
Maura yang familiar dengan suara itu, berhenti mengeluarkan suara-suara menjijikkan miliknya. Pria yang sedang berpacu dari arah belakang nya berhenti setelah mencapai pelepasannya.
Dia ambruk sebentar dan segera bangun berdiri menyalakan lampu. Levi berbalik posisi agar tidak melihat tubuh menjijikkan Maura.
"Thanks bi*tch. Cepat pakai pakaian mu dan kau akan dibawa ke sarang mu," seru pria itu sambil memakai pakaian nya.
"Siapa kau? Kenapa kau ada disini?" tanya Maura. Tubuh telanjang nya langsung diraihnya di tutupi oleh selimut.
"Aku tidak punya banyak waktu Bram, cepatlah. Aku harus melihat kakak iparku," seru Levi.
Dengan kasar pria yang dipanggil Bram itu melemparkan pakaian Maura. "Cepatlah wanita s*ialan. Aku tidak ingin mendapat bogeman dari tuan ku karena otakmu yang lelet," seru pria itu.
Maura yang masih bingung dengan keadaan saat ini hanya memendam nya dalam hati. "Berikan aku waktu, aku akan berganti pakaian di kamar mandi."
"Tidak perlu. Kau membuang waktu ku terlalu banyak. Bukankah kau juga sudah sering menjual dirimu untuk dinikmati orang lain. Aku pikir kamu tidak akan punya urat malu lagi," seru Levi menginjak harga diri Maura.
Maura yang mendengar itu bungkam. Dia menggunakan pakaian nya didepan pengawal yang ada disana.
"Breng*sek kau Levi s*ialan," batin Maura sambil mengenakan pakaiannya.
"Bram, sebentar lagi waktu pemberangkatan mu, sebaiknya kamu bersiap. Aku rasa kau sudah cukup dengan melampiaskan hasr*tamu selama 3 tahun ini" seru Levi.
"Baik Tuan." Pria itu ingin bergegas pergi namun dia menoleh ke arah Maura.
"Saya sudah menikah dan memiliki anak, saya harap anda tidak mengandung benih saya di rahim tak bernilai anda," ucapnya pergi setelah menunduk ke arah Levi.
Levi tertawa mendengar ucapan anak buahnya. "Habis manis sepah di buang," ucap Levi melihat ke arah Maura.
"Kau keren Bram," batin Levi.
Yah, pria itulah yang menawarkan diri untuk mengganti posisi sang tuan. Memang benar Rhadika menerima notifikasi dari seseorang disertai foto istrinya sedang diikat dengan tidak etis dengan keadaan tubuh yang basah.
Dia memang marah dan tidak terima, namun melihat tingkah Maura, akhirnya Dika mengikuti permainan nya. Namun satu yang janggal dari kejadian penculikan ini. Darimana Maura mendapatkan anak buah sebanyak itu dan bersenjata juga.
Dika mendatangi kamar hotel itu dan meminum dengan sengaja wine yang tersedia didepannya. Namun tanpa sepengetahuan Maura, pelayan yang diperintahkan nya mengganti minuman itu.
Tentu pelayan hotel itu sangat berterimakasih pada Rhadika karena mendapat kan tips yang lebih besar dari Maura.
Setalah lampu kamar diredupkan Dika berganti posisi dengan Bram. Dika langsung keluar disusul Levi yang masuk untuk mengawasi Maura agar tidak kabur setelah sadar nanti.
Dia sudah mendapatkan lokasi wanitanya dengan alat pelacak yang berada di cincin yang diberikannya setelah menghabiskan malam pertama mereka. Sedangkan Bram sangat bahagia mendapatkan pelayanan servis yang gratis.
Bram adalah seorang anggota Black Sky yang sudah berkeluarga dan memiliki seorang anak. Selama tiga tahun berada di Spanyol dia tidak pernah pulang ke pelukan sang keluarga dan tidak pernah mengkhianati sang istri.
Terjadwal hari ini adalah waktunya dia pulang, dia berpikir bukankah rugi jika dia menikmati tubuh seorang wanita yang gratis. Terlebih lagi dia akan pulang hari ini juga dan tidak perlu bertanggung jawab. Akhirnya dia menuntaskan hasratnya kepada wanita musuh tuannya.
