
Dika saat ini sedang baku hantam dengan pria bertopeng itu. Tiap gerakan bisa di hindari oeleh Rhadika. Dia tidak pernah terkena bogeman dan memberikan bogeman. Bos mafia itu membiarkan pria di depannya mengeluarkan tenaganya terlebih dahulu.
Tapi, bukan hanya itu yang membuat Rhadika tidak memberikan serangan balik. Beberapa gerakan yang dilakukan oleh pria bertopeng ini terasa sangat familiar.
Dika awalnya berpikir bahwa sebagain besar gerakan-gerakan kungfu, silat, karate dan bela diri lainnya bisa sama ditiru oleh orang lain. Tapi ini kenapa persis dan sangat familiar?
"Aku harus benar-benar bisa mengetahui identitas pria ini," batin Dika. Sebenarnya dia sudah punya tebakan, tapi tebakan bisa benar atau tidak bukan? Jadi lebih baik membuktikannya dengan mata kita sendiri.
Namun Dika tidak sempat berpikir jauh karena lawannya sekarang sudah bertambah, bahkan dirinya kewalahan sekarang karena peluru disertai anggota Ghost Lion yang menyerangnya sekarang secara bersamaan.
Max yang melihat serangan bertubi-tubi terus datang ke arah tuannya, dia memberikan informasi pada penembak rundung yang berada di pohon jauh dari mereka untuk melumpuhkan penembak rundung milik lawan.
"Dibagian pukul dua belas, di sekitar tebing, lumpuhkan!" perintah Max. Penembak rundung anggota Black Sky langsung mencari keberadaan lawan se profesinya itu.
Saat penembak rundung yang ada di ditebing ingin mengarahkan senapannya ke arah Rhadika, penembak rundung di pohon langsung menembakkan pelurunya tepat ke arah kamera senapan milik anggota Ghost Lion.
Pria yang ada ditebing yang sedang tepat melihat melalui kamera senapan, peluru itu langsung tembus matanya, dia berguling-guling dan jatuh dari tebing. "Clear," jawab pria di atas pohon pada asisten tuannya.
Sekarang Rhadika tidak lagi dihujani peluru. "Saatnya bermain bebas dan impas." Dengan tenang dan penuh tekanan di setiap gerakan tangannya yang membuat para musuh langsung batuk darah, Dika membabat habis para cengunguk di hadapannya.
Sedangkan pria bertopeng sudah berlari jauh dari posisi Dika. Dengan sigap ketua Black Sky itu bergerak cepat diikuti oleh Max. Mereka meninggalkan semua anggota disana untuk mengejar pria bertopeng tersebut.
Dika berlari secepat mungkin. Dika hampir sampai tepat dibelakang pria itu. Dengan sifat gentle dan cool bos klan Black Sky itu, dia melompat dan menendang punggung si pria bertopeng.
Pria bertopeng itu terjungkal dan berguling-guling tak etis di tanah itu. Dika menatap iblis ke arah pria itu.
"Kau bisa memilih, membuka topengmu dan kau kubebaskan saat ini juga, atau kau ingin kematian mu dipercepat?" Rhadika selalu memberikan pilihan, tapi memang tidak pernah menguntungkan untuk orang yang ditawarkan.
"Kau pikir aku bodoh? Aku tau meskipun aku membuka topengku, menyerahkan semua identitas dan hartaku dan juga surat pemindahan kekuasaan ini, kau akan tetap berusaha membunuh ku," jawab pria bertopeng sambil berdiri. Namun kertas yang ada ditangannya tidak pernah sedetik pun berpindah.
"Ternyata kau pintar," jawab Rhadika tersenyum tipis. "Jadi apa kau memilih menyerah?"
"Cih, Kau pikir aku selemah itu?" jawab pria bertopeng. Kembali ke keadaan seperti awal tadi, kedua pria disana kembali melakukan baku hantam.
Dika mendapat satu goresan di wajahnya, pisau yang ada ditangan lawannya berhasil melukai wajah tegasnya. Namun bukan hanya Dika, meskipun denga tangan kosong Rhadika sudah membuat pria didepannya babak belur.
Bahkan, pria bertopeng itu sudah mulai sempoyongan namun masih berdiri. Memanfaatkan kesempatan, Dika langsung menendang perut pria bertopeng. Pria itu sudah hampir berada di pinggir jurang.
Saat melihat lawannya sudah lemah tak berdaya, Dika langsung menarik topeng pria itu.
"Kau?"
Pria yang disana tersenyum melihat wajah terkejut musuh bebuyutannya.
"Benar, Hai sobat lama," jawab pria itu kemudian menjatuhkan dirinya ke jurang. "Apakah dia bunuh diri?"
"Max, segera panggil helikopter kita," ucap Dika, kemudian dia maju ke dekat jurang dan melihat di bawah sana ada yang bergerak.
"Sudah kuduga," batin Dika. Dia mengingat perkataan Levi yang mengatakan fasilitas pria ini sangat lengkap. Oleh karena itu persiapan Dika benar-benar lengkap.
