Mafia Boss Little Wife

Mafia Boss Little Wife
Akibat Gaun Pesta



Selama seminggu setelah kejadian hampir tertabrak truk Ros terkurung dalam sangkar emas milik suaminya. Tidak merasa bosan, karena selalu digempur dan diajak olahraga malam oleh suaminya.


Tidak hanya itu, pagi ini juga mereka melakukannya. Ros sudah digempur habis-habisan semalam tapi pagi ini juga suaminya sedang masuk kedalam miliknya yang sempit.


"Ahh.. sudah... sudah, aku lelah," ucap wanita itu dengan nafas tersengal-sengal. Tubuhnya sudah dibanjiri oleh keringat akibat olahraga pagi diranjang.


"Sebentar lagi Baby, aku sampai," ucapnya sambil terus memacu pinggulnya. Sesaat kemudian pria itu menyemburkan lahar panas miliknya. "Ah... Rosaline Baby," erang pria itu menyebut nama istrinya.


Ros terkapar diranjang akibat ulah suaminya. Sedangkan pria disampingnya yang ambruk karena telah mencapai kenikmatan tiada tara itu tersenyum tipis.


Dia bangkit dan menggendong istrinya yang sedang polos tanpa sehelai benang pun. "Aku mau tidur, aku lelah. Nanti saja mandinya," ucapnya dengan mata tertutup.


"No, setelah mandi baru tidur lagi. Atau kau mau melakukannya lagi Baby!" Senyum smirk muncul dibibir sang pria.


"Terserah!" ucap wanita itu dengan mata tertutup. Ros dibawa kekamar mandi dalam k adaan mata yang sudah mengantuk. Sampai dikamar mandi, wanita itu sudah terlelap karena terlalu lelah.


Pria tampan yang polos tanpa sehelai benang itupun tersenyum dan meletakkan istrinya di bathtub dengan lembut. Dia membersihkan tubuh wanita nya dengan lembut agar tidak membangunkan istrinya.


Wajah lelap Ros menarik perhatian suaminya. "Kau seperti peri kecil yang tidak berdosa." Wajah mulus dan mungil wanita itu benar-benar membuat hati Dika seakan tertarik dan hanyut kedalam wanita didepannya. Bulu mata yang lentik, ah, dia bahkan tidak ada bosan-bosannya untuk menghabisi wanita didepannya diatas ranjang.


Biasanya dia akan memakai wanita seperti mengganti pakaian saja. Hanya Maura yang bisa bertahan dengannya. Karena dia akan selalu bermain kasar dengan wanita-wanita sebelumnya yang menghangatkan ranjangnya. Tapi dengan wanita didepannya sekarang ini, perlakuan lembut selalu dilakukannya.


Selesai membersihkan tubuh wanitanya, membuat pakaian lengkap, ia bergegas membersihkan dirinya sendiri dan memakai pakaian formalnya. Sebelum pergi, pria itu meletakkan secarik kertas kecil dimeja samping tempat tidur.


"Pukul berapa Max?" tanya Dika setelah masuk ke dalam mobil.


"10.00 malam Tuan," jawab Max. "Tidak bisakah aku tidak menghadirinya? Aku ingin bersama istriku Max. Ah, aku merindukan istri kecilku," ucap Dika menghela napas.


"Apa? Baru beberapa menit yang lalu tuan bersama nyonya. Rindu? Cih, memang cinta bisa membuat orang jenius sekalipun menjadi bodoh," ucap Max dalam hati.


"Maaf Tuan. Anda harus datang karena perayaan ini adalah salah satu milik klien besar kita."


"Cih, seberapa penting dia. Apakah aku akan miskin jika memutuskan kerja sama dengannya? Istriku jauh lebih penting dari perayaan itu," seru Dika mendengus kesal.


"Satu lagi Tuan, Anda harus membawa pasangan Tuan. Tapi saya menyarankan sebaiknya bukan nyonya yang menjadi pasangan anda," saran Max.


"Ck, kau pikir kau lebih pintar dariku?" Dika berdecak kesal. "Panggil Maura, dia akan menjadi pasanganku!" perintahnya.


Disebuah markas yang tampak gelap minim pencahayaan, seorang pria mulai memberitahukan rencana penyerangan malam ini. "Target kita adalah wanita ini." ucapnya melemparkan sebuah foto.


