
Kehidupan Rhadika benar-benar di uji saat ini, belum selesai masalah rumah tangganya, dia juga harus di hadapakan masalah perusahaan dan markas yang tiba-tiba di serang oleh orang yang belum di ketahui identitasnya.
Dia bergegas meninggalkan mansion karena mendapat informasi dari Max. Sebenarnya dia ingin berada di sisi istrinya untuk saat ini, namun dia takut jika dia lepas kontrol.
Sebelum Rhadika meninggalkan mansion, Aurora terlihat menyapa sang Daddy. "Dad, apa mommy Rosaline tidak marah melihat ku di sini?" tanya gadis kecil itu dengan wajah polosnya.
Dika mendekat dan mengusap rambut gadis itu. "No, mommy tidak marah, dia hanya kesal pada Daddy karena tiba-tiba membawa mu ke rumah. Jika ada waktu, berbicara lah dengan mommy mu, hmm," ucap Dika.
Selesai berbicara dia langsung bergegas dari mansion. Gadis kecil yang berpura-pura lugu itu langsung menatap ke arah kamar dimana mommynya ada di sana. Dia tau daddynya berbohong, dia dengan jelas tadi melihat bahwa istri daddy nya tidak suka akan kehadirannya.
"Maaf mommy Rosaline," batinnya.
Di perusahaan Ax Company, saat ini Levi dan Felice kembali di hadapkan dengan masalah perusahaan. Lagi-lagi serangan berencana terhadap perusahaan kakak mereka dilakukan kembali.
Sedangkan Max dan Clasy, mereka saat ini berada di salah satu perbatasan milik klan Black Sky, Max di bantu oleh Clasy. Kedua orang itu lambat laun sudah lebih dekat dari sebelumnya.
Max sudah mulai berbicara dengan baik dengan Clasy meskipun wajah sedingin es itu tidak pernah mencair dan selalu saja membeku seperti samudra Atlantik bagian terdalam.
"Tuan Max, apa serangan seperti ini sudah biasa terjadi?" tanya Clasy di sela-sela peperangan yang terjadi. "Diam dan perhatikan setiap langkah mu," seru Max mengabaikan pertanyaan Clasy.
"Kenapa Tuan selalu saja menganggap ku lemah. Aku bisa menjaga diri ku, dan lihat saat misi di casino saja aku selamat. Bahkan aku menyelamatkan nyawa anda Tuan," jawab Clasy panjang lebar.
Entah Kenapa kedua orang itu berubah tanpa mereka sadari. Clasy yang awalnya hanya lancar berbicara dengan Ros, saat ini dia sudah berbicara lebih banyak pada Max. Sedangkan Max dia sudah bisa mengekspresikan diri sejak bersama dengan Clasy.
"Cih, kau menyelamatkan ku, itu hanya kebetulan saja," jawab Max sembari membawa Clasy ke salah satu sudut gelap.
Max selalu waspada, telinga tajamnya mendengar derapan langkah yang banyak menuju mereka. Mencari tempat persembunyian tidak sempat membuat Max membuat pilihan yang intim seperti ini.
Saat ini kedua orang itu sedang menghimpitkan diri di salah satu sudut yang gelap. Tubuh keduanya bersentuhan, Clasy biasa saja karena dia juga saat ini lebih memikirkan situasi. Max? Tentu saja dia tidak fokus. Benda kenyal milik Clasy bergerak naik turun di dada bidangnya. Bagaimana bisa konsentrasi?
"Clasy, aku sesak," seru Max dengan suara beratnya. Clasy langsung menutup mulut Max dengan telapak tangannya. Para musuh masih berkeliaran di sekitar mereka membuat Clasy spontan menutup mulut Max.
"Sabar Tuan, aku juga saat ini merasa sesak. Tapi keadaan tidak baik-baik saja dan sama sekali tidak mendukung. Sebentar lagi setelah mereka pergi," seru Clasy.
"Sial, aku sesak bukan karena tempat yang sempit ini, tapi...," batin Max.
Max tadi menghindar bukan karena takut tidak bisa menghadapi para musuh, namun ingin mengambil ancang-ancang, namun rencana itu seketika hilang ketika wanita di depannya menjadi seorang ahli strategi yang tidak jelas.
"Lepaskan tangan mu Clasy!" perintah Max dengan berbisik. Clasy tidak melepaskan tangannya dari mulut Max, dia masih setia mengawasi para musuh.
Pria yang di abaikan perintahnya langsung memasukkan jari Clasy ke dalam mulutnya. Dia memainkan jari itu di dalam mulutnya.
Wanita di depannya yang awalnya fokus mengamati pergerakan musuh langsung mendongak melihat apa yang dilakukan oleh pria yang sedang melakukan misi bersamanya.
Saat lidah Max memainkan jarinya dengan liar, tubuh Clasy meremang. Dia merasakan sensasi aneh menjalar di tubuhnya. "Apa yang anda lakukan Tuan Max?" ucap Clasy menarik tangannya.
Kedua orang itu menatap satu sama lain dalam hening gelapnya ruangan itu. Tanpa di duga, tangan Max meraba wajah Clasy, dan saat sudah mengetahui posisi yang di cari, dia langsung mencium Clasy.
