
"Sayang kita masuk nanti saja yah," bisik Ros pada suaminya. Ros tidak ingin mengganggu acara makan Clasy. Dika diam saja dan bergegas ingin keluar.
Namun Max langsung menyapa mereka dan buru-buru meletakkan mangkok yang berisi bubur itu ke atas meja samping brankar.
Visual Max 🥰
"Selamat siang Tuan dan Nyonya," seru Max menunduk hormat. "Apakah Tuan dan Nyonya ingin menjenguk Clasy?" tanya Max dan diangguki oleh Ros.
Jangan tanya bagaimana ekspresi Dika sekarang. Dia ingin muntah melihat sikap Max yang menurutnya seperti banci ketika merawat Clasy tadi.
"Max, apa kau sudah berubah menjadi seorang suster atau perawat orang sakit? Apa gajimu tidak cukup dari perusahaan?" tanya Dika datar disertai sentilan pedas.
"Nyonya, kalian datang," ujar Clasy ingin duduk namun langsung dibantu oleh Max.
"Cih, sepertinya benar yang kukatakan," kesal Dika duduk disofa. Entahlah, sepertinya dia iri melihat sikap mesra Max. Sedangkan istri kecilnya yang tidak peka itu buka suara dan mengabaikan wajah kesalnya.
"Sayang, jangan berkata seperti itu. Max sedang bersikap baik kepada rekannya. Clasy kan sama seperti Max, bagian dari mansion Browns. Jadi sudah sewajarnya sesama teman saling membantu satu sama lain" seru Ros sambil mengeluarkan buah-buahan dari kotak yang dibawanya.
"Cih, kau tidak lihat bagaimana sikap Max, dia itu sudah seperti budak cinta yang tidak berguna dan tidak berotak."
Ros langsung connect dan melihat ke arah Clasy dan Max secara bergantian. Seperti meneliti mencari kebenaran. Kadang Ros menyipitkan mata menatap dua orang disana.
"Apakah itu benar Max, kamu sedang dekat dengan Clasy," tanya Ros sambil melanjutkan kegiatannya tadi.
"Tidak Nyonya, saya hanya mengganti kan peran anda sebagai temannya. Semalam saya menjenguk teman anda karena dia tidak memiliki teman sama sekali saat di rumah sakit. Saya pikir, orang yang tertembak, apalagi sebelah kanan akan susah untuk mengangkat tangan karena terganggu lukanya akan terbuka."
"Semalam. Jadi kau di sini dari semalam. Pantas saja aku menelepon mu, kau tidak bisa menerimanya," seru Ros menyodorkan buah ke arah Clasy.
"Tidak seperti biasanya kau bicara banyak Max. Apakah orang bisa berubah dalam semalam?" ejek Dika. "Ternyata kepribadian mu bisa berubah dalam semalam."
"Bahkan anda belum satu jam saja meninggalkan Nyonya anda sudah mengatakan bahwa anda sudah rindu Tuan. Sedangkan saya hanya pergi satu malam, itupun setelah memastikan Anda bisa berc*inta dengan aman bersama Nyonya. Kepribadian mana yang berubah dalam semalam? Siapa yang sebenarnya berubah," batin Max.
"Maaf Nyonya, semalam saya lupa mengisi baterai ponsel saya," seru Max.
"Kamu menjadi kekasih Clasy sekarang juga, fine-fine aja Max," canda Ros. Wajah Clasy tiba-tiba memerah, sedangkan Max tetap dengan wajah datarnya.
Hati Max memang sedikit tersentuh. Tapi Max bukanlah orang yang bisa mengekspresikan diri di setiap suasana dan keadaan yang dia hadapi.
**
Sedangkan Levi saat ini sedang berjuang untuk melumpuhkan ketua Ghost Lion yang merupakan pengecut bagi Levi.
Suara tembakan peluru terdengar dimana-mana. Levi melihat pria bertopeng itu sudah mulai kewalahan karena jumlah mereka kalah telak dengan anggota Levi.
Levi tidak memberitahukan kejadian ini pada kakaknya, karena dia tau Kakaknya itu sedang bersama kakak ipar kecilnya yang sangat mudah khwatir.
Musuh juga tidak terlalu kuat, jadi dia hanya menekan tombol merah di arlojinya yang terhubung dengan markas. Jadi otomatis pihak markas akan melacak keberadaannya.
Anggota pria bertopeng itu tinggal lima orang lagi. Dengan cepat anak buah Levi menggasak menghabisi nyawa lawannya.
Levi tersenyum dan keluar dari tempat persembunyiannya ketika pria bertopeng bertopeng membelakangi Levi. Pria bertopeng yang sudah mulai lemah karena hanya berjuang sendiri.
Kletak
"Angkat tanganmu pria pengecut atau peluru ini akan bersarang di otak kecilmu ini," seru Levi sambil menodongkan senjatanya ke arah kepala pria bertopeng.
Pria bertopeng secara perlahan meletakkan senjatanya ke jalan aspal. Dia tidak ingin mati saat ini karena belum menyelesaikan misi balas dendamnya. Kemudian pria bertopeng berbalik menghadap Levi. Dia tersenyum tipis.
"Cara mainmu belum lengkap pria muda," ucap pria itu mendorong Levi dan melemparkan diri kuat ke arah dinding pembatas gang itu.
Pria bertopeng lolos, ternyata sudah ada sebuah helikopter yang menunggunya disana.
"S*ial, berikan senjatanya!" perintah Levi. Salah satu pengawal memberikan senjata laras panjang ke tangan Levi.
Kamera kecil senapan mendapatkan titik koordinat tepat pada posisi pria bertopeng. Senjata itu adalah senapan peredam karena target mereka berada di atas perumahan masyarakat.
