
Seorang pria menatap seluruh proses kejadian penabrakan itu dari teropong kecil yang dipegangnya. "Itulah akibat karena sudah dengan berani melukai ku," batin pria itu tersenyum penuh kemenangan.
Ini sudah direncanakan setelah kegagalan berkali-kali yang sebelumnya dia lakukan. Jika bukan karena lukanya saat ini, dia pasti sudah ikut andil ketika penyerangan itu.
Bahkan dia berharap akan berhadapan dengan musuh bebuyutannya itu. Tapi itu semua hanya lah hayalan semata. Itu semua adalah karena ulah bocah besar yang dengan berani menembaknya.
"Itu adalah balasan untuk mu bocah. Kau sudah berani melawanku. Dan ini hadiah pertama untuk mu Rhadika s*ialan. Akan ada hadiah yang akan menanti mu kembali.Kau akan lebih menderita dari ini"
Setidaknya tanpa Clasy asisten rumah tangga itu, pria tadi memeliki pion lain yang bisa ia kendalikan. Kaylen, dia tau wanita itu tidak akan berguna sama sekali. Tapi setidaknya dengan kehadiran wanita itu, dia bisa menggantikan posisi informan sementara. Oleh karena itu dia membiarkan Kaylen bebas sekarang.
Pria itu tersenyum karena dia akan memiliki laporan yang menarik untuk dadynya nanti. Setidaknya kali ini dia tidak akan membuat ayahnya marah, melainkan bangga karena memiliki dia. Dia juga yakin, posisi dari ketua Ghost Lion tidak akan berpindah dari genggaman nya.
**
Setelah mobil sport Dika yang sudah hancur berhenti berguling-guling, dia langsung berlari cepat diikuti Max dan anggota lainnya. Posisi mobil itu sekarang adalah terbalik dengan keadaan mobil yang sudah darurat.
Saat ini, di bagian atas mobil saat ini terlihat beberapa percikan api di kabel-kabel mobil yang saat ini terbalik itu. Bahkan beberapa sudah mulai terlihat ada api kecil.
Dika langsung menuju pintu dimana istri kecilnya berada. Bagian Max dan pengawal lainnya adalah Levi.
Dika menunduk dan melihat kaca mobil. Istrinya saat ini pingsan, nampak kepalanya mengeluarkan banyak darah, goresan-goresan kaca terlihat memenuhi tangannya. Sepertinya wanita itu tidak sempat menggunakan sabuk pengaman saat kecelakaan terjadi, dan pecahan kaca mengenai tubuhnya.
Dengan hati yang marah penuh kekecewaan pada dirinya sendiri, Dika berusaha untuk membuka pintu mobil yang sudah lost control.
Terakhir dengan sekuat tenaga, pintu itu ditarik oleh beberapa bodyguard. Nyala api kecil semakin menyebar dan diperkirakan sebentar lagi akan terjadi ledakan.
Para pengawal semakin gencar untuk membuka pintu yang menjadi penghalang mereka untuk menyelamatkan sang Nyonya.
Tepat saat api mulai membesar dan menimbulkan keringat berlebihan diantara pria-pria yang sedang berjuang disana, dengan angin malam yang sunyi menemani perjuangan mereka, pintu Levi dan Ros terbuka sempurna.
"Kalian menyingkiidan menjauh dari tempat ini! Akan segera terjadi ledakan. Max, selamatkan adikku," teriak Dika lalu kembali meraih istrinya.
Dika yang melihat para anggotanya tetap berdiri diam di tempat, "Satu detik lagi aku melihat kalian disini akan kubunuh kalian," teriak Dika. Dia tidak ingin mengorbankan nyawa ank buahnya demi keegoisan dirinya sendiri. Terpaksa para pengawal undur diri dan menjauh dari mobil yang akan meledak itu.
Keduanya sama-sama pingsan dan tidak memberi respon apapun. Max dan pengawal lainnya langsung membopong Levi ke dalam mobil pengawal, sedangkan Ros digendong sendiri oleh Dika.
Saat Dika sudah mengangkat istrinya dalam dekapan, api mobil bertambah besar ditambah bahan bakar mobil terlihat memancar karena kecelakaan tadi yang sepertinya menimbulkan kebocoran pada tangki bahan bakar mobil.
Para pengawal sudah menyingkir jauh karena perintah sang Tuan. Dika berusaha menahan panas yang menerpa tubuhnya, dia membuka jasnya dan menutupi tubuh sang istri.
Saat berjalan sekitar tiga puluh meter, mobil sport yang sudah tak berbentuk itu meledak. Beberapa puing-mobil berhamburan kemana-mana. Dika berjalan lebih cepat, namun dia merasakan ada sesuatu yang mendekat ke arahnya.
Dia berlutut dan membungkukkan badannya untuk melindungi sepenuhnya tubuh istrinya.
