
Dikantornya, Dika merasakan sesuatu yang janggal pada dirinya. Selama rapat dia tidak bisa fokus namun dia juga tidak bisa menunda rapat itu karena rekannya berasal dari luar negeri.
Dia membuka ponselnya sebentar, melihat CCTV mansion. Memperhatikan setiap aktivitas istrinya dalam rekaman CCTV dari keluar dari ruang latihan hingga keluar dari mansion. Dika langsung menatap jam disudut ponselnya.
"Hubungi Odion, dimana mereka sekarang," perintah Dika dengan cepat dan tidak sabaran.
"Tidak mungkin mereka selama itu dalam perjalanan," batin Dika.
"Tuan, Odion tidak menjawab teleponnya. Dan saya menerima surel merah dari Odion," jawab Max.
"Fu*ck, cepat cari tau rute perjalanan mereka. Beritahu Levi!" "Baik Tuan."
Dika langsung bergegas diikuti oleh Max ke titik surel merah yang dikirim oleh Odion.
"Mereka membawa sedikit pengawal Max. Bagaimana dengan keadaan istriku sekarang?" tanya Dika khwatir kepada istrinya.
Max hanya diam dan mengemudi kan mobil. Dia juga tidak bisa menjawab pertanyaan tuannya sekarang.
Kedua pria itu diam dalam hening saat perjalanan. Tidak ada suara yang terdengar didalam mobil itu. Bisa dilihat raut wajah ke khwatiran dari wajah keduanya.
Odion di pintu gedung sedang berjuang untuk menahan musuh. Para pengawal lainnya juga tidak santai, karena terlihat mereka juga sepertinya sudah mulai terdesak.
Namun ketegangan itu mulai imbang ketika pasukan Black Sky datang, dan membantu Odion dan pengawal lainnya. Melihat kawan sudah datang dan lawan banyak yang mulai tumbang Odion semakin semangat dan semakin gencar melumpuhkan musuh.
Dika, Levi dan Max juga sudah sampai di lokasi kejadian. Dengan bringas, ketiga pria itu menembak para musuh dengan pistol yang sudah berada di kedua tangan mereka.
Setelah melihat semua musuh tumbang, Dika langsung menuju Odion diikuti Max dan Levi.
"Dimana istriku," tanya Dika dengan wajah yang sudah memerah karena tidak melihat istrinya bersama dengan Odion.
"Didalam Tuan, nyonya bersama dengan pelayan pribadinya didalam Tuan," jawab Odion. Dika masuk bersama anggota penting lainnya. Melihat semua ruangan dan lantai itu berantakan, ada juga darah dan mayat, semua orang mulai panik.
Dika masuk dan mengikuti percikan darah dilantai hingga ke sudut. Jantung nya mulai berdetak lebih cepat.
Max yang ada di belakang Dika langsung berlari cepat ketika melihat seorang wanita di sudut ruangan itu sudah pucat sambil menekan perutnya yang sedang berdarah. Wajah Max tetap datar namun hatinya merasa marah melihat kondisi wanita itu.
Dengan santai dan tetap tenang, Dika berjongkok dihadapan Clasy. "Dimana istriku?" tanyanya.
Wajah Clasy sudah pucat tak berwarna. Max ingin buka suara, namun dia tidak memiliki nyali sebesar itu.
"Tuan, ta...di saat ka...mi ingin menelepon tu...an, se...gerombolan pria datang dan... membawa nyonya." Clasy berusaha untuk menjawab pertanyaan sang tuan.
BUG
Dika meninju ding-ding disampingnya. Levi disana sudah bermain dengan laptop nya untuk melacak ponsel nya. Ketika melacak Diman ponsel Kakak iparnya dia melihat bahwa ponsel itu berada di mansion. Dia baru ingat, ponselnya digunakan oleh kakak iparnya.
Sebuah titik merah muncul di laptop Levi. "Sial. Kak, kakak ipar menjatuhkan ponsel ku disini," seru Levi menunjuk kan ponselnya tergeletak.
"Bawa dia kerumah sakit," seru Dika. Max langsung bergegas dan mengangkat Clasy kedalam mobil. Namun, dia tidak ikut untuk mengantarkan Clasy.
"Bertahanlah, tekan bagian perut mu. Aku akan datang melihat mu nanti!" Clasy hanya mengangguk saja dan tidak mendengar jelas lagi ucapan Max karena rasa sakit yang dirasakannya.