"Malam ini tidak boleh gagal, dan harus tepat sasaran. Jika gagal nyawa kalian yang akan kuhabisi!" ucap pria itu. Anak buahnya hanya mengangguk saja.


Dimansion Browns, seorang wanita baru saja bangun dari tidurnya. "Aduh, sakit semua. Pria itu seperti beruang kutub yang baru bangun dari masa hibernasi nya. Padahal kan tiap malam selalu menghabisi ku," ucapnya kesal karena merasakan intinya masih berdenyut.


Dia hendak beranjak dari ranjang king size itu, namun ujung matanya melihat sebuah kertas kecil. "Bisa di kirim melalui pesan bukan," ucapnya melihat isi kertas kecil itu. Namun menurutnya ini salah satu cara suaminya untuk menyenangkan dirinya.


Pria yang sudah berkutat seharian dengan pekerjaannya memijit pelan pelipisnya. Dia menekan telepon yang langsung terhubung dengan asistennya. "Keruangan ku sekarang!" perintahnya.


Setelah beberapa saat orang yang ditunggu pun datang. "Kita pulang Max!" "Tapi Tuan berkasnya belum selesai anda tanda tangani," jawab asisten Max melihat tumpukan berkas dimeja tuannya.


"Kau berani membantahku?" ucap Dika dengan wajah mulai mengeras. Max hanya menunduk tidak membantah kembali. Dika bangkit diikuti asisten kepercayaannya.


Sesampainya di basemen tempat parkir mobil mewah itu, Max langsung berlari kecil membuka pintu mobil. Max mengemudi, sedangkan pria dikursi belakang memandang jalanan.


"Max, sudah kau beritahu Maura untuk menjadi pasanganku nanti!"


"Maaf Tuan, tapi itu nanti akan menyakiti hati nyona," jawab Max.


"Bukan urusanmu. Kau hanya perlu melaksanakan tugas yang ku berikan," seru Dika tanpa menoleh kedepan. Max mengangguk dan kembali fokus mengemudi.


Pukul 09.00 malam, mobil mewah itu sampai didepan mansion mewah nan megah itu. Tanpa menunggu Max membuka pintu mobil untuknya, terlihat bos mafia itu langsung turun dan masuk kedalam mansion.


Matanya meneliti isi rumah, dan terhenti ketika melihat seorang wanita sedang menonton televisi dipelukan seorang pria muda. Ia bergegas dengan wajah kesal menuju ruang tamu.


Satu bogeman mentah dilayangkan Dika pada pria tersebut yang tak lain adalah adiknya. "Kau berani-beraninya mengatakan karyaku sebagai penyakit," ucap Dika ketika mengingat cerita istrinya.


Levi tersungkur dilantai, Ros menatap heran akan kelakuan suaminya. "Baby, bukan dia telah membodohi mu? Kenapa kau mau dipeluk bocah besar ini?" tanya Dika kesal bukan main.


Ros bangkit dari duduknya dan menolong adik iparnya. "Kan jadi berdarah, lihat," tunjuk Ros ke bibir adik iparnya. Levi tersenyum mengejek kearah kakaknya seakan mengatakan "Akulah yang dibela Kakak ipar."


"Baby?"


"Stop!" ucap Ros.


"Levi sudah memberikan aku satu box besar stroberi manis. Ah aku sangat beruntung," ucap Ros tersenyum manis melihat Levi.


"Wanita kecil ini, hanya stroberi saja sudah bisa memaafkan orang? Bahkan dia membelanya?" Dika kesal bukan main.


"Jangan sekali-kalinya membela pria lain didepanku Baby! Atau kau akan kubuat terkapar lemas di ranjang sampai tidak bisa berjalan selama satu hari," bisik Dika dengan ancam mesumnya.


Benar saja Ros langsung pindah kepelukan suaminya. Ros merinding membayangkan dia tidak bisa berjalan karena gempuran ranjang suaminya. "Ganti pakaian mu, kita akan berangkat dalam waktu 30 menit," perintah Dika menuju kamar diikuti istrinya.


"Levi, bersiaplah. Kau juga akan ikut!"


