
"Clasy apa kau menyukai Max," seru Ros menatap Clasy dengan intens. Jiwa kepo Ros mulai muncul.
Clasy tersenyum melihat sikap nyonya mudanya. "Saya tidak memiliki hubungan apapun dengan tuan Max Nyonya. Dia hanya membantu saya karena saya tidak bisa makan sendiri karena luka di bagian perut saya."
Clasy menjawab apa adanya. Clasy juga sadar, tidak mungkin seorang Max bisa memiliki perasaan hanya pada seorang pelayan saja. Clasy tau diri dan tidak akan menghalu lebih tinggi.
"Benarkah? Kau tidak berbohong?" Ros masih tidak percaya dengan jawaban Clasy. "Benar Nyonya, jika anda tidak percaya, silahkan tanyakan pada tuan Max."
Ros mengangguk-angguk kan kepalanya. "Padahal aku berharap," seru Ros pelan. "Maaf Nyonya, saya kurang mendengarnya," ucap Clasy.
"Tidak tidak. Aku hanya berbicara pada diri sendiri." Clasy merasa aneh akan sikap Ros yang tidak menentu ini. Tapi hal ini sudah biasa dihadapi Clasy.
"Bagaimana keadaan Nyonya, apakah baik-baik saja?" tanya Clasy. Clasy mengalihkan pembicaraan mereka karena kurang nyaman jika mereka membahas tentang Max.
Ros pun menceritakan detail kejadian saat dia dibawa ke gedung tua dan diperlakukan tidak etis.
"Memang wanita berdada besar itu tidak tau diri Nyonya. Tuan juga sudah sering mengabaikan wanita itu ketika datang ke mansion. Tapi sepertinya urat malunya sudah putus," seru Clasy ikut terbawa emosi mendengar cerita sang nyonya.
"Tapi aku tidak tau wanita itu sudah mati atau tidak. Aku belum menanyakan kepada suami ku dimana keberadaan wanita itu. Jika dia masih hidup aku akan mencincang wanita itu hidup-hidup," seru Ros dengan marah dan bola mata yang melotot.
Clasy yang melihat wajah sang nyonya tersenyum. Bukannya terlihat menyeramkan tapi wajah wanita di depannya tambah imut saja.
"Kenapa tersenyum?" tanya Ros. Bukankah dia marah sebelumnya? Seharusnya Clasy menenangkannya atau semacamnya.
"Ketika anda marah, anda sangat lucu Nyonya," jawab Clasy dan ditanggapi dengan bibir mencebik kesal oleh Ros.
"Setidaknya aku berguna meskipun hanya sedikit Nyonya," batin Clasy.
**
"Apa ada yang ingin kau katakan?" Dika menatap adiknya.
"Aku akan mencari tau lebih detail. Saat ini tentang penghianat itu, aku belum bisa mengatakan apapun," jawab Levi.
"Baiklah, jadi apa yang terjadi pada wajahmu?"
"Saat mengejar Bahrat, ayah dari Selena. Wanita yang kita asingkan ke perbudakan di Afrika, dia adalah dalang dibalik penculikan penyekapan kakak ipar saat itu. Maura datang dan meminta bantuan padanya."
"Darimana Maura mengetahui identitas Bahrat?" tanya Dika.
"Apa ada seseorang yang membuat mereka terhubung?" Max mengungkapkan prediksinya.
"Exactly, ada seseorang dibalik itu. Dia adalah ketua Ghost Lion. Dia dalang dari pertemuan kedua orang yang ingin menghancurkan kita." jelas Levi.
"Bahkan dia tau bahwa aku bukanlah ketua Ghost Lion. Dia mengetahui siapa ketua Ghost Lion dan status kakak ipar. Sepertinya pria itu mengetahui jelas tentang keluarga kita Kak."
"Apa kau melihat wajahnya?" tanya Dika.
"Tidak, dia menggunakan topeng."
"Cih, dia tetap memilih menjadi seorang pengecut," cibir Max.
"Kenapa dia bisa kabur?" Dika tau dari wajah adiknya tadi saat memasuki ruangan, adiknya pasti gagal menangkap mangsanya.
"Dia memiliki fasilitas lengkap ka, dia menaiki helikopter. Sepertinya memang sudah direncanakan."
"Apa mereka selalu mengetahui pergerakan kita? Kenapa selalu tepat pada suatu kejadian, mereka akan muncul tepat pada saat itu juga," seru Max.
"Maka dari itu aku mencurigai ada seorang Penghianat di mansion. But, I can't saying anything on this time," jawab Levi.
"Jadi, apa kamu membalas yang setimpal dengan wajah mu?" tanya Dika datar. Dia jelas tau, pria muda satu ini akan selalu membalas hal yang setimpal dengan musuh yang melukainya.
"Sure. Aku menembak bagian bahunya dan merobek pahanya. Mungkin dia butuh waktu penyembuhan yang lama."