Helikopter Dika sudah datang, meskipun sudah tertinggal jauh, namun yang mengendarai helikopter itu adalah dah Max, si penyusun strategi.
Max mengeluarkan senjata otomatis yang keluar dari atas helikopter. Dia menekan tombol on dan secara otomatis peluru langsung keluar dan sasarannya adalah helikopter yang ada didepannya.
Helikopter yang ada disana beberapa kali bisa menghindar, namun beberapa kali juga terkena tembakan.
Tidak kalah, mereka juga mengeluarkan timah panas, namun dengan manual menggunakan tenaga manusia.
Max berpindah posisi dengan si pengemudi awal helikopter. Kali ini mereka akan bermain cantik, sedangkan Dika dia santai saja dan membiarkan Max bekerja.
"Bawa helikopter ini bergerak cepat dari samping helikopter mereka," perintah Max pada sang pilot.
Dengan cepat pilot tersebut segera melewati burung besi ke samping milik lawan. Tepat saat si burung besi milik kelompok Max melewati kendaraan terbang didepannya, Max mengeluarkan timah panasnya tepat ke arah si pilot lawan.
Sedangkan Dika juga mengeluarkan timah panasnya ke arah musuh bebuyutannya yang disana.Begitu juga sebaliknya, namun tidak tepat sasaran, anggota Ghost Lion lah yang mati dan terkena tembakan.
Saat ini helikopter lawan sudah mulai goyah karena pilot mereka sudah mati ditempat. Pria yang masih menjadi sasaran Rhadika masih hidup. Terlihat pria itu bergerak dan berpindah tempat ke arah kursi pilot.
Rhadika yang melihat itu langsung melompat ke terali besi sebagai tempat pendaratan. Dika terlihat bergelantungan di sana, sedangkan Max, dia membiarkan sang tuan menyelesaikan misinya.
Dika terlihat satu langkah demi satu langkah berusaha mendekati pintu helikopter tersebut. Dika yang sudah biasa melakukan angkat beban melebihi berat tubuhnya tidak terlihat lelah sama sekali. Bahkan dengan gerakan cepat perpaduan antara tangan dan kakinya, dengan mudah dia bisa menaiki helikopter tersebut.
Musuh Dika yang tidak menyadari orang yang ada di belakangnya masih setia dan fokus pada kemudi burung besi itu.
"Kau akan membawa ku kemana?" Rhadika tiba-tiba buka suara dan mengejutkan si pilot. "Aku tidak suka perjalanan jauh," seru Rhadika lagi menatap tajam ke arah lawannya.
"Kau, bagaimana bisa?" ucap pria itu. Rhadika maju ke depan dan mengundang siap siaga dari pria di samping Rhadika.
"I'm a ghost. Do you believe me?" seru Dika tersenyum smirk. (Aku adalah hantu. Apa kau percaya padaku) Dika kemudian menggerakkan tangannya dan ingin mengambil kertas miliknya yang berada di tangan musuh.
Dengan gerakan cepat si pria langsung menyerang Rhadika dan mempertahankan kertas yang ada ditangannya. Kemudian di biarkan begitu saja menyebabkan si burung besi oleng kesana kemari. Namun kedua ketua mafia itu tidak ada yang mengalah dan saling beradu otot.
Dug
Dika menendang tubuh pria diatasnya, setir dari helikopter patah. Sedangkan si burung besi sudah oleng dengan tidak teratur. Orang yang didalamnya pun tidak ada kesempatan untuk melakukan adu otot. Mereka jatuh dan terlempar sesuai pergerakan si burung besi. Tentunya tidak ada lagi yang bisa mengontrol si burung besi karena setirnya sudah patah.
"Max," ucap Dika melalui earpo. Helikopter yang langsung di kendarai oleh Max mendekat. Saat akan helikopter yang ditumpangi Dika akan jatuh dia melompat ke arah kendaraan yang dibawa oleh Max.
"Tuan." Max hampir jantungan ketika melihat Dika melompat, tangan Rhadika hampir lepas dan tidak tepat sasaran pada terali besi helikopter. Namun untung, salah satu tangan Rhadika berhasil menggantung dan tidak jatuh.
Max langsung membantu Dika dengan mengulurkan tangan. Wajah itu sudah dipenuhi dengan goresan-goresan dari burung besi yang baru saja terjatuh.
"Kita turun Max, aku harus memastikan si bren*gsek itu, apakah dia masih hidup atau sudah menemui ajalnya."
Max mengeluarkan tali Taliban gantung yang sering digunakan oleh orang-orang yang sering menggantung di helikopter.
Max dan Dika turun secara bertahap. Sesampainya dibagian bawah mereka melihat puing-puing helikopter sudah dimana-mana.
Tidak hanya itu mereka juga melihat seseorang memegang kertas. Darah sudah menutupi sebagian wajahnya dan dia masih berusaha untuk bangun dan keluar dari helikopter yang sudah hancur tak berbentuk itu.
