Mafia Boss Little Wife

Mafia Boss Little Wife
Part 69



"Aku harus pergi, nanti kak Kaylen marah. Janji, nanti malam. Aku pergi saja yah sekarang," ucap Ros mantap suaminya seperti meminta ijin namun sambil menawarkan sesuatu.


Dika tersenyum, inilah yang ditunggu-tunggu nya. "Hmmm, hati-hati. Aku tidak bisa menemani mu karena ada urusan perusahaan yang harus diselesaikan hari ini. Dan ingat janjimu Baby"


Ros mengangguk. "Tidak apa-apa. I'm okay, aku bersama adik ipar. Dia pasti bisa menjaga ku. Dan janjiku pasti kupegang" jawab Ros.


"Aku pergi," ucap Ros sambil memperbaiki rambutnya. Ros melambaikan tangannya pada sang suami.


Ros berangkat menggunakan mobil sport milik bos dari markas ini. Siapa yang bisa melarang Levi membawa mobil itu? Dika? Ada kakak iparnya yang bisa di andalkan oleh Levi.


Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, Levi dan Ros akhirnya sampai di alamat restoran yang di kirim oleh Kaylen.


Dengan tergesa-gesa Ros turun dari mobil dan bergerak cepat ke arah lift. Restoran itu dibagi menjadi tiga lantai dan tujuan Ros saat ini adalah lantai dua.


Levi yang melihat kakak iparnya tergesa-gesa seperti itu menghela napas. Dia tau, bukan kabar baik yang akan mereka dapatkan nanti. Levi sudah tau tabiat dari keluarga Malorie.


Ros memperhatikan meja-meja dekat kaca transparan yang menampakkan indahnya pemandangan negara Spanyol.


Dia memperhatikan semua meja yang tersusun disana. Lalu tatapannya jatuh seorang wanita rambut panjang dan berpakaian minim yang menampakkan punggung mulusnya. Tepat sekali, wanita yang diperhatikan oleh Ros sejak tadi adalah kakak nya.


Dia langsung bergegas tanpa mengajak Levi. Ros berlari kecil ke arah kaaknya. Sedangkan Levi dia berjalan santai kearah sana.


"Kakak," seru Ros ingin memeluk kakaknya namun langsung ditepis oleh Kaylen. "Duduk saja, tidak perlu lebai seperti itu," seru Kaylen duduk dengan santai.


Ros tetap tersenyum. "Emmm, Kak bukankah pakaian itu mu terlalu terbuka. Maksudku disini bukan seperti di Indonesia," seru Ros dengan pelan agar tidak menyinggung perasaan wanita dihadapannya.


Di Indonesia mungkin banyak pria yang menyukai wanita pakaian minim, namun lebih banyak yang abai dengan pakaian seperti ini.


Di Indonesia juga banyak suku dan agama yang selalu memperhatikan cara berpakaian. Jadi kebanyakan pria dan wanita hanya abai saja jika melihat orang berpakaian minim dan berpegang teguh pada agama masing-masing.


Dan tentu saja tidak agama ataupun suku yang menyarankan pakain seperti itu. Namun pribadi dan pandangan orang-orang pasti berbeda bukan?


Namun disini, pakaian minim seperti itu juga sudah biasa. Namun sudah biasa pula para hidung belang langsung mendekat dan ingin melakukan hal-hal yang tidak sewajarnya.


"Kau tidak perlu mengaturku. Lihat pakain yang kau gunakan. Cih, pada hal kau menikah dengan orang kaya, tapi pakaian mu seperti gembel saja," ejek Kaylen.


"Tutup mulut mu, kau pikir berapa harga dari dress yang kau gunakan." Levi tentu saja tidak terima dengan perkataan Kaylen yang merendahkan kakak iparnya.


"Cih, masih dress rendahan seperti itu kau sudah sombong. Kau pikir aku tidak tau gaun mu itu hanya didesain oleh desainer yang tidak handal dan tidak terkenal sama sekali."


Jangan ditanya kepada Levi pengetahuan nya tentang dunia belanja. Dia paling ahli, dia saja saat ingin belajar waktu bersama kakak iparnya di mall, dia selalu memilih barang branded hingga bebeapa paper bag, apalagi hanya secuil seperti dress Kaylen. itu tak seberapa.


Hot pants yang digunakan oleh Ros bukanlah murahan. Tidak mungkin seorang Nyonya muda dari keturunan Browns menggunakan barang murahan. Hanya saja sifat Kakak iparnya ini sederhana dan tertutup.


