berduka atas keberhasilan ku membuat istri mu sekarang sekarat dan adikmu yang susah berjalan saat ini."


"Bren*gsek," umpat Levi. "Ternyata kau disana bocah," ejek pria itu.


"Aku hampir lupa kabar baik yang ingin ku beritahukan pada kalian. Apakah kalian mencari golongan darah MN untuk istri mu yang sedang sakit?"


Mata keempat pria disana melotot tak percaya. "Aku ingin membuat sebuah penawaran. Aku memiliki golongan darah yang kau cari. Sampelnya akan sampai sekitar 10 menit lagi. Bagaimana? Apa kau tertarik?"


"Apa yang kau inginkan?" tanya Dika.


"Sama seperti yang kemarin. Perpindahan kekuasaan AX Company dan klan Black Sky ke tangan ku," seru pria itu.


"Dalam mimpi mu,"seru Levi.


Dika hening dalam beberapa saat. Dia terlihat berpikir dengan matang.


"Baik. Aku akan memastikan terlebih dahulu sampel yang kau berikan."


"Apa yang kau katakan Kak?" tanya Levi tak percaya.


"Itu adalah klan dan perusahaan yang Kakak bangun dari nol. Kehilangan orang yang Kakak sayangi dan tangis kakak rasakan untuk mengembangkan itu."


"Apa harta itu lebih penting dari istri ku?" tanya Dika kembali. "Saya mohon pertimbangan dulu Tuan. Jangan gegabah!" pinta Max.


Darren hanya diam saja, ingin membela Max dan Levi, tapi nyawa istri dari pria itu adalah taruhannya.


"Tidak ada pertimbangan apapun. Darren segera periksa sampel itu jika sudah sampai. Dan kau Max, buat surat perpindahan kuasa klan dan perusahaan!" Max tidak bisa menolak lagi.


"Tentukan dimana tempat kita bertemu. Pastikan kau jangan muncul sebagai seorang pengecut," ucap Dika.


"As you wish. Aku akan menunggumu," ucap pria diseberang sana lalu menutup ponselnya.


jangan lupa like nya πŸ˜ŠπŸ‘πŸ‘


HorasπŸ‘