
Setelah berbaikan dengan istrinya, Dika menghembuskan nafas dengan lega. Tapi ada satu syarat yang harus dia penuhi. Mudah dan tidak perlu mengorbankan dirinya sendiri. Jadi dia tidak perlu ambil pusing.
Sepasang suami-istri itu sedang makan bersama. Wanita nya meminta untuk menggunakan dress long neck agar bisa menutupi jejak karya suaminya.
Dibalik kesenangan itu Rhadika tetap merasa waspada terhadap keselamatan istrinya. Yah, dia memang tidak mempublikasikan pernikahan nya, tapi insiden penembakan itu pasti mencuat dan menimbulkan isu-isu yang mengarah pada hubungan dia dengan istrinya.
Saat ini semua memang terlihat baik-baik saja, namun insiden penembakan itu adalah akar yang mulai mencuat dari tanah. Musuh secara terang-terangan menampakkan diri.
Berita tentang insiden penembakan itu memang sengaja dirilis oleh salah satu akun yang adalah milik salah satu anggota Black Sky untuk mengecoh musuh akan keadaannya.
Awalnya Dika tidak curiga melihat proses pelaksanaan pesta, namun setelah melihat salah satu pelayan dimana dipinggangnya terlihat sebuah pistol. Dika melirik kearah Max. Dan sang asisten mengerti itu langsung bergerak licin seperti belut.
Musuh bermaksud mengecoh mereka, tapi mereka salah sasaran dan malah mengumpankan diri. Dika sengaja menyuruh Max untuk mengetahui siapa identitas pria itu, tapi tidak untuk menangkap. Mereka harus bisa menemukan motif segala pencobaan penembakan sang istri. Dan awal dari informasi itu adalah penghianat yang sebentar lagi nyawanya akan melayang.
**
Setelah makan siang selesai dan rebahan dikamar, Ros turun bersama dengan suaminya. Melihat Levi sedang duduk santai disana, wanita kecil yang dipeluk posesif oleh sang suami tersenyum licik.
"Sayang, ada adik ipar disana," seru Ros dengan suara besar agar didengar oleh Levi disana. Sedangkan pria muda yang mendengar suara keras Kakak iparnya mengernyitkan dahi.
"Ada apa lagi dengan wanita kecil sok berkuasa ini," batin Levi.
"Ehemm, apapun yang diminta oleh istri ku kau harus menerimanya," seru suara bariton khas milik kakak Levi.
Levi melihat tajam kearah kakak iparnya dan dibalas senyuman licik oleh wanita kecil itu. "Kenapa aku harus menuruti nya?" Levi mencoba melawan kakak yang selalu ditakutinya.
Ros yang mendengar itu menatap tajam adik iparnya. "Kamu, bocah besar lak*nat. Masih berani kau menanyakan itu." Ros mendekat dan menjewer keras telinga adik iparnya.
"Gara-gara kau, aku hampir mati jantungan malam itu. Dan itu karena karya mu yang tidak masuk akal itu." Ros marah dan tetap menjewer telinga adik iparnya. Karya tiga dimensi adik iparnya adalah sebuah temuan baru yang bisa muncul diruang terbuka jika dicontrol melalui remot.
Sedangkan Dika hanya menonton menikmati pertunjukan didepannya.
Levi yang merasa telinga nya sudah panas melepaskan tangan Kakak iparnya dengan pelan. "Tapi itu perintah suamimu Kakak ipar," jelas Levi.
"I don't care. Yang terpenting kau ikut andil dalam kejadian itu, dan kau harus dihukum." Levi mendecih tidak terima melihat kearah Kakak nya yang termasuk pemeran utama kejadian malam itu.
"Cih, apa hukuman ku?" Levi hanya pasrah saja melihat tatapan licik kakak ipar yang sangat disayanginya.
"Tugas mu akan dimulai dari besok. Harus patuh dan menurut padaku," seru Ros melipat kedua tangannya seperti baru menang lomba besar saja.