Kaylen yang melihat tampang pria yang ada didepannya langsung terdiam. Dia mantap pria didepannya lebih dalam. Bahkan air liurnya hampir menetes.


"Levi, jangan seperti itu. Duduklah!" Ros tidak ingin adik iparnya terpancing emosi dalam menghadapi Kakaknya. Apalagi ini berada didepan umum.


"Apa ini selingkuhan mu?" tanya Kaylen to the point saat melihat bahwa Levi adalah tipe pria idamannya. Jika diperhatikan lagi dari segi style pria ini, dipastikan uang pria ini pasti lebih banyak. Itulah isi pikiran Kaylen.


"Bukan urusanmu," seru Levi dengan wajah dinginnya. "Sangat menarik," batin Kaylen.


Ros yang peka dengan keadaan langsung memegang daftar menu yang ada didepannya. "Kamu pesan apa Levi?" tanya Ros pada adik iparnya.


Levi ingin buka suara, namun dia merasakan ada sesuatu yang menjelajahi kakinya. Bahkan gerakan itu semakin naik secara perlahan kepahanya.


"Aku ingin ke kamar mandi dulu, kalian baik-baik yah," seru Ros sambil berdiri, kemudian bergegas ke arah kamar mandi.


Kaylen tersenyum melihat tingkah Levi yang lama kelamaan memejamkan mata secara perlahan.


"Siapa yang bisa menahan godaan dan tubuhku yang seksi ini," batin Kaylen. Bahkan saat ini wanita itu merendahkan sedikit dadanya sambil berpura-pura membaca menu yang ada didepannya. Dia ingin menunjukkan betapa menariknya tubuh seorang Kaylen.


"Sialan wanita ini, jika bukan saudara kakak ipar sudah kubunuh dia," batin Levi. Dia merasa jijik melihat wajah Kaylen yang terlihat persis seperti ja*la*ng yang haus akan belaian seorang pria.


"Turunkan kaki mu, atau kupatahkan," seru Levi. Wajahnya sudah mulai mengeras. Bukannya takut, Kaylen malah semakin gencar melakukan aksinya.


Kakinya kembali naik dan menjelahi area paha Levi. Pria muda yang sudah mulai muak akan aksi wanita didepannya, dia menangkap kaki itu. Kaylen tersenyum disana. Dia berpikir bahwa dia sudah berhasil menaklukkan pria didepannya. Namun dugaannya salah besar.


Levi memelintir kaki Kaylen. Memang tidak terlalu kuat, namun itu bisa membuat persendian sedikit sakit. Kaylen ingin berteriak, namun mulutnya langsung disumpal Levi dengan tangan yang sudah dilapisi tissu.


Ketika Rosaline ingin ke kamar mandi secara tidak sengaja dia ditabrak oleh salah satu pelayan restoran.


"Maaf Nyonya, saya tidak sengaja," seru pelayan sambil membersihkan baju Rosaline terkena noda makanan.


"Ah, tidak apa-apa. Lanjutkan saja pekerjaanmu. Lain kali hati-hati yah," ucap Rosaline tersenyum. Dia juga pernah menjadi seorang pelayan, jadi Ros bisa memaklumi dan mengetahui perasaan pelayan itu.


"Terimakasih Nyonya," seru pelayan menunduk kan kepalanya lalu membersihkan lantai restoran yang kotor. Rosaline tersenyum dan segera bergegas ke kamar mandi. Tugasnya bertambah kali ini, pakaiannya juga harus dibersihkan.


Dia keluar dari kamar mandi sambil menggosok-gosok bajunya dengan tissu. Nodanya memang sudah bersih, tapi tadi Rosaline membersihkan nya dengan air hingga basah hingga saat ini.


"Hai Line," sapa seorang pria yang berada didepan Ros. Wanita kecil itu mengangkat kepalanya dan melihat seorang pria berperawakan tinggi dan tampan menurutnya, tapi pastinya suaminya lebih unggul.


"Halo, maaaf. Apa anda mengenal saya?" tanya Ros sambil meneliti wajah pria didepannya dalam ingatan. Tapi Ros benar-benar tidak mengingatnya. Tapi pria ini menyebutkan nama belakang Ros, itu artinya mereka pernah bertemu dan berkenalan.


"Saya yang pernah jumpa dengan anda di mall. Waktu itu dompet saya terjatuh dan anda mengembalikannya," jawab pria itu.


"Oohhh, aku ingat. Maaf Tuan, saya tidak mengingat anda."


