
Rhadika yang sudah sampai di depan kamar mereka, dengan hati-hati dia membuka pelan pintu kamar mereka.
Dika tersenyum melihat istrinya yang sedang tidur dengan menggunakan kameja kebesaran miliknya. Cara tidur wanita itu tidak etis sama sekali. Kakinya dengan asal di naikkan ke atas guling, sepertinya kebiasaan itu tidak akan pernah hilang.
Dika membenarkan selimut yang sudah terjatuh ke lantai. "Wanita ini, tidak bisa kah dia tidur dengan etis," batin Dika tersenyum tipis.
Dengan perlahan dia menaiki tempat tidur. Dia berencana akan tidur sebelum matahari terbit di sisi wanitanya. Dia sudah sangat merindukan wanita yang sangat di cintainya ini.
Dika menggeser bantal guling yang dinaiki oleh kaki istrinya. Otomatis kaki itu langsung menaiki perut Rhadika.
Rhadika tidur selama bebrapa jam saja. Pukul empat pagi dia sudah bangun dan bersiap untuk menghabisi klan Ghost Lion.
"Baby, aku pergi dulu. Setelah ini kau adalah prioritas utama ku," batin Rhadika mencium kening sang istri. Kemudian dia keluar dari kamar itu dan ingin menunju kamar Aurora. Namun tidak jadi karena dia melihat Melvin yang sedang lewat dilantai bawah.
"Melvin!" panggil Rhadika sambil menuruni tangga. "Ada apa Tuan?" tanya Melvin.
"Besok kau tau bukan apa misi markas, ku harap kau bisa menjaga istri ku di mansion sebelum aku kembali!"
Melvin hanya menunduk saja, dia juga sebelumnya sudah tau apa yang menjadi tugasnya saat ini. Tugasnya di klan selalu tidak ada dan akan di alihkan untuk menjaga wanita prioritas di mansion ini.
Sedangkan Ros di kamarnya bangun karena merasa suaminya baru saja ada di dekatnya. "Apa dia baru saja datang?" Ros meraba ranjang disampaikannya dan masih menyisakan aroma tubuh suaminya.
Dia langsung bangkit dari duduknya dan berlari keluar dari kamar. Dia berlari hingga ke pintu utama namun tidak menemukan suaminya. Dia hanya melihat satu mobil sport keluar dari gerbang mansion.
"Nyonya, Tuan baru saja pergi," tiba -tiba Melvin berada di sisi Rosaline.
"Kenapa kau tidak membangunkan ku," marah Ros. Suaranya sudah naik satu oktaf.
Melvin bingung harus menjawab apa. Apa membangunkan wanita ini adalah tugasnya juga?
"Maaf Nyonya, Tuan tadi mengatakan anda sedang tertidur dan tidak perlu di bangunkan," seru Melvin. Dia mengambil jalan pintas agar aman saja.
Ros tidak ada menanggapi dan menatap tajam ke arah Melvin. Dia teringat akan wanita dan pria yang berada di restoran.
"Kemana suami ku pergi?" tanya Ros dengan tegas. Melvin lagi-lagi di uji oleh wanita pemimpinnya.
"Maaf Nyonya, tentang itu saya tidak mengetahui nya," jawab Melvin.
"Terserah!" seru Ros.
Dia kembali ke dalam kamarnya dan mondar mandir di sekitaran tempat tidurnya. Dia teringat akan Clasy yang dengan mudah mengetahui informasi karena kedekatannya dengan Max.
Sedangkan Clasy di kamarnya juga sudah mendapatkan informasi lokasi dari Thomas. Dia bingung harus membawa sang Nyonya atau tidak. "Bagaimana aku harus mengajak nyonya ke sana?" batin Clasy.
Sebuah notifikasi kembali masuk ke dalam ponsel Clasy. "Dia akan akan datang dengan sendirinya, kau hanya perlu membawanya," itulah isi pesan yang diterima Clasy.
"Aku hanya membawa nyonya, sesuai dengan perkataan Thomas, dia tidak akan menyakiti nyonya. Tidak ada yang akan tersakiti dan aku bisa bersama ayah lagi," batin Clasy.
Dia kembali merebahkan diri. Tiba-tiba suara ketukan pintu kamarnya terdengar. Clasy bangun dan melihat siapa yang pagi-pagi seperti ini sudah bertamu ke kamarnya.
"Nyonya, apa anda merasa kurang sehat? Apa perut anda sakit? Sebentar, aku akan menghubungi Max," Clasy mengambil ponselnya dari kamar dan menekan nomor Max.
