Mafia Boss Little Wife

Mafia Boss Little Wife
Part 80



Matahari mulai tenggelam ditelan oleh embun malam yang menyambut kegelapan. Sinar yang asli dan dipantulkan sendiri oleh matahari kini mulai di gantikan oleh sinar bulan yang tidak secerah matahari.


Seorang wanita nampak gelisah, dia tidak bisa tidur, atau pun fokus pada pengobatannya. Namun tidak sesakit sebelumnya, donor darah sudah dihentikan.


Wajah cantik dan imut itu sudah kembali pada keadaan semula. Tidak ada wajah pucat yang terlihat, bibir ranum itu sudah kembali berwarna dan tidak pecah-pecah lagi.


Wanita itu hanya sendirian di ruangan pengobatannya, dia memilih untuk sendiri agar bisa menenangkan diri.


Dia berjalan ke arah balkon dimana penampakan orang-orang yang ingin datang ke gedung yang penuh dengan bau obat-obatan ini. Dia melihat ke arah jalanan berharap orang yang ditunggunya akan datang dan menyapanya.


Namun harapannya hanya terjadi dalam khayalannya belaka, orang yang ditunggunya tidak menampakkan diri sama sekali. Ini adalah hari kedua dia menunggu kehadiran suaminya.


Air matanya menetes tanpa permisi. Dia berharap suaminya baik-baik disana.


"Jika kau tidak pulang hari ini, aku akan membencimu Rhadika. Kau itu jahat, di saat aku sudah sembuh dan ingin memeluk mu, tapi kau malah pergi dan membiarkan aku sendiri. Disaat seorang istri yang sakit ingin dimanja dan di rawat oleh suaminya sendiri, kau malah asikan diluar sana untuk berperang," seru Ros.


"Tapi sialnya kau berjuang untukku," batin Ros sambil memukul dadanya pelan. "Kenapa harus selalu aku yang jadi beban," ucapnya lagi. Dia duduk di lantai itu tanpa alas apapun. Dia benar-benar merindukan suaminya saat ini.


**


Sama seperti wanita yang saat ini berada di ruang tunggu. Dia sedang menyandarkan tubuhnya ke dinding tempat dia menunggu perintah nyonya mudanya.


Luka tembak yang sebelumnya ia dapatkan cepat sembuh karena fasilitas yang di berikan oleh asisten tuannya. Dia kepikiran tentang keadaan Max.


Jika jatuh cinta, tentu saja Clasy menyangkalnya. Dia hanya khwatir sebagai sesama rekan kerja.


"Max sangat baik pada ku. Apa salahnya jika aku khwatir akan keadaannya. Dia juga seperti itu di waktu aku terluka, dia juga khwatir dan itu hanya sebatas rekan kerja," batin Clasy.


"Tapi kenapa aku seperti menunggu kedatangannya?" Clasy bergumam sendiri. Dia juga heran, kenapa tatapannya selalu mengarah pada pintu rumah sakit? Kemudian Clasy menggelengkan kepalanya.


"Tidak, tidak.


Aku harus fokus untuk menjaga nyonya," seru Clasy. Perilaku pelayan pribadi nyonya muda Browns itu tidak luput dari perhatian seorang pria muda disana.


"Apa kau sudah mulai kehilangan akal sehatmu?" tanya Levi tiba-tiba karena heran melihat sikap Clasy seperti orang gila. Bagaimana tidak? Wanita itu berbicara sendiri.


Clasy terkejut mendengar suara yang tiba-tiba mengagetkannya. "Maaf Tuan," sahut Clasy. "Bukankah aku menyuruh mu untuk menemani Kakak ipar? Kenapa kau malah disini?" tanya Levi namun langsung masuk dan membuka pintu.


Levi mengedarkan pandangannya dan tidak menemukan kakak iparnya. Hatinya mulai tidak tenang, kemudian dia bergerak ke arah kamar mandi, nihil. Tidak ada siapapun disana.


Clasy yang juga melihat itu mulai panik. "Menjaga satu orang sakit saja kau tidak becus!" seru Levi dengan kesal.


Matanya meneliti seisi ruangan, dan pandangannya jatuh pada pintu balkon yang terbuka. Kemudian Levi bergegas cepat dan tidak sabaran ke sana.


Dia menghela napas lega melihat seorang wanita duduk di lantai disana. Namun hatinya kembali sakit ketika melihat keadaan wanita itu. Dia menatap tajam ke arah pelayan dibelakangnya sebentar sebagai pelampiasan sementaranya.


