Mafia Boss Little Wife

Mafia Boss Little Wife
Part 53



Dalam kurun waktu satu bulan akhirnya Ros mengetahui sedikit demi sedikit tentang bela diri, menembak, dan taktik untuk melawan musuh. Dengan pelan dia diajari oleh sang suami, dengan penuh sabar meskipun selalu keluhan dan keluhan yang keluar dari mulut wanita yang sedang di banting pelan oleh sang suami.


"Kenapa aku dibanting dengan keras," tanya Ros dengan wajah marah setelah bangkit dari jatuhnya. Ros merasa seperti orang yang baru di smack down saja.


Mendengar keluhan demi keluhan itu, kepala Dika hampir pecah. Dengan hati yang sudah panas, Dika memanggil Levi yang menjadi penonton disana. Levi selalu tersenyum melihat sifat marah dan kekanak-kanakan kakak iparnya.


"Levi, naik keatas ring, cepat!" perintah Dika. Dengan senang hati Levi naik ke atas ring, dia pikir gilirannya lah sekarang mengajari kakak iparnya. Karena kebiasaan mereka akan secara bergilir mengajari wanita kecil itu.


Sesampainya Levi di atas ring Dika bergerak cepat dan membanting Levi dengan tenaga yang lumayan kuat, namun masih bisa dikontrolnya.


BUG


Ros menutup mulutnya tak percaya. "Sayang, kenapa kau membanting Levi?"


"Itu namanya baru dibanting Baby," seru Dika turun dari ring karena rasa kesalnya akn sifat istri kecilnya.


Sejarah nya sebagai seorang bos mafia, dia tidak akan pernah menerima komentar ataupun protes tentang hasil kerjanya.


Namun dalam satu bulan ini dia seperti budak wanita itu yang selalu dimarahi tidak jelas, ditendang jika wanita itu marah, diijambak rambutnya dan wanita itu selalu mengeluh.


"S*hit, kenapa aku yang jadi bahan percobaan. Terus saja, terus saja akibat ulahmu kakak ipar, aku menjadi korbanmu," kesal Levi bangun di bantu oleh Ros.


"Aku tadi tidak menyuruh suamiku untuk membanting mu. Dia saja yang inisiatif," jawab Ros santai tidak merasa bersalah.


"Tapi kau memancing emosinya." Ros hanya tersenyum manis mendengar pernyataan Levi. Sebenarnya Levi tidak terlalu sakit punggung nya, namun itu semua bentuk dari rasa kesalnya.


Untuk memulihkan punggungnya Levi memulai pemanasan kembali. Dia harus benar-benar harus menguji semua persendian yang hampir cedera oleh ulah kakak nya sendiri.


Sedangkan Ros dia masih setia diruangan itu, namun tidak ikut andil kembali dalam kegiatan menyebalkan yang menguras tenaga itu.


Dia duduk di depan Levi yang sedang melakukan sit up sedang kan wanita kecil itu memainkan ponsel adik iparnya. Dengan iseng Ros memilih aplikasi Instagram adik iparnya.


"Wow, Levi kau mempunyai 30 juta pengikut," seru Ros tak percaya. "I'm famous in the world kakak ipar." Wajah Levi seperti dipuji setinggi langit.


Mendengar itu Ros merasa mual melihat wajah Levi. Posisi Levi sekarang sudah dalam posisi push up. Dengan sengaja untuk menambah beban Ros naik ke atas punggung adik iparnya. Dia pikir adik iparnya itu tidak akan kuat, namun dia salah sasaran.


Levi kembali melanjutkan push up nya, memang beban nya bertambah, tapi hal itu sudah biasa.


Ros awalnya tenang diatas punggung adik iparnya. Saat Levi ingin turun push up, Ros tiba-tiba berdiri dengan cepat tanpa aba-aba.


Tentu saja Levi tidak siap dan jatuh. Para pengawal tertawa dengan pelan namun langsung bungkam ketika Levi menatap tajam mereka.


Saat Ros akan jatuh dengan sigap Levi berbalik dan menangkap kakak iparnya yang hampir jatuh kelantai.


BUG


Ros jatuh dalam pelukan adik iparnya. "Levi, artis favoritku mengikuti Instagram mu. What the hell, Agnes Monica mengikuti mu," seru Ros dalam pelukan adik iparnya tanpa peduli bagaimana keadaan dan posisi nya saat ini.


