Mafia Boss Little Wife

Mafia Boss Little Wife
Part 89



Setelah menyelesaikan aktivitasnya di kamar mandi, Ros langsung bergegas dan menuju walk in closet. "Apa-apaan ini, kenapa semuanya berantakan?" Ros berbicara pada dirinya sendiri. Namun bukan waktunya untuk membuang-buang waktu.


Setelah itu dia langsung menyiapkan baju ganti sang suami. Dia bergegas keluar dari walk in closet. Dia tidak peduli lagi dengan keadaan walk in closet. Dia memutuskan akan membersihkannya nanti. Yang terpenting sekarang adalah acara di bawah.


Kemudian Ros dengan cepat keluar dari walk in closet. "Bagaimana, apakah Levi marah?" tanya Ros sambil memperbaiki pakaiannya. Namun tidak ada jawaban, Ros mendongak dan melihat ke arah sekeliling kamar.


"Kenapa berantakan begini? Tadi tidak seberantakan ini," ucap Ros melihat tempat tidur tidak pada tempatnya dan sudah bergeser. wajah Ros terlihat heran melihat keadaan kamar. Bukankah barusan waktu dia pergi ke kamar mandi kamar ini tidak berantakan tadi?


Ros melihat raut wajah suaminya. "Ini semua gara-gara adik iparmu yang kekanak-kanakan itu. Kau tahu dia bahkan mengira bahwa aku membunuhmu dengan melempar mu dari balkon. Dia pikir aku ini pria macam apa?"


"Jika bukan adik ku sudah kubunuh bocah besar itu." Tentu saja Ros bingung mendengar pernyataan suaminya. Dika yang seakan mengerti dengan ekspresi istrinya kemudian menjelaskan.


"Dia mengira karena kita lama berada di kamar, dan tidak seperti biasanya dalam satu minggu ini, dia datang dan berpikir negatif bahwa aku melakukan hal-hal yang tidak tidak padamu," seru Dika. Namun sayang, percakapan panjang Dika tidak ditanggapi oleh sang istri.


"Apa dia tadi tidak menyinggung tentang acara pemberangkatannya?"


"Tidak sama sekali. Aku ingin mandi. Aku malas bicara tentang bocah besar itu," kesal Dika karena ceritanya hanya dianggurkan begitu saja.


"Cepatlah nanti Levi menunggu lagi," teriak Ros. Sama seperti sebelumnya, Dika juga tidak peduli dengan teriakan istrinya yang membahas tentang Levi si bocah besar.


Ros harus turun sendirian dari kamar mereka menuju ruang makan. Di sana dia sudah melihat para pelayan telah menyiapkan dengan rapi makanan-makanan yang paling dibutuhkan oleh Levi. Tentunya makanan pedas tidak ada di sana karena itu dapat memicu mudah kelelahan untuk lebih nantinya atau bisa menjadi sesak.


Levi yang melihat kakak iparnya sudah turun dia pura-pura mengambil pekerjaan seperti membereskan makanan, kemudian setelah beberapa saat dia langsung mendekat. "Kakak ipar di mana pria iblis itu?"


"Iblis what do you mean?"


Jelas saja Ros tidak mengerti. "Maksudku Kak Dika di mana? Kenapa dia belum turun. bukankah acaranya akan dimulai? Apa acara ini tidak penting untuk kakak sehingga dia lama turun?" Api mulai dinyalakan oleh Levi.


Dika yang sedang berada di tangga mendengar kata provokasi dari adiknya itu merasa marah.


Bukan Levi namanya jika tidak memanas-manasi kakaknya yang sedang berada di tangga. Dia sejak tadi sudah menyadari kakaknya ada di sana tapi Levi sengaja usil untuk membalas tendangan yang diberikan oleh kakaknya tadi saat di pintu.


"Sialan kau lagi Levi," umpat Dika setelah berada di hadapan adiknya itu. Ros yang melihat pertengkaran antara adik ipar itu buka suara dan menengahi keduanya.


"Tadi kakakmu mandi terlalu lama makanya dia telat datang. Jangan diambil hat," ucap Rosi dengan serius. Dia sama sekali tidak tahu bahwa ada persoalan yang di bahas oleh oleh Kakak Adik itu.