Setelah drama kejadian malam itu selesai, sepasang suami istri itu pergi kembali kekamar mereka.
Ros sekarang berada dalam dekapan suaminya sambil memainkan benda pipih miliknya dengan melihat vidio-vidio singkat. Tak sengaja kelakuan mesum sepasang kekasih lewat dari berandanya.
Secara otomatis olahraga pagi mereka kembali melintas di pikirannya tadi pagi. Dia tersenyum dalam dekapan suaminya.
Tiba-tiba dia mendorong kuat dada suaminya yang sedang fokus melihat ponselnya. Sedangkan pria yang didorong secara tiba-tiba heran melihat tingkah istrinya.
"Why Baby?" tanya Dika melihat wajah marah istrinya.
"Ahli?" tanya Ros menatap tajam suaminya. Dika bingung mendengar pertanyaan sang istri.
"Ohh, kamu pura-pura lupa rupanya?" selidik Ros sambil berdiri seperti ibu-ibu yang ingin menghukum anaknya yang sedang melawan. "Kenapa wanita ini tidak pada intinya saja. Memberi kode tapi tidak masuk akal. Bertele-tele tidak jelas," batin Dika.
"Apa maksudmu Baby, aku tidak mengerti?" seru Dika. Ros yang melihat respon suaminya memberenggut kesal.
Dia tidur menelusup kan kepalanya kedalam selimut. "Oh Gosh. Kenapa wanita ini seperti ini. Tinggal katakan saja sangat susah. Jika tidak cinta sudah kuhabisi wanita ini" batin Dika.
"Baby, aku benar-benar tidak mengerti maksudmu," seru Dika lembut berusaha membujuk istrinya.
"Kemarin saat kita diranjang, kau mengatakan ahli diatas tubuh wanita. Apa maksudmu, hah? Jangan bilang kau bermain dengan wanita lain dibelakang ku," seru Ros dengan kasar membuka selimut. Matanya sudah dibanjiri oleh air mata.
Dika yang mendengar itu dibuat frustasi. "Kenapa otak kecilmu ini selalu berkeliaran terlalu jauh?" seru Dika mendekat dan menghapus lembut air mata istrinya.
"Banyak musuhku yang ingin selalu menjatuhkan ku. Mereka akan melakukan segala cara untuk membuat namaku rusak dimata orang-orang. Baik dengan menjebakku saat rapat dibar atau ditempat-tempat ilegal," jelas Dika kepada istrinya.
"Jadi hubungan nya apa?" Ros bingung mendengar penjelasan suaminya. "Ditanya apa dijawab apa," pikir Ros.
Dika yang mendengar pertanyaan polos sang istri menepuk pelan dahinya. "Wanita polos ini," batinnya.
"Baby, kenapa disaat penting otak mu ini tidak berfungsi. Tapi saat tidak penting otakmu ini akan berkeliaran sangat jauh," ucap Dika menyentil pelan dahi istrinya. Ros semakin bingung mendengar penjelasan suaminya.
"Baby, kau tau saat dibar orang akan minum apa?" tanya Dika.
"Alkohol lah. Aku kan dulu bekerja di bar," jawab Ros. "Jadi kenapa kau tetap bertanya apa hubungan rapat di bar dengan bermain bersama wanita?" tanya Dika.
Ros berpikir sebentar dan mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan nya.
"I got it. Maksudnya kamu itu dijebak dengan obat-obat peran*gsang atau semacamnya. Begitu?" jawab Ros. Dika hanya mengangguk saja.
"Jadi jika setiap hari diberi obat seperti itu, kamu akan melakukanya setiap hari juga padaku." Ros merinding sendiri mendengar pertanyaannya.
Dika tersenyum mendengar pertanyaan istrinya. "Why not Baby?"(kenapa tidak) serunya sambil tersenyum smirk.
Melihat senyuman suaminya, Ros beringsut menjauh ke sudut tempat tidur. "Tidurlah Baby, aku tidak akan melakukan apapun. Aku tau kau masih merasa sakit dibagian favorit ku," seru Dika dan berhasil membuat Ros bersemu merah.
