Mafia Boss Little Wife

Mafia Boss Little Wife
Part 93



Pagi hari terasa begitu cepat untuk wanita yang baru saja bangun dari tidurnya. Namun wanita itu tidak langsung beranjak dari tidurnya, diam dalam sebentar. Tampak Ros menatap sebentar ke arah suaminya.


Ros melihat ke arah perutnya, dimana di sana tangan kekar sang suaminya memeluk posesif di perutnya. Wanita tersenyum melihat dekapan posesif sang suami.


"Apa aku serakah jika mengharapakan ini untuk jangka waktu yang panjang, bahkan jika bisa selama aku berada di dunia ini?" batin wanita itu. Kini dia mengarahkan tangannya ke rahang tegas sang suami hingga ke bibir yang selalu membuatnya kehabisa oksigen.


Dika yang merasakan ada sesuatu yang meraba wajahnya membuka matanya secara perlahan. "Morning Baby," ucap Dika dengan suara seksi khas bangun tidurnya.


Dia menahan tangan sang istri dan mengec*up singkat tangan mungil istrinya. "Kenapa bangun lebih cepat hmm?" tanya Dika sambil mendekatkan wajahnya ke arah istrinya. Ros hanya tersenyum menanggapi pertanyaan suaminya.


"Aku tebak, pasti kamu tidak sabaran untuk ke luar dari rumah?" tebak Dika. Ros mengangguk menjawab pertanyaan suaminya.


"Iya, aku sudah bosan di rumah," seru Ros. Dika mencium lembut kening sang istri yang masih di balut oleh kain kasa putih.


"Isssh, tidak bisa kah penghalang ini di lepas. Aku jadi tidak bisa merasakan ciuman mu di kening ku," kesal Ros dengan pernyataan jujurnya. Dika tersenyum dan mengelus wajah sang istri.


"Belum bisa Baby, luka mu masih lumayan menganga dan belum benar-benar kering," seru Dika berusaha menjelaskan luka yang masih belum sembuh total di kepala istrinya. Kemudian Dika mendekatkan wajahnya pada sang istri dan mulai menyesap bibir sang istri.


"Sebagai ganti dari ciuman di dahi mu Baby," ucap Dika melepas sebentar ciuman itu dan kembali melanjutkan aktivitas itu. Ros terbuai dengan perlakuan sang suami hingga dia tidak merasakan bahwa saat ini sweater bagian bawahnya nya sudah naik setengah.


Bibir diatas bergerak menelusuri dan mengabsen satu persatu isi dari mulutnya, sedangkan dibawah Ros merasakan sensasi geli sekaligus rasa ingin di sentuh lebih.


Saat ini Dika sudah berada di atas tubuh Rosaline. Dika sebenarnya tidak ingin melakukan olahraga pagi dengan sang istri karena takut nantinya wanita di bawahnya tidak bisa bergerak saat keluar dari rumah seperti permintaannya.


"Sepertinya kau lebih memilih kita bercin*ta Baby," bisik Dika dengan hembusan napas hangatnya di leher sang istri.


Ros langsung sadar dengan posisi mereka saat ini. "Kenapa aku sangat mudah terbuai di depan pria ini," batin Ros.


"Mesum, kau duluan yang mulai mencium ku," seru Ros sambil mendorong tubuh suaminya. "Aku mau mandi, setelah itu kita langsung jalan-jalan." Dengan cerianya wanita itu turun dari tempat tidur dan berlari kecil ke arah kamar mandi.


"Jangan lari-lari Baby, nanti luka di kepala mu terbuka lagi. Aku tidak bisa bebas nanti ketika bekerja di atas mu," seru Dika dengan perkataan mesumnya.


Ros yang awalnya berlari kecil langsung terdiam dan berbalik menatap tajam pria yang berada di ranjang king size milik mereka. "Dasar pria mesum. Otak mu hanya di penuhi dengan adegan mesum," teriak Ros kemudian berjalan cepat ke arah kamar mandi.


Dika hanya tertawa tipis mendengar ucapan sang istri. Dia memang mesum, tapi mesum ke pada istri sendiri tidak salah bukan?


**


"Ternyata uncle Levi lebuh tampan jika di lihat secara langsung," seru gadis kecil yang sedang berada di salah satu perumahan elit. Dia sedang mengamati sebuah foto yang di ambilnya ketika di pertandingan MMA.


Awalnya dia tidak mengetahui info ini, namun dia di berikan informasi oleh asistennya bahwa dia mendapatkan undangan tentang perlombaan itu meskipun hanya sebagai penonton.