"Oh baiklah kakak ipar. Aku pikir ada pria yang tidak peduli pada adiknya," seru Levi namun hanya dibalas tatapan tajam ole Dika.


"Akhirnya pesta kecil-kecilan itu dimulai dengan Ros yang selalu menasehati adik iparnya agar tidak terluka ataupun melukai orang lain.


"Jika kau nanti bertanding di ring,usahakan jangan terkena pukulan dan melukai wajahmu. Dan juga jika bisa jangan melukai lawan mainmu di ring, agar dia tidak marah dan menyerang mu" nasehat Ros.


Sebenarnya dia juga tau resiko dari pertandingan itu, namun tidak salah memberikan masukan meskipun ujung-ujungnya tidak masuk akal


"Tentu saja para pria yang di sana merasa heran dengan perkataan wanita kecil yang sedang menasehati Levi.


"Kakak ipar, sebenarnya maksudmu bagaimana. Tidak melukai dan dilukai. Jadi siapa yang akan menang?" Itulah pertanyaan Levi setelah mendengar pernyataan kakak iparnya.


"Baby jika Levi tidak melukai lawannya, maka Levilah yang akan jadi korban. Dalam pertandingan itu harus ada yang menang dan kalah, terutama pertandingan MMA harus ada yang jatuh dan bangun."


"Tapi bagaimana jika Levi yang kalah, nanti wajahnya akan babak belur dan tidak ada yang mau menikah dengannya. Aku juga tidak akan mengakui dia sebagai adik iparku jika wajahnya sudah jelek," seru Ros dengan santai.


"Cih, jadi jika wajah ku tidak tampan kau tidak akan mengakui ku sebagai adik ipar mu kakak ipar, begitu?" tanya Levi.


"That's true," jawab Ros. Dika yang mendengar itu tersenyum remeh ke arah adiknya. Kapan lagi dia bisa melihat wajah pias adiknya itu.


Drama party kecil-kecilan yang mereka adakan akhirnya selesai hingga siang hari. Ros terlihat sibuk untuk menyiapkan setelan formal suaminya seperti biasa.


Ros sudah tidak marah lagi tentang suaminya yang telah mengabaikan dirinya selama hampir satu minggu. Dia sudah membaca hasil analisis dari penelitian yang dilakukan Darren pada tubuhnya.


Disana tertulis, dia hanya perlu pemulihan selama satu minggu dan tidak bisa melakukan hubungan intim selama waktu itu. Ros yang awalnya berpikir negatif tentang suaminya kini mereda sedikit meskipun wanita yang bernama Felice itu belum jelas.


Saat memperbaiki dasi sang suami, Dika mengangkat istrinya kedalam pelukannya. Ros menurut saja saat diangkat ke pelukan suaminya. Dia juga harus jinjit sampai kakinya hampir lurus seperti menari balet saja meskipun sang suami sudah menunduk.


Dika terlihat memberikan ruang pada istrinya agar bisa memperbaiki dasinya. Setelah selesai Ros menatap lekat ke arah sang suami. Dika tentunya mengetahui ada maksud di balik tatapan itu.


"Ada apa, hmm," tanya Dika sambil memasukkan kepalanya ke ceruk leher sang istri.


"Bolehkan nanti aku belanja ke mall?" tanya Ros. Dia tau pria yang sedang memeluknya sangat sibuk hari ini agar bisa menyaksikan pertandingan Levi nanti malam. Jadi dia mengambil kesempatan dalam kesempitan.


"Tumben, apa kau kekurangan pakaian?" tanya Dika. Dia mengetahui selera istrinya, bukan tipe wanita ini berbelanja jika masih memiliki stok di rumah. Perhiasan, make up, tas branded dan barang-barang mahal lainnya wanita ini tidak memiliki selera dengan semua itu.


"Tapi hari ini pekerjaan ku padat, Levi juga tidak bisa menemani mu. Selesai pertandingan Levi saja, kau boleh keluar sesuka bersama ku atau adik ipar mu."


"Aku maunya hari ini. Aku sudah bosan di rumah sejak aku kecelakaan," ucap Ros sambil memegang kain kasa putih yang masih melekat di dahinya.


"Justru karena itu Baby, bagaimana kau bisa keluar jika kami tidak ada yang menemani mu?" tanya Dika.