Wanita yang tadinya terkejut akan kelakuan Max, dia lebih terkejut lagi ketika merasakan sesuatu yaitu benda kenyal yang sedang bermain di bibirnya.
Selama beberapa saat, Max melepaskan tidak rela tautan bibirnya. Entah mengapa, Max merasa sangat familiar dengan rasa bibir wanita itu, bahkan aroma tubuh dari wanita di depannya. Namun dia tidak bisa mengatakan rasa familiar itu pernah di rasakannya di mana.
"Tuan, anda mencuri kesempatan dalam kesempitan," kesal Clasy sambil berbisik. Max tersenyum tipis dalam kegelapan itu, namun sama sekali tidak mengeluarkan suara. Dia mendekatkan kepalanya ke arah Clasy.
"Bahkan aku bisa lebih mengambil kesempatan saat ini nona Clasy. Bahkan aku bisa mengajak mu berc*inta di wilayah sempit ini," seru Max dengan senyum smirknya nya. Dia sengaja mengembuskan nafas panasnya ke leher Clasy.
Jiwa Clasy yang sudah pernah merasakan terbang melayang menyelami dunia orang dewasa merasakan tubuhnya ingin merasakan lebih. Namun Max langsung mendorong pelan Clasy dan bergerak mengeluarkan pistolnya.
Max bergerak cepat dan menembak ke arah musuh, sebanyak sepuluh orang. Pistol senjata otomatis milik Max langsung membabat habis para pria ber jas hitam di depannya.
Sedangkan Clasy, dia masih setia di tempatnya. Dalam keadaan linglung dia keluar dari kegelapan itu. Matanya masih bengong, tapi tubuhnya bergerak.
"Itu akibat karena kau tadi membuat milik ku sesak," batin Max tersenyum tipis. "Apa aku ingin melanjutkan yang tertunda lagi Nona Clasy?" ucap Max bergerak meninggalkan tempat itu.
Wanita itu langsung tersadar dan mengikuti langkah Max. Dia sangat malu karena terlihat begitu murahan di depan Max tadi. "Tuan, tunggu saya," ucap Clasy berlari mengejar Max.
Max terlihat meneliti sekelilingnya dan tidak ada lagi musuh yang menampakkan diri. Anggota klan Black Sky juga sudah berkumpul di sana.
Tiba-tiba ponsel Max berbunyi pertanda ada telepon yang masuk. Dia jelas tau siapa yang menghubunginya, siapa lagi jika bukan atasan sekaligus sahabatnya.
"Segera datang ke perusahaan, ada hal penting yang harus kita bahas," seru si penelepon di seberang sana.
Max langsung bergegas bersama dengan Clasy. Dalam waktu tiga puluh menit, mereka sudah sampai di perusahaan Ax Company dan bergegas menuju ruang CEO.
Setelah sampai di sana, Max bisa melihat wajah lelah bercampur emosi milik tuannya. Dia melihat Rhadika sedang menutup mata sambil duduk di kursi kebesarannya.
"Bagaimana, apa data perusahaan banyak bocor?" tanya Max mengabaikan Rhadika yang di sana.
Clasy, dia tau kehadirannya tidak di sukai oleh orang-orang di sana terutama Levi. Dia hanya bisa menunduk dan tidak mau terlibat dengan urusan perusahaan ini.
"Clasy, pulanglah. Tolong jaga istri ku, dia sedang hamil anak ku. Jauhkan segala sesuatu yang bisa menyakiti dirinya dan anak yang di kandungnya. Berikan dia makanan ibu hamil," seru Dika. Namun dia tetap seperti keadaan sebelumnya. Hanya mulutnya lah yang bergerak.
Clasy yang awalnya menunduk tiba-tiba tegak karena mendengar nyonya mudanya sedang hamil. Terlebih lagi seorang Rhadika meminta tolong padanya. Max juga kaget bukan main mendengar berita kehamilan ini, namun dia langsung bisa menganalisis apa yang terjadi.
"Ma...af Tuan," Clasy masih setia dengan rasa terkejutnya. "Baik, aku akan mengantarnya ke depan." Bukan Clasy yang menjawab melainkan Max.
"Cih, dasar budak cinta sialan," batin Dika ketika melihat sifat Max yang biasanya seperti es kini sudah bisa mengekspresikan diri dalam situasi.
Dia kemudian berpikir sejenak. Sebenarnya dari awal dia mendengar berita kehamilan istrinya, dia sudah yakin seratus persen itu adalah anaknya. Istrinya bukan lah wanita sembarangan yang akan mau di sentuh oleh pria lain.
Namun ketika melihat mata istrinya pertama kali masuk ke mansion setelah kehilangannya selama satu minggu , tidak ada lagi tatapan cinta seperti dulu yang diberikan padanya. Dia ingin mengetahui seberapa besar rasa cinta
Rosaline padanya saat ini, dan terbukti wanita itu begitu menyayangi bayi mereka. Hal itu menandakan bahwa istri kecilnya masih setia akan cintanya ke pada dirinya.
Jangan lupa likenya 😊😊 👍👍
Horas ✋