"Apa kalian pikir kita lemah? Aku akan menangkapnya dengan deal. Aku bukan bagian dari yang lemah menyerang orang yang lemah," jawab Dika. Dia harus far dalam melumpuhkan lawan.
"Awasi saja terus Max. Selalu pantau!"
"Dan kau, fokus pada pertandingan MMA mu. Jika bisa harus menang. Tapi jangan terlalu memaksa diri. Dia adalah mantan ketua mafia dari Belgia. Ingat kata Kakak ipar mu," jelas Dika.
Sebenarnya dia yakin, Levi akan unggul dalam pertandingan ini. Tapi jika mengalami luka saat bertarung, itu hal yang wajar. Namun, ada seorang wanita yang selalu mengancam Levi agar tidak terluka. Karena itulah Dika mengatakan jangan terlalu memaksakan diri.
"Aku tidak akan kalah Kak. Bagaimana jika kita bertanding di atas ring setelah pulang dari tempat ini. Bisa sebagai bentuk pemanasan awal?" tanya Levi penuh harap.
"Di mimpi mu. Tapi ada satu kesempatan, kau harus bisa melangkahi Max. Dengan senang hati aku akan melayani mu bocah besar," jawab Dika beranjak dari duduknya dan berjalan melewati pintu.
Levi menghela napas. Dia memang sangat menginginkan bertanding di atas ring bersama dengan Kakaknya itu. Meskipun sudah mengetahui hasilnya bahwa dia akan kalah, tapi setidaknya dia merasakan bagaimana rasanya beradu otot bersama boss klan Black Sky itu.
Kemudian Levi menatap ke arah Max. Dia berdecih. Belum pernah Levi mengalah kan pria dingin satu ini juga. Kekuatan Max dan Levi memang hampir imbang, tapi pria ini sangat lihai dalam strategi mengelabuhi dan mengubah strategi penyerangan. Oleh karena itu, Levi akan selalu kalah.
"Apa kau ingin mencobanya Levi?" tanya Max datar. Ucapan Rhadika tadi adalah sebuah perintah untuknya. Itulah seorang Max, satu kata yang keluar dari mulut bos mafia itu, kata itu akan di jalankan oleh Max.
"Cih, dasar pria dingin kutub Utara." Levi berdecih dan keluar dari ruangan itu.
Ditengah percakapan Ros dan Clasy, tiba-tiba ponsel Ros berdering. Ros melihat nama yang tertera di ponselnya sangat senang. Clasy juga bisa melihat tatapan nyonya mudanya.
"Halo Kak," jawab Ros
"Mmm, kamu dimana? Aku sekarang ada di Spanyol," seru wanita diseberang sana dengan abai.
"Benarkah. Apa Kakak ingin menjenguk ku disini?"
"Jawab saja pertanyaan ku!" "Aku sedang di rumah sakit. Pelayan ku sedang sakit ka."
"Besok siang tentukan tempat kita bertemu. Tidak perlu bersama suamimu!"
"Baik Ka, see you." Belum dijawab, namun wanita di seberang sana langsung mematikan sambungan teleponnya.
Tepat saat itu Dika datang dan mendengar percakapan dia akhir. "Siapa?" tanya Dika.
"Kak Kaylen, dia sekarang berada di Spanyol. Kakak mengajak bertemu, bolehkah?" tanya Ros. Biar bagaimanapun izin sang suami sangat penting.
"Boleh. Aku akan ikut."
"Bukankah kamu bekerja Sayang," tanya Ros. Sesuai dengan permintaan kakaknya agar sang suami tidak ikut.
"Baiklah. Aku juga harus bekerja. Besok bukan kau ingin bertemu dengan kakak mu?" tanya Dika kembali dan Ros mengangguk.
"Aku saja yang ikut. Sudah lama rasanya tidak menikmati suasana luar dengan orang tersayang," seru Levi setelah sampai di ruangan itu dan langsung duduk di sofa.
"Wanita licik itu," batin Levi. "Tapi kau tidak di undang," kesal Ros.
"I don't care," jawab Levi acuh.
"Sebaiknya kau bersama Levi. Dia tidak memiliki pekerjaan besok," seru Dika dan diangguki oleh Ros.
"Oh iya, bagaimana dengan nenek lampir itu, maksudku Maura," tanya Ros. Dia masih marah dengan wanita berdada besar itu.
"Tepat sekali kakak ipar. Aku sudah menangkap nya dan dibawa ke markas. Apa kau ingin bermain-main sebentar?" tanya Levi. Mendengar itu Ros tersenyum smirk.
"Habislah kau wanita dada besar," batin Ros dengan senyum smirknya. Semua orang disana lagi-lagi terkejut dibuat oleh sifat wanita kecil yang dulunya sangat lembut ini, kini berubah menjadi seperti sikopat.
Jangan lupa likenya😊👍👍
Horas👐