
Seorang pria bangun dari ranjang dan mengambil ponselnya dari atas meja. Dia menatap sebentar ke arah ranjang dimana wanitanya masih terlelap, lalu dia berjalan ke arah balkon.
Duduk sebentar merenungi masa-masa kehidupan baru yang sudah memiliki ke khwatiran dalam hidup. Takut sesuatu terjadi pada dirinya sendiri karena kebanaran belum ditemukan nya. Putri yang selama ini dicarinya tidak ada informasi sedikit pun.
Hatinya berkata bahwa putri yang di tinggalkan oleh istri nya yang sudah meninggal kan dunia ini masih hidup dan masih berada diluaran sana.
Baru kali ini dia merasakan takut kembali untuk menjalani hidupnya setelah kematian sang istri akibat ulah adik iparnya. Namun, kehidupan yang dia jalani saat ini sangat berbeda karena akan mencari buah cintanya dengan istri. Namun satu hal lagi, adik iparnya belum ditemukan mayat nya hingga saat ini.
Kemungkinan besar, apakah pria itu menyembunyikan putrinya? Itulah pertanyaan yang selalu ada dalam benak pria yang sedang berdiri di balkon.
Dia menatap sepi pagi yang belum di sinari oleh tata surya besar yang dapat memancarkan cahayanya sendiri. Bahkan burung-burung yang biasanya menjelajah di angkasa belum menampakkan sayapnya. Para manusia juga belum menampakkan kegiatan nya, masih terlelap dalam hening sepi pagi.
Pria itu menyesap wine dengan cara elegannya. Dia terlihat memiliki beban berat dalam hidupnya.
Tiba-tiba ponsel yang berada dita berdering pertanda ada telepon yang masuk.
"Halo Tuan."
"Bagaimana, apa kau sudah mendapatkan informasi?"
"Sejauh informasi yang kami gali, almarhum Nyonya membawa putri anda ke sebuah rumah sakit Tuan. Tapi kami hanya mendapatkan informasi ini dari warga sekitar yang kebetulan melintas di tempat tersebut. Tapi dia adalah seorang wanita tua. Sebenarnya saya ragu mengatakan ini Tuan, tapi mengingat pesan Tuan bahwa saya harus melaporkan setiap detail informasi yang saya dapatkan, saya berpikir harus memberitahukan nya pada Tuan," jelas pria disana sedetail mungkin.
"Baiklah, kumpul kan informasi sedetail mungkin. Seperti nya kita harus menyusun teka teki yang masih jauh dari bentuk aslinya."
"Baik Tuan." Sambungan telepon kemudian ditutup. Hening sepi pagi kembali menyelimuti jiwa pria itu. Dia memandang jauh kedepan balkon, tidak ada suasana hidup yang terlihat seperti jiwanya saat ini.
**
Di sebuah hotel seorang pria selalu terjaga selama semalaman. Lingkar hitam mulai terlihat di disekitar matanya. Awalnya dia bisa tidur sambil mendekap erat sang istri, namun tidurnya terganggu ketika merasakan orang dalam dekapannya kembali menggigil dan meracau dalam meimpinya dengan wajah ketakutan.
Namun setelah ditepuk pelan bahunya wanita itu tidak lagi menggigil seperti sebelumnya. Akhirnya pria itu mengambil keputusan untuk kembali tidak tidur dan selalu stay di samping istrinya.
Pagi hari telah tiba pertanda bahwa kegiatan manusia di bumi akan dimulai. Proses kerja tiap manusia akan berlanjut untuk mencari kebutuhannya.
Seorang wanita tersentak bangun kala mimpi buruk menghampiri nya. Dia langsung menangis membenamkan kepalanya di kedua lutut. Tidak Inging melihat sekitar takut mimpi tadi kembali menghampiri nya secara nyata.
Pria disampingnya yang hampir tertidur kembali sadar akan keadaan saat ini ketika mendengar isakan tangis seorang wanita.
"Baby, hey. It's okay. You save here," ucapnya memeluk sang istri.
Mendengar suara yang sangat ditunggu nya, wanita itu langsung mendongak dan memeluk erat suaminya.
"It's okay Baby. Kau sudah aman disini. Kau sekarang bersamaku. Ada aku disisimu. Tenanglah," jawab pria itu.
Wanita yang sedang terisak itu adalah Ros. Bisa dikatakan dia sedikit terguncang jiwanya karena dia mengira akan digagahi oleh pria ba*jingan di gudang itu.
