
LIKE, KOMEN, SAMA FAVORITNYA MAK AGAR SELALU MENDAPATKAN NOTIFIKASI UPDATENYA๐๐๐๐๐
"Apa yang kau lakukan Baby?" Pria itu merasa bahagia ketika sang istri membuka satu persatu kameja formalnya. Dia pikir akan kembali mengunjungi gua hangat milik istrinya. Hatinya senang bukan main.
Namun harapannya tidak sesuai realita. "Sayang, kenapa di tubuhmu tidak ada satupun? Sedangkan aku disemuanya?" tanya Ros dengan wajah polosnya sambil melihat dari perut roti sobek sampai dada bidang suaminya. Hati pria yang sedang berbunga-bunga tadi langsung didepak.
Dika menghela napas mendengar pertanyaan istri kecilnya. "Itu karena kamu belum ahli Baby."
"Aku juga mau buat stempel merah seperti ini ditubuhmu," ucap Ros berharap.
"Baiklah, aku akan mengajarimu." Dika pasrah saja. Dia benar-benar ingin merasakan kembali gua hangat istrinya. Tapi jika dia meminta sekarang, bukankah terlalu cepat?
Dika mulai mengajari istrinya. Namun beberapa kali gagal. Untuk kelima kalinya terlihat bekas merah samar dileher sang suami. "Sesap lebih dalam Baby!"
Wanita kecil yang sedang duduk mengangkang itu, mulai menyesap lebih dalam dengan fokus tingkat tinggi. Tanda merah itu mulai tercetak jelas, Ros tambah semangat karena usahanya tidak sia-sia. Namun tiba-tiba seseorang masuk tanpa ada pemberitahuan.
"Tuan, ada berkas yang harus anda tangani," ucapnya sambil memegang sebuah laporan. Dia menunduk sambil membuka halaman laporan yang harus ditanda tangani sang tuan. Orang itu adalah Max. Ia tidak mengetahui bahwa kehadirannya telah membuat seorang wanita terhenti dari aktivitas mesumnya.
Ketika ingin menyerahkan berkas, tatapan tajam dilayangkan oleh pria yang sedang duduk di kursi kebesarannya. Wanita dipangkuan nya sudah menelungkup kepalanya kedada bidang suaminya. Berharap orang dibelakangnya tidak mengetahui siapa dirinya.
"S*ial, aku mengganggu dua orang yang sedang berc*umbu, ini namanya mengantarkan nyawa sendiri." Max bisa melihat tanda merah di leher tuannya.
"Biasanya pria yang akan sangat liar. Tapi ini, nyonya seperti kucing liar yang akan memangsa seekor singa," monolog Max sambil melihat wanita tuannya. Lamunan Max buyar ketika mendengar suara dingin tak bersahabat.
"Mana laporannya?" Suara itu seperti ingin menekan Max untuk melompat kedalam jurang paling dalam. Max menyodorkan laporan itu. Sang tuan menandatangani laporan itu dengan wajah marah. Pria dengan wajah memerah karena amarah itu melempar laporan dengan asal kearah Max. Dengan gelagapan Max menangkap laporan itu.
"Aku tidak pernah menggaji seorang yang tidak memiliki etika seperti mu," ucapnya menyayat hati Max. "Maaf Tuan, saya tadi begitu terburu-buru," jawab Max menunduk sejenak ingin bepergian.
"Satu lagi tuan. Klien dari perusahaan AW Company akan datang membahas proyek yang akan kita laksanakan." Setelah mengatakan itu, max ingin pergi meninggalkan ruangan yang sedang panas itu, namun teringat etika yang disinggung tuannya.
"Permisi Tuan dan Nyonya," ucap Max berlalu keluar. "Memalukan, ternyata Max bisa mengenalku meskipun hanya melihat punggung ku," batin Ros.
Ros ingin bangkit dari pangkuan suaminya namun ditahan Dika. "Mau kemana?"
"Aku tidur diruangan Max saja, aku masih mau disini sebentar lagi. Klienmu juga akan datang kan?"
Dika langsung bangkit sambil menggendong istri kecilnya ala koala. Dika membawa istrinya kekamar pribadi miliknya.
"Wow, kamu memiliki kamar disini Sayang?" Dika hanya mengangguk sambil meletakkan istrinya ditempat tidur. "Tidurlah! Aku akan bekerja sebentar lagi," ucap Dika dengan lembut mencium kening istrinya.
Ros mengangguk dan melihat kepergian suaminya. "Siapa wanita yang kau tunggu? Apakah setelah dia datang kau akan menendang ku? Bahkan tidak hanya satu wanita," ucap Ros melihat pintu yang tertutup. Dia merebahkan diri untuk menenangkan jiwanya yang terguncang ketika saat akan ditabrak truk dan kebenaran yang tak sengaja diketahuinya.
