
Diruang belakang mansion Browns, seorang pria sedang menatap tajam wanita yang sedang tersungkur didepannya.
"Sebaiknya yang kau katakan itu benar!" ucapnya lalu bergegas meninggalkan ruangan itu. Dia adalah Max, "tidak semudah itu," batinnya menuju ruang penyiksaan.
Wanita yang tersungkur tadi menghela napasnya setelah melihat asisten sang tuan tidak menampakkan diri lagi. Sebenarnya dia juga terkejut hanya melihat satu panggilan dari nomor yang selalu menghubungi nya tiap hari.
Bahkan pesan yang selalu dia kirim pada musuh sang tuan bersih tanpa jejak. Dia menoleh kearah meja ketika mendengar ponselnya yang tergeletak di meja sedang bergetar.
Lalu dia bangkit berdiri dan pergi menuju kamarnya. Dia melihat yang meneleponnya adalah orang yang selalu mengendalikan hidupnya.
"Halo Tuan," jawab Clasy setelah menekan tombol hijau di ponselnya.
"Kenapa kau sangat lama memberi informasi akhir-akhir ini?" seru pria itu to the point.
Clasy menghela napas sambil menjauh kan ponsel itu. "Maaf Tuan, saya dipindahkan ke mansion belakang hingga tidak bisa mendapatkan informasi lengkap tentang nyonya," jawab Clasy dengan jujur.
"Bodoh!!" ucap pria disana. Ada tugas untukmu. Ini adalah tugas terakhir mu sebagai anjing penggigitku.
Suatu saat jika aku mengatakan untuk membawa nyonya mudamu ke suatu tempat, kau harus bisa membawa nya dengan cara apapun. Aku tidak peduli apakah cara yang kau dapatkan harus mempertaruhkan hidupmu. Jika kau bisa aku akan memberikan mu uang bahkan bisa membiayai 7 turunanmu dan orang yang kau sayangi akan keserahkan padamu," jelas pria itu dengan panjang lebar.
"Baik Tuan," jawab Clasy. Jika ini memang misi terakhir nya untuk menjadi penghianat disisi sang nyonya dia akan segera menyelesaikan nya dengan rapi dan baik agar tidak selalu terbebani.
"Dan satu lagi. Berhati-hatilah dengan Levi dan Max, mereka bukan tipe manusia yang bisa dibohongi," jelas pria itu mengingatkan mata-matanya.
"Baik Tuan, tapi sebelum ini tuan Max memeriksa ponsel saya dan dia tidak menemukan jejak apapun. Apa anda yang membantu saya?" tanya Clasy ingin tau kebenarannya.
"Benar, aku yang menghapus semua catatan penting di ponselmu. Aku bisa menebak apa yang dilakukan oleh Max. Tapi ingat, cepat atau lambat Levi akan bisa mengetahuinya. Dia adalah peretas kelas kakap," jelas pria itu.
Telepon diputuskan sepihak membuat Clasy kesal. Ingin sekali dirinya mematahkan leher pria itu, namun bawahan di bawah naungan ancaman tidak boleh bertingkah sedikitpun.
Bergerak melawan sama saja mengundang kematian.
**
Diruang keluarga Levi kesal bukan main. Bagaimana tidak? Dia sudah lama tadi menunggu kakak nya diruang penyiksaan, namun sampai sekarang batang hidungnya tidak kelihatan.
Levi awalnya sabar menunggu kakak nya, tapi sampai dua jam belum juga menampakkan diri. Akhirnya dia datang kekamar kakaknya. Belum sampai dia memegang handle pintu, terdengar suara aneh dari kamar itu.
Suara itu menyeramkan bagi Levi, tapi nikmat untuk dua orang yang telah menyelami nikmatnya duniawi.
"Setidaknya mereka harus membuat ruang kedap suara bukan? Cih, membuat ku mual saja," seru Levi padanya sendiri sambil memakan stroberi dengan kesal.
Kemudian dia tersenyum sendiri. "Ternyata kakak ipar hebat juga ya, tidak keluar kamar sampai sekarang." Levi memang salut pada kakak iparnya.
Sejak Ros datang ke mansion ini, seperti ada kehidupan baru yang datang. Biasanya juga Levi tidak akan betah berlama-lama dirumah besar ini. Namun, semenjak kedatangan kakak iparnya dia seperti candu untuk bercanda dan mengerjai kakak iparnya.
"Tapi bagaimana jika wanita itu datang kembali bersama putrinya? Apakah Kakak sebenarnya sudah jatuh cinta kepada kakak ipar atau hanya sebatas seperti Maura?" Levi bertanya pada dirinya sendiri.
Dia belum menemukan jawaban dari pertanyaan ini. Tapi berbeda dengan Maura, Ros tidak pernah disinggung kakak nya sebagai pelampiasan. Perlakuan lembut kakaknya pada kakak iparnya hampir bahkan melebihi perlakuan nya saat itu pada wanita itu. Jadi Levi masih sulit untuk menemukan jawaban ini.
