
LIKE, KOMEN, SAMA FAVORITNYA MAK AGAR SELALU MENDAPATKAN NOTIFIKASI UPDATENYA๐๐๐๐๐
Disebuah mansion mewah, tepatnya disebuah kamar seorang wanita sedang marah dan melemparkan apapun yang ada didepannya. Kamar itu terlihat berantakan seperti habis perang. Wanita itu adalah Maura.
Dia merasa marah ketika dirinya tidak ada yang melindungi ketika suara tembakan bergema diruang pesta itu. Terpaksa dirinya sendiri yang menjadi temeng pelindung dirinya sendiri. Bahkan beberapa bagian tubuhnya banyak yang terluka karena merangkak dibawah meja menuju gerbang untuk keluar dari tempat kejadian.
Bahkan pria yang paling disukainya, pria yang didamba-dambakan mengabaikannya dari awal opening pesta sampai kejadian itu. "Ini semua gara-gara wanita itu. Aku akan membunuhmu wanita s*ialan," teriak wanita itu.
Kedua orang tua Maura ingin masuk untuk menenangkan putrinya, namun tidak berani. Mereka juga tidak ingin menjadi korban pelampiasan putri satu-satunya. Mereka merasa menjadi orang tua yang tidak benar. Bagaimana tidak, selain putri mereka menjadi pembangkang, putri mereka juga adalah seorang penikmat one night stand diluaran sana.
**
Dikamar Rhadika, Ros sedang menatap lekat kearahnya. Tatapan curiga, penasaran entah ekspresi apa lagi yang ditunjukkan wanitanya setiap menit.
"Kenapa Baby, apa ada yang salah," tanya Dika malas melihat kearah wajah mungil istrinya yang berubah-ubah.
Terlihat Ros sedang mengernyitkan dahinya. Dia berdiri dan berkeliling ditempat tidur sambil menatap lekat suaminya. Dia sekarang seperti seorang detektif ala mafia.
"Tadi saat di pesta dia memang berdarah. Tapi dia melindungi ku dari depan. Memeluk dari depan, tapi darahnya lebih banyak keluar dari bagian perut depan," ucap Ros dalam hatinya sambil mengangguk-angguk kan kepalanya.
Melihat itu Dika semakin mengernyitkan dahinya. "Kenapa tiba-tiba wanita ini seperti seorang mata-mata yang siap menginterogasi sasarannya," batin Dika.
Luka itu memang ada dibagian punggung Dika, namun bukan luka asli. Itu hasil hiasan lukisan dari alat-alat medis Darren, terlihat nyata tapi faktanya itu adalah lukisan alat medis.
"Tapi tadi kata Darren lukanya tidak terlalu dalam. Apa itu memang benar-benar luka? Tapi itu memang terlihat seperti bekas tembakan yang berlubang, kain kasanya juga berdarah.
Tapi kenapa suamiku tidak merasakan sakit. Biasanya orang yang terkena tembakan akan mati, krisis atau minimalnya tidak sadarkan diri." Ros mengelilingi suaminya, kadang dia menggelengkan kepala kemudian mengernyitkan alisnya. Hal itu berulang-ulang dilakukan oleh wanita kecil itu.
Pria yang sudah bosan melihat tingkah istrinya pun buka suara. "Baby, bisakah kita tidur. Aku butuh istirahat agar lukanya cepat sembuh." Wajah Dika mulai kesal.
Ros yang mendengar luka dari mulut suaminya langsung duduk di kasur dan membantu suaminya untuk tidur. "Ah, aku lupa," ucapnya memperbaiki selimut mereka.
Dika abai dan membuat tangannya sebagai bantalan kepala istrinya. "Hmmm, tidurlah," ucap Dika mencium kening istrinya. "Atau kau ingin kita melakukan nya Baby," tangan Dika mulai tidak bisa dikondisikan didalam selimut.
Ros yang merasakan gelagat suaminya langsung bangkit berdiri dan beranjak dari ranjang. "Kamu sedang sakit, jangan mesum." Ros mengingatkan suaminya.
"Aku bisa pelan-pelan Baby," seru Dika dengan wajah mesumnya menatap sang istri. Ros merasa was-was, bukan dia tidak ingin melayani suaminya. Bagaimana nanti kalau luka suaminya kembali terbuka dan mengakibatkan infeksi.
Ros kemudian bersifat bijak. "Aku akan tidur di kamar ruang tamu. Aku takut kalo nanti aku ada disamping mu, kamu nanti nekat Sayang dan membuat lukamu terlula oke."
"Tapi Baby, aku lagi sakit. Harus ada yang menemani ku. Bagaimana nanti jika aku butuh sesuatu? Siapa yang akan membantuku Baby?"
"Aku akan menyuruh Levi untuk tidur bersamamu," jawab Ros.
"Ck, tidak usah. Aku bisa tidur sendiri," seru Dika kesal. Mendengar itu Ros pergi keluar dan menuju ruang kamar ruang tamu. Dika yang melihat itu tersenyum smirk.