Namun tidak jadi karena tangan Ros yang langsung mengambil ponsel tersebut. "Kau terlalu berlebihan Clasy," seru Ros mengembalikan ponsel itu ke tangan Clasy.
"Ada pa Nyonya?" tanya Clasy.
"Apa kau tau apa yang akan di lakukan oleh Max dan suami ku hari ini?" tanya Ros to the point.
Clasy tampak berpikir lebih lama. "Ternyata benar yang dikatakan oleh Thomas si brengsek itu," batin Clasy.
"Mereka akan melakukan misi penyerang ke klan musuh Tuan Rhadika Nyonya," seru Clasy. Setelah mendengar itu Ros langsung kembali ke kamarnya. Tapi bukan untuk tidur.
"Aku harus ke sana. Firasat ku mengatakan ada yang tidak beres," batin Ros.
"Tapi ada Melvin, dia juga orang kepercayaan suami ku, bagaimana aku harus mengelabuhinya," batin Ros.
**
Di markas milik Ghost Lion peluru sudah bertebaran dimana-mana. Anggota sesama mafia itupun sudah banyak yang tumbang. Rhadika saat ini sangat bersemangat untuk melakukan misi ini. Dia sudah mengetahui kebenaran tentang Vidio Leon bersama istrinya meskipun belum sepenuhnya.
Ternyata istrinya melakukan itu hanya karena dirinya. Dirinyalah penyebab sang istri mabuk dan melakukan hal itu bersama Leon. Meskipun Vidio yang ditemukan oleh Max tidak murni secara lengkap, tapi dari beberapa beberapa potongan Vidio itu, dia bisa memprediksi kebenarannya.
Tujuannya saat ini adalah biang masalah pembuat onar itu. Ketua dari Ghost Lion si Thomas pembuat onar.
"Max, berpencar, aku yakin pria itu ada di sekitaran sini," tiba-tiba secara beruntun banyak peluru yang mengarah ke Rhadika.
"Sial, Kenapa tiba-tiba mereka serentak menyerang ku?" seru Dika.
Namun tiba-tiba, ada yang membantunya juga. " Siapa?" batin Rhadika. Earphone yang dipasang telinganya tiba-tiba berbunyi.
"Ck, aku yang datang membantu mu," seru seorang wanita.
Sedangkan Clasy saat ini dia berhadapan dengan Thomas.
"Aku sudah menepati janjiku, dimana ayahku," seru Clasy.
"Berikan padanya," seru Thomas. Selembar surat dan cek di letakkan salah seorang pengawal di tangan Clasy.
"Sialan, apa maksudmu," teriak Clasy.
"Itu alamat ayah mu di kuburkan. Ayah mu meninggal sekitar tiga atau empat bulan sebelumnya," seru Thomas dengan enteng.
"Sebagai gantinya, aku memberikan mu uang untuk bertahan hidup. Bahkan sampai tujuh turunan kau bisa mengandalkan uang itu."
"Brengsek, aku tidak membutuhkan uang mu. aku akan membunuhmu," seru Clasy sambil melempar surat dan cekitu dan langsung bergerak namun berhasil di tahan oleh anggota Thomas.
"Kau tidak perlu munafik Clasy, aku tau kau juga butuh uang bukan?" seru Thomas.
Dia mengambil cek yang terjatuh itu.
"Cih, sudah ku duga," cibir Thomas melihat Clasy mengambil cek itu.
**
"Baby, apa yang kau lakukan?" seru Dika memperjelas earphonen itu.
"Setidaknya aku berguna untuk mu, bukan?" seru Ros sambil mengarahkan senjata Laras panjangnya pada musuh.
"Dimana posisi mu sekarang, Rosaline," seru Dika.
"Well, Rhadika, apa sudah cukup kau berbicara dengan istri mu?" Bukan Ros yang menjawab pertanyaan Rhadika melainkan Thomas yang ada di sana.
Rhadika keluar dari tempat persembunyiannya dan mencari keberadaan sang istri. Earphone Rosaline diputus begitu saja jaringannya oleh Thomas.
"Ruangan transparan di depanmu, perhatikan," seru Thomas di seberang sana. Terlihat Rosaline berusaha membuka pintu di depannya.
Asap putih mulai nampak mengisi ruangan itu. Rhadika langsung berlari ingin membantu istrinya.
Boom
Satu ledakan terjun ke arah tangga sebagai jalur menuju Keberadaan Ros saat ini. Rhadika terpental ke belakang dengan begitu kuat karena guncangan dari bom tersebut.
