
Levi mendekat ke arah pria yang dengan beraninya membuat penangkapan berencana kakak iparnya, bahkan hampir digilir oleh pria bajingan anggota pria tua ini.
"Bahrat Buenas, mafia lokal asal Spanyol. Kekuasaan klan serta wilayah yang sepenuhnya pindah ke klanku akibat kebodohan dirinya. Ayah dari seorang wanita murahan bernama Selena. Putri yang memiliki anak di usia muda karena keliarannya." Levi berucap panjang lebar dengan merendahkan Bahrat.
"Putri dan ayah sama-sama bodoh. Memang benar apa yang dikatakan pepatah, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Like father like daughter. Ah, