
Selama satu minggu, Ros terlihat menumpang di rumah militer tersebut. Bahkan setiap hari selesai bangun tidur, dia hanya menatap kosong ke arah jendela yang menunjukkan para tentara latihan.
Dia menyayangkan kehidupannya yang begitu tragis. "Ck, kehidupan yang menyedihkan. Tidak dianggap oleh orang tua, menjadi perebut suami orang, menyedihkan." Ros mengejek kehidupan yang ia jalani selama ini.
Tidak ada lagi air mata yang tersisa untuk meratapi kehidupannya. Yah saat ini dia ingin menjadi kuat, dia tidak akan menjadi beban untuk siapapun lagi. Baik itu pada suaminya, adik iparnya atau siapapun itu. Dia tidak akan bergantung pada siapapun lagi.
Dia menggunakan pakaian yang di sediakan Leon untuknya. Dia keluar dan melihat pagi hari yang begitu menenangkan hati. Dia kemudian tersenyum melihat melihat cerah pagi hari.
Namun tiba-tiba ada segerombolan mobil yang terlihat melaju kencang masuk kedalam lapangan militer tersebut. Dia melihat ada segerombolan tentara yang terluka, terlihat para pria gagah yang terluka itu masih sempat tersenyum meskipun sudah banyak luka.
"Kenapa aku harus lari dari masalah? Bodoh," ucap Ros. "Mereka saja sudah hampir mati masih berjuang dengan hidupnya. Apa kabar dengan ku yang hanya luka seperti ini," batin wanita itu.
Dia bertekad akan mengahadapi segala rintangan yang ada di depannya. Dia tidak akan mundur lagi. Wanita itu terlihat bersiap-siap untuk meninggalkan markas militer milik Leon.
Dia meminjam ponsel salah satu prajurit yang ada di sana dan memberitahukan Leon bahwa dia kan pergi. Dalam waktu lima belas menit, pria itu sudah datang untuk mengantar Ros ke mansion Rhadika.
***
"Apa kau belum menemukan jejaknya sedikit pun Max?" tanya seorang pria yang sudah selama seminggu ini seperti orang gila mencari keberadaan istrinya.
"Maaf Tuan, saya tidak menemukan titik keberadaan nyonya muda, Tapi...," Max terlihat menjeda ucapannya.
"Jangan membuat ku menunggu Max di situasi seperti ini," marah Dika menggebrak meja di depannya. Tatapan nyalang di layangkan oleh Dika membuat Max semakin sulit mengatakan hasil yang didapatkannya.
"Ada email yang masuk ke email saya Tuan," ucapnya menunjukkan foto-foto Rosaline ketika di pesta militer tersebut. Foto itu berisakan foto Rosaline dan Leon yang sedang berpelukan, ada juga foto memasuki kamar.
Dika yang sebelumnya sudah terbakar amarah kini, tambah marah kembali. Dia mere*mas kuat foto yang ada di tangannya. "Bren*gsek, pria sialan itu," ucap Dika.
Bertepatan dengan amarah itu, terdengar sebuah mobil Lamborghini yang memasuki halaman mansion Rhadika. Dengan cepat Max bergerak dan melihat siapa tamu yang datang.
"Tuan, nyonya sudah pulang," seru Max menatap sang Tuan. Dika langsung bergerak dari duduknya dan melihat istrinya dari jendela transparan ruang kerjanya. Awalnya dia tersenyum melihat kedatangan sang istri, namun wajahnya berubah gelap ketika melihat pria rivalnya ada di sana.
Dika melihat istrinya tersenyum manis mengantar kepergian pria itu. Dia lalu turun ke bawah dengan langkah kaki berat. Dia tidak tau apa yang harus di katakannya terlebih dahulu pada sang istri.
Sedangkan Ros yang memasuki mansion terlihat tersenyum sinis. Dia tampak memasuki ruang depan dimana sudah ada Felice, Levi, Max dan Dika suaminya.