"Semoga saja kakak bersifat bijak dalam hal ini. Dan lebih memilih kakak ipar," batin Levi sambil memakan stroberi miliknya kembali. Menurut nya istri kecil sang kakak lah yang bisa memegang gelar Nyonya Muda Rhadika Browns.
**
"Sayang," ucap Ros menggoyang-goyangkan tubuh suaminya yang sedang tidur. Pria disana tetap pada posisinya meskipun sudah menggeliat dan membuka matanya.
"Sejak pagi aku belum makan, belum lagi olahraga pagi tadi. Aku rasanya hampir mati karena kelaparan," ucap Ros dengan wajah sedih mengelus perutnya. Memang benar dia tidak makan tadi pagi. Belum makan dan memproduksi energi, tenaganya sudah terkuras habis akibat ulah suaminya.
"Aish, lihat kan jadi perih begini," ucap Ros kesal menunjukkan putin*gnya yang sudah memerah. "Kau menyusu seperti bayi besar saja selama semalaman. Anak kecil yang baru lahir saja tidak serakus kamu."
Ros tau, pria didepannya ini menyusu selama semalaman terbukti dari perihnya pucuk salah satu bongkahan miliknya.
Dika abai mendengar keluhan istrinya. Kemudian mengambil ponselnya.
"Antar makan siang kami ke kamar," ucapnya. Setelah itu kembali berbaring dan memeluk perut telanjang sang istri. Kepalanya menelusup ke belahan dada istrinya.
Ros yang sudah bosan hanya rebahan mengambil ponselnya lalu membuka aplikasi yang berisi vidio-vidio singkat.
TOk TOK TOk
Terdengar suara ketukan pintu.
"Sayang, ada yang mengetuk pintu. Mungkin pelayan, cepat bukakan!"
Yang dipanggil hanya diam, tidak mau beranjak dari tidurnya. "Atau aku saja yang membukanya?" ancam Ros sukses membuat pria itu bangun dari dada istrinya.
"Aku saja," ucapnya dengan kesal. Mana mungkin dia sudi melihat orang lain memandang tubuh istrinya. Hanya dia saja yang berhak.
Dika membuka selimut dan beranjak dari ranjang. Tubuh polosnya terekspos sempurna terutama benda panjang yang berada di antara kedua pangkal pahanya.
Melihat itu Ros terbengong, "apa itu yang selalu masuk kedalam milikku? Oh God, itu besar sekali," batin Ros sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Apa kau ingin merasakannya kembali Baby. Dia siap membuat mu menjerit kenikmatan kembali Baby," ucap pria itu tersenyum puas melihat ke arah istrinya.
Wanita yang tadi terbengong menelusup kan kepalanya kedalam selimut. Dika tersenyum melihat tingkah istri kecilnya.
Dia mengambil semua pakaian yang berserakan di lantai. Ia tersenyum melihat gaun merah seksi itu sudah tak berbentuk. "Thanks," ucapnya mencium kaintak berbentuk itu.
Setelah memakai celana boxer miliknya, dia membuka pintu. Paman Vill masuk bersama dengan pelayan. Mereka menata makanan itu dan segera berlalu pergi.
Satu hal yang menarik perhatian mereka, istri tuannya hanya menyembulkan kepala ketika mengucapkan terimakasih pada mereka.
Biasanya, nyonya muda mereka akan berbicara panjang lebar sekedar untuk menyemangati mereka. Tapi kali ini hanya ucapan singkat terimakasih saja. Namun mereka tidak ambil pusing untuk itu. Tugas mereka hanyalah sebagai pelayan saja.
Setelah semua pelayan itu keluar, Dika mendekat kearah ranjang. "Baby, makannya sudah siap," seru Dika sambil duduk di sofa dimana disana sudah ada makanan yang tersaji.
Ros duduk diranjang dan menatap suaminya. "Aku belum berpakaian, harus pake baju dulu baru makan," seru Ros.
Dika mengernyitkan alisnya. "Lalu kenapa dia dari tadi duduk diranjang?" pikirnya. "Kalau begitu cepatlah Baby! Bukankah kau tadi bilang sudah lapar?" tanya Dika.
Ros yang mendengar pertanyaan suaminya, wajahnya jadi kesal. Dia menghempaskan selimut dengan kasar ke lantai. Tubuh polos wanita itu terekspos sempurna.
Meskipun tubuh indah itu menarik perhatian pria yang duduk disofa, namun melihat wajah kesal istrinya otaknya berusaha mencari kesalahan apa yang dibuatnya.
"Dasar pria mesum tidak peka. Sekali lagi aku tidak akan pernah mau melakukannya" seru Ros turun dari tempat tidur. Melihat cara jalan istrinya yang gemetaran Dika langsung sadar.
"S*ial, kenapa otakku tiba-tiba jadi bodoh," batinnya berdiri langsung menuju istrinya yang sedang berjalan dengan tertatih-tatih.
LIKE, KOMEN, SAMA FAVORITNYA MAK AGAR SELALU MENDAPATKAN NOTIFIKASI UPDATENYA๐๐๐๐๐
Horas๐