Dor
Dika menembak kaki orang yang sudah berusaha keluar dari helikopter tersebut.
"Sh*i*t, F*u*ck you Rhadika sialan," pria itu menyempatkan diri untuk mengumpat Rhadika di tengah-tengah rasa sakitnya.
"Cih, kau sama seperti dulu. Kenapa kau selalu ingin memiliki semua milikku? Apa ayah tua bangkamu itu menanamkan hal kotor di otak mu. But, i understand. Like father like Son," ejek Rhadika sambil berjalan ke arah pria yang sedang bersandar di pohon sambil menahan rasa sakitnya.
"Jangan membawa nama Daddy ku," seru pria itu.
"Why? Daddy mu juga dulu ingin mengambil harta daddy ku bukan? Pesan terakhir?" seru Dika sambil mengarahkan pistolnya ke arah pria yang sudah lemah tak berdaya itu.
Tiba-tiba tepat didepan Rhadika ada asap tebal yang bisa membuat penglihatan langsung terganggu dan tiba-tiba terdengar suara bom yang begitu nyaring.
BOM
Ledakan itu begitu besar. Dipastikan jika ada orang disekitar sana, pastinya nyawa itu tidak akan bernapas lagi.
**
Dirumah sakit, tepatnya di ruang inap Ros, Levi yang sedang membaca buku untuk meningkatkan ilmu nya, tiba-tiba ia dikejutkan suara Rosaline yang tiba-tiba bangun dan berteriak.
"Sayanggg," teriak Ros. Napasnya kini masih tersengal-sengal karena mimpinya.
"Kakak ipar kau sudah bangun?" ucap Levi sambil mengambil air minum dari meja samping tempat tidur.
Levi menyerahkan minuman itu pada kakak iparnya. "Dimana suamiku?" tanya Ros dengan tidak sabaran setelah meminum sedikit air mineral itu.
"Kakak ipar, tenang."
"Aku bermimpi buruk, dimana dia sekarang?" tanya Ros. Suaranya sudah meninggi satu oktaf.
"Wait, aku akan meneleponnya," seru Levi mengambil ponselnya, dia berusaha menenangkan kakak iparnya.
Namun tidak ada tanggapan dari orang yang sedang ditunggu kabarnya. Ros menatap harap ke arah Levi membuat pria muda itu tak berdaya. "Tidak di angkat," jawab Levi menggelengkan kepalanya.
"Kemana dia pergi? Jangan berbohong sedikit pun padaku," tanya Ros. Dia tau pasti ada sesuatu yang salah.
"Menyerahkan surat pemindahan kekuasaan dan kepemilikan klan agar mendapatkan donor darah untuk Kakak ipar."
Memang Levi hanya mengetahui itu. Tidak ada yang memberitahukannya tentang hal lain, dia hanya tau bahwa ruangan yang mereka tempati saat ini telah disadap sebelummnya dan ada kantong darah yang sampai dari rumah sakit sebelum anggota dari musuh mereka datang. Dia tidak tau darah itu beras dari mana, tapi itulah info yang dia ketahui.
Tentang pemindahan kekuasaan itu, Levi hanya mengetahui bahwa kakaknya pergi kesana untuk melakukan negosiasi itu. Namun dia tau bahwa kakaknya tidak akan semudah itu untuk menyerahkan usaha hasil keringatnya.
Ditengah pembicaraan mereka ada seorang pria masuk dengan tergesa-gesa. Dia tidak tau lagi ingin mengatakan berita ini pada siapapun, karena pemimpin mereka tidak terlihat setelah mereka melakukan pencarian di sekitar pengeboman itu.
Tanpa mengetuk pintu dan tanpa jeda, pria tadi langsung berbicara. "Tuan, Ketua kita terkena ledakan bom dan belum ditemukan hingga saat ini," lapor anggota itu.
Wanita yang sedang diranjang wajahnya langsung basah. Air mata mengalir tanpa permisi. Wajah pucatnya memang tidak terlihat seperti sebelumnya saat dia belum menerima transfusi darah. Dia melepaskan semua selang yang menempel di tubuhnya.
"Levi, aku akan pergi menyelamatkan suamiku," ucapnya turun dari ranjang. Levi yang melihat itu langsung menahan Kakak iparnya.
"Kakak ipar, tenanglah. Aku yang akan mencari kakak. Kau tenanglah disini sampai Kakak ipar sembuh."
"Tenang? Istri mana yang tenang saat suaminya dalam bahaya?" teriak Ros. Dia melepaskan tangan Levi dari pinggangnya. Namun baru satu langkah dia langsung terjatuh dan tidak sadarkan diri.
Levi yang melihat itu langsung sigap dan mengangkat Kakak iparnya ke ranjang.
"Sialan, kau tidak melihat ada istri kakak ku tadi disini, bodoh!" ucap Levi sambil memperbaiki selimut Kakak iparnya.
Pengawal itu hanya tertunduk menyesali ke gegabahannya.