"Hiks...hiks, aku pikir akan di... hiks." Ros tidak bisa melanjutkan ucapannya tadi. Dia merasa sangat sulit mengungkapkan itu untuk sekarang.
"No Baby. Aku sudah membersihkan tubuhmu dengan tubuhku tadi malam, jadi jangan khwatir. Setiap inci tubuhmu tidak ada lagi bekas para pria itu. Jadi tenanglah!" Dika takut jika istrinya ini trauma akan kejadian itu dan menimbulkan gangguan kesehatan mentalnya.
Tangisan wanita itu reda dan menatap pria yang sedang menepuk punggung nya lembut. Dia ingin buka suara namun jiwanya belum tenang saat ini.
Dia diam dalam pelukan sang suami dan terus menelusup kan kepalanya ke dada bidang sang suami. Dia sedang menenangkan hatinya, tapi Pikirannya berkelana jauh entah kemana.
Pria itu membiarkan sang istri berdiam diri dan melakukan hal apa saja yang dilakukan oleh sang istri.
Jiwa keseharian nya kembali muncul dan mulai buka suara. "Kenapa kau waktu itu bisa datang tepat waktu? Bukankah waktu itu kau bersama Maura. Aku melihat mu bersama dengannya di dalam ruangan itu." Inilah jiwa keseharian seorang Rosaline Browns ketika sudah memegang gelar Nyonya Muda Browns.
Diak.yang itu mendengar itu mengernyitkan alisnya. Bukankah seharusnya wanita ini masih dalam keadaan takut? Mengingat wanita ini adalah salah satu wanita yang selalu takut akan kekerasan.
Tapi dia juga tenang hatinya melihat sang istri sudah kembali ke sifat normalnya. Dia tersenyum dan mengelus lembut rambut sang istri.
"Waktu itu aku sudah mengetahui titik lokasimu. Aku hanya ingin menghukum wanita itu karena melakukan hal licik di luar batas kesabaran ku," jawab Rhadika. Kemudian dia m njelaskan detail kejadian itu hingga dia datang ke tempat Ros disekap.
Ros tampak menatap bingung sang suami. "Darimana kau tau lokasi ku? Tapi aku merasa tidak memberi tahukan lokasimu padamu. Apa mungkin Odion mengikuti ku? Atau ada pengawal lain yang mengawasi ku waktu itu." Ros mulai menjadi seorang detektif ala mafia.
"Semua kemungkinan yang kau katakan tidak benar satupun. Tapi wajah mu seperti sudah menebak dengan benar," batin Dika.
"Benar. Ada satu orang pengawal yang melihat mu waktu itu."
"Tapi kenapa dia tidak menolong ku?" tanya Ros kembali.
Dika tergagap akan sikap interogasi istrinya. "Ahem, dia waktu itu hanya satu orang. Jika dia datang untuk menolong mu, mungkin dia hanya mengantarkan dirinya sendiri untuk disekap seperti mu Baby," jawab Dika.
"Tidak mungkin aku memberitahu bahwa ada alat pelacak di cincin kecilmu Baby," batin Dika.
"Cih, pengawal yang mana? Dasar tidak becus. Aku saja sudah menumbangkan seorang pria bertubuh besar. Tapi aku tidak takut meskipun kami hanya dua orang." Ros berdiri sambil melipat tangannya Som keren.
"Tapi setidaknya aku sudah berusaha. Hanya saja kalah diakhir sebelum pertandingan, tapi setidaknya di awal dan pertengahan kami menang," Ros tidak mau mengalah.
"Terserah. Memang wanita selalu menang dalam hal apapun," batin Dika.
"Mmm benar, setidaknya kau menang bersama dengan temanmu itu." Wajah Ros tersenyum penuh kemenangan. Tiba-tiba dia mengingat sesuatu.
"Bagaimana dengan Clasy? Dimana dia sekarang? Apakah dia baik-baik saja?" Ros panik mengingat teman seperjuangan nya itu.
"Dia baik-baik saja, sudah ditangani pihak rumah sakit." Ros menghela napas tenang.
"Apa kau ingin mandi bersama? Setelah ini kita akan ke mansion. Levi pasti mengkhawatirkan mu," tanya Dika.
"Aku tidak ingin mandi. Dimansion saja, aku masih ingin rebahan," jawab Ros. Dika pergi ke kamar mandi sendiri.