Sedangkan Rhadika yang duduk dikursi kebesarannya, ia mengambil sebuah foto dari dalam laci kerjanya. Dia terlihat bimbang memandang foto tersebut. Apakah dia sudah benar-benar melupakan wanita ini? Apakah sepenuhnya hatinya sudah jatuh pada istri kecilnya. Dia masih bimbang ketika melihat foto itu. Ia memasukkan foto tersebut kembali pada tempatnya semula.
Seorang pria masuk dengan setelan jas formalnya. Pria itu juga tampan, hampir terlihat seumuran dengan pria yang bergerak kearah sofa.
Kedua pria itu saling bertatapan. "Halo Tuan Rhadika," ucapnya sambil menyodorkan tangan sebagai tanda perkenalan. Dika awalnya tidak menanggapi pria itu. Namun didalam bisnis harus memiliki tata kesopanan.
Akhirnya Dika mengangkat tangannya dan membalas sapaan pria itu. Mereka membicarakan bisnis dengan waktu yang cukup lama.
Wanita yang sedang rebahan dikamar mewah kantor suaminya mulai bosan. Wanita itu tidak bisa tidur, dan akhirnya bangun. Melihat-lihat desain interior kamar itu. Perhatiannya jatuh pada lemari milik suaminya.
Dia memilih satu kameja putih kebesaran yang sampai menutupi sebagian pahanya. Dia yang sudah bosan memilih keluar kamar mewah itu. Wanita kecil yang memakai kameja kebesaran suaminya itu berpikir waktu yang dihabiskan untuk menemui klien saat dia berada dikamar sudah selesai.
Dia keluar dan menutup pintu dengan pelan, namun mampu mengalihkan perhatian kedua pria di ruangan itu. Tanpa berbalik Ros memanggil suaminya.
"Sayang, aku mau ke...," ucapan Ros terhenti ketika dua pria itu menatapnya intens.
Salah satu pria disana terlihat meneliti penampilan Ros dari atas sampai ke bawah. Kulit putih mulus, kaki mungil hingga kepaha terekspos sempurna. Kulit seputih susu itu benar-benar menarik.
Kameja kebesaran yang melekat ditubuh wanita itu membuat pria manapun akan tergoda. Meskipun terlihat tenggelam di tubuh kecilnya, namun benda padat dibagian dada itu bisa membuatnya tertarik. Wajah cantik dan imut itu dipadukan dengan rambut yang acak-acakan membuat wajahnya semakin menarik.
"Kemari," ucap pria yang merupakan pemilik gedung ini, sambil menunjukkan sofa kosong disampingnya. Ros mendekat ingin menuju kesana, namun terhenti ketika pria didepan suaminya langsung berdiri dan menghadangnya.
"Nona, apa anda ingat dengan saya?" Ros tersenyum manis setelah beberapa saat mengingat siapa pria itu. Jiwa Indonesia Ros yang ramah tentu melekat dalam dirinya.
Dika mulai tidak bersahabat wajahnya disana. Sejak kapan istrinya dekat dengan pria lain. Apa dia pernah kecolongan? Dan pria itu adalah kliennya yang terbilang tampan. Dika dapat melihat ketertarikan dimata pria itu untuk wanitanya.
Dika bangkit dan menarik wanitanya untuk duduk dipangkuannya. "Dia istriku, saya harap anda menghapus rasa ketertarikan yang tidak berdasar itu." Pria yang sedang cemburu itu langsung memeluk pinggang wanitanya posesif.
Sedangkan Ros membelalakkan matanya ketika pria didepannya secara terang-terangan mengakui statusnya.
Pria yang berdiri disana, wajahnya pias. Harapannya semakin tipis untuk memiliki wanita incarannya. Namun tekadnya sudah bulat untuk memiliki wanita itu.
Ia keluar tanpa menyelesaikan urusannya dikantor pencakar langit yang didatanginya dengan susah payah. Siapapun pasti tau betapa sulitnya jika ingin bekerjasama dengan RA Company. Terlihat wajahnya mengeras. Sang sekertaris yang melihat itu merasa bingung, namun tetap mengikuti sang tuan.
Sesampainya didalam mobil, pria itu menatap intens kearah gedung pencakar langit didepannya. "Akan kupastikan kau milikku, apapun akan kulakukan," ucapnya tersenyum tipis membayangkan wanita itu bermain liar diatasnya.
Diruangan CEO, dua orang disana masih hening dalam diam. Wajah pria yang yang sedang memangku wanita itu terlihat suram.
"Kenapa kau tersenyum kepadanya? Apa kau menyukainya? Dimana kau bertemu dengannya?" Pria itu mulai menatap menyelidik pada istri kecilnya. Sedangkan wanita didepannya malah tersenyum manis mendengar pertanyaan suaminya.
Horas๐๏ธ