Namun satu yang membuat hati wanita itu tambah sesak. Ada satu anggota baru di sana. Anak kecil yang pada waktu itu berada di pelukan sang suami saat di restoran. Dia tersenyum miris.
"Kakak ipar, kau kemana saja?" tanya Levi dengan lembut, namun dia tetap berada di tempatnya. Namun tidak di tanggapi oleh Rosaline.
"Aku jalan-jalan sebentar," jawab Ros enteng. "Lier(Bohong)!!! Sebentar? Apa kau pikir satu minggu itu adalah waktu yang sebentar?" tanya Dika dengan suara kerasnya.
Bukannya dia ingin emosi terlebih dahulu, namun pria itu mengingat foto-foto tadi.
Hal itu sukses mengundang emosi Rosaline. "Felice, bawa anak itu menjauh dari tempat ini!" perintah Rosaline. Felice mengerti dan melakukan perintah wanita yang sedang di ambang ke marahan itu.
Ros mendekat ke arah suaminya. "Lier? Kau mengatakan aku sebagai pembohong?" Ros terlihat tersenyum hambar menanggapi pernyataan suaminya.
"Kau tau tuan Rhadika, ada tiga kesalahan terbesar yang kulakukan dalam hidup ku. Pertama, loving you," seru Ros sambil menunjuk dada suaminya.
"Aku menyesal mencintai baj*ingan seperti mu. Kedua, waiting for you. Aku menyesal menunggu mu, aku menyesal berharap akan mendapatkan kata cinta dari mu. Ketiga, loosing my self for you. Aku menyesal, karena diri mu aku kehilangan diri ku sendiri. Aku menyesal karena kau masa depan ku hancur," seru Ros di iringi bulir bening dari mata jernihnya.
Namun dia tetap tersenyum sinis di sela air mata yang jatuh. Di ucapan terkahirnya dia berbalik dan ingin menuju kamar.
"Tapi aku mencintaimu mu. Kenapa kau harus menunggu di saat aku sudah mencintai mu," ucap Rhadika berhasil membuat langkah Ros terhenti.
"Apa kau menganggap sikap ku selama ini hanya pemandangan semata yang ku buat-buat?"
"Cinta, cih aku sangat jijik mendengar nya. Bahkan kau menyembunyikan status bahwa aku sulit mengalami kehamilan. Apa itu cara mu agar kau menjadikan ku sebagai pelampiasan birahi mu saja?"
Dika tidak menjawab pertanyaan wanitanya lagi. Dia tau penjelasannya tidak akan berarti apa-apa karena pikiran liar wanita itu yang selalu berkelana terlalu jauh.
" I want divorce(aku ingin cerai), berbahagialah bersama wanita mu. Aku tidak akan menggangu kalian," ucap Ros final.
Dika langsung tersentak kaget. Tidak, ini lah yang di takuti oleh Rhadika. Ditinggalkan orang yang di sayanginya. Tidak, dia tidak akan membiarkan istrinya jauh dari dirinya.
"Ingat Rosaline, selamanya kau adalah milik ku. Apa kau tidak mengingat surat perjanjian itu?" Dan ingat, hidup mati keluarga mu berada di tangan ku," seru Rhadika. Dia tidak ada cara lain untuk menahan wanita itu dan memutuskan untuk mengandalkan surat itu.
Ros berbalik dan kembali menghampiri suaminya. "Baj*ingan kau Rhadika! Kau memang pria iblis," ucap Rosaline. Dia emosi dan memukul dada suaminya sekuat yang dia bisa.
Dika tetap berdiri tegak di tempatnya. "Lakukan jika itu bisa membuat mu tenang!" seru Dika. Ros terus memukuli suaminya sekuat tenaga. Tiba-tiba Rosaline tumbang dan terjatuh ke lantai.
Jangan lupa likenya πππ
Horasπ