
Untuk yang baca maraton, semangat yahππͺπͺπ π
Matahari belum menampakkan sinarnya, namun seorang wanita sudah bangun dari tidurnya dan sudah siap dengan pakaian tidak terlalu ketat. Celana pendek dipadukan dengan kaos kebesaran milik suaminya.
Dia tidak sabar untuk belajar bela diri agar lebih kuat untuk melindungi suaminya.
"Sayang bangun cepat, aku mau latihan!" Ros menggoyang-goyangkan tubuh suaminya. Tidak ada respon yang didapatkan oleh Rosaline. Dengan berani wanita itu naik ke tempat tidur dan menggigit telinga suaminya.
"Ssshh, apa yang kau lakukan Baby," seru Dika kesal dan bangun karena merasakan telinga nya digigit dengan kuat sampai dia merasa perih.
Kekesalan Rhadika disambut senyuman khas milik istrinya. "Sayang, kemarin kan hukumanku harus belajar bela diri. Sudah waktunya, lihat pukul berapa sekarang!" Ros menunjuk jam ding-ding yang sedang berputar.
"Masih pukul 05.00 pagi Baby," seru Dika dengan kesal karena tidurnya terganggu oleh istri kecilnya.
"No, no" seru Ros menggeleng kan telunjuk kanannya diatas wajah sang suami.
"Kita harus lebih awal latihan agar aku bisa kuat." Ros berdiri mengangkat tangan kanannya dan menunjukkan lengan kecilnya yang tidak berbentuk sama sekali πͺ.
"Aku harus kuat agar bisa melindungi mu," seru Ros melipat kedua tangannya didada. Melihat tingkah istri kecilnya seperti anak kecil yang baru menang lomba, Dika tertawa dalam hatinya.
"Baby, kau ingin melindungi ku?" Ros mengangguk dengan wajah sok cool.
"Benar, kau harus bisa melindungi ku," seru Dika mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Istri kecil melindungi bos mafia," batin Dika. Inilah salah satu sifat istri kecilnya yang sok serba bisa didepannya, sok berkuasa didepan adik iparnya, dan sok bos dan selalu ingin menindas asistennya Max. Ini semua adalah sifat istri kecilnya yang membuat orang lebih menyukainya karena tingkah itu membuat Ros terlihat lebih imut.
"Baiklah. But Baby, kenapa kau memakai pakaian seperti itu? Seharusnya memakai celana ketat panjang dan bra sport." Dika bingung melihat setelan olahraga istri kecilnya.
"Maksudmu agar semua pengawal bisa melihat bentuk tubuh ku begitu? Agar semua pengawal tahu betapa putih mulusnya perutku begitu?" Wajah Ros sudah kesal bukan main.
"S*ial, selalu saja serba salah," batin Dika.
"Baby, bukan begitu maksud ku. Aku hanya mengatakan bagaimana pakaian para wanita biasanya melakukan olahraga di tempat gym," Dika menjelaskan maksud dari perkataan nya yang dianggap negatif oleh istri kecilnya.
"Terserah!" seru Ros turun dari tempat tidur dengan kesal. Mood untuk belajar bela dirinya sudah hilang semua.
"Baiklah! Kita mulai latihan. Ambilkan aku pakaian," seru Dika dan hanya diangguki malas oleh Ros. Belum pernah perintah seorang Rhadika hanya dianggap angin lalu oleh seseorang.
"Oh Gosh, jika bukan cinta sudah ku mutilasi wanita itu." Dika geram sendiri melihat kepergian wanita kecilnya setelah memasuki walk in closet.
Dia mengambil rokoknya dari dalam laci dan pergi menuju balkon dengan bertelanjang dada. Sudah lama ia tidak menikmati benda yang mengandung nikotin itu.
Baru saja ingin menikmati hari yang belum menunjukkan sinarnya dengan nikotin yang baru ingin disesap nya, tiba-tiba ada sesuatu yang melayang kearah wajah nya.
Siapa saja pasti marah jika diperlakukan seperti itu. Terutama pria yang sudah memerah wajahnya pertanda marah karena ulah seseorang yang tidak sopan. Dia adalah seorang bos mafia, dimana harga dirinya jika diperlakukan seperti itu.
Mata tajamnya melirik siapa yang melakukan itu padanya. Bukan melihat wajah bersalah atau ketakutan dari orang yang berdiri disampingnya, malah wajah kesal yang dilihat nya.
Istri kecilnya lah yang melakukan hal tidak sopan seperti ini padanya. Mata tajamnya tiba-tiba berubah lembut agar istri kecil nya tidak marah.
"Yang seharusnya marah siapa?" batin Dika. Dia menarik napas dalam untuk meredakan emosinya. Saat dia ingin bangkit, istri kecilnya dengan langkah kesal masuk ke dalam kamar dan menelusup kan tubuhnya ke dalam selimut.
"S*ial, apalagi kesalahan ku," seru Dika berjalan menuju ranjang dimana istrinya sudah kesal disana.
"Baby, ada apa lagi. Kenapa begini, cepat buka selimutnya. Nanti kamu sesak," seru Dika membuka pelan selimut yang menutupi tubuh istrinya.
Dengan kasar Ros membuka selimut dan turun dari ranjang mengahadap suaminya. Ros harus menatap keatas karna tubuh kecilnya agar bisa melihat ekspresi suaminya.
