Mafia Boss Little Wife

Mafia Boss Little Wife
Duo R (21+)



LIKE, KOMEN, SAMA FAVORITNYA MAK AGAR SELALU MENDAPATKAN NOTIFIKASI UPDATENYA๐Ÿ˜Š๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘


Hening selama beberapa menit, akhirnya Dika bergerak menuju istrinya. Dika mengusap pelan bibir seksi istrinya.


"Baby, kau tidak percaya padaku, hmm?" tanya Dika dengan lembut. Dia harus bisa mengekspresikan dirinya di situasi saat ini. Berbeda jauh dengan kebiasaannya sehari-hari. Datar dan dingin adalah ekspresi nya setiap saat sebelum kedatangan istri kecilnya.


"Tapi, bagimana nanti itu akan mua...." Dika langsung membungkan bibir istrinya dengan lembut. Menghisap pelan membuat Ros terhanyut.


Tidak sadar dengan lembutnya perlakuan sang suami, Ros sekarang sudah telentang dibawah suaminya. Dika berusaha memulai pemanasan kembali agar bisa merilekskan tubuh istrinya.


Suara indah yang terus keluar dari mulut Ros seakan meningkatkan jiwa laki-laki pria yang sedang berusaha membuat istrinya siap menerima juniornya.


"Baby, aku akan masuk. Jika kau merasa sakit, aku akan berhenti, hmm!" ucap Dika. Ros hanya mengangguk saja. Gairahnya sama dengan pria diatasnya.


Membuka pelan kedua kaki kedua istrinya.


Dika mengarahkan tangan mungil istrinya kebagian punggung kekarnya. "Bagi rasa sakit mu Baby, kau bisa melakukan apapun pada punggungku!"


Dika mulai mengarahkan juniornya ke gua hangat istri kecilnya. "Aku masuk Baby." Dika mulai melakukan hentakan pelan, namun suara teriakan istrinya membuat dia berhenti.


"Baby," lirih Dika melihat wajah ingin menangis istrinya. Dia tidak tega melanjutkan aktivitasnya demi keegoisan sesaat itu. Dia tau betul bahwa ini pertama kali untuk istrinya.


Sedangkan Levi diluar pintu merasa was-was. Ia sudah menunggu selama sejam diluar pintu kamar kakaknya. Ia benar-benar ingin mengetahui apakah cara terakhir kakak iparnya berhasil membujuk kakaknya.


Hingga dua jam, akhirnya Levi mengalah dan pergi dari depan pintu itu. Levi sudah mencoba membuka pintu, namun kunci otomatis diaktifkan, begitu juga dngan peredam suara.


Sedangkan Duo R yang ditunggunya sedang memadu kasih didalam kamar itu. Kekhwatiran Levi, tanpa sepengetahuannya ha ya ilusi semata.


"Lanjutkan Sayang, aku bisa menahannya!" Dika melakukan kembali kegiatannya setelah mendengar perintah istrinya.


Baru kali ini seorang Dika diperintah oleh seorang wanita diatas ranjang. But it's okay, dia bekerja untuk masa depannya.


Hentakan ketiga, Dika berhasil membobol gua sempit istrinya.


"Ahh, sakit," ucap Ros sambil menekan kukunya lebih kuat. Darah vi*rgin Ros membasahi milik suaminya. Dika mengeram nikmat karena telah berhasil menembus pertahanan gua milik istrinya. Punggungnya yang sudah berdarah akibat ulah istrinya tidak berarti apa-apa baginya. Seakan kenikmatan ini tiada Tara dengan rasa sakit itu.


Namun dia juga seakan menahan napas karena himpitan kuat istrinya. Dika menahan sebentar hentakan pinggangnya, membiasakan juniornya didalam gua hangat istrinya.


"Baby, apa kita berhenti saja, hmm?" "No, Sayang."


"Ternyata benar di vidio yang kulihat, sangat sakit untuk pertama kali," batin Ros.


Dika memulai permainan panas itu dengan tempo lamban hingga cepat. Di ronde pertama Dika memimpin permainan panas itu. Ros hanya pasrah dibawah kungkungan suaminya. Suara-suara selalu keluar dari bibir tipisnya, membuat pria diatasnya semakin gencar melakukan aksinya.


"Sayang... ah..., faster!"


"As wish Baby," Dika mengikuti alur yang diperintahkan istrinya.


Ros baru kali ini merasakan kenikmatan duaniawi. Ia baru pertama kali merasakan hentakan yang seakan bisa membuatnya melayang merasakan kenikmatan duniawi. Bagian bawahnya terasa sesak, penuh bercampur nikmat ketika pertama kali merasakan sesuatu memaksa masuk kedalam miliknya.


Dika yang merasa dalam puncaknya mengeram menyemburkan lahar hangat miliknya kedalam gua hangat kenikmatan.


Dika membalikkan posisi tubuh mereka.


"Baby, lakukan seperti yang selalu kamu tonton dalam ponselmu! Aku akan pasrah dibawah mu," ucap Dika.