"Ternyata aku salah. Ternyata kakak ipar bukan jenis manusia yang kucari. Dia bahkan lebih tidak manusia dari kakak dan Max," batin Levi.


Ros berdiri dan berjalan sambil memegang ponsel Levi. Dia tetap fokus pada ponselnya.


"Baby, aku akan ke kantor bersama dengan Max," seru pria dengan setelan rapi yang sedang berada dipintu ruang latihan.


"Hmmm, Levi juga akan pergi ke markas. Kau bersama Odion saja bersama dengan para pengawal."


"Bersama temanku boleh. Maksudku bersama pelayan pribadi ku?" tanya Ros yang sudah mengalihkan perhatiannya dari ponsel Levi. Diam sebentar akhirnya Dika mengangguk.


"Baiklah, hati-hati jika bersama dengan orang baru," seru Dika mendekat dan singkat menge*cup bibir istrinya.


Rumah besar itu kembali sepi ketika dua pria yang selalu bersama Ros pergi untuk menghasilkan uang. Itulah yang dipikiran Ros. Tapi dengan adanya Clasy, Ros jadi senang karena memiliki teman. Tapi akhirnya dia bosan juga karena hanya menggosip dan membahas hal-hal yang tidak terlalu penting.


"Clasy, tolong panggil Odion yah!"


"Baik Nyonya." Clasy langsung bergegas ke arah tempat pengawal dimana Odion berada disana.


"Apa ada yang perlu saya bantu Nyonya?" tanya Odion setelah berdiri di hadapan sang Nyonya.


"Odion kita sekarang ke kantor suamiku. Aku bosan hanya dirumah terus."


"Baik Nyonya. Saya akan mengabari tuan sekarang."


"Tidak perlu. Aku ingin memberikan surprise kepadanya."


"Tapi Nyonya." Seperti perintah tuannya dia harus memberitahu setiap aktivitas wanita tuannya.


"Tidak ada tapi-tapian. Cepat aku ingin segera bertemu dengan suamiku."


Mendengar perintah sang Nyonya Clasy disana bergumul dengan pikiran nya sendiri. "Aku sudah memberitahu pria sialan itu bahwa aku bekerja di belakang mansion. Pasti dia tidak tahu kalau aku bersama nyonya saat ini," batinnya. Pikiran panjang Clasy terhenti ketika mendengar suara sang nyonya.


" Clasy, kamu ikut dan harus ikut!"


"Tapi Nyonya, saya masih memiliki pekerjaan di ruang belakang," jawab Clasy.


"Nanti akan kuberitahu kan kepada paman Vill." Melihat wajah Clasy tidak bersahabat, "tidak ada penolakan!" seru Ros tak terbantahkan.


Akhirnya Ros bersama dengan Clasy dan Odion bersama pengawal lainnya yang jumlahnya hanya 3 mobil pergi dari mansion itu. Tidak ada pemberitahuan sama sekali pada Max, Levi, terutama pada Dika selaku bos diantara ketiga pria itu.


Odion juga tidak punya pilihan lain ketika Nyonya nya mengatakan "aku adalah istri dari bos mu, perintahku juga harus kau turuti," itulah ucapan Ros yang berhasil membungkam Odion.


Seorang wanita yang sedang dalam mobil ingin menuju gerbang mansion Browns tiba-tiba berhenti dan memundurkan mobilnya.


"Kenapa waktunya begitu tepat." Wanita itu berbicara sendiri dan segera mengambil ponselnya.


"Ikuti mobil plat xxx, target kalian adalah mobil paling tengah. Aku akan mengirim fotonya. Aku akan membayar sesuai cara kerja kalian," perintah wanita itu.


"Cari tempat aman yang bisa mnjadi pelarian wanita itu. Berikan ruang untuk nya ketika para pengawalnya lengah."


Sebenarnya wanita ini sudah lama merencanakan hal ini. Tidak disangka waktunya datang tepat ketika dia ingin ke mansion itu.


"Let's play the game b*itch," seru wanita itu tersenyum smirk.


LIKE, KOMEN, SAMA FAVORITNYA MAK AGAR SELALU MENDAPATKAN NOTIFIKASI UPDATENYAπŸ˜ŠπŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘


Horas πŸ‘