"Kakak ipar, ada apa?" tanya Levi dengan lembut. "Hiks...aku... hiks... sangat merindukan suamiku," jawab Ros di sela-sela tangisnya.


"Kakak ipar jangan seperti ini, nanti luka di kepala kakak ipar terbuka dan tidak akan sembuh-sembuh," seru Levi.


Memang benar, luka bekas tabrakan waktu itu belum sembuh. Oleh karena itu bagian kepala Ros harus benar-benar di jaga dengan hati-hati agar luka itu tidak menganga kembali.


"Tapi aku benar-benar merindukannya," seru Ros lagi. "Semua orang menginginkan ke hadiran Kakak, kakak ipar bukan hanya dirimu saja. Jadi ku mohon bersabarlah," seru Levi.


Dia membantu kakak iparnya berdiri dan membawa ke dalam ruangan. Levi mendudukkan kakak iparnya di sana. "Apa belum ada kabar dari suamiku?" tanya Ros. Levi hanya menggeleng pertanda bahwa dia belum mendapatkan informasi apapun dari anggotanya.


Selama dua jam Levi disana untuk menjaga kakak iparnya agar bisa tidur dengan aman. Setelah mendengar deru nafas teratur kakak iparnya, Levi menarik tangan Clasy dengan kasar.


"Bekerjalah dengan baik atau kau akan ku tendang dengan cara tidak hormat dari anggota pelayan keluarga ku," seru Levi dengan kasar. Clasy hanya bisa menunduk.


**


Max yang mendengar jawaban dari pria yang ada didepannya menarik napas dalam. Dia ingin sekali membunuh pria didepannya, namun buka kuasanya. Hanya dalam hayalan saja dia bisa membunuh pria sialan didepannya.


Selama satu jam mereka berdiam diri, sibuk dengan ponsel masing-masing untuk mengusir rasa bosan mereka. Namun Max yang tidak sabaran buka suara.


"Kapan mereka akan sampai? Kenap lama sekali, apa kau memberikan titik lokasi yang salah? Atau tidak hanya kaki mu yang bermasalah, apa otakmu ikut juga?" Darren berbicara sambil menjauh dari pemimpinnya itu.


Dia juga memiliki rasa takut, tapi bukankah tuannya itu terbatas bergerak. Jadi dia aman dan tidak perlu terlalu sopan.


Rhadika menatap tajam ke arah asisten sekaligus sahabatnya itu. "Apa kau cari mati dengan ku Max?" Yang di tatap hanya acuh saja. Dia juga sudah memiliki jarak yang cukup jauh dari Rhadika.


Tepat sasaran, kayu kecil yang runcing itu menancap di kaki Max. Max merasa kakinya seperti di gores oleh pisau, dan benar saja ada kayu yang menancap.


"Bagiamana rasanya? Apakah membuat mu menjadi orang yang paling kuat," tanya Rhadika di sana tersenyum smirk.


Max menatap sahabatnya itu dengan wajah dingin dan penuh dendam, "shsh," Max mendesis kesakitan ketika mencabut benda tajam itu. Darah keluar dari bekas tancapan kayu yang lumayan dan itu.


"Kau pikir aku tidak bisa membalas mu?" Max tersenyum licik. "Max, jika kau melakukan itu, dengan senang hati aku akan memecat mu sebagai anggota dari klan Black Sky dan asisten ku," jawab Dika santai.


"Aku tidak peduli," jawab Max tetap mengarahkan kayu kecil runcing itu ke arah Dika. Tiba-tiba terdengar suara Odion yang berteriak.


"Tuannn, Max kalian ada dimana?" terdengar teriakan Odion di bawah sana. Max senang bukan main, dia melempar asal kayu yang ada ditangannya dan menjawab teriakan Odion.


"Odion, kami di bagian paling atas. Cepat sialan, aku sudah bosan di sini," sahut Max dari atas.


"Cih, sudah minta tolong, masih saja tidak tau diri," sindir Dika. "Apa bedanya denganmu?" jawab Max santai. Dika diam tidak bisa menjawab. Kebiasaannya juga seperti itu.


"Dalam dua hari kau bisa berubah menjadi seorang ibu hamil yang banyak bicara. Saat pelayan istri ku juga terkena peluru kau berubah menjadi seorang laki-laki banci. Apa kau ini seekor amoeba yang bisa berubah-ubah?" tanya Dika mencibir Max.