Ros awalnya terkejut, bagaiman suaminya bisa mengetahui aktivitasnya. Namun lamunannya buyar ketika suaminya memegang pinggulnya.


Ros ambruk didada bidang suaminya. Dalam waktu beberapa saat Ros tertidur didada bidang suaminya. Dika menggeser pelan istrinya. Mencium lembut dahi istrinya.


โ„๏ธโ„๏ธโ„๏ธโ„๏ธ


"Terimakasih Baby. Aku mencintaimu," ucap Dika namun tak didengar oleh istrinya karena sudah terlelap menyelami alam mimpinya.


Dika memeluk istrinya dengan erat. Kedua insan itu tidur dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun.


Pagi hari tak terasa sudah mulai menyinari bumi tirai otomatis terbuka membuat seorang wanita terusik dengan cahaya yang masuk melalui jendela transparan itu.


Hiks...Hiks... Hiks


Tiba-tiba wanita yang baru bangun itu terisak dengan keras membuat seorang pria yang sedang tidur dengan nyenyak terbangun tiba-tiba. Dika gelagapan melihat wanitanya menangis.


"Baby, kenapa? Apa ada yang sakit. Apa aku melakukannya terlalu kasar semalam? tanyanya dengan panik sambil bangkit berlutut dihadapan istrinya.


Diak langsung berdiri dan bergegas mengambil ponsel miliknya dari meja kecil samping tempat tidur. "Max, cepat panggil Darren kesini! Istriku sakit." Dika langsung mematikan telepon itu dan berlari kehadapan istrinya yang sedang terisak.


Max yang awalnya sedang menunggu sang tuan, mendengar nyonya mudanya sakit langsung menelepon Darren.


Panggilan pertama Max tidak mendapatkan respon apapun. "S*ial, angkat Darren s*ialan," ucapnya kembali menekan nomor Darren.


Sedangkan Darren dirumah sakit sedang melakukan olahraga pagi bersama perawat seksi berdada besar dibawahnya. Mendengar getaran diponselnya, Darren abai. Namun mendengar ponselnya kembali bergetar dia langsung mengambil ponselnya hendak mematikan benda pipih itu.


Namun niatnya terhalang karena melihat nama sipenelepon. "Max s*ialan, tidak bisakah tidak menggangu waktu olahraga kenikmatan ku," ucap Darren menggeser tombol hijau diponselnya.


Sedangkan perawat itu tidak tinggal diam menghisap benda panjang milik lawan mainnya.


"Halo Max, ah... baby faster," ucap Darren didengar oleh Max.


"Darren baj*ingan, ini waktu kerjamu s*ialan. Dalam 10 menit harus sampai ke mansion, istri tuan sedang sakit. Sedetik saja kau terlambat, kupastikan kau kukirim kepedalaman." Max langsung menutup ponselnya kesal, sahabat satunya ini tidak pernah tau work time and me time.


Sedangkan dikamar mewah dilantai dua, Dika semakin khwatir melihat istrinya semakin tersedu-sedu. "Baby, kenapa? Jangan membuat ku semakin khwatir?" tanya Dika frustasi tidak tau apa yang menyebabkan istri kecilnya menangis.


"Hiks...Hiks, tutupin dulu," ucap Ros melihat kepangkal paha suaminya. Dika yang mendengar itu awalnya bingung, namun dia berpikir mungkin istrinya ingin digendong untuk dibawa kerumah sakit.


Secepat kilat Dika langsung bergegas ke walk in closet, menggunakan pakaian lengkap. Ditangannya ada sebuah dress dan pakaian dalam wanita.


Istrinya masih terisak ditempat tidur sambil menutupi tubuhnya.


"Baby, sebenarnya ada apa. Apa aku melakukannya kasar semalam? Maaf, maafkan aku Baby," ucap Dika merasa bersalah sambil memeluk istrinya erat.


"Tadi..., hiks. Saat aku bangun aku ingin buang air kecil. Tapi bagian bawahku sangat sakit hiks," seru Ros dengan sedikit terisak.


Brug


Dika terduduk lemas di lantai kamar setelah melepaskan pelukannya dari istri kecilnya. Dia pikir istrinya ini merasakan sakit yang luar biasa, bahkan dia juga memanggil Darren. Ternyata rasa sangat khawatirnya hanya karena ini. Wajahnya pias, kesabaran nya selalu diuji wanita kecil yang sedang terisak didepannya.


Dika langsung menelepon Max untuk membatalkan kedatangan Darren. Sedangkan Darren yang menerima perintah itu memukul keras setir mobilnya. "Memang sial, aku sungguh sial bersahabat dengan dua iblis itu," ucap Darren memukul kembali setir mobilnya. Darren kemudian balik arah kerumah sakit.


"Baby, kenapa tidak membangunkan ku," Dika hanya pasrah dengan kelakuan kanak-kanak istrinya.


"Tadi kamu tertidur pulas. Aku tidak tega," ucap Ros dengan wajah polosnya. Ia tidak merasa sungkan atau bersalah.


Grazie (Terimakasih ๐Ÿ˜Š) Italia๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡น