
"Bodoh! Kenapa kau bertindak bodoh? Kau tau mereka akan mudah mencari keberadaan mu."
"Tapi mereka tidak melihat wajah ku Dad." Pria yang baru saja selesai di tangani oleh tim medis itu memberikan alasan pada ayahnya. Dia masih merasakan ngilu dibahunya, belum lagi luka sobek di pahanya.
"Yah mereka memang tidak melihat wajah mu. Tapi kau tau bukan, bocah sialan itu selalu bisa menemukan musuhnya, sekalipun berada diatas gunung bahkan jika kau pergi ke ujung dunia pun kau tidak akan bisa lolos darinya."
"Maaf Dad, aku akan lebih berhati-hati."
"Maaf, maaf dan maaf saja yang keluar dari mulut mu yang tidak becus itu. Apa dengan kata maaf semuanya akan kembali seperti ke adaan semula. Apa dengan kata maaf mu itu kau akan aman dan tidak akan dicari?"
Pria tua yang sedang duduk di kursi roda itu marah besar pada putra bodohnya itu. Selalu gegabah dengan hasil yang tidak jelas dan selalu merugikan klan. Ini lah alasan pria tua itu selalu marah pada putranya itu. Bahkan terkadang dia malu untuk memperkenalkan putranya itu sebagai pemimpin klan Ghost Lion pada rekan pria tua itu.
"Apa kau sudah ada rencana?" tanya pria tua itu mengalihkan arah pembicaraan karena ingin meredakan amarahnya. "Sudah Dad. Kakak dari istri Rhadika sudah berada di bawah kuasaku."
"Bagus, lakukan dengan baik kali ini. Aku tidak ingin menerima kata gagal. Jika sekali lagi kau gagal, kau akan dilengserkan dari ketua klan Ghost Lion. Ingat, ini kesempatan terakhir mu!" Pria tua itu mematikan teleponnya secara sepihak.
"Pria tua s*ialan ini. Desak wanita itu untuk mendapatkan informasi dari adiknya. Secepatnya Maro. Aku akan membalas keluarga s*ialan itu," perintah pria itu dengan marah pada asistennya.
"Baik Tuan," jawab Maro undur diri dan meninggalkan sang tuan yang sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
**
Seorang wanita terlihat sedang menuruni tangga untuk menuju meja makan. Semalam setelah olahraga malam dengan suaminya, tubuhnya serasa remuk dan seperti baru ditabrak truk karena melayani suaminya. Suaminya berjanji satu jam dan mengatakan sebentar dan sebentar hingga tiga jam berlalu.
Saat akan turun dari tangga, lagi-lagi dia mendengar para pria dirumahnya membahas tentang wanita lain.
"Bagaimana dengan Felice. Aku mendengar dia akan datang dalam waktu dekat?" tanya Dika. Sedangkan Levi hanya diam tidak ingin buka suara.
"Nona Felice tidak memberikan info pada Melvin Tuan. Jadi kita hanya bisa menunggu keputusan Nona," jawab Max.
"Bagaimana dengan Diandra. Apa kau mendapatkan info Max?" Levi mulai buka suara tentang wanita masa lalu kakak nya.
"Untuk apa kau bertanya tentangnya? Jangan buka suara tentang wanita itu di rumah ini!" perintah Dika dengan tegas. Max yang ingin menjawab tentang wanita itu langsung menelan kata-katanya. Memang Rhadika masih sensitif jika membahas wanita itu.
"Diandra? Siapa dia? Kenapa tidak bisa dibahas di rumah ini?" tanya wanita yang sudah sangat penasaran dengan nama Diandra ini.
Serentak, ketiga pria yang sedang duduk di meja makan itu tercekat. Mereka tidak menyadari wanita kecil ini sudah turun dari lantai atas.
"Siapa dia Max? Apa kalian menyembunyikan sesuatu dariku?" Wajah Ros mulai memerah, dia memang selalu merasa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh suaminya.
Kakak ipar duduk dulu. Kau muncul seperti hantu saja," seru Levi berusaha menutupi fakta.
"Max, aku butuh jawaban sekarang. Dan kamu? Apa kau tidak ingin buka suara?" Ros menatap ke arah suaminya. Yang ditatap hanya menunduk dan menatap ke arah meja didepannya.
"Nyonya tenanglah. Dia salah satu pelayan di rumah ini. Dia sudah bekerja hampir semasa hidup Tuan besar. Dia sudah lama keluar dari rumah ini. Tapi tidak pernah ada.yang tau jejaknya. Setelah tuan besar meninggal, wanita itu juga tidak pernah menampakkan diri," jelas Max dengan suara tegas.
Ros menatap kembali ke arah suaminya. "Apakah itu benar? Maaf, aku sudah salah paham.aaf aku telah menyinggung almarhum papa mertua," ucap Ros menunduk.
Dia awalnya langsung berpikir sensitif tentang wanita bernama Diandra itu. Ros berpikir bahwa itu adalah selingkuhan suaminya. Dan satu lagi wanita yang ingin ditanyakan oleh Ros. Felice, tapi dia takut akan salah paham lagi dan membuat suasana keluarga ini rusak.
"Hmmm, duduklah!" perintah Dika menunjukkan pahanya. Ros langsung bergegas mengikuti permintaan suaminya itu.
"Otak kecilmu ini jangan berkeliaran terlalu jauh, nanti kesasar dan tidak bisa kembali," ucap Dika menyentil dahi istrinya.
"Maaf, tadi aku hanya penasaran saja," seru Ros menunduk.