Tentunya gadis remaja itu dengan senang hati mendapatkan undangan itu. Dia langsung gerak cepat dan langsung menuju Spanyol. Dia juga sudah melihat mommy Rosaline. Namun sayang, dia tidak bisa melihat wajah Asia cantik itu karena tertutupi oleh penutup wajah.


Dia takut jika nanti daddynya tidak menginginkan dirinya dan malah membuangnya. Dia juga takut nantinya mommy Rosaline bertengkar dengan dadynya karena kehadiran dia dan wanita yang melahirkannya.


"Tidak, aku harus mencoba terlebih dahulu. Jika daddy menolak, mental ku harus kuat menghadapi kenyataan. Di abaikan sejak kecil saja sudah biasa ku rasakan. Apalagi jika sudah dewasa begini, aku pasti sudah lebih kuat," seru gadis itu berusaha memantapkan hatinya.


Yah, dia sudah menganggap dirinya adalah wanita dewasa yang bisa menghadapi pahitnya kehidupan. Dia sudah biasa dan layak menghadapi pahitnya perlakuan dunia.


**


"Baby, Kenapa lama sekali?" tanya Dika. Dirinya saja sudah selesai menggunakan setelan santai yang sudah di siapkan wanita itu. Namun sejak tadi istri kecilnya belum menampakkan diri sama sekali.


Ini kebiasaan istri kecilnya itu, membuat semua orang menunggunya bak seorang ratu yang harus di junjung. Tapi Dika tidak bisa melakukan apa-apa. Marah? Bukan tipenya memarahi sang istri.


"Sebentar, aku sudah selesai," teriak Ros. Dika memutuskan untuk menunggu selama lima belas menit, namun tak kunjung ada pergerakan. Dia memutuskan untuk turun terlebih dahulu. Jika dia tetap berada di kamar, dia takut nantinya pintu walk in closet akan hancur karena rasa kesalnya menunggu wanita yang di cintainya.


Bukan berdandan dengan make up seperti wanita pada umumnya, namun wanita itu sudah sepuluh kali mencoba beberapa pakaian dengan model berbeda. Dika serba salah, dijawab cocok namun malah mendapat Omelan panjang dari sang istri. Jadi dia lebih memilih cari aman saja.


Ketika Dika turun, dari tangga dia merasakan aroma tembakau yang familiar. Dia berjalan dan melihat ke arah bawah. Di sana terlihat adiknya sedang menyesap rokok.


Bau asap rokok itu mulai menyebar ke berbagai penjuru.


"Ck, sepertinya ini akan seru," batin Dika. Dia dengan semangat pagi menuruni tangga dan langsung menuju sofa di mana tempat adiknya sedang duduk menyesap benda yang mengandung nikotin itu.


"Tidak biasanya kau merokok," seru Dika. Dia mengambil buah stroberi yang ada di depan adiknya. Levi mengarahkan kotak rokok itu ke arah kakaknya, namun ditolak halus Dika dengan menunjukkan stroberi di tangannya. Dia harus bersikap tenang agar tidak menimbulkan rasa curiga dari pria muda itu.


"Aku sudah lama tidak merokok, aku hanya ingin mencobanya agar tidak lupa bagaimana nikmatnya merokok," seru Levi sambil menyesap benda yang mengandung nikotin itu.


Dika mengangguk-anggukkan kepalanya. "Bagaimana dengan Kakak, aku tidak pernah lagi melihat mu merokok," tanya Levi.


"Ahhh, aku hanya sedang tidak mood," jawab Dika santai. "Atau mungkin kakak ipar melarang Kakak untuk merokok?" tebak Levi.


"Aish, tidak sia-sia pria ini di sebut sebagai ketua mafia. Feeling-nya lumayan kuat," batin Dika.


"Tentu saja tidak. Istri ku lebih menyukai pria yang merokok. Bahkan dia juga sering mengatakan agar aku merokok, karena dia mengatakan pria yang merokok terlihat keren dan cool" jawab Dika.


Levi tentunya merasa tersanjung. Dia bisa menjadi adik ipar kesayangan jika bisa melakukan hal-hal yang di sukai oleh kakak iparnya. Bahkan saat ini dia sedang melakukan pose smoking seorang pria yang Maco dan keren. Sedangkan Dika yang melihat itu tertawa dalam hati.


"Habislah kau Levi," batin Dika.


Jangan lupa like nya πŸ˜ŠπŸ‘πŸ‘


HorasπŸ‘