Levi menyipitkan salah satu matanya, telunjuk tangan kanannya memegang pelatuk senapan. Satu peluru meleset dan mengenai bahu pria bertopeng.
Ketua Ghost Lion itu hampir jatuh ketika ingin mencapai pintu helikopter. Salah satu kekuatan tangannya melemah akibat tembakan itu, namun dia masih bertahan dan berusaha menaiki helikopter.
Ingin menghancurkan helikopter itu, namun resikonya nanti akan berdampak pada warga sekitar. Mereka juga akan berhubungan dengan pemerintah keamanan Spanyol. Sedangkan kalm Black Sky sudah berjanji tidak akan mengganggu atau mengusik ketenangan warga pemerintah Spanyol. Jadi Levi tidak ingin mengambil resiko.
"Setidaknya kita sudah membuatnya terluka," seru Levi sambil memberikan senapan itu ke anak buahnya.
"Sebagain kembali ke markas, dan sebagian lagi ikut aku ke rumah sakit. Dan untuk kalian, terimakasih sudah membantu," ujar Levi dengan datar.
Para preman jalanan dan ketua mereka merasa sangat terhormat. Meskipun hanya sebuah ucapan terimakasih yang seperti tidak ikhlas, mereka sudah bangga. Teruouvapan itu bersala dari seorang ketua Black Sky.
Levi berjalan dan memasuki mobil. Mobil itu melaju ke arah rumah sakit dimana tempat teman Kakak iparnya di rawat.
Dia lupa bahwa di wajahnya ada bekas lebam yang akan mengundang jiwa khwatir yang berlebihan namun penuh sayang seseorang nanti. Tanpa pikir panjang setelah tiba di rumah sakit dia langsung turun dan berjalan ke arah ruang perawatan Clasy.
Tanpa mengetuk pintu dia masuk dan langsung duduk di sofa. Tempat itu adalah ruangan VIP dimana terdapat fasilitas yang lengkap.
Dika dan Max yang melihat luka lebam di wajah pria muda itu tetap dengan wajah datarnya. Mereka tau jika Levi mempunyai luka lebam, ada sesuatu yang terjadi. Namun tempat nya sekarang bukan lah tempat yang tepat untuk membahas itu.
Sedangkan wanita kecil yang melihat adik iparnya terluka langsung mendekat khwatir ke arah adik iparnya. "Kenapa dengan wajahmu? Apa barusan kau berkelahi," serunya khwatir dan mendekat ke arah adik iparnya.
"S*ial aku lupa, kakak ipar kan juga disini," batinnya.
"Ahh, itu...itu tadi saat bertemu dengan lawanku di MMA minggu yang akan datang, dia tidak terima dengan aturan yang dibuat oleh tim. Jadi kami berdebat sedikit dan menghasilkan luka ini" jawab Levi. Dia berpikir panjang untuk menemukan jawaban atas pertanyaan wanita kecil di depannya.
"Aish, kenapa tidak kau bunuh saja dia sekalian," kesal Ros sambil menekan tombol di samping ranjang Clasy. Semua orang yang ada disana serentak menatapyak percaya ke arah Ros.
"Baby, sejak kapan kau berubah menjadi psikopat seperti ini?" tanya Dika heran. Yang ditanya juga merasa heran pada dirinya sendiri.
"Yah itu karena kalian. Kalian juga mirip psikopat. Kalian yang mengajari aku." jawab Ros enteng. Memang sesuai fakta bukan?
Seorang perawat datang ke ruangan itu. "Tolong ambilkan es batu Nona," pinta Ros dengan sopan.
Setelah es batu dibawa oleh perawat Ros langsung mengompres pipi adik iparnya. "Kamu tidak usah bertanding. Nanti wajah jelek mu terluka dan semakin jelek," perintah Ros pada adik iparnya.
"Belum bertanding sudah terluka."
"Tidak bisa kakak ipar, nanti aku dianggap banci karena kalah sebelum bertanding. Aku tidak mau. Dimana nanti wajahku didepan anak-anak markas. Seorang adik bos mafia memilih mundur sebelum bertanding," ujar Levi.
"Terserah, tapi ingat. Jika kau pulang dengan wajah jelek karena terkena bogeman saat pertandingan. Ingat, kau bukan adik iparku!" seru Ros dengan tegas.
"Siap Nyonya." jawab Levi tersenyum ke arah Kakak iparnya.
"Kita perlu bicara," Dika buka suara dan berdiri. "Apa aku ikut?" tanya Ros.
"Jika kau ingin meninggalkan teman mu yang sakit ini sendirian, silahkan," seru Dika. Ros langsung kesal mendengar jawaban suaminya.
"Tinggal bilang tidak boleh ikut. Tidak usah membawa-bawa nama orang yang sedang sakit," jawab Ros kesal.
Dika mendekat dan mencium kening sang istri. "Ini masalah laki-laki Baby," seru Dika mengelus rambut istrinya. Ros mengangguk dan mengantar kepergian ketiga pria penghuni markas mafia itu.
Mereka masuk ke dalam satu ruang VVIP yang telah di pesan oleh Max sebelumnya.
"Kau salah Levi," seru Max mulai buka suara. "Kau salah mengatakan bahwa Clasy adalah penghianatnya. Bahkan dia rela terluka demi Nyonya," jelas Max.
Levi yang mendengar itu instrospeksi diri. Memang benar, sepertinya dugaannya kali ini salah. Tapi, entah mengapa insting nya selalu berkata bahwa Clasy bukan orang baik.
Tapi pikirannya kembali pada perkataan Max, Clasy memang terluka demi melindungi kakak iparnya. "S*ial, teka teki ini semakin panjang," batin Levi.