BUG
Besi lingkaran padat terlihat melayang mengenai bahu Dika. Namun dia tetap bertahan dan berdiri tegak membawa sang istri hingga dimasukkan ke dalam mobil yang dikendarai oleh dia bersama Max sebelumnya.
Dika berusaha menahan tangisnya, dia harus bisa kuat diatas kepura-puraan ini. "Bertahanlah Baby," pinta Dika didalam hati sambil menciumi tangan istrinya.
Meskipun darah sudah ada dimana-mana, bahkan baju pria yang sedang dilanda kekhwatiran itu tetap menciumi tangan istri kecilnya. Berharap tidak akan ada nyawa yang meninggalkan bumi yang akan membuat jiwanya kembali menghilang.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya Dika dan rombongan sampai di rumah sakit milik keluarga Browns. Jajaran rumah sakit sudah berjejer disana.
Max terlebih dahulu sudah memberikan kode darurat pada Darren saat setelah dia menerima notifikasi dari Levi, hingga mereka berjejer menyambut kedatangan pemilik rumah sakit, namun tidak tau siapa yang menjadi pasien yang akan mereka tangani.
Setelah pintu mobil terbuka, para suster dibantu oleh dokter-dokter mengeluarkan brankar sebagai persiapan pertama, Darren terkejut melihat dua orang yang berada di brankar.
Namun dia tidak berani buka suara karena keadaan saat ini memang diluar dugaannya. Bahkan terlihat wajah Rhadika semakin dingin dari biasanya. Darren lebih memilih bergegas cepat memasuki ruang IGD.
Ros saat ini langsung ditangani sendiri oleh Darren. Sebenarnya Dokter muda ini adalah seorang pria berbakat yang memiliki prestasi tinggi, namun karena sifatnya yang kelewat mesum, orang tuanya angkat tangan dan menyerahkan dirinya pada sahabatnya yang super kejam dan dingin itu. Hingga saat ini dia hanya bisa bekerja sebagai seorang bawahan Rhadika.
Dika yang berada di luar ruang IGD terlihat diam dalam duduknya. Banyak pengawal disana yang ikut merasakan duka yang mendalam.
Bahkan jika dijatuhkan jarum disana, pasti akan terdengar oleh telinga. Dika tampak duduk dengan menyatukan kening dan tangannya.
Max memperhatikan sikap tuannya dan dia kembali merasa was-was. Selama lima belas menit, Dika tiba-tiba bergerak dan berdiri.
"Kemana kau?" tanya Max. Dia tidak bicara sebagai bawahan Rhadika melainkan sebagai sahabatnya.
"Bukan urusanmu!" jawab Dika langsung meninggalkan Max.
"Tahan dia," seru Max pada anggota lainnya. Awalnya anggota Black Sky tidak berani, namun dengan tatapan tajamnya para anggota Black Sky mengerti akan keadaan.
Dika tidak melawan, namun setelah didepan Max, Dika mulai mengeluarkan tenaganya dan melawan anggota nya sendiri dengan tangan kosong.
Ketua klan itu melawan anggota klannya sendiri, Dika dengan keadaan yang full marah menghabisi semua anggotanya dengan beringas. Bahkan ada yang sampai batuk darah, tidak ada pengecualian untuk imbas kemarahannya. Amarahnya sedang diubun-ubun.
Max yang melihat itu langsung maju dan memukul rahang Dika dengan kuat. Dika tumbang dan terjatuh ke lantai.
"Bodoh, kau bodoh Rhadika s*ialan. Kau seharusnya menunggu istrimu yang sedang memperjuangkan hidupnya. Bukan malah bertindak bodoh seperti ini," seru Max dengan tegas.
"Kau pikir hanya kau yang merasakan sakit disini? Aku juga sedang menunggu Levi yang sudah kuanggap sebagai saudaraku dan Nyonya yang sudah kuanggap sebagai adik ku. Tahan emosimu bodoh!" seru Max.
Dika bangun dan menatap tajam ke arah Max. "Aku hanya ingin membalas pria bajingan itu s*ialan," seru Dika.
"Apakah balas dendam mu lebih penting dari istri dan adikmu. Apakah dengan membalas dendam saat istri dan adikmu akan segera sadar dan cepat pulih? Jangan bodoh dan gunakan otak jenius mu." Max duduk dan bersikap tenang seolah tidak terjadi apapun.
Dia tidak boleh gegabah saat ini. Satu langkah saja dia salah bergerak, dipastikan pria yang adalah bos nya itu akan bergerak di luar kendali.
"Tahan emosimu, bagaimana jika Ros bangun dan mencari mu. Bagaimana dengan Levi," ucap Max dengan tenag lalu menyandarkan kepalanya di ruang tunggu itu sambil menghirup udara dengan dalam. Saat ini berperan sebagai sahabat Dika.