Dika dan Levi sempat menatap heran dengan Max yang dengan mudahnya menyentuh bahkan membopong Clasy. Dipastikan wajah Max yang datar itu menyimpan rasa khwatir yang begitu dalam.
**
Disebuah gudang yang kumuh, seorang wanita sedang terikat di kursi dengan tangan berada dibelakang kursi.
Satu pria berbaju hitam terlihat sedang memegang satu ember berisi air kotor.
Byur
Pria itu menyiram air kotor ke atas kepala orang yang sedang terikat. Wanita yang sedang terikat itu buka mata karena merasakan tubuhnya mulai terasa dingin.
Wanita itu mengerang kesakitan karena merasa tengkuknya terasa berat dan sakit. Secara perlahan dia mulai membuka mata dan melihat seorang wanita sedang duduk dengan pakaian seksi didepannya dan beberapa pengawal berdiri jauh didekat pintu.
Wanita yang sedang terikat itu adalah Ros. Dia langsung berubah wajahnya yang lemah tadi menjadi garang dan tajam.
Wanita didepannya tersenyum licik dan menatap kearah Ros. "Hai wanita sialan yang miskin dan tidak tau diri," sapnya dengan umpatan dan tersenyum sinis.
Ros tetap tenang. "Control your emotion in all situation. Usahakan jangan melakukan hal-hal yang bisa membuat lawan mu menganggap remeh diri mu. Jangan tunjukkan wajah ketakutan." Ros mengingat pesan suaminya.
"Cih, jadi kamu. Wanita pengecut seperti mu yang melakukan hal menjijikkan seperti ini," seru Ros tersenyum meremehkan wanita didepannya.
"Maura, Maura. Apa kamu pikir bisa memiliki suamiku hanya karena kau menyekap ku seperti ini. Apa kamu pikir kau akan bisa bertahan hidup lama dengan memperlakukan ku seperti ini," seru Ros dengan tenang.
Maura yang mendengar itu bangkit dari duduknya. "Wanita sialan," ucapnya mencengkeram dagu Ros dengan kuat.
"Apa yang akan kau lakukan? tanya Ros. Hatinya mulai tidak tenang melihat wanita licik didepannya. Wanita berdada besar itu tersenyum melihat wajah Ros yang sudah berubah menjadi tidak tenang.
Maura mengelilingi Ros dengan santai sambil menyentuh rambut Ros dengan jijik. "Wajah Asia seperti mu bukanlah tipenya. Bahkan tubuh mu yang kecil ini yang tidak memiliki bentuk dan tidak ada menariknya."
Ros berdecih mendengar suara mengejek Maura. "Sadar Nenek lampir. Apa kau tau? Aku selalu menghabiskan malam bersama suamiku. Bahkan kami selalu melakukan nya lebih dari dua kali. Dia akan menuruti apapun yang kuinginkan. So, bagaimana denganmu, apakah dia memperlakukan mu selembut dia memperlakukan ku. Aku tau, dulu kamu hanya ja*lang kesepian suamiku saja" Ros kembali membalikkan situasi yang memancing emosi Maura.
PLAK
Satu tamparan mendarat di pipi Ros. "Jika saja ikatan ini lepas, habislah kau Nenek lampir sialan," batin Ros merasakan pipinya panas. Namun tangannya dibelakang tidak berhenti berusaha melepaskan tali itu.
"Kamu lah jal*angnya Rhadika. Ingat, kau akan diangkat setinggi langit dan akan dijatuhkan seperti sampah setelah dia puas."
"Benarkah? Apa kau sedang menceritakan dirimu sendiri?" Ros tersenyum penuh kemenangan.
"Tapi biara ku beritahu satu hal penting. Aku merasa suamiku selalu memperlakukan ku bak ratu yang tidak tergoyahkan dan tak tergantikan, in every time and moment."
"Cih, dada besar mu itu tidak akan mempan untuk mendekati suamiku lagi," seru Ros.
Maura kembali dipancing emosi nya hendak melayangkan tamparan kembali, namun terhenti ketika tangan nya ditangkap tiba-tiba oleh Ros. Maura gelapaan dan berteriak kearah pengawal.
BUG
Dengan sekuat tenaga Ros menendang perut Maura. Meskipun dia tau tidak akan bisa lolos dari tempat ini sekarang, setidaknya dia sudah memberi pelajaran pada wanita nenek lampir tak tau diri itu.
Para pengawal langsung dengan sigap berlari kearah tuan mereka. Sebagian langsung memegang tangan Ros.
