
"Apa kalian membahasa tentang rahim? Rahim siapa?" tanya wanita yang berada di pintu.
Para pria yang ada diasana terlihat gelagapan melihat orang yang sedang berdiri di pintu. "Ahh, tidak Kakak ipar, kami sedang membahas tentang ranjang. Benar, ranjang ini tidak berkualitas sama sekali," jawab Darren berusaha menutupi kebenaran.
Ros hanya mengangguk mendengar penjelasan Darren. Dia tidak curiga sama sekali. Dan Ros adalah tipe orang yang ingin membuat orang tidak nyaman dengan sikap nya yang terlalu ikut campur dengan urusan orang lain.
"Mungkin itu urusan para pria," batin Ros.
"Kenapa langsung datang Baby? Bukankah kamu barusan pergi?" tanya Dika mengalihkan pembicaraan. Dia takut istrinya bertanya kembali tentang topik mereka sebelumnya.
"Kepala ku tadi berdenyut, tidak terlalu sakit, tapi aku tidak berani keluar. Aku meminta Clasy saja yang membelinya," jawab Ros.
"Baiklah, tidur terlebih dahulu, nanti jika Clasy datang aku akan memanggil mu," seru Dika membawa wanita didepannya ke dalam dekapan hangatnya.
Max dan Darren langsung keluar dari ruangan itu ketika melihat pria dan wanita itu sudah memulai kemesraannya. Mereka juga sudah tau diri saat ini. Bahkan di luar sana mereka sudah menahan Clasy.
Dika memeluk erat istrinya dan menepuk bahu sang istri. Setelah melihat sang istri sudah tidur, Dika meraih ponselnya ketika mendengar dering ponsel yang begitu mengganggu.
"Halo Tuan," seru seorang pria di sana.
"To the point, istri ku sedang tidur," jawab Dika santai. Terdengar ponsel lawan bicara Dika disana menghasilkan suara yang ribut.
"Cih, ini namanya jika sudah bucin. Bicara dengan adiknya saja tidak sempat," kesal Felic di sana. "Katakan saja, aku sedang sibuk," jawab Dika.
"Cih, aku akan pulang dua Minggu lagi, bye," seru Felice di sana mengembalikan ponsel Melvin. "Maaf Tuan, nona Felice sedang melayani tamu," seru Melvin di seberang sana.
"Hmmm, kabari jika kalian pulang! Jaga dia baik-baik di sana!" seru Dika lalu menutup telepon.
Setelah tiga hari Dika dan Ros sudah diperbolehkan pulang oleh Darren. Lebih tepatnya pria jas putih itu diancam agar menyakinkan istri pemilik rumah sakit ini agar mau segera pulang.
Dika juga sudah mulai melakukan aktivitas biasanya yaitu pergi ke kantor. Bahkan saat ini dia tidak menggunakan kursi roda lagi seperti sebelumnya. Sehari setelah pengobatan itu, Dika sudah belajar berjalan karena perintah istrinya yang selalu memaksa menggunakan kursi roda.
Perban di kepala Ros masih melekat seperti sebelumnya karena luka itu sepenuhnya belum tertutup.
Saat ini Ros sedang duduk tiduran di bahu adik iparnya. Levi seperti biasa tidak akan memiliki pekerjaan jika sudah ada Kakaknya dan Max. Dia saat ini sedang melihat CCTV markas untuk jaga-jaga jika ada penyusup.
Dia juga tidak memiliki pekerjaan hingga mencari kesibukan sendiri. Ros yang sudah setia dengan benda pipih miliknya tiba-tiba berdiri dan menatap Levi yang sedang fokus. Dia tersenyum smirk.
**
"Max, apa sudah ada info tentang wanita itu?" tanya Dika ketika dia melihat foto istrinya yang diambil diam-diam saat acara wedding paksaan itu.
"Saya mendapat informasi bahwa dia akan datang dalam periode bulan ini Tuan," jawab Max.
"Kau tau langkah apa yang harus kau lakukan bukan, jika dia datang," seru Rhadika. Dia berdiri dari kursi kebesaran miliknya dan melihat ke indahan negara Spanyol dari kaca transparan ruangan mewahnya.
"Baik Tuan. Jika saya boleh memberi saran, apa tidak sebaiknya anda memberitahukan terlebih dahulu tentang wanita itu pada nyonya Tuan."