"Panggil saja Ars. Nama saya Arsenio," jawab pria itu.


Ros mengangguk, "baiklah Ars, aku harus pergi. Ada orang yang menunggu ku."


Saat akan melangkah ada sebuah tangan yang menahan lengan Ros.


Spontan dia berbalik dan melihat tangan yang menahannya. Ros langsung memasang wajah tidak nyaman dan gelisah.


"Lepaskan!" Tiba-tiba seorang pria melepaskan dengan kasar tangan pria yang berani memegang tangan Kakak iparnya. Pria muda itu bisa melihat wajah tidak nyaman kakak iparnya.


"Siapa kau," tanya Levi dengan datar, namun tatapan tajamnya membuat orang disana merinding. Ros langsung memegang tangan Levi dengan kedua tangannya. Dan pemandangan itu tidak lepas dari penglihatan Ars.


Ros hanya berusaha menenangkan adik iparnya agar tidak terpancing emosi. Ars tersenyum melihat sikap posesif pria muda yang adalah ketua mafia klan Black Sky didepannya.


"Maaf Tuan, kami hanya berkenalan saja," jawab Ars dengan sopan. "Bukankah dia tadi ingin pergi dan kau menahannya?" tanya Levi dengan ekspresi datar namun tetap setia dengan mata tajamnya.


"Itu saya hanya ingin bicara sebentar lagi dengan nona Line." Levi tersenyum smirk mendengar itu. Dia berjalan mendekat ke arah Ars dan mendekatkan bibirnya ke arah telinga pria yang dengan beraninya menyentuh kakak iparnya.


"Aku adalah ketua mafia dari klan Black Sky. Aku rasa kau mengenalku. Dan ku ingatkan, jangan pernah mengganggu milik ku atau berharap sekalipun. Jika tidak, ku ingatkan kau berhadapan dengan orang yang jauh di atas mu!" bisik Levi lalu memegang bahu pria didepannya.


Awalnya hanya sebagai tepukan biasa, namun lama kelamaan Levi memegang dan merem*as kuat bahu Ars dengan tenaga penuh. Kedua pria itu saling bertatapan dimana satu orang sudah mulai merasa tulang bahunya sudah hampir remuk. Dan satu lagi mengeluarkan tenaga jari-jarinya dengan kuat.


Setelah menurut Levi sudah memberikan peringatan yang setimpal, dia melepaskan tangannya dan berlalu pergi dengan memegang tangan kakak iparnya.


"Jangan berinteraksi dengan orang yang baru kau kenal Kakak ipar. Kita tidak tau apa tujuannya ingin mendekati mu. Kita tidak tau dia itu seorang mata-mata yang ingin mengincar mu," peringat Levi dengan wajah serius.


"Baik. Tapi dengan Ars, aku sudah pernah bertemu dengannya waktu di mall. Ini bukan pertama kalinya," jawab Ros.


"Intinya jangan berhubungan dengan laki-laki itu. Tadi Kakak ipar tidak lihat bahwa pria itu memiliki banyak pengawal. Berarti ada kemungkinan, dia adalah seorang mafia."


"Baiklah, maaf sekali lagi aku tidak akan mengulanginya." Levi mengangguk saja dan mereka kembali ke meja dimana Kaylen sedang menunggu mereka.


"Kakak, apa kabar dengan Ayah dan ibu di Indonesia. Apa mereka baik-baik saja?" tanya Ros. Namun fokus perhatian Kaylen terus menuju ke arah Levi. Yang ditatap hanya cuek saja dan fokus pada minuman didepannya.


"Kak?" panggil Ros kembali. Kaylen menatap malas pada adiknya. "Mereka baik-baik saja dalam kehidupan miskin mereka. Ini semua karena ulah kamu," seru Kaylen.


"Miskin? Bukankah hutang mereka semua sudah lunas dengan menjaminkan diriku," batin Ros. "Maksud Kakak apa?" tanya Ros.


"Ayah memiliki hutang selain pada suamimu. Mereka menyita seluruh aset perusahaan dan juga rumah. Mereka sudah miskin dan tidak punya apa-apa lagi sekarang. Tapi kamu sudah pergi dan tidak bisa dijadikan jaminan hutang lagi" jawab Kaylen malas.


BUG


Pria disebelah Ros marah bukan main mendengar kalimat Kaylen. Jaminan hutang lagi?


"Kita pulang Kakak ipar," seru Levi


Jangan lupa likenya😊


Horas👐