Ros bosan hanya rebahan saja. Ingin bermain ponsel namun ponselnya tinggal dirumah, ponsel Levi yang dipegangnya juga jatuh di gedung itu.
"Ah, ponsel suamiku kan disini." Ros bangkit dari tidurnya dan mengambil ponsel Dika yang di atas meja.
Ting
Satu notifikasi saat mengambil ponsel itu masuk ke dalam menu pesan sang suami. Ros yang penasaran langsung membuka pesan itu.
Seorang gadis kecil, bisa dikategorikan oleh Ros gadis masih duduk di bangku sekolah SD.
"Siapa," batin Ros. Gadis kecil itu terlihat tomboy dengan gaya potongan rambut wolfcut. Pakaian juga hitam-hitam seperti pakaian suaminya saat ingin melakukan misi dari klan mafianya.
"Dia keren," batin Ros beralih ke aplikasi lain di ponsel suaminya.
"Apa apaan isi ponsel ini. Semuanya hanya angka dan grafik. Aku pusing melihat nya. Tidak ada yang bisa menarik." Ros berbicara pada dirinya sendiri.
"Ah aku sudah lama tidak memakan makanan kesukaan ku, aku pesan pada Paman Vill saja," ucap Ros sambil mencari kontak paman Vill.
Dia menekan nomor paman Vill.
"Halo Tuan," jawab paman Vill diseberang sana. Paman Vill heran, biasanya sang Tuan akan langsung berbicara tanpa sapaan apapun. Tapi kali ini paman Vill merasa aneh.
"Halo Paman Vill, ini aku Rosaline, aku menggunakan ponsel suamiku," seru Ros.
"Aku ingin memakan makanan khas salah satu suku di negara ku. Aku ingin merequest. Bisa tidak?" tanya Ros.
"Bisa Nyonya, silakan."
"Baiklah, aku kirim nanti. Masak banyak, karena suamiku juga akan memakannya."
"Baik Nyonya."
Sedangkan Levi yang ingin masuk ke bagian dapur ingin mengambil stroberi, berlari cepat ketika mendengar paman Levi mengatakan nyonya tadi.
Namun sial, dia tidak sempat mendengar suara kakak iparnya. "Paman Vill apa Kakak ipar baik-baik saja," tanya Levi masih ngos-ngosan.
"Dari suara Nyonya tadi, seperti baik-baik saj Tuan," jawab paman Vill. "Ah syukurlah," jawab Levi.
Dibalik itu Levi merasa kesal, bagaimana paman Vill yang ditelepon dulu dibandingkan dengan dia. "Menyebalkan," batin Levi.
Ros kembali menjelajahi ponsel suaminya, kali ini jarinya menjelahi galeri ponsel itu. Dia meneliti satu persatu, kebanyakan screenshot foto berupa brosur dan laporan saja.
"Membosankan," ucap Ros sambil menggeser ponsel itu. Tiba-tiba Ros menutup mulutny dan bertepatan pula dengan keluarnya sang suami dari kamar mandi.
"Ada apa Baby?" tanya Dika melihat gerakan istrinya. "Ini? Aish, kenapa fotoku diambil? Bagaimana jika dilihat orang lain, kan malu," kesal Ros ingin menghapus foto itu.
"Kau hapus foto itu, aku akan mencetak rekor ku di gua milik mu sekarang dan saat ini juga," ancam Diak berhasil mengurungkan niat sang istri.
"Cih, sangat suka mengancam," jawab Ros mencebik kesal. Jika suaminya sudah berkata seperti itu, dia akan memegang kata-katanya.
"Tapi kan kalau dilihat orang lain malu," ucap Ros. "Kalo begitu buat saja kuncinya," jawab Dika asal masuk ke walk in closet.
"Oke Sayang," jawab Ros ceria. Dika berjalan sambil tersenyum mendengar suara ceria istrinya ples kata sayang yang terdengar manis itu.
**
"S*ial, kenapa wanita itu bisa tertangkap? Habislah aku. Iblis itu akan bisa menemukan aku nanti," ucap pria itu sambil mondar mandir.
"Percuma aku membantu wanita itu, ternyata malah petaka yang kudapat kan. Putri ku saja aku belum menemukan keberadaannya saat ini. Aku tidak tau di perbudakan Afrika mana putri ku sekarang" Pria itu merasa takut bercampur khwatir. Belum memulai aksi balas dendam nya namun keberadaan nya lambat laun pasti akan tercium.