"Seret dia ke hadapan ku," perintah Levi dengan wajah datarnya. Dengan kasar Maura dilemparkan ke kaki Levi.
Levi tertawa melihat keadaan Maura saat ini. Tangan Levi terulur kasar menjambak rambut Maura.
"Dulu kau memang kekasih kakak ku. Jadi aku terbatas untuk menyiksamu. But, in this time, kau hanyalah sampah yang tidak diinginkan siapapun," seru Levi menjambak lebih kuat rambut Maura.
Wajah Levi sudah terlihat seperti iblis yang siap membunuh mangsanya.
"Aku ingin sekali melenyapkan nyawa mu. Tapi aku rasa setelah kakak ipar ku yang kau culik dan ingin dilecehkan oleh anak buah mu, dia pasti punya ide untuk membuat mu jera," ucap Levi menghempaskan rambut Maura dengan keras.
Levi melihat wajah Maura sudah kesakitan sejak tadi. "Kau salah memilih kakak ipar ku sebagai rivalmu," seru Levi.
"Bahkan dia selalu membalas ku. Apalagi hanya seenggok sampah seperti mu." Levi tersenyum mengingat setiap kejahilan dirinya pada Ros dan akan selalu dibayar setimpal.
"Bawa dia ke markas! Cari tau siapa yang membantunya," seru Levi setelah keluar dari hotel itu dan memasuki mobil. Saat ini tujuannya adalah kakak iparnya di mansion. Tidak ada yang memberi kabar padanya, baik itu Max maupun Kakaknya.
**
Di sebuah hotel di negara Spanyol seorang pria sedang berpacu diatas tubuh seorang wanita. Hening sepi malam ruangan itu di isi bunyi dengan decitan percintaan dua orang berbeda gender itu.
Bahkan sang wanita tanpa rasa malu mengeluarkan suara karena hujaman sang pria.
Bukan pemaksaan, namun wanita itu dengan di bayar mahal untuk melayani sang pria. Hidup mewah dan glamor nya lebih penting dari harga dirinya.
"Tomas, ah...ah... you are so wonderful," ucap wanita itu di sela-sela desahannya. Dia selalu merasakan kepuasan jika berhubungan dengan pria itu. Gaya berc*intanya yang dipenuhi dan dibaluti dengan sedikit kekerasan adalah tipe Kaylen Malorie.
Pria yang dipanggil oleh Thomas tidak menghentikan ayunan pinggulnya yang membuat seorang wanita tidak berhenti meracau.
"Sshhhh, ohw... kau sangat nikmat Kaylen," ucap pria itu disertai erangan kenikmatannya. Pria itu ambruk disamping sang wanita karena sudah merasakan nikmatnya puncak aktivitas mereka meskipun tidak menjalin hubungan apapun.
Setelah 30 menit percintaan itu, pria itu mulai bangun dan menggunakan pakaian nya. Wanita yang masih di ranjang masih terkapar karena .asih kelelahan karena dihujam tanpa henti oleh sang pria.
"Bagaimana dengan adikmu? Sudah ada kabar?" tanya pria itu sambil menyalakan rokoknya dan menghembuskan asap rokok itu ke sembarang arah.
Kaylen yang mendengar itu mulai duduk dan menutupi bagian tubuhnya dengan selimut.
"Maaf Tom, aku belum mendapatkan informasi apapun. Aku akan berusaha," jawab Kaylen.
Mendengar itu wajah Tomas menjadi tak bersahabat. Dia bangkit dan mencengkeram dagu Kay dengan keras.
"Aku memanggil mu kesini bukan hanya untuk memberikan uang atas pelayanan mu. Banyak wanita yang mampu menuntaskan hasr*at ku tanpa harus kubayar mahal seperti mu. Jadi tau dirilah," ucap Tomas menghempaskan kasar wajah Kaylen.
"Cari informasi itu secepat mungkin. Atau perjanjian kita akan dengan mudah mengantarkan nyawamu," seru pria itu meninggalkan kamar pergumulan mereka tadi. Pergumulan itu seakan hanya angin lalu saja bagi pria itu.