
"Ini tidak sesuai perjanjian kita, kenapa kau datang lebih cepat ke negara Daddy mu?" tanya wanita dewasa yang sedang berdiri didepan putrinya.
"Aku tidak perlu izin dari mu. Hidup ku adalah milik ku," jawab gadis kecil itu dengan acuh. "Bren*gesek, jangan kau pikir karna kau putri ku kau bisa semena-mena pada ku," teriak wanita dewasa itu.
"Putri mu, ck aku tidak merasa," jawab gadis kecil yang bernama Aurora itu. Dia sama sekali tidak terganggu dengan umpatan sang mommy.
Wanita dewasa itu tampak semakin memerah wajahnya. Dia mendekat ke arah gadis itu dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Namun sayang tangan itu tidak mengenai tujuannya.
Gadis kecil yang di depannya menahan tangan itu dan mer*emas dengan kuat tangan yang ingin menamparnya. "Cih, aku pikir tangan mu kurang kuat," gadis itu tersenyum iblis lalu menghempaskan kuat tangan mommynya.
"Sekali lagi kau mengangkat tangan kotor mu itu untuk menyentuh ku, aku tidak segan-segan membunuh mu. Aku tidak peduli meskipun kau pernah menjadi bagian dari hidup ku," seru gadis itu. Wajahnya menggelap seperti sebuah mesin pembunuh.
Wanita dewasa yang bernama Lili itu mundur satu langkah karena takut melihat senyum iblis khas pembunuh itu. Melihat ibunya semakin takut, Aurora semakin tersenyum simpul.
Dengan langkah kaki marah, Aurora meninggalkan Lili disana. Wanita itu tiba-tiba sadar. "Nanti malam kita akan bertemu Daddy mu. Berpenampilan lah dengan elegan agar dia tidak malu nantinya memiliki seorang putri seperti mu."
Namun gadis itu tidak menghiraukan teriakan mommynya. "Ingat itu Aurora Rhadika Browns!" teriak wanita itu lagi. Aurora langsung berhenti ketika mendengar nama belakang yang di sebutkan oleh wanita yang berada di lantai bawah. Namun itu hanya berlangsung sejenak kemudian dia memasuki kamar.
**
Di mansion Browns seorang wanita sedang menunduk melihat ke arah kakinya yang di gunakan. Dia merasa sangat malu saat ini ketika dia harus di hadapakan dengan adik ipar barunya. Tidak, dia lebih malu dan bersalah pad suaminya karena menuduh sesuatu yang di luar nalar Rhadika.
"Sebelum bertindak, berpikir dulu," kesal Felice menatap tajam ke arah sahabat yang berubah status menjadi kakak iparnya.
"Maaf, tadi aku hanya terbawa suasana saja," jawab Ros. Namun matanya tidak menunjukkan rasa bersalah. Dia justru biasa saja melihat Felice namun menunduk ketika di tatap oleh suaminya.
Dia sudah tau sifat dari Felice, wanita itu adalah sahabatnya, jadi Ros tidak merasa sungkan sedikit pun.
"That's why i say before Baby, jangan berpikir terlalu jauh. Pikiran liar mu selalu berkelana terlalu jauh," ucap Dika mendorong pelan dahi istrinya.
"Bicaralah sebentar dengan adik ipar mu, aku menunggu mu di kamar," seru Dika mencium kenigng istrinya lalu naik menuju kamar utama mereka.
Ros tampak santai saja setelah suaminya pergi. "Kau tidak ingin mengatakan sesuatu?" tanya Felice karena melihat wanita yang baru saja menyambut kedatangannya dengan tamparan begitu santai.
"Aku sudah mengatakan maaf, jadi apa lagi yang harus ku katakan," jawab Ros santai. "Cih, sejak kapan kau menjadi tidak tau malu seperti ini. Kau begitu kasar," ejek Felice.
Ros sengaja mengalihkan pembicaraan ke pada Levi. Dia heran, tidak biasanya adik iparnya ini diam ketika berkumpul bersama. Biasanya pria ini adalah radio yang siap sedia menyala di setiap waktu.
Levi yang merasa di bahas melihat ke arah kakak iparnya lalu ke arah Felice. Ketika mata mereka saling bertemu, Levi langsung melihat ke arah kakak iparnya.
"Cih, bahkan sampai sekarang kau lemah dan tidak berani menatap mata ku," batin Felice yang tidak mendapat respon dari saudaranya.
"Aku ada urusan di markas, aku pergi dulu," seru Levi. "No, ini sudah malam, temani Feli dulu. Aku di tunggu suami ku di bedroom," jawab Ros bangkit dari duduknya.
"Felice, kita bicara besok lagi." Felice hanya menganggukkan kepalanya. Setelah Ros pergi dari tempat itu, Felice dan Levi hanya diam saja, tidak ada yang buka suara. Levi hanya menunduk karena selalu di tatap oleh Felice.
"Apa kamu baik-baik saja," Levi buka suara untuk mengurangi rasa canggung diantara mereka. "Seperti yang kamu lihat. Aku baik-baik saja."
"Baguslah," jawab Levi.
"Besok aku akan mulai bekerja, begitu juga dengan mu. Aku harap kita bisa bersikap profesional. Dan satu lagi, kau tidak perlu merasa canggung dengan ku, aku tidak memiliki perasaan apapun lagi pada mu," seru Felice kemudian bergegas dari tempat itu.
"Apa itu benar-benar keluar dari hati mu?" tanya Levi. Hal itu sukses menghentikan langkah Felice. Wanita itu tampak tersenyum tipis dan berbalik dan melihat raut wajah pria itu. Felice tidak bisa mendefinisikan ekspresi yang ditampilkan oleh Levi.
"Ya benar. Apa kau merasa menyesal sekarang. But, itu tidak berguna sama sekali." Lain di hati lain di mulut, ungkapan diluar dan di dalam hati Felice berbeda. Dia berharap pria yang selama ini selalu terngiang-ngiang di kepalanya berharap meminta cintanya kembali.
"Bagus, aku harap akan seperti itu selamanya." Pupus sudah harapan Felice, memang harapan dan realita berbeda jauh. "Ya, akan selamanya seperti itu," jawab Felice berlalu meninggalkan Levi di sana.
Setelah melihat punggung Felice tidak terlihat, Levi dengan keras memukul meja di depannya. Dia mengambil ponselnya, "apa ada pria yang selama ini dekat dengan Felice?" Levi mendapatkan jawaban tidak dari sana.
Sedangkan Felice langsung menuju ruang belakang yaitu sarang Odion. "Apa Levi selama ini pernah dekat dengan para wanita?" tanya Felice to the point.
"Ada, dan itu jarang di liput oleh media. Bisa di katakan Levi begitu menyayangi wanita itu. Belum pernah ada wanita yang bisa mengontrol Levi kecuali wanita itu."
Felice yang mendengar itu memanas hatinya. Siapa wanita yang berani bersaing dengannya. "Siapa?"
Jangan lupa likenya 👍👍😊
Horas 👐