Tentu saja istri dari Rhadika Browns itu tidak melawan. Dia sudah memprediksi kemungkinan kalah jika melawan. Jadi, tidak perlu sia-sia menghabiskan tenaga. Dengan kasar dia diduduk kan kembali dan diikat dengan kasar.
Ros tersenyum tipis. "Bagaimana? Apakah rasanya enak. Itu salah satu tendangan yang diajarkan oleh suami ku," seru Ros tersenyum smirk.
Maura bangkit dibantu berdiri oleh anak buahnya. Dia tidak mampu berdiri sendiri dan merasakan ulu hatinya terasa sangat sakit.
"Breng*sek," umpat Maura. Dia diangkat anak buahnya berdiri di kursi di depan tawanan mereka.
"Apa kau sudah mengirim lokasinya," tanya Maura menatap ke arah anak buahnya. Maura yang melihat itu tersenyum meskipun merasakan sakit.
"Lihat dan perhatikan setiap adegannya," seru Maura. Salah satu pengawal menampilkan sebuah vidio di laptop yang direkam melalui CCTV. Didalam vidio itu Ros bisa melihat suaminya sedang duduk di sebuah kamar, didepannya ada segelas wine.
"Di gelas itu ada obat peningkat gairah atau lebih tepatnya obat peran*gsang." Terlihat dalam Vidio itu Dika mulai meminum wine itu.
"Kamu tau? Aku mengatakan keberadaan mu ditempat yang berbeda. Dan jika dia melawan sedikit pun, akan kuhabisi kau. Yah, ancamanku sukses," seru Maura sambil berdiri tertatih-tatih.
"Dan kamu tau bukan apa maksudku? Aku akan datang nantinya sebagai penawar untuk suami yang kau cintai. Ah, aku benar-benar tidak sabar ingin merasakan nikmatnya dibawah suamimu lagi. Maura terlihat senang bukan main dia atas penderitaan Ros.
"Bren*gsek, sedikit saja kau menyentuh suamiku akan kubunuh kau." Ros meronta-ronta disana.
"Tenang wanita asia yang menyebalkan. Kau juga akan menikmati waktumu bersama para pengawal ku. Slowly."
"Saat aku sudah memberikan kode, lanjut kan," ucap Maura berlalu pergi dan meninggalkan ruangan itu.
"Maura, lepaskan aku. Jangan berani-beraninya menyentuh suamiku," teriak Ros. Air matanya mulai luruh dari pelupuk matanya.
Menunggu hingga 30 menit, para pengawal yang ada disana mulai bergerak dan menyuntikkan sesuatu pada Ros.
Ros yang memberontak sekuat tenaga pun tidak berarti apapun. Vidio yang dilihatnya pun semakin membuat dia tidak berdaya. Dia melihat Maura tersenyum tipis kearah kamera .
"Aku mohon jangan lakukan itu Sayang," batin Ros. "Please, i really need you right now." Tubuh Ros sudah mulai terasa panas.
Suaminya juga terlihat sudah mulai berdiri dengan tidak beraturan disana. Bahkan detik demi detik, vidio itu mulai lebih gelap dan hanya terdengar suara percintaan orang dalam Vidio itu.
Ros menangis tersedu-sedu, ikatannya juga sudah dilepaskan oleh para pengawal. Kesadaran nya juga sudah mulai diluar kendali meskipun sudah menggigit bibirnya. Tangannya mulai bergerak kesana kemari ingin membuka pakaiannya.
Para pengawal tersenyum melihat mangsa mereka sudah mulai bereaksi.
"Kita akan menikmati tubuh seorang wanita kecil," ucap pengawal A.
"Tidak apa-apa. Baru kali ini aku akan menikmati tubuh seorang wanita Asia," ucap pengawal B.
Ros yang mendengar itu hanya terisak semakin dalam dan semakin menggigit kuat bibirnya. Bahkan kukunya sudah saling menancap kuat di kedua tangannya berharap kesadaran nya bisa bertahan.
Terasa sakit, tapi lebih sakit ketika mendengar des*ahan-des*ahan yang terdengar dari vidio itu. Ingin rasanya Ros membanting laptop didepannya, namun untuk bergerak saja dia sangat susah. Hanya air mata yang menjadi pelampiasan nya saat ini.
Jangan lupa likenya dan favoritnya gays๐๐๐, untuk yang baca maraton, jangan lompat-lompat bab oke. Biar aku tambah semangat nih nulis ceritanya.
Horas๐