
Malam sudah menyelimuti bumi, hari sudah menjadi gelap, tampak Rhadika baru memasuki mansion.
Ada satu tujuan Rhadika pulang ke mansion. Istrinya, dia mencari keberadaan sang istri. Ketika Dika memasuki ruang keluarga, dia mendengar suara tawa istrinya bersama putrinya.
"Baby," panggilnya membuat ke dua wanita itu berhenti dari candaan mereka. Ros tidak berbalik sama sekali untuk melihat siapa yang berbicara.
"Aurora, mommy akan tidur lebih dulu," ucap Ros bergegas dari duduknya dan mengabaikan sang suami. "Baik mommy," jawab Aurora. Namun dia masih setia di sana karena kasihan melihat sang daddy.
Setelah melihat Mommy Rosaline menghilang dari pandangan mereka, Aurora terlihat mendekat ke arah Daddynya.
"Dad, mommy sangat baik pada Rora. Mommy sudah menerima Rora," ucap Aurora tersenyum melihat ke arah daddynya.
"Hmmm, apa hari ini Rora bisa pergi? Meskipun mommy sudah menerima Rora, tapi mommy dan daddy jadi perang dingin karena aku," ucap gadis itu.
"No, nanti Daddy akan bicara pada mommy. Mommy hanya marah sebentar," jawab Dika. Akhirnya Rora pergi ke kamarnya begitu juga dengan Rhadika.
Rhadika yang sudah berada di kamarnya, dia melihat sang istri sedang berdiri menghadap ke arah kaca transparan kamar mereka yang menampakkan pemandangan luar mansion.
"Baby, kenapa belum tidur?" tanya Dika. Dia mendekat dan hendak memeluk sang istri, namun dari kaca itu Ros bisa melihat aksi suaminya dan secara langsung menghindar.
"Tolong jaga batasan anda Tuan, tidak seharusnya seorang pelayan seperti saya bersamaan dengan majikannya" jawab Ros datar.
"Baby.." Ucapan Dika terhenti ketika istrinya kembali buka suara.
"Saya akan tidur di salah satu kamar pelayan sesuai dengan kodrat saya. Saya bisa berada di tempat ini karena anda sudah membayar hidup mati saya," jawab Ros hendak bergegas.
"Baby, aku bisa menjelaskan semuanya. Kau jangan salah paham dulu," seru Dika berhasil menghentikan langkah kaki Rosaline.
"Pelayan Ros, anda bisa memanggil saya pelayan Ros. Jika anda ingin membutuhkan tenaga saya ataupun tubuh saya untuk melampiaskan hasrat Anda, silahkan panggil saya. Saya sebagai salah satu ja*lang dan pelampiasan anda, akan selalu siap untuk memenuhinya," jawab Ros kembali.
"Rosaline Browns, apa yang kau katakan," seru Dika. Suaranya sudah naik satu oktaf karena pernyataan istri kecilnya bahwa dia hanyalah seorang pemuas saja.
"Maaf Tuan, besok saya harus bekerja sesuai prosedur pelayan di mansion ini, sudah saatnya untuk pelayan seperti saya tidur agar bisa melakukan tugas dengan tepat waktu di hari esok," seru Ros.
Dika yang mendengar itu langsung bergerak cepat ke arah istrinya dan memeluk tubuh itu dari belakang. "Lepaskan tangan mu,Tuan," teriak Ros meronta dalam pelukan Rhadika.
Dika tetap diam dan memeluk istrinya. Sekuat tenaga Ros melepaskan tangan suaminya, setelah berhasil, dia berbalik dan menampar wajah suaminya.
"Apa sebegitu murahannya aku untuk mu. Apa dengan melakukan kesalahan besar seperti ini, kau sama sekali tidak merasa bersalah. Dimana otak mu Rhadika sialan?" teriak Ros. Tiba-tiba wanita itu merasa kepalanya sangat berat dan tubuhnya semakin berat dan kemudian jatuh pingsan.
"Baby," Rhadika langsung menangkap istrinya sebelum terjatuh ke lantai. Setelah meletakkan istrinya di ranjang, dia langsung menelpon Darren si jas putih.
Dalam waktu tiga puluh menit, Darren sudah sampai. Dia tidak bisa langsung bergegas tadi karena ada pasien yang sudah membuat janji temu dengannya.
"Ada apa dengan Kakak ipar?" tanya Darren setelah memasuki kamar. "Lakukan saja tugas mu," ucap Dika.
Setelah Darren melakukan pemeriksaan sebentar dia menghela napas. "Kenapa?" tanya Rhadika.
"Kakak ipar sepertinya mengalami tekanan batin. Apa kau membuatnya menangis atau semacamnya?" tanya Darren.