"Kita lihat Baby, berapa lama kau akan bertahan didalam kamar itu." Dika berbicara sendiri.
Tangannya meraih ponsel dan mengetikkan sesuatu. Dia tersenyum sinis melihat kepergian istrinya. Saat ingin beralih ke mode CCT, dia kembali teringat sesuatu. Dia kembali mengambil ponselnya.
"Pastikan Levi mengetahui rencana ku, aku yakin dia akan kekamar adik iparnya!" perintah Dika pada orang diseberang sana.
Sedangkan wanita yang sedang menuju kamar ruang tamu sebenarnya tidak yakin bisa tidur sendiri. Ia sudah terbiasa tidur dalam dekapan hangat suaminya. Jika kekamar adik iparnya takut akan mengganggu tidurnya sekarang. Terpaksa dia harus tidur sendiri.
Setelah sampai dikamar ruang tamu, Ros melihat dekorasi kamar itu. Memang tidak semewah kamar yang dia tempati sehari-hari bersama suaminya, tapi sudah termasuk mewah.
Ros menuju tempat tidur dan memakai selimut hingga menutupi bagian lehernya. Mulai mencoba menutup mata dan berusaha untuk tidur. Hanya guling yang bisa ia peluk dengan erat. Namun tetap tidak bisa tidur.
Berguling kearah kanan, kiri, sambil menutup mata. Ros mencoba untuk tetap tenang dan menutup mata kembali. Meskipun tidak bisa tidur, dia tetap menutup mata, siapa tau dia bisa tidur nanti.
Tepat pukul 00.00 pagi, Ros merasakan ada sesuatu yang menarik selimutnya. Ia bangun mencoba menatap sekitar. Tidak ada orang ataupun yang lainnya. "Mungkin perasaan ku saja," ucap Ros kembali memperbaiki selimutnya dan kembali berbaring.
Pria yang sedang duduk santai disana tersenyum melihat tingkah laku wanita kecilnya. "Belum sadar rupanya," monolog nya dalam hati.
Dikamar ruang tamu, seorang wanita mulai merasa gelisah ketika merasakan benar-benar ada yang menarik selimutnya. Selimut itu ditarik hingga jendela kamar. Jantung Ros mulai berdetak tak karuan.
"Apakah hantu? Tidak, tidak mungkin ada hantu di zaman sekarang. Tenang, tenang Ros itu hanya ilusi mu saja." Wanita itu berbicara dan menenangkan dirinya sendiri.
Tanpa diduga tiba-tiba tirai jendela transparan terbuka dan menampilkan sosok baju putih panjang berdarah-darah, rambutnya panjang seperti sapu ijuk.
"A..pa i..tu benar-benar hantu? Ros beringsut kesudut tempat tidur. Jendela transparan itu terbuka sendiri, dan hantu itu langsung masuk.
"Kenapa jendela nya bisa terbuka. Tadi semuanya tertutup." Ros mulai dirundung ketakutan. Tapi dia berusaha tenang.
"Tunggu, jika dia benar-benar hantu, kenapa dia tidak menembus jendela saja. Kenapa harus menunggu jendela terbuka baru dia masuk. Aku tau pasti aku sedang dikerjai oleh seseorang," Ros tersenyum disana meskipun jantung nya tetap berdetak kencang.
Hihihi
Terdengar suara hantu yang memekakkan telinga. "Kenapa suaranya seperti nyata?" batin Ros. "Tidak, aku tidak boleh takut." Dia merangkak pelan kearah pinggir tempat tidur.
Hihihi
Terdengar kembali suara kikikan hantu itu. "Cih, bahkan aku sudah menghadapi beberapa maut yang ingin merenggut nyawa ku. Lantas, hanya pada hantu palsu seperti mu aku akan takut," seru Ros dengan lantang.
"Dimana anakku. Aku ingin anakku," hantu itu buka suara.
"Tunggu, kenapa hantu bisa bicara," batin Ros. Wanita itu semakin yakin, yang didepannya bukanlah hantu benaran. Ros mendekat dan tersenyum sinis.
Wanita itu mendekat dan mendorong hantu jelek itu. Namun, tangannya tembus dan dia hampir terjerambab ke sudut kamar.
Mata Ros membelalak sempurna. Dia berbalik dan melihat hantu itu. "Ter..nya..ta kamu hantu as..li." ucap Ros terbata-bata.
Hantu itu mendekat dan membuka lebar mulutnya tepat diwajah Ros. Ros langsung berteriak.
"Aaaaa, pergi, pergi," teriaknya masuk kedalam kolong tempat tidur. Ros menutup mata dan bergetar takut. Selama beberapa menit, tidak ada lagi suara hantu itu.
Ros buka mata dan menghela napas dalam. Dia ingin keluar, namun lagi-lagi hantu menampakkan diri tepat diwajahnya. Salah satu matanya bolong, wajahnya banyak bekas tusukan dan berdarah-darah.