"Belum saatnya Max. Belum ada jaminan untuk bisa menahan istri ku disisi ku." jawab Dika. "Tapi Tuan, lebih cepat lebih baik," saran Max kembali.
"Kau tau dia ada kendala di rahimnya Max. Aku juga tidak bisa berhubungan dengannya. Kau juga tau awal hubungan kami bukan? Jadi belum ada dasar yang kuat untuk mempertahankannya. Dan satu yang selalu membuat ku waspada, hati lembutnya masih sangat rapuh" jelas Dika.
Dia juga tidak ingin berlarut-larut dalam masalah ini. Tapi, apa boleh buat, dia juga sedang berusaha namun takdir berkata lain. Max juga tidak bisa berkata-kata, benar apa yang dikatakan oleh tuannya.
"Aku ingin pulang, aku merindukan istri kecilku," seru Dika kemudian pergi begitu saja. Max mengikuti dia dari belakang.
"Tapi Tuan, berkas-berkas meeting besok belum anda tangani," tegur Max. "Bukankah besok, berarti masih ada besok bukan?"
Max tidak bisa membantah, dia hanya mengikuti tuannya saja. Memang sudah memasuki pukul tujuh malam, sudah waktunya pulang di bandingkan jam biasa ketika si bos bucin itu sedang terperangkap di sarangnya.
Sesampainya di mansion, Dika langsung memasuki rumah tanpa menunggu Max membuka pintu untuknya. Ros juga sebelumnya sudah bertanya tentang kepulangan suaminya. Jadi dia sudah bersiap-siap untuk meyambut suaminya.
Ros terlihat keluar dari ruang dapur. Namun satu yang menggangu pemandangan dan perhatian Dika. Tangan istri kecilnya selalu berada di lehernya.
Dika mendekat dan mencium kening istrinya. "Ada apa dengan leher mu?" tanya Dika melihat ke arah leher yang di tutupi istrinya. "Ah, tidak apa-apa. Aku tadi digigit nyamuk saat di dapur," jawab Ros.
Dika mulai tidak dikondisikan wajahnya. Dia pulang demi istrinya dan wanita itu tidak peka sama sekali. Bahkan tidak ada panggilan sayang seperti biasanya.
"Coba ku lihat leher mu! Apakah parah?" tanya Dika. Dia masih setia meladeni istrinya.
"Tidak, tidak usah, itu hanya gigitan kecil. Tidak terlalu parah," jawab Ros tetap mempertahankan tangannya.
Wajah Dika tiba-tiba memerah melihat tanda merah di leher istrinya. Ini mirip seperti karyanya jika sedang berci*nya dengan istrinya. Dalam waktu tiga hari ini, dia tidak pernah menyentuh istrinya.
Bahkan saat akan tidur dan pergi bekerja, Dika tidak pernah mencium bibir Istrinya karena takut akan terpancing. Namun ini, siapa yang berani melakukannya.
"Siapa?" tanya Dika. Wajahnya seperti awan gelap yang berusaha menahan turunnya hujan. Ros menggeleng, "ini bekas gigitan nyamuk," jawabnya lagi menunduk. Jawaban istrinya semakin membuat dirinya kesal bukan main.
"Siapa yang berani menyentuh istri seorang Rhadika Browns," tanyanya pada sang istri. Ros tetap menggelengkan kepalanya lagi.
Dika melihat sekitar ruang tamu, tiba-tiba dari arah dapur dimana istrinya juga keluar dari sana juga, dia melihat adiknya keluar dari sana.
Dika memperhatikan adiknya itu dan melihat pakaian adiknya kusut. "Breng*sek, seru Dika kemudian dengan cepat menuju sang adik.
Dika langsung memegang leher sang adik. "Jadi kau pelakunya," seru Dika memberikan bogeman mentah kepada adiknya. Levi jatuh tersungkur, bibirnya sudah robek dan mengeluarkan darah.
Pria muda itu tersenyum smirk. Tidak ada penjelasan dan justru tatapan licik yang terlihat di wajah Levi. "Memangnya kenapa?" tanya Levi dengan wajah menantangnya.
Dika yang melihat keberanian adiknya seakan menantang dirinya mengepalkan tangannya. "Apa kau tidak menyesal menjadi seorang penghianat?" tanya Dika menatap Levi. Yang ditanya mengedikkan bahu tidak peduli.
"Baik," seru Dika melihat sikap acuh tak acuh dari orang didepannya. Levi juga sudah bersiap dengan kuda-kudanya. Ros yang berada disana juga sudah mulai panik, begitu juga Clasy yang ada di sana.