"Mesum," ucapnya masuk dalam dekapan suaminya. "Tapi kamu tidak memiliki anak diluaran sana bukan saat melakukan nya dengan wanita lain sebelum ini?" tanya Ros mendongak kearah suaminya.
Sebentar dalam diam, "tentu saja aku tidak memiliki anak Baby, kecuali darimu dimasa depan." Mendengar itu Ros merasa aman hatinya lalu kembali tidur.
Pukul 23.00 malam, setelah melihat istrinya sudah tertidur, Dika bangun dan bangkit dari tidurnya. Dengan pelan melepaskan pelukan sang istri.
Dia melihat ponselnya dimana pesan Levi sudah hampir seratusan. "Bocah kecil ini, selalu mengganggu kesenangan orang dewasa," batinnya berlalu pergi dengan berjalan pelan keluar dari kamar.
**
Clasy tidak bisa tidur didalam kamarnya. Dia merasa bersalah pada pengawal yang dijadikan kambing hitam oleh pria sialan yang selalu mengganggu hidupnya.
"Apa aku harus membebaskan pria itu. Tapi bagaimana caranya? Hidup ku saja belum tentu aman." Clasy berbicara sendiri.
Dika yang baru saj turun dari kamar, langsung bergegas menuju ruang penyiksaan. Disana dia disambut baik dengan penghormatan dari para pengawal termasuk Max, namun tidak dengan Levi yang sedang berdiri dengan wajah kesal mengahadap kearah kakak nya yang baru datang.
"Kenapa lama sekali?" tanya Levi. Yang ditanya hanya berdecak kesal dan berjalan menuju penghianat.
Dia duduk di kursi kebesaran penyiksaan nya. Wajah penghianat itu sudah tak berbentuk lagi, ada bekas luka sobekan pisau, bekas pukulan dan berbagai macam luka lagi.
"Katakan, apa alasanmu menghianatiku," tanya Dika to the point.
"Tuan, saya benar-benar tidak menghianati anda. Ponsel saya hanya dipinjam oleh seseorang saat saya ingin membeli minuman saat keluar dari mansion. Dia mengatakan jika saya memberikan ponsel saya untuk dipinjamkan padanya saya akan diberikan imbalan besar. Karena saya memang saat itu membutuhkan uang untuk pengobatan adik saya, saya langsung memberikan ponsel saya," jelas pengawal itu.
Dika yang mendengar itu sejenak diam. Dia juga sebenarnya sudah melihat melalui rekaman CCTV, dia hanya ingin mendengar penjelasan langsung dari mulut pengawal ini.
"Tapi penghianat tetaplah penghianat," jawab Dika.
"Yah benar, benar Tuan. Saya juga tidak akan berguna jika saya hidup Tuan. Adikku satu-satunya juga sudah meninggal karena saya terlambat membawanya kerumah sakit. Saya ingin membawanya berobat karena dia ingin wajahnya bersih seperti orang negeri ginseng. Saya melarang nya untuk operasi plastik namun dia memilih untuk mengkonsumsi obat beracun. Jadi, jika ingin membunuh saya saya siap," ucap pengawal itu menunduk pasrah.
Dika, Max, dan Levi sebenarnya tau, bukan pria yang disiksa oleh mereka penghianat nya. Namun penghianat itu sangat sulit ditemukan. Sepertinya mereka lawan yang seimbang. Buktinya saat meretas melalui pengenalan dan tes syaraf melalui alat canggih buatan Levi, mereka tidak bisa mencocokkan DNA pria yang meminjam ponsel pengawal milik mereka.
Dengan berani dan tanpa gentar sedikitpun, Dika mengangkat samurai miliknya yang telah diambil oleh pengawal.
Saat samurai itu ingin mengenai leher pengawal yang sedang menunduk itu, tiba-tiba seseorang datang dan langsung memeluk pengawal itu.
Horas 👐