
Saat Ros akan memasuki kamar mereka, dia mendengar sang suami sedang berbicara melalui sambungan telepon. "Dimana tempatnya?" tanya Rhadika melalui sambungan telepon.
Ros mendengar bahwa suaminya menyebutkan restoran X. "Bukankah itu alamat yang di berikan Maura?" batin Rosaline. "Baik, atur pertemuan ku dengannya," dengar Ros kembali.
Setelah mendengar tidak ada lagi suara yang bicara, Ros langsung membuka pintu. Disana dia melihat suaminya sedang memegang ponsel dan duduk bersandar di ranjang.
"Kemari!" seru Dika setelah melihat istrinya sudah di sana. Ros menurut saja, dia tidak boleh menunjukkan segala sesuatu yang dia ketahui sekarang.
Ros masuk ke dalam pelukan suaminya. "Ada apa?" tanya Ros mendongak melihat ke arah suaminya. "Besok kami akan bekerja, termasuk Levi, dan Felice," seru Dika mengusap pelan rambut Istrinya.
"Baiklah." Kedua manusia itu saling menatap dalam satu sama lain. Terlebih Ros yang menatap dalam ke manik mata sang suami. Perlahan tapi pasti kedua manusia itu sudah menautkan bibir satu sama lain.
"Baby, bolehkah," tanya Dika yang mulai diselimuti kabut gairah.
"Semoga ini bukan yang terakhir kali," batin Ros kemudian menganggukkan kepalanya. Mendapat izin dari sang istri, Dika dengan gerak cepat dan rakus melakukan tugasnya sebagai seorang suami.
**
"Siapa?" tanya Felice lagi ketika Odion diam dan menatap dirinya. "Kenapa kau jadi marah, apa salah jika kakak mu dekat dengan wanita lain?" tanya Odion.
Dia merasa ekspresi adik tuannya itu terlalu di lebih-lebihkan. Bukankah wajar seorang pria dekat dengan wanita lain?
"Sia..a..siapa yang marah? Apa salah jika bertanya. Apa aku salah jika ingin tau siapa wanita yang dekat dengan Levi?" tanya Felice lagi.
Odion menggelengkan kepalanya. "Jadi siapa, aku tidak butuh tundukan kepala mu."
"Tentu saja istri dari tuan Rhadika. Levi sangat dekat dengan nyonya. Bahkan jika nyonya muda mengatakan tidak, maka Levi tidak akan melakukannya," jelas Odion panjang lebar.
PAK
"Sialan kau Odion. Aku pikir wanita lain. Memang jika bicara dengan mu selalu membuang-buang waktu," kesal Felice memukul pelan kepala Odion lalu bergegas dari sana.
Odion hanya mengedikkan bahunya. Dia hanya menjawab pertanyaan yang diajukan wanita itu. "Letak kesalahan ku di mana? Dasar wanita aneh" seru Odion melihat punggung wanita itu.
Pagi hari menyingsing menandakan semua manusia sudah bisa kembali melakukan aktivitas seperti biasanya. Seorang pria baru saja bangun dari tidurnya dan melihat istrinya yang sedang terlelap di lengan kekarnya.
Pria itu dengan perlahan menggeser kepala sang istri. Banyak pekerjaan yang harus dia lakukan saat ini, termasuk urusan perusahaan dengan proyek dan hal yang lebih penting malam ini.
Memang kebiasaan Ros setelah suaminya bercocok tanam akan susah bangun. Sepertinya biasanya, Rhadikalah yang harus membersihkan tubuh sang istri bekas percintaan mereka. Dika tersenyum melihat wajah lelap sang istri.
Tidak hanya itu, Rhadika juga harus bersiap sendiri ketika ingin ke kantor. Bisa saja dia meminta para pelayan, namun itu bukan bagian dari diri Rhadika. Dia memang sudah biasa di layani, namun keadaan sekarang sudah berbeda. Ada seorang wanita yang harus dia jaga hatinya.
Setelah Dika suda selesai menggunakan setelan formalnya, dia mendekat ke arah istrinya yang sedang tidur. Pria itu dengan penuh sayang dan kelembutan mengusap kepala istrinya.
Wanita itu merasa terusik karena merasakan sesuatu bergerak di kepalanya. Dia bangun dan matanya yang samar melihat pria yang dicintainya sedang menatapnya dalam senyum. Ros yang manja segera mendekat dan masuk ke dalam pelukan suaminya. Dika hanya tersenyum menanggapi sifat manja sang istri.
"Ingin pergi bekerja kah" tanya wanita itu pada suaminya. "Ya, hari ini pekerjaan sangat padat."
Tiba-tiba Ros mengingat pesan Maura. "Tidak bisakah pulang cepat. Aku ingin kita makan bersama malam ini." Ros berusaha mencari alasan agar mengetahui kebenaran nantinya. Dan benar saja, sama seperti perkataan Maura, suaminya malam ini akan pulang larut malam.
"Tidak bisa Baby, malam juga aku ada rapat bersama klien besar. Lain kali kita akan dinner, hmm," jelas Rhadika.
"Apa kau tidak ingin memberitahukan sesuatu yang penting pada ku?" tanya Ros tiba-tiba membuat Rhadika bingung. "Sesuatu yang penting?" tanya Rhadika.
"Tidak ada, aku hanya menebak saja," jawab Ros tersenyum kemudian melepaskan pelukan suaminya. "Maaf, aku tidak bisa mengantar mu ke depan. Aku sangat lelah," seru Ros.