Dika nampak maju dan mulai lah adu baku hantam antara kakak beradik itu. Ros melihat para pengawal tapi tidak ada yang berani bergerak melerai atasan mereka.
Ros berpikir sebentar. "Aish, jika aku yang pergi ke sana, bisa penyok nanti tubuh kecil ku," batin Ros.
Sedangkan Clasy, dia langsung berlari untuk mencari keberadaan Max. Dengan berlari cepat tak tentu arah dia akhirnya menemukan Max yang sedang bersantai di ruang keluarga sambil memegang iPad nya.
Mendengar ada orang yang berlari ke arahnya, Max langsung menoleh dan melihat seorang wanita berdiri di depannya.
Wanita itu semakin seksi saja di mata Max. Keringat wanita itu menetes di dahi sang wanita hingga menambah rasa ketertarikan asisten itu.
Tatapan Max meneliti wanita didepannya. Pandangan Max terhenti ketika dibagian dada wanita itu. "Sial, kenapa aku merasa sesak sekarang," batin Max melonggarkan dasinya.
Belum pernah dia seperti ini. Dada yang sedang naik turun seiring tarikan napas wanita itu membuat Max tidak tahan dan ingin merasakannya juga. "Sh*it, apa yang kupikirkan," batin Max.
"Tuan...hosh...hosh, tuan Rhadika dan tuan Levi," Clasy belum bisa menyelesaikan ucapannya karena saking lelahnya.
"Mereka bertengkar hebat di ruang tamu," seru Clasy. Max yang mendengar itu langsung berlari ke ruang tamu dan meninggalkan Clasy disana.
Dan benar saja, Max melihat dua orang pria sedang adu otot dan seorang wanita yang sudah menangis tersedu-sedu di sana.
Levi sudah terlihat babak belur, namun Rhadika hanya beberapa saja. Dika ingin kembali melayangkan tangannya ke arah wajah Levi yang tidak waspada. Namun di tahan oleh Max.
"Bodoh, apa yang kalian berdua lakukan?" seru Max. "Aku akan membunuhnya," seru Dika datar dan ingin menendang perut Levi namun berhasil di tangkap oleh pria muda itu. Dia tersenyum mengejek ke arah kakaknya.
"Kalian berdua hentikan!" seru Ros namun tidak dihiraukan oleh pria-pria yang ada di sana.
Dika yang melihat tatapan mengejek dari adiknya, kini kembali datar dengan sikap penuh strategi. Dia melepaskan tangannya dari Max, kemuadian berputar dan kaki satunya berhasil menendang perut Levi.
Lagi-lagi Levi lah yang mengalami luka di sini. "Apa kau ingin menyerah dan menjelaskan sesuatu?" seru Dika datar. Levi menggeleng, "apa yang harus ku jelaskan, tanya saja pada istri mu!"
Dika semakin marah, dia tau istri nya bukan tipe wanita penggoda. Max dibuat bingung dengan percakapan ke dua orang itu, namun saat ini dia berada di posisi Levi.
Dia tau Levi tidak akan sanggup melawan big bosnya itu. "Ternyata kau berada di pihaknya Max," seru Dika kembali maju dan menyerang dua orang pria di sana.
Levi juga masih berjuang untuk melawan Kakak mafianya itu. Namun nihil, dia kembali terkena tendangan beruntun dan terjatuh kembali.
Sedangkan Max, dia bertahan dan belum ada bekas pukulan di wajah kakunya. Namun dia kurang waspada dan tangannya di pelintir oleh Dika dari depan. Tangannya di putar dan wajahnya langsung di siku.
Max merasakan wajahnya panas. Dika kembali melihat ke arah Levi yang sudah jatuh tersungkur di lantai. Dia ingin maju namun sebuah pelukan dari belakang tubuhnya membuatnya berhenti.
Terlihat tangan mungil itu berusaha menahannya. Bahkan punggung Dika yang hanya di lapisi kameja sudah terasa basah. "Aku mohon berhentilah, kasihan Levi," seru Ros.
"Apa kau lebih memilihnya," tanya Dika tetap mempertahankan posisinya agar tidak melihat wajah sang istri yang sedang menangis. Jika dia melihat air mata itu pastinya dia tidak akan tahan.
Jangan lupa likenya 👍👍😊
Horas 👐