Terlihat darah mulai mengalir dari dahi Rhadika. Ros yang berada di sana mulai terbatuk. Levi dan Felice begitu dengan Max mulai mendekati area Rosaline secara perlahan sambil menghindari serangan lawan.
"Dalam 10 menit racun itu akan membunuh wanita itu. Levi, apa kau tidak bisa mendeteksi racun apa yang sedang di dalam itu?" seru Thomas.
Namun keberadaannya sampai saat ini belum di ketahui saat ini. Mereka bisa mendengar suara pria itu hanya dari earphon saja.
Saat akan sampai di bawah gedung transparan di mana di sana terlihat Ros sudah mulai melemah.
"Mundur!" seru Levi secara spontan setelah mencium aroma dari asap itu. "Apa maksud mu Levi?" teriak Felice dengan amarahnya.
"Itu bukanlah racun sembarangan, Botulinum Toxin, itu adalah racun berbahaya. Jika imun tubuh mu memang kuat, kau hanya akan bisa bertahan selam 5 hingga sepuluh menit.
"Bren*gsek," seru Rhadika bangkit dari rasa sakitnya. Dia kemudian berjalan ke arah tempat Rosaline terkurung.
"Kak, tidak ada gunanya, racun itu pasti sudah menjalar ke tubuh Kakak ipar," seru Levi. Dia sebenarnya juga tidak ingin pasrah, namun dia adalah ahli racun yang bisa mendeteksi jenis racun dengan hanya mencium aromanya saja.
"Tutup mulut mu sialan. Aku tidak butuh omong kosong mu," seru Rhadika berjalan tertatih-tatih. Air matanya mengalir begitu saja ketika melihat sang istri sudah lemas tak berdaya di atas sana.
Namun lagi-lagi penderitaan Rhadika tidak berhenti di sana. Sebuah peluru diarahkan kepadanya.
DOR
Namun peluru itu sama sekali tidak menembus tubuhnya. Seseorang tiba-tiba bersandar ke arah punggungnya.
"Lili," seru Dika dan membantu wanita itu.
"Ternyata kau lebih mementingkan wanita lain dibandingkan aku," batin Ros di sana. Penglihatannya sudah mulai buram.
"Rhadika, ternyata kau suka bermain dua hati rupanya," seru Thomas di sana. Dengan perlahan Rhadika meletakkan Lili dan mengetatkan rahangnya.
"Bagaimana rasanya orang yang kau cintai sengsara didepan mu untuk yang kedua kalinya. Ah, aku sangat menyukai ekspresi mu saat ini," seru Thomas.
"Ah, aku lupa, ada satu kejutan lagi untuk mu. Diruangan itu ada bom yang akan siap meledak dalam tiga puluh detik lagi. Aku tidak tega melihat istri mu yang sedang mengandung itu tersiksa lebih lama."
Asap sudah memenuhi ruangan itu, hanya tangan Rosaline yang memegang kaca transparan itulah yang terlihat saat ini.
"Lima menit, sepertinya dia masih hidup," seru Thomas.
"Hentikan Thomas sialan," teriak Rhadika sambil berlari.
"Aku mohon jangan lagi, plis no," batin Rhadika.
Boom
Belum sampai menaiki tangga yang sudah roboh dan tidak berbentuk itu, tempat di mana Rosaline langsung meledak dan hancur tak berbentuk.
Lagi-lagi, tubuh Rhadika terpental Karana efek dari bom itu.
Tangis Rhadika semakin pecah ketika melihat ruangan itu sudah hancur tak terbentuk.
"So pity(sangat disayangkan," seru Thomas di seberang sana.
Sebuah helikopter terlihat mendekat ke arah rooftop salah satu gedung yang ada di sana. Seorang pria nampak melambai ke arah Rhadika.
"Thomas brengsek," seru Rhadika berdiri. "Berikan aku meriam," seru Rhadika. Tubuhnya sudah di penuhi oleh darah segar.
Tampak pria yang melambai tadi yang adalah Thomas memasuki si burung besi. Dia terlihat melambai ke arah Rhadika.
"Apa kau sudah menderita. Percuma saja, istri mu tidak akan kembali," ucap Thomas dari helikopter. Nampak heli itu mulai terbang dan bergerak keluar dari arah gedung itu.
"Mati kau sialan," seru Rhadika mengarahkan meriam yang ada di tangannya ke arah helikopter itu.
BOM
Satu ledakan besar terlihat di udara. Semua orang yang berada di bawah langsung menunduk. Bersamaan dengan itu Rhadika pingsan dan segera ditolong oleh Levi.
ENDπππππππ
Season kedua akan menyusul dengan judul baru πππ