"Aku bisa bersama Odion dan pengawal lainnya. Banyak pun tidak apa-apa," jawab Ros dengan puppy eyesnya. Dika terlihat berpikir sebentar. Dia juga tidak ingin mengekang wanitanya yang bisa menyebabkan rasa terkekang di hati istrinya nanti.


"Baiklah. Ingat, jangan berjauhan dari Odion dan pengawal pribadimu!" Ros mengangguk dan mencium singkat bibir suaminya. Dika merasa berbunga- bunga hatinya. Jika saja ada waktu free dia akan menggempur habis-habisan wanita yang ada dipelukannya saat ini.


"Aku pergi," ucap Dika menurunkan istri kecilnya dan menghisap sebentar bibir yang sudah menjadi candunya. Kebiasaa dan drama pagi itu sudah mulai dilakukan kembali.


Ros tidak mengantarkan kepergian suaminya dan menetap di kamar. Kamar mereka yang berantakan harus di atur kembali olehnya. Dia hanya memerintahkan para pelayan untuk mengatur kembali design kamar mereka. Dia tidak punya waktu lagi, tepat pukul dua siang nanti dia harus pergi ke mall.


Setelah selesai mengatur desain kamar, Ros langsung bergegas menggunakan gaun sederhana tapi sangat mewah. Dibawah Clasy dan Odion sudah bersiap-siap untuk menemani sang nyonya untuk berbelanja ke mall seperti info yang dia dapatkan.


Mereka pergi ke salah satu mall milik keluarga Browns. Dengan santai dan penuh elegan Ros turun dari mobil tepat di depan pintu mall itu.


Setelah memasuki mall, Odion tampak mengehentikan perjalanan mereka. "Nyonya, bisa berikan kami waktu lima menit untuk memastikan tempat ini aman?" tanya Odion.


Ros tentu saja mengangguk setuju. Peluangnya lebih besar saat ini untuk keluar dari pengawasan pengawal terutama Levi dan Clasy.


"Baik, tapi aku sangat lapar. Aku ingin makan," jawab Ros sambil memegang perutnya. "Bukankah Anda baru saja makan Nyonya?" tanya Clasy.


"Aku hanya memakan sedikit tadi, sekarang sudah lapar kembali," elak Ros. Odion bergerak dan mengarahkan sang Nyonya ke ruang VVIP dimana pelayanan di sana adalah pelayanan terbaik.


"Aku ke ruangan VIP saja, aku lebih nyaman disana. Ruang VVIP terlalu luas untuk ku," jawab Ros. Odion mengangguk dan mengarahkan sang nyonya.


"Aku memilih ruangan nomor 6 saja. Dan kau Odion, segera periksa tempat ini. Aku tidak ingin kejadian-kejadian sebelumnya terulang kembali. Aku sudah bisa masuk sendiri, kau tidak perlu mengantar ku sampai kedalam bukan?" tanya Ros.


Odion menunduk dan segera pergi. "Clasy, kenapa kau tidak ikut?" tanya Ros melihat Clasy yang tetap berada di sana.


"Maaf Nyonya, tuan sudah memberikan saya perintah bahwa kemanapun anda pergi, saya haru selalu berada di sisi anda meskipun hanya ke kamar mandi," jelas Clasy sesuai dengan perintah yang sudah didapatkannya.


"Tapi aku bisa menjaga diri di dalam. Kau bisa membantu Odion, setidaknya menemani dia" seru Ros berusaha menyakinkan pelayan pribadinya itu.


"Kenapa Nyonya tiba-tiba seperti ini. Biasanya nyonya akan selalu mengajak ku kemanapun dia pergi. Tapi saat ini nyonya terlihat menyembunyikan sesuatu," batin Clasy.


"Maaf Nyonya, jika saya tidak menemani anda, nyawa saya yang akan jadi taruhannya," kukuh Clasy. Ros hanya bisa pasrah. Orang-orang suaminya adalah orang yang paling sulit di ke labuhi.


Ros akhirnya masuk di dampingi oleh Clasy. "Nenek lampir itu. Pantas saja nyonya tidak ingin aku ikut bersamanya. Ternyata hasutan wanita licik itu," batin Clasy.


Maura yang melihat kehadiran Clasy di sana merasa sedikit terganggu. Dia tidak bisa sepuasnya untuk menghasut wanita kecil yang saat ini sudah didepannya.