"Dan apa kau seperti man fish water war yang selalu hidup parasit pada istrimu? Dan selalu harus setiap saat di sisi istri kecil mu? Cih, kau adalah orang paling menjijikkan di dunia ini. Suami takut istri," jawab Max.


Mata Dika melotot tak percaya. Apa itu gambaran dirinya bagi Max selama bersama istri kecilnya? Bahkan Max tidak segan mengatakan bahwa dirinya adalah orang menjijikkan. Dika menatap sengit ke arah Max dan hanya ditanggapi acuh oleh asistennya itu. Persoalan kedua orang itu berhenti ketika mendengar suara orang yang mereka tunggu-tunggu.


"Apak kalian menunggu lama Tuan?" tanya Odion sopan pada ketua mereka. "Tidak, hanya lima belas menit saja. Bodoh, masih sempat bertanya. Apa kau tidak lihat bagaimana pakaian mahalku ini sudah lusuh seperti ini?"


Bukan Dika yang menjawab tapi Max. Dika kembali di buat tak percaya dengan sikap Max yang seperti ini. Bukan hanya Dika namun Odion juga. Pertanyaan yang sama muncul di kedua pikiran mereka.


"Dimana Max yang dulunya banyak beraksi dan sedikit berbicara? Max yang sekarang berada di depan mereka sudah seperti ibu-ibu di pasar yang tidak diberikan harga diskon.


Dika dan Odion serempak melihat ke arah Max. "Max, apakah itu benar-benar diri mu? Apa kau kerasukan?" tanya Odion.


Dia masih belum percaya dan berusaha mencari kebenaran. Dika yang mendengar itu tertawa dalam hati. Image wajah dinginnya tidak ingin di tunjukkan pada anggotanya.


BUG


Max menendang bokong Odion sampai terjungkal ke depan. "Kau pikir aku ini orang lemah yang mudah di rasuki oleh mahluk halus. Itu dia!' tunjuk Max ke arah Rhadika.


Lagi-lagi Rhadika melongo melihat sifat Max. "Fu*ck you Max," seru Odion sambil membersihkan pakaiannya."


"Bagaimana keadaan istri ku," tanya Dika menghentikan perdebatan kedua orang yang merupakan anggotanya.


"Nyonya sudah mulai membaik Tuan, tapi saat pertama kali sadar nyonya pingsan kembali karena tidak melihat anda disana," jawab Odion. "Apa sekarang dia sudah baik-baik saja?"


"Sudah Tuan, Levi memberikan info bahwa nyonya sudah kembali sadar namun masih tetap menangis."


"Cepat kerjakan!" tunjuk Dika pada kakinya yang terkena tancapan kayu yang lumayan besar itu.


"Tunggu aku Baby," batin Dika. Odion dan Max dibantu anggota lain, mereka mempersiapkan operasi darurat pada kaki bos mereka.


"Kayunya masuk terlalu dalam Tuan, apa sebaiknya kita tidak mencabutnya di rumah sakit saja?" tanya Odion setelah melihat luka itu.


"Benar Tuan, Lukanya terlalu dalam dan kemungkinan kita tidak bisa menghentikan pendarahannya nanti," jelas Max. Dia sudah kembali seperti sebelumnya, profesional dalam bekerja.


"Apa itu benar?" Dika menatap ke arah anggotanya yang memiliki gelar ke dokteran. "Saya bisa mengatasinya Tuan, tapi memungkinkan butuh waktu lama. Cahaya disini juga terbatas dan nanti bisa terjadi komplikasi," jelas anggota yang merupakan salah satu lulusan kedokteran itu.


Dika terlihat berpikir sebentar. Dia juga tidak ingin mengambil resiko yang akan membahayakan kakinya nanti. Jika dia sakit, siapa yang akan menjaga istri kecilnya nanti.


Nampak helikopter juga sudah menunggu diatas. Sebuah tali di lemparkan dari atas untuk mengangkut orang-orang yang ada di bawah sana.


"Baiklah. Bawa aku ke atas. Kita akan menyelesaikan luka ini di rumah sakit," jawab Dika. Kemudian Dika di bantu oleh satu pengawal yang turun dari atas helikopter.


Saat Dika ingin diangkat ke atas, tiba-tiba beberapa peluru menghujam ke arah mereka.


"Sh*it, siapa lagi mereka," umpat Max.


Jangan lupa like, hadiah dan Vote nya gays. Kemaren ada yang baca hingga 6ribu orang, tapi yang ninggalin like cuma seratus orang. Ayolah gays 😁


Horas 👐