Mafia Boss Little Wife

Mafia Boss Little Wife
Part 94



Ros yang sudah selesai dengan acara di kamar utama langsung turun dengan cepat ke lantai bawah. Namun langkahnya terhenti ketika hidungnya tidak sengaja menghirup udara yang membuatnya langsung batuk.


Ros melihat ke arah bawah, ada satu orang pria di sana yang sedang menyesap benda nikotin. "Pantas saja, ternyata itu adalah Levi si bocah besar itu," batin Ros.


Ros terlihat langsung berjalan lebih cepat dari sebelumnya dan langsung menuju ke arah Levi. "Drama yang sangat seru,' batin Dika. Sedangkan Levi, dia tersenyum dengan gaya smoking yang dibuat sekeren mungkin.


Sesampainya di depan Levi dia langsung mengambil rokok itu dengan kasar dari mulut adik iparnya. Kemudian menginjak-injak benda yang berbentuk tabung itu di depan wajah adik iparnya.


Wajah wanita itu terlihat tidak bersahabat. "Beraninya kau bocah besar merokok di rumah," marah Ros sambil menggetok kepala Levi.


Levi yang mendapat amarah dari sang kakak ipar menatap tajam pada pria yang dengan santainya sedang menikmati buah stroberi kesukaan kakak iparnya dan dirinya.


"Kau pikir dengan merokok kau sudah keren. Kau sudah kuat, kau sudah menjadi orang terhebat di dunia ini?" Ros terlihat menunjuk-nunjuk wajah Levi. Sedangkan yang di marahi hanya diam menunduk.


"Kakak tadi mengatakan bahwa pria yang merokok itu keren untuk kakak ipar, jadi aku melakukannya," jelas Levi sama seperti perkataan kakaknya tadi. Namu pernyataan itu justru terbalik dengan keinginan kakak iparnya.


"Bodoh, jika kau di ajari untuk memotong tangan mu, kau akan memotongnya. Jika kau di ajari untuk makan kotoran hewan kau akan memakannya?" jawab Ros menohok. Levi yang mendengar itu merasa semakin tersudut. Dia hanya bisa diam tak berkutik.


"Sekali lagi aku melihat mu menyesap benda tidak berguna itu, akan ku tendang pantat mu sampa tidak ada sisa, mengerti?" Wanita itu hanya berusaha untuk menjaga kesehatan adik iparnya.


Levi hanya bisa menganggukkan kepalanya. "Sialan, aku di tipus habis-habisan oleh pria itu. Jika saja bukan kakak ku sudah ku habisi dia," batin Levi.


Dia tidak sadar bahwa dia masih jauh di bawah kakaknya. Waktu itu saja saat mereka adu otot karena ulah Rosaline, Levi dengan mudahnya terjatuh padahal Dika belum mengeluarkan seluruh tenaganya.


"Makan semua stroberi itu agar bau rokok dari nafas mu hilang. Aku tidak mau dekat-dekat dengan orang yang memiliki bau rokok!" Levi hanya bisa mengikuti perintah nyonya muda Brows itu. Ros langsung bergegas menuju mobil, dia meninggalkan dua orang pria di sana.


Dika yang melihat istrinya sudah pergi jauh, dia tersenyum mengejek ke arah Levi. "Dasar bodoh, ternyata otak mu tidak berguna," ejek Dika kemudian meninggalkan adiknya di sana.


Drama itu akhirnya selsai dan dalam sekitar tiga puluh menit rombongan Rhadika sampai pada tujuan seperti yang sudah di putuskan oleh Rosaline. Hysteria escape room, ini adalah tujuan Rosaline. Sebelumnya dia belum pernah melakukan permainan ini, namun dia ingin mencoba uji adrenalin bersama suami dan adik iparnya.



Clasy dan Max juga ikut, namun si Max si pria kutub hanya acuh saja dan mengikuti langkah sang tuan. Tidak pernah buka suara pada siapapun.


Semenjak tragedi yang terjadi di ruangan Darren, Max lebih pendiam ke pada semua orang terutama pada Clasy namun tidak pada sang nyonya yang selalu membawa namanya.


Dia merasa bahwa dirinya lemah saat itu karena tidak bisa mengontrol diri saat itu. Namun Max tidak sadar bahwa semua orang yang jatuh cinta pada umumnya akan selalu berada di luar kendali. Sama halnya dengan sang tuan yang seperti orang bucin yang tidak mengenal siapapun lagi dan hanya istri dan selalu istri kecilnya.


"Kita akan naik ke sini. Siapa yang ikut?" tanya Ros tersenyum melihat ke arah orang-orang di depannya. Semua orang langsung mundur terutama Levi. Dia sudah jera untuk bermain permainan hysteria seperti ini.


Pernah sekali dia di bawa oleh Felice saat masih kecil naik wahana ini. Jantungnya seperti di bawa melayang-layang entah kemana, kadang di cabut kadang dilemparkan begitu saja hingga ia tidak merasakan hidup di dunia.


Setelah turun dari sana Levi muntah dan mengeluarkan semua isi perutnya. Sejak itu dia sudah jera dan berjanji tidak akan pernah menaiki wahana pengurus isi perut itu.


"Adik ipar, kau bisa di sebelah kiri ku nanti dan kamu Sayang, di sebelah kanan ku nanti," seru Ros dengan senyum manisnya.


Ros kembali melihat ke arah Clasy dan Max. "Clasy bisa bersama Max. Max jadilah gentleman dan jaga Clasy," seru Ros.