Bug
Dika meninju dinding dengan kuat sebagai pelampiasannya. "Kenapa aku selalu membuat wanita yang ku cintai merasakan sakit. Kenapa harus aku," batin Dika. Dia melampiaskan rasa kecewanya pada dinding di sampingnya.
Darren yang melihat itu tidak bisa lagi banyak bicara. "Jangan membuatnya sedih atau marah. Usia kandungannya masih rentan. Kau sebaiknya menjauh terlebih dahulu dari kakak ipar. Aku pergi," seru Darren.
Dia tidak ingin berlama-lama di sana yang akan membahayakan keselamatannya nanti.
Dika mengusap wajahnya dengan kasar. Dia mendekat ke arah istrinya. Dika mengusap pelan kepala istrinya. Kemudian dia melihat ke arah perut istrinya yang masih rata.
Tangan Dika yang ingin mengusap perut istrinya yang masih di lapisi kain terhenti. Entah mengapa dia merasa tak sanggup bersentuhan dengan perut istrinya. Kemudian dia membenarkan selimut istrinya. Setelah itu pria itu tampak berdiri dan keluar dari kamar itu.
Saat Dika tadi ingin mengusap perut Ros, wanita itu sudah terbangun dan melihat aksi enggan suaminya menyentuh perutnya. Air matanya langsung luruh ketika suaminya tidak ada di dalam kamar lagi.
Dika yang keluar dari kamar nya sendiri terlihat memasuki kamar Aurora. Aurora yang tadinya masih aktif dengan gadgetnya langsung membuka pintu karena mendengar suara ketukan di pintu kamarnya.
"Kau tidur bersama mommy Rosaline, Daddy yang akan tidur di kamar mu!" Aurora yang dengan jelas melihat raut wajah sang daddy langsung mengerti. "Baik Dad," jawab Aurora. Dia bergegas sambil membawa ponselnya.
Aurora pergi ke kamar mommy Rosaline, tapi dia setia dengan ponselnya dengan sepasang handset di kedua telinganya. Aurora tidak mengetuk pintu dan masuk begitu saja. Saat akan naik ke atas ranjang di mana Ros ada di sana. Aurora terlihat berhenti beberapa saat di samping ranjang.
Ros yang berpura-pura tidur, berbalik menghadap ke arah Aurora yang sedang berdiri di sana. Ros melihat ekspresi tidak menyenangkan dari putri tirinya itu. Terlihat Aurora dengan wajah marah dan mer*emas ponselnya.
Setelah beberapa saat gadis itu langsung melepas handsetnya dan berlari ke arah kamar mandi. Melihat gadis itu pergi, Ros yang penasaran dengan apa yang di dengar Aurora mengambil handset itu.
Wanita itu bisa tau suara wanita di seberang sana, itu adalah mommy kandung Aurora sedangkan pria itu dia sama sekali tidak mengetahuinya.
"Melawan klan Rhadika, Black Sky?" tiba-tiba pintu terbuka dan Ros langsung merebahkan dirinya agar Aurora tidak mengetahui apa yang dilakukannya tadi.
Pagi harinya sekitaran pukul lima pagi, tampak Rhadika memasuki kamar mereka. Dia langsung bergegas ke kamar mandi dan membersihkan diri, kemudian dia masuk ke dalam walk in closet dan mengambil bebrapa kameja formalnya.
Setelah mengambil perlengkapan dari kamarnya, dia mendekat ke arah ranjang dan mencium lama kening istrinya. Dia berpikir, keberadaannya akan mengganggu kehamilan istri kecilnya nanti. So, sebaiknya dia tidak menampakkan diri untuk sementara.
Dia tau setiap melihat kehadirannya, ekspresi istrinya akan berubah begitu juga moodnya. Dia memilih untuk minggat dari mansion beberapa waktu dan akan menginap di apartemen nantinya. Hal ini akan di lanjutkan dengan pembasmian Thomas dan klannya nanti.
Pagi hari menyingsing, Ros menoleh ke arah sampingnya berharap orang yang di carinya ada di sana. Meskipun dia saat ini sangat membenci sang suami, tapi dia benar-benar berharap akan kehadiran pria itu. Namun nihil, harapannya tidak sesuai realita. Pria itu sama sekali tidak ada di sana melainkan putri tirinya lah yang di sana.
Dia bangun terlebih dahulu dan turun ke arah meja makan. Dia melirik sana sini entah mencari apa.
"Nyonya, apa anda mencari Tuan? Tuan sudah pergi pagi tadi, sepertinya ada urusan mendadak," seru Clasy yang sejak tadi memperhatikan tingkah laku majikannya.