Sebelumnya Ros tidak ingin bertemu dengan Maura. Dia sudah malas berhubungan dengan orang yang sudah hampir menyelakai dirinya sendiri. Namun mendengar masa lalu suaminya di ungkit, Ros nampak berpikir sebentar dan mengiyakan ajakan Maura untuk bertemu.


Ros juga sudah mengetahui bahwa ponselnya sudah disadap oleh sang suami. Awalnya Ros tidak percaya dengan info yang di berikan oleh Maura tentang ponselnya yang di sadap.


Namun, semakin Ros mengingat ke arah belakang, pikirannya terbuka ketika mengingat bahwa beberapa percakapan dengan sahabatnya Felice pernah di ungkit oleh sang suami.


Tidak hanya itu, keberadaan dirinya juga saat dia di culik oleh Maura, suaminya itu juga tau dimana posisi dirinya. Waktu itu dia memang tidak membawa ponsel, tapi pria itu berhasil menemukan keberadaannya. Ponsel, entah apa lagi di sematkan pria itu didalam dirinya.


Ros langsung menghapus jejak pesannya bersama Maura hingga sang suami tidak mengetahui apa yang dia lakukan di ponselnya.


"To the point, apa yang ingin kau sampaikan tentang suami ku. Aku tidak memiliki banyak waktu saat ini," seru Ros dengan cepat.


Benar, dia tidak memiliki waktu, Odion hanya membutuhkan waktu lima menit dan waktu makan yang seperti di katakan sebelumnya paling lama dua puluh menit. Jadi waktu yang dia miliki memang sangat sedikit.


Maura juga tidak bisa berbasa-basi karena ada wanita yang harus dia antisipasinya. "Lihat baik-baik foto itu! Dia adalah suami mu waktu muda. Wanita di pelukannya adalah wanita yang sampai saat ini sangat di cintai oleh Rhadika."


Ros nampak memperhatikan satu persatu foto itu. Namun wajahnya tetap stabil dan tidak berubah sedikit pun.


"Kau pikir aku akan terpengaruh hanya karena foto sepele seperti ini? Aku bukan bodoh seperti mu Maura. Kau mungkin berpikir aku akan masuk dalam perangkap permainan mu?" Ros tampak tersenyum remeh ke arah Maura.


"Ya, tersenyum lah saat ini. Banggalah karena kau memiliki waktu untuk tidur bersama suami mu. Ingat, aku akan memberikan kembali pesan pada mu," jeda Maura sebentar.


"Kita lihat, kejutan apa yang akan dibawa wanita itu untuk mu dan untuk hubungan kalian. Dalam waktu dekat wanita itu akan kembali. Yah, dan ku jamin kau tidak akan berubah pikiran," seru Maura sambil tersenyum tipis di akhir kalimatnya.


"Dan ku rasa pertemuan kita ini tidak perlu di ketahui oleh suami yang sangat kau cintai dan yang tidak pernah mengatakan cinta pada mu. Upss, keceplosan," Maura mulai berada di atas awan. Dia juga melirik ke arah Clasy seakan mengatakan bahwa wanita itu harus tutup mulut.


"Nyonya, anda tidak perlu memikirkan omongan wanita itu. Dia itu seperti ular yang memiliki bisa yang dikeluarkan ketika ada mangsa yang mendekat. Tentu tujuannya adalah untuk membunuh musuh dan mangsanya. Jadi kita tidak perlu meladeni ular ini," seru Clasy sambil menarik tangan Ros.


Clasy bisa melihat perubahan raut wajah sang nyonya. "Wow, dongeng mu sangat menarik Maura. Dan aku menunggu kejutan yang kau katakan," seru Ros tidak ingin terlihat lemah di hadapan wanita itu.


Ros keluar bersama Clasy. Raut wajah Ros sudah kembali stabil seperti saat dia akan datang ke mall ini. Dia tidak ingin Odion melihat kondisinya saat ini yang akan membuat suaminya curiga.


"Clasy, aku harap kau tutup mulut dengan kejadian tadi!"


😊 Panjang banget yah bab iniπŸ˜…


Jangan lupa like nya πŸ˜ŠπŸ‘πŸ‘


HorasπŸ‘