"Sejak kapan merokok hah? Kamu pikir itu tidak berbahaya? Apa kamu tidak melihat apa yang tertulis di rokok itu? DILARANG MEROKOK. Kamu tidak melihat gambar paru-paru di rokok mu itu sudah busuk akibat merokok?" Ros mencecar suaminya dengan pertanyaan yang menyudut kan sang suami.
"Baby, baru kali ini aku merokok sejak kau berada disisi ku. Sekali ini saja tidak bolehkah?" tanya Dika.
Dika sangat suka dengan sikap merajuk istrinya ini. Dengan lembut dia memeluk istrinya dari belakang. Mencium lembut tengkuk sang istri.
Ros menggeliat pelan dalam dekapan suaminya. Lagi-lagi dia dibuat merinding oleh terpaan nafas hangat suaminya. Dika menyadarkan kepalanya di leher putih mulus Ros.
"Baby, aku hanya sekali ini merokok, please. Aku janji tidak akan merokok jika didekat mu," bisik Dika sensual. Hal itu membuat tubuh Ros meremang. Satu buah ide terselip dalam pikiran wanita kecil itu.
Ros berbalik dan menghadap suaminya. Dia mengangguk pertanda setuju dengan tawaran suaminya.
Ros meraba pelan dada bidang pria didepannya dengan sensual. Bagaimana Dika bisa tahan dengan godaan kecil istrinya ini.
"Baby, jangan memancingku," suara Dika sudah mulai serak. Ros semakin gencar melakukan aksinya diperut sobek milik Rhadika.
Ketika Dika sudah mulai menutup mata menikmati sentuhan ditubuhnya, Ros tersenyum dan berlari meninggalkan suaminya.
Dika yang merasakan sensasi nyaman tadi hilang membuka mata. "Sayang, jangan lupa kita latihan sekarang," seru Ros menyembulkan kepalanya dari luar pintu kamar.
Dika tertawa sendiri dan mengambil pakaian menyebalkan yang sudah disediakan sang istri. Namun tiba-tiba ponselnya bergetar pertanda ada notifikasi yang masuk.
"Tuan, ketua Ghost Lion berada di kota kita saat ini," isi pesan dari Max. Dika langsung menelepon Max.
"Pastikan dulu siapa identitas nya. Jika itu memang benar dia aku sendiri yang akan bergerak melumpuhkan nya," seru Dika.
Belum mendapatkan jawaban, Dika langsung menutup teleponnya. Yang terpenting saat ini adalah mengajari istri kecilnya untuk bisa bela diri setidaknya untuk menjaga diri di saat dia tidak berada disisi istri kecilnya.
Setelah selesai dengan kegiatan di kamar, Dika turun keruang tamu. Ia melihat Levi sedang memegang kaki kecil sang istri.
"Apa yang kau lakukan," tanya Dika sambil duduk melihat adiknya. "Dia jadi pembantuku Sayang." Jawab Ros tersenyum kearah suaminya. Sedangkan Levi langsung membuang sembarangan alat-alat kecantikan yang sudah disediakan paman Vill.
"Aku tidak mau melakukannya lagi. Kakak ipar kau keterlaluan," kesal Levi berdiri dihadapan Ros. Ros abai saja dan mengajak suaminya ke ruang latihan.
Disana Ros melihat beberapa pengawal juga sedang berlatih, dia tambah semangat. "Aku mau latihan itu," tunjuk Ros ketika seorang pengawal sedang melakukan boxing.
Setelah menggunakan pakaian lengkap boxing, Dika dengan pelan dan sabar mengajari istri kecilnya selama 15 menit. Dalam kurun waktu 30 menit terlihat wajah wanita kecil itu sudah tidak bersahabat.
Dengan wajah kesal wanita itu menuju suaminya yang sedang melakukan battle Ropes. Terlihat pria itu dengan mudah membuat gelombang tali yang besar dan bergelombang sempurna. Namun terhenti ketika seorang seseorang memukulnya dari belakang.
"Aku lelah, tidak mau latihan lagi. Tangan ku sakit semua, pegal," keluh Ros setelah suaminya berbalik menghadapnya.
"Cepat, ini lepaskan!" perintah Ros dituruti Dika dengan baik. "Aku bermain bersama Levi saja," seru Ros dan hanya diangguki oleh Dika dan kembali melakukan aktivitas nya.
Dengan mood yang sudah bagus lagi, Ros keluar dari ruangan itu dan menuju kamar Levi. Jam masih menunjukkan pukul 07.00.
Levi terlihat masih tidur dengan baju yang sama ketika Ros membangun kan levi tadi. "Levi bangun, aku mau latihan bela diri," seru Ros naik ketempat tidur. Pria muda itu hanya menggeliat tak ingin bangun.
Ros yang menyukai film action mendapatkan sebuah ide. Dia mengingat bagaimana aktor favorit nya membuat lawannya yang sudah kalah telak agar segera mati.
Ros mengangkat siku dan melompat diatas tempat tidur.
Bug
Dengan keras Ros menyiku dengan kuat punggung Levi yang sedang tidur tengkurap.
"Kakak ipar, kenapa kau selalu saja menyiksa ku?"
"Aku kan tadi sudah bangunin kamu baik-baik, tapi tidak mau," Ros menjawab dengan santai tanpa beban sedikit pun.
LIKE, KOMEN, SAMA FAVORITNYA MAK AGAR SELALU MENDAPATKAN NOTIFIKASI UPDATENYAπππππ
Horas π