"Dimana anakku. Aku ingin anakku," seru hantu itu. Ros keluar dari kolong tempat tidur.
"Aku mohon pergilah, aku tidak tau dimana anakmu. A..ku juga baru dirumah ini. Aku tidak ikut membangun rumah ini. Apa anakmu dikubur disini? Pada suamiku saja tanya, d..ia pe..milik rumah ini," ucap Ros terbata-bata sakin takut nya.
Sedangkan Dika dikamar nya tertawa terbahak bahak mendengar ucapan istrinya. "Wajahnya, oh God aku sangat menyukai wajah ketakutan nya." Pria ini sebentar sadar, "belum pernah aku sebahagia ini setelah Daddy dan mommy pergi. Tapi sejak kedatangan mu Baby girl, penderitaan ku yang dulu seakan hilang tak berbekas."
Sedangkan Ros langsung berlari ketika hantu itu berbalik arah. Dia lari tunggang langgang ke kamar Levi.
Setelah sampai dikamar adik iparnya, wanita itu langsung masuk kedalam selimut dan masuk kepelukan Levi.
"Levi, hosh.. hosh ada hantu dikamar ruang tamu. Aku takut," ucap Ros masih ngos-ngosan.
Sebenarnya Levi belum tidur, namun mendengar suara kaki yang sedang berlari dia langsung pura-pura tidur namun dalam hatinya ia tertawa. Ia juga melihat rekaman CCTV kamar tamu.
Levi pura-pura menggeliat pertanda terganggu tidurnya. "Kakak ipar kau mengganggu tidurku. Besok aku harus kerja, ada kendala dimarkas," ucap Levi melerai pelukannya dan duduk bersandar di ranjang.
"Cepat Kakak ipar, kembalilah kekamar mu, aku ingin tidur tenang tanpa gangguanmu."
"Tidak, tidak akan. Aku tidak akan pergi dari sini. Hantu itu meminta anaknya padaku. Padahal kan aku orang baru disini, kenapa tidak kalian yang datangi." Ros kembali memeluk adik iparnya dengan erat.
"Hantu? Tidak ada hantu dirumah ini. Mungkin itu hanya ilusi semata Kakak ipar saja."
Ros tetap memeluk erat Levi sambil melihat kearah pintu kamar.
"Terserah, Kakak ipar boleh tidur disini tapi jangan mengganggu ku, jangan berisik." Levi membalas pelukan kakak iparnya.
Ros tetap waspada melihat kearah pintu. 30 menit berlalu akhirnya Ros tertidur. Pelan tapi pasti selimut kembali ada yang menarik.
Spontan, denga kesadaran penuh Ros bangkit dan langsung menggoyang-goyang tubuh Levi. "Levi, hantunya kembali datang. Bangun cepat!" Akhirnya pria yang pura-pura tidur itu bangun dengan wajah kesal yang dibuat-buat.
"Itu, itu hantunya datang," Ros melompat kepelukan Levi. " Mana? Aku sama sekali tidak melihatnya?"
"Itu, dia mengahadap kearah kita." Ros menunjuk hantu yang sudah berada dipinggiran ranjang mereka.
"Kakak ipar ini sudah malam. Tidak waktunya untuk bermain-main. Besok saja. Aku ingin tidur."
"Jangan bilang hanya aku yang melihatnya," Ros menutup mulutnya tak percaya. "Aku sudah mengatakan itu hanya ilusi mu saja. Ayo tidur," ucap Levi mulai berbaring.
"Aku ingin anakku," ucap hantu itu.
"Dengar, kau mendengar suaranya bukan?" tanya Ros.
"Aku tidak mendengar dan tidak melihat apapun. Come on Kakak ipar, let's sleep. I have to working tomorrow," ucap Levi kembali tidur.
Hantu itu semakin mendekat kearah Ros. Ros melompat dari tempat tidur dan berlari kearah kamarnya. Dika yang melihat itu dari rekaman CCTV langsung meletakkan ponselnya keatas meja dan berbaring seperti orang yang sudah lama tidur nyenyak.
Ros masuk dan menutup pintu dengan keras dan langsung naik ketempat tidur.
"Sayang bangun, cepat bangun," ucap Ros menggoyang-goyangkan tubuh suaminya. Namun tidak ada respon. Tanpa pikir panjang Ros langsung memasukkan kepalanya kedalam baju suaminya.
Setelah beberapa saat mendengar tidak ada suara Ros manaikkan kepalanya dari kerah suaminya. Dika merasa sesak karena bagian lehernya terasa tercekik oleh ulah istri kecilnya.
Dalam 30 menit Ros tetap berjaga didalam kaos suaminya. Sedangkan suaminya juga tidak bisa tidur karena ulah kepala istri kelinci kecilnya yang selalu keluar masuk dari kerahnya.
Akhirnya pukul 04.00 pagi, terdengar napas teratur dari wanita yang berada didalam baju suaminya. "Jangan melawanku Baby, kau yang menantang ku, ucap Dika mencium kening istrinya dan ikut terlelap.
Horas๐