Max? Tentu saja dia tidak mau. Saat di gunung saat pemburuan Thomas saja, dia sudah hampir mati ketika ingin jatuh dari ketinggian yang sangat tinggi.


"Maaf Nyonya, saya harus mengurus urusan kantor karena hari ini tidak ada yang memantau kantor hari ini," ucap Max menunduk dan berlalu ke salah satu kursi di sana.


"Aku tidak bisa menaiki itu. I'm scaring Kakak ipar," seru Levi menjauh dari kakak iparnya. "Scaring? You serious?" tanya Ros tidak percaya dengan mental yang lemah yang di milik oleh adik iparnya.


"Kemana wajah garang mu saat di ring?" tanya Ros. "Kau harus ikut, titik. Jika tidak aku akan pulang dan tidak akan pernah keluar rumah terutama tidak akan bicara dengan mu selamanya." Ros langsung melipat tangannya tidak ingin di bantah.


Ros langsung menyeret ke dua tangan pria yang sedang berada. Dia langsung membeli karcis dengan cash.


Pemandu wahana langsung mengarahkan tiga orang yang sudah didaftarkan. Rhadika duduk dengan tenang. Di juga belum pernah menaiki wahana seperti ini, masa kecil dan mudanya di habiskan untuk menjadi seorang yang seperti saat ini. Jadi dia belum tau bagaimana rasanya.


Gadis kecil yang berada di sudut sana tersenyum melihat tingkah mommy yang sudah diklaimnya yaitu mommy Rosaline.


"Mommy, kau sangat lucu. Andai saja aku memiliki mommy seperti mu sejak kecil," batin anak kecil itu. Orang di sana yang melakukan interaksi namun gadis kecil itu yang merasa bahagia.


Dika nampak duduk dengan sikap cool ala khas miliknya. Sedangkan Levi dia sudah memegang sabuk pengaman dan tangan kakak iparnya.


Keringat dingin mulai bercucuran dari dahi Levi. Mesin dari whana itu mulai dinyalakan, Levi merasa seperti ingin mati saja. Bukan hanya Levi, tapi juga Rhadika sudah merasa tubuhnya tiba-tiba dingin ketika baru putaran pertama mereka naik.


Sedangkan wanita di sana berada di antara kedua pria itu bersorak begitu senang karena merasakan dirinya terbang melayang. Dirinya sedang berada di awan dan jiwanya senang merasakan kebebasan tanpa beban untuk saat ini.


Setelah bebrapa putaran, wahana itu akhirnya di hentikan. Levi langsung melepaskan sabuk pengamannya dan langsung berlari agak menjauh dari sana. Dia muntah mengeluarkan isi perutnya, Rhadika juga mengikuti adiknya dari belakang. Dia juga muntah mengeluarkan isi perutnya.


Ros yang melihat dua orang pria yang berkutat dengan dunia bawah itu, sekarang mereka terlihat lemah. Ros tertawa terbahak-bahak sambil menepuk-nepuk punggung ke dua pria itu. "Haha kalian sangat lucu," seru Ros.


Meskipun semua orang tidak bisa melihat jelas wajah wanita itu, karena semua wajahnya tertutupi namun orang-orang bisa menilai bahwa wanita itu sedang bahagia karena tawa kerasnya.


"Cih, sudah ku katakan mereka tidak akan mampu," cibir Max yang sedang duduk disana karena melihat wajah pucat para pria mafia itu.


Di tengah rasa mual yang menyerang perut Rhadika, ponselnya berbunyi. Dika mengambil ponsel dan melihat siapa yang meneleponnya.


Tentu saja Ros bisa melihat siapa nama pemanggil itu karena Dika dengan jelas menampakkan layar ponselnya. Dia berdiri lalu menjauh sedikit dari istri dan adiknya.


Setelah mendengarkan ocehan si penelepon, Dika kembali ketempat semula dan muntah kembali. "Hahaha, aku mau ke kamar mandi. Aku sudah tidak tahan," ucap Ros sambil memegang perutnya.


Clasy dengan sigap menemani majikannya ke kamar mandi. Namun tawa Ros tadi bukanlah murni tawa seseorang yang benar-benar senang. Dia bisa melihat kembali bahwa suaminya kembali berhubungan dengan wanita itu.


Di tengah jalan menuju kamar mandi, khayalan Rosaline terhenti ketika secara tidak sengaja dia bertabrakan dengan gadis kecil. Gadis itu juga tampak menggunakan pakaian tertutup.


"Apa kau baik-baik saja gadis kecil?" tanya Ros membuka Hoodienya. Gadis itu nampak membuka kain panjang yang menutupi kakinya lalu memijat-mijat lututnya. Dengan sigap Ros langsung membawa gadis kecil itu ke sebuah tempat duduk yang agak tertutup. Dia juga harus siaga bukan?


Ros membuka maskernya dan meniup lutut gadis itu. Lutut itu memang tampak memerah menambah rasa bersalah Rosaline. "Maaf tadi aku tidak sengaja," seru Ros sambil meniup kulit yang memerah itu.


"Cantik," seru gadis itu dengan pelan. "Cantik, ramah, penyayang," batin gadis itu.


"Tidak apa-apa mommy," jawab gadis itu.


"Mommy," serempak Ros dan Clasy sama-sama menanyakan maksud dari perkataan anak gadis itu.


Maaf yah lama-lama up nya, saat ini sudah mulai sibuk di dunia real tapi aku akan usaha up tiap hari meskipun jamnya tidak pernah on time, sorry gays🙏


Horas👐