"It's okay Baby. I understand. Aku pergi," seru Dika kemudian mencium singkat bibir Istrinya
Ros sangat malas melakukan aktivitas untuk saat ini, dia hanya turun untuk makan. Dia tidak punya teman saat ini, Clasy pun teman satu-satunya harus bekerja sesuai dengan prosedur pelayan yang dibuat oleh paman Vill. Yah, dia tidak boleh pilih kasih.
Ros yang sudah merasa bosan memilih untuk merapikan kamar utama mereka. Dia juga tidak punya pekerjaan lain, jadi dia lebih memilih mencari kesibukan dengan beberes kamar.
Setelah sebelah depan kamar sudah bersih, kini giliran semua lemari disamping ranjang. Saat Ros ingin membersihkan laci, dia terhalang ketika laci itu di berikan pin sebagai pengunci.
"Kenapa harus di kunci?" batin Ros. Rasa penasarannya mengasah otak miliknya. Dia mencoba tanggal lahir suaminya, dia tidak terbuka. "Apa ulang tahun ku?" Ros menekan angka tanggal lahirnya, tidak terbuka juga.
"Tanggal pernikahan?" Ros berbicara sendiri. Dia menekan tombol tanggal pernikahan mereka. Berhasil, terbuka.
"Ck, ternyata berkas-berkas," ucap Ros melihat tumpukan-tumpukan kertas di sana. Namun ketika ingin menutup laci tersebut, tidak sengaja dia melihat namanya.
Ros mengambil berkas tersebut.
DEG
Jantungnya berdetak lebih cepat. Dia melihat detail tulisan yang berada di kertas itu. Isi dari kertas itu adalah hasil analisis Darren ketika dia mengalami tabrakan waktu itu.
Dia menjatuhkan diri di depan laci tersebut.
"Pantas saja selama ini, meskipun kami berusaha, aku belum hamil," batin wanita itu. Saat ini tatapannya kosong tak berarti.
Hati wanita itu terlihat tidak mood sama sekali. Dia malas melakukan apapun, hingga malam dia tetap stay di dalam kamar. Makanan pun hanya diantar paman Vill namun tidak di sentuh sedikit pun.
Saat Ros menatap luas mansion milik suaminya, sebuah notifikasi masuk kedalam ponselnya. Yah itu Maura, sebelumnya Rosaline memang sudah menerima pesan itu lagi-lagi dan lagi. Namun dia merasa tidak mood melakukan apapun. Kemudian dia teringat pembicaraan suaminya di dalam kamar tadi malam.
Dia kemudian masuk ke dalam walk in closet dan mengganti pakaiannya. Dia menggunakan pakaian serba hitam. Diam-diam Rosaline turun dari kamarnya secara diam-diam.
Para pengawal di lewatinya dengan mudah karena dia sudah bisa mengetahui strategi dari pengawal di mansion. Namun dia tidak boleh lewat gerbang depan. Dia bisa saja keluar dari gerbang itu, namun gerakannya akan dipantau oleh suaminya nanti.
Dia lewat pintu belakang. Namun tembok itu sangat tinggi. Ros mencari tali secara diam-diam. Dia bisa menaiki tembok itu dengan mudah.
Tepat pukul sembilan dia sampai ke restoran X dimana Maura disana sudah menunggu. "Di mana suami ku?" tanya Ros to the point. "Ck, kamu terlambat," seru Maura namun tidak di tanggapi oleh Ros.
Tepat saat itu seorang wanita melewati mereka. Cantik dan seksi. "Lihat dan perhatikan wanita itu," seru Maura. Ros tetap berdiri.
Wanita itu tampak menuju salah satu meja di ujung sana. Ros lebih menajamkan matanya, diujung sana ada seorang pria. Dia mengenal betul siapa pria itu. Dia mengenal punggung kekar itu, yaitu suaminya.
Wanita seksi tadi tampak berlari sambil memanggil nama suaminya. Dika tampak berdiri, wanita itu langsung melompat ke arah pelukan Rhadika.
Denga senang hati Dika manangkap wanita itu dan membawanya ke dalam pelukannya. "Will you marry me?" tanya wanita itu tiba-tiba. Tanpa menunggu jawaban Rhadika, wanita itu langsung memasukkan cincin ke tangan pria itu.
Hati Ros yang pada awalnya sudah mulai tersayat kini terasa lebih perih ketika suaminya memberikan celah pada wanita itu.
"Dia adalah Lily. Dia adalah cinta pertama dari Rhadika," jelas Maura sambil tersenyum melihat raut wajah kecewa Rosaline.
Tidak hanya itu, dia mendengar wanita itu kembali bicara. "Ada satu kejutan lagi untuk mu," seru wanita itu penuh tawa dan rasa bahagia.
Seorang gadis kecil datang ke arah Rhadika dan Lili. "Dia adlah Aurora, putri kita. Aurora Rhadika Browns" ucap wanita itu berusaha menunjukkan sifat lembutnya.
"Dad," ucap gadis itu lalu memeluk suami Ros. Ros yang melihat kejadian itu hampir tumbang di tempatnya. Dia menekan kuat bagian dadanya.
"Dad?" lirih Rosaline. "Yah benar, dia adalah putri Rhadika dan Lili. Anak mereka ketika masih muda," jelas Clasy.
Hati Ros semakin ditusuk lebih dalam ketika mendengar bahwa suaminya sudah memiliki putri sebelum mereka menikah. "Jadi aku lah disini yang menjadi perusak rumah tangga orang?"