Dika mengusap rambutnya frustasi. Kenapa otaknya tiba-tiba bodoh. Saat ini istri dan adiknya sedang berjuang untuk hidup dan dirinya masih memikirkan balas dendam. Dika berusaha menenangkan dirinya sendiri. Dia kembali duduk tenang dan menikmati rasa sakitnya sendiri.
Levi yang saat ini sedang ditangani oleh dokter, tiba-tiba mengerjapkan matanya dan melihat sekeliling ruangan. Warnah putih mendominasi ditambah orang-orang yang memakai seragam putih. Kepalanya yang berdarah sudah dibersihkan dan dibalut tapi dengan kasa putih oleh penghuni rumah sakit ini.
Levi juga merasakan sakit dibagian perutnya. Levi membuka pakaian ala rumah sakitnya dan melihat ke arah perutnya. Kemudian melihat ke arah dokter didepannya.
Pria yang menggunakan jas putih itu langsung mengerti kode yang diberikan oleh Levi. "Tadi ada besi yang menancap Tuan," jawab Dokter.
"Anda belum boleh bergerak Tuan, lukanya lumayan dalam dan jika anda terus bergerak nanti akan terbuka lagi," peringat sang dokter. Namun adik dari bos mafia itu hanya abai saja.
"Apa ada pasien wanita yang datang bersama ku tadi?" tanya Levi. Meskipun dia merasa kepalanya serasa ingin pecah, perutnya yang sangat perih, namun dia berusaha menahan sakitnya. Wanita yang sudah dianggap sebagai kakak kandungnya adalah yang terpenting saat ini.
"Ada Tuan," jawab salah satu dokter.
"Dimana dia sekarang?" Levi langsung bangkit dari brankar dan berdiri menuju ruangan IGD.
Meskipun dia merasa sakit, tapi ini sudah hal biasa. Peluru yang sering bersarang di tubuhnya dimana dia harus mempertahankan posisi pertahanan, itu sudah biasa melatih kekebalan tubuhnya.
"Kak, bagaimana keadaan Kakak ipar?" tanya Levi setelah melihat kakaknya bersama Max dan anggota lainnya. Max langsung berdiri dan membantu Levi untuk duduk.
"Dia masih dirawat. Kenapa kau datang kesini, jangan terlalu memaksakan diri. Darren sedang berusaha di sana. Kembalilah ke ruang inapmu," seru Dika dengan tenang. Dia berusaha terlihat tenang agar pria muda disampingnya tidak menyalahkan dirinya sendiri.
"Sudah berapa lama?" tanya Levi.
"Hampir tiga puluh menit," jawab Dika. Wajah Levi terlihat memerah, kemudian bangkit berdiri dengan wajah mengeras.
"Aku ingin ke suatu tempat untuk menenangkan diri," ujar Levi. "Jangan bertindak bodoh! Tunggu sampai istriku sembuh. Atau seiring berjalannya waktu kita akan bergerak," ujar Dika. Dia tau apa yang ada dipikiran adiknya itu saat ini.
Hening selama beberapa menit, Dika melihat wajah Levi seperti ada beban berat yang menimpanya.
"Jangan menyalahkan diri mu sendiri. Tidak ada gunanya." Dika berusaha menenangkan adiknya yang saat ini juga terluka baik fisik dan hatinya.
Didalam ruangan IGD, Darren yang sudah selesai membersihkan seluruh luka dan menjahit bagian kepala Ros yang lumayan menganga di menarik napas dalam.
Di menatap ke arah perawat yang sedang melakukan tes darah. "Apa golongan darah nyonya," tanya Darren.
Perawat itu menggelengkan kepalanya kemudian menjawab. "Golongan darah Nyonya adalah adalah MN Dokter."
Darren nampak berpikir sebentar. "Apakah rumah sakit kita masih memiliki stok darah itu?"
"Tidak Dokter. Golongan darah seperti itu sudah langka dan sangat sulit ditemukan. Bahkan pusat rumah sakit negara kita sudah mengumumkan hanya memiliki golongan darah langka berupa Rh saja. MN sudah lama tidak didapatkan," jawab perawat itu.
Mendengar itu, Darren mengalihkan perhatiannya dan fokus ke wanita yang sedang tidak sadarkan diri di depannya. Tangannya kemudian di turun ke arah bagian perut Ros. Para perawat langsung menggunting baju Ros hingga bagian pusarnya.
Darren memegang bagian perut wanita kecil didepannya. Nampak bagian itu berdarah sedikit namun luka lebam berwarna kehijau-hijauan sangat lebar.
"S*ial, semoga tebakanku tidak benar," batin Darren menutup tubuh Ros dengan kain putih khas ruangan operasi.
Jangan lupa likenya πππ
Horasπ