"So, apa kita sudah diperbolehkan makan? Aku sudah lapar." Levi mengalihkan pembicaraan yang membahayakan ini. Ini juga adalah kesalahannya membahas sesuatu yang penting dan tidak pada tempatnya.
Acara sarapan pagi yang diikuti oleh asisten Max itu akhirnya selesai. "Bagaimana Kakak ipar, kita kan bertemu Maura dulu atau saudara Kakak ipar?" tanya Levi.
"Mmm, aku ingin bertemu Maura dulu. Tanganku sudah gatal ingin memberi pelajaran pada wanita itu," jawab Ros setelah berpikir sebentar.
"Sesuai pilihan mu," seru Levi berdiri dari duduknya. "Aku juga akan ke markas, ada sesuatu yang ingin kukerjakn, tapi aku akan datang telat karena ada urusan perusahaan yang harus ku kerjakan," seru Rhadika menatap istri kecilnya.
"Siap komandan," seru Ros sambil mencium singkat bibir suaminya. Dika.pergi terlebih dahulu dan meninggalkan mansion.
"Wow, markas nya sangat bagus Levi. Apakah ada teman Mocca disini?" tanya Ros.
"Ada Kakak ipar, tapi dia lebih beringas. Namanya Mocci."
"Mocci, haha lucu. Aku ingin melihatnya nanti."
"Sure, but before kita harus mengurus wanita satu itu."
Dua orang yang berstatus sebagai ipar itu pergi menuju ruang penyiksaan. Terlihat Maura disana dengan pakaian berantakan, rambut tidak terurus, bekas make up yang tidak jelas, namun belum ada bagian manapun yang terlihat lecet. Namun dada besar itu masih terlihat utuh namun sudah terekspos setengah
Ros masuk bersama dengan adik iparnya dengan cara elegan, namun itu hanya bertahan sebentar. Ros langsung tertawa melihat keadaan Maura.
"Hahahaha, apa benar itu Maura?" Levi yang ingin berbalik langsung ditutupi matanya oleh tangan Ros.
"Jangan buka mata adik ipar, ada semacam penampakan yang menakutkan." Siapapun akan penasaran jika mendengar perkataan seperti itu.
Levi berhasil melepaskan tangan kecil kakak iparnya. Mudah bukan, hanya menyingkirkan tangan kecil dan mungil itu.
"Hahaha, apa itu wanita tidak tau diri itu? Sudah seperti sampah saja," ejek Levi.
Maura yang mendengar ejekan itu berusaha meronta dari tali. "Levi s*ialan lepaskan aku," teriak Maura sambil meronta-ronta.
"Cih, sudah dijadikan tawanan, tapi kau juga tetap sombong nenek lampir," ejek Ros.
"Diam kau ******* kecil. Kau tidak tau apa-apa. Hanya mengangkang dibawah Rhadika saja kau sudah bangga. Apa itu yang kau banggakan?" sindir Maura.
"Levi, bawa seluruh anak buah mu keluar dari tempat ini!" "Tapi Kakak ipar."
"Tidak ada bantahan!"
Terpaksa Levi bersama dengan anggota lainnya keluar dari ruangan itu untuk memberikan ruang untuk Kakak iparnya untuk memberikan hukuman pada Maura.
"Jal*a*ng teriak jal*a*ng," jawab Ros dengan tenang. "Apa kau tau betapa suamiku mencintai ku?" Bahkan dia rela mempertaruhkan nyawanya untuk ku," jelas Ros.
Sedangkan Levi diluar sana mulai cemas. Dia takut jika Maura memberitahu tentang wanita masa lalu Kakaknya. Belum saatnya Ros mengetahui itu, dia tahu hati kakak iparnya masih rentan. Akhirnya dia memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan itu secara diam-diam.
"Bullshit, jangan menghayal terlalu banyak wanita kecil. Ingatlah dan pegang kata-kata ku, kau memang akan dibawa setinggi langit dan pada akhirnya kau akan dihempaskan seperti saat kau sudah merasa tinggi. Kau hanya ******* peliharaan sementara Rhadika."
PLAK
"Tutup mulut menjijikkan mu itu. Kau tidak berhak mengatakan aku seorang wanita penghibur. Atau aku akan membunuhmu."
"Kenapa? Apa kau mulai takut? Apa hatimu sudah mulai sadar?" Maura tersenyum tipis.
"Katakan sesukamu. Aku tau kau hanya ingin memancing ku untuk menjauhi suamiku bukan? Kau salah menargetkan ku. Sebesar apapun kau menghasut ku atau membuat suamiku jelek di depan mataku, aku tidak akan menggubris nya. Jadi jangan habiskan suaramu hanya untuk mengatakan hal yang tidak penting."
"Maura tersenyum tipis. "Pukul aku sesukamu. Pukul sesekamu. Tapi fakta tidak akan berubah. Ingat itu! Ah, satu lagi. Aku ingin bertanya, apa suamimu pernah mengatakan cinta padamu?"
Ros terdiam, dia tidak bisa membalas perkataan wanita berdada besar itu. Memang benar, dia belum pernah mendengar sekali pun kata cinta yang keluar dari mulut suaminya untuk nya.
"Apa kau ingin mendengar sebuah rahasia?" Ros hanya menatap Maura dengan mata bulat berwarna coklat khas negara Asia itu.
"Apa kamu tau bahwa Rhadika memiliki seor...,"
Tak
Tiba-tiba ada sesuatu yang mengarah ke arah perut Maura.
Jangan lupa likenya πππ
Horasπ