"Tapi aku tidak punya kartu undangan Kak," jawab Levi bersikap bodoh. Memang dia tidak memiliki undangan, namun mengahadiri acara seperti ini, kamuflase adalah hal yang mudah.


"Cih, jangan sampai terlambat atau kau akan kusuruh merawat Mocha," ancam Dika sukses membuat Levi mengalah. "Baiklah, terserah? Tapi, siapa yang menjadi pasanganku?"


"Istriku, dia akan menjadi pasangan mu malam ini." Ros yang mendengar itu menunduk sedih mengikuti langkah panjang suaminya.


Wajah lesu Ros sampai kedalam kamar masih tercetak jelas. "Kenapa Baby? tanya Dika melihat wajah lesu istrinya. Ros hanya diam dan menunduk saja. Dika mengerti apa yang dipikirkan oleh istrinya.


"Hei, look at me. Ini demi keselamatan mu Baby. Aku hanya tidak ingin kau terluka," ucapnya mengangkat dagu istrinya dan mencium lembut.


Ros berusaha untuk mengerti situasi ini. "Siapa pasanganmu?" tanya Ros menatap suaminya setelah ciuman lembut itu terpisah.


"Ehem, Maura," ucap pria yang masih berpakaian formal itu. "Maura? Wanita berdada besar itu?"Ros kesal bukan main. Dia duduk diranjang dan membuat wajah merajuk.


Dika yang melihat itu terkekeh melihat tingkah kekanak-kanakan istrinya. "Apa dia cemburu?" monolog Dika. "Tenanglah Baby, kita akan membuat sebuah permainan nanti disana," ucap Dika berharap istrinya mengerti dirinya.


"Benarkah?" ucap Ros berhasil membuat wajahnya berubah menjadi seorang polisi yang sedang menyelidiki kasus besar. "Wanita ini, sangat mudah menyesuaikan ekspresi," monolog Dika sambil mengangguk.


Sepasang suami-istri itu akhirnya selesai berdebat dan menggunakan pakaian masing-masing. Dika sudah selesai memakai pakaian ala party. Dibalut dengan kameja navi yang membuat ketampanan dan wibawanya sangat berkarisma.


Sedangkan wanita yang sedang dibantu oleh pelayan pribadinya merasa kesal sekaligus jengkel. Setelah selesai menggunakan dress itu, terdengar suara yang memujinya.


"Anda sangat cantik Nyonya," ucap pelayan pribadi itu mengagumi kecantikan sang Nyonya.


Ros tidak menjawab dan turun kebawah. Ia memastikan tidak ada pria lain diruang tamu itu selain dua pria terpenting dalam hidupnya.


Kedua pria yang mendengar tapak kaki heels langsung menoleh keatas. Kedua pria itu menatap tak percaya pada wanita yang sedang turun kebawah dengan wajah kesal.



"Aku tidak mau memakai ini. Dress macam apaan?" ucap Ros sambil menatap tidak suka pada dress yang dipakainya. "Ini yang kau beli dengan harga jutaan dollar itu? Lebih baik dikasih ke anak jalanan," ucap Ros kesal.


"Dadanya sangat rendah, pahanya terbuka hampir kepangkal pinggul. Sekalian aja dibuka sampai sini," ucap Ros mengangkat dress itu hingga terbuka kebagian perutnya.


Dika langsung mantap Levi yang sudah berbalik arah. "Ini, ini dadanya sekalian aja dipotong biar sekaligus semua ini terlihat," ucap Ros sambil membuat tangannya membelah potongan dada kebawah." Ros kesal bukan main, ini bukan tipenya.


Levi yang tidak tahan mendengar keluhan frontal kakak iparnya berlalu pergi. Sedangkan pria yang melihat istrinya yang mengeluh dengan menunjukkan bagian tubuhnya langsung mendekat dan mengungkung istrinya ke ding-ding. Tangan wanita itu dikunci keatas, sedangkan kakinya tidak bisa bergerak karena kungkungan suaminya.


Ros kaget bukan main, kenapa suaminya menjadi sensitif seperti ini. "Baby, kau telah memancingku," ucapnya dengan suara serak dan napas berat. Siapa yang tidak tergoda jika seorang wanita secara terang-terangan menunjukkan tubuh yang menjadi candunya.


"Aish, ini semua karena gaun pesta menyebalkan ini," batin Ros.