"Ahemm, siapa bilang aku mencari pria itu. Aku memcari ke dua adik ipar ku," jawab Ros tidak ingin mengaku.
"Tuan Levi dan Nona Felice katanya tidak akan pulang karena mereka harus menyelesaikan misi di perusahaan Nyonya." jawab Clasy.
Ros hanya mengangguk dan duduk di m ja makan itu. "Tunggu, Clasy sepertinya kau saat ini sangat mudah mendapatkan informasi. Kau mengatakan tadi katanya. Kata siapa?"
"Tuan Max Nyonya," jawab Clasy jujur. Ros tersenyum tipis. "Sepertinya kau dan Max sudah sangat dekat," seru Ros. Clasy langsung salah tingkah.
"Tidak, tidak Nyonya. Kami hanya sebagai atasan dan bawahan saja." Ros hanya acuh mendengar jawaban Clasy. Bersamaan dengan itu, Aurora tampak menuruni tangga dengan keadaan khas bangun tidurnya.
"Kemari, kita makan," seru Ros. Aurora dengan sigap menghampiri sang mommy dan langsung duduk di samping Ros.
"Pagi dedek bayi boy," seru Aurora mengusap lembut perut Ros dengan penuh kasih. Ros membiarkan Aurora mengusap perutnya.
"Harusnya suami ku yang pertama melakukan ini pada anaknya sendiri," batin Ros.
**
Diperusahaan Rhadika, Levi mengalami kesulitan dalam melacak lokasi Thomas. Ini sudah hari ke dua namun belum menemukan titik pasti keberadaan pria itu.
"Kak, sepertinya mereka menggunakan koneksi militer," seru Levi. Dia sudah berusaha menemukan lokasi itu tapi selalu berpindah-pindah.
"Militer?" tanya Rhadika.
"Shi*t," ucap Rhadika. Dia merasa tambah beban saat ini. Mereka tidak bisa menggangu koneksi militer karena mereka sudah membuat perjanjian setelah tragedi kematian ayah Rhadika.
Istrinya juga yang hilang sejak kemarin, dia tidak bisa menemukan istrinya karena istrinya ternyata berada di wilayah militer kenegaraan Spanyol.
"Dari mana Thomas mendapatkan keneksi itu?" batin Dika. "Usahakan tembus pertahanan mereka dari alamat IP lain. Max, hubungi pihak kemiliteran, apa mereka benar-benar berhubungan dengan Ghost Lion? Jika mereka benar-benar terhubung, itu artinya mereka ingin perang dengan Black Sky ," seru Dika.
**
Tidak terasa selama dua hari penuh Rhadika tidak pulang ke mansion begitu juga dengan Clasy dan Levi. Ros hanya sendirian ketika di mansion, hanya Clasy di waktu senggangnya lah dia bisa menemani Ros.
Saat tidur pun Ros harus merasakan mual-mual yang begitu menyiksanya. Dia sengaja meminta Aurora tidur di kamarnya saja agar Ros bisa menuntaskan rasa pedih hatinya.
Setiap hari setelah dia muntah-muntah di kamar mandi, dia akan menangis karena tidak bisa bertemu dengan suaminya.
Entah mengapa saat selesai muntah, hanya dengan menghirup aroma dari kameja suaminya dengan sendirinya rasa mualnya pun akan berkurang dan saat tidur pun, Ros menggunakan kameja kebesaran suaminya agar bisa tidur.
Malam harinya, Ros terbangun karena merasa lapar. Hari ini dia sama sekali tidak keluar dari kamarnya Karena merasa moodnya sangat buruk hari ini. Sebuah ide meluncur di pikiran wanita itu.
Dia menuju walk in closet dan menggunakan pakaian tertutup serba hitam. Dia ingin keluar malam ini untuk mencari udara bebas di luaran sana. Dia sudah bosan di mansion yang begitu besar tapi menyesakkan ini.
Dengan pelan dan hati-hati, Ros keluar dari kamarnya. Dia menuruti tangga dengan perlahan agar tidak ketahuan paman Vill. Namun saat di tangga terakhir, Ros melihat Aurora juga mengendap-endap berjalan keluar dari kamarnya.
Ingatan Ros langsung connect ketika mengingat rekaman di ponsel Aurora. Dia langsung bersembunyi agar tidak di ketahui gadis itu. Tujuan Ros tiba-tiba berubah ketika mengingat isi percakapan itu bersangkutan dengan klan sang suami.
"Aurora, sebenarnya apa yang kau sembunyikan," batin Ros mengikuti langkah gadis itu.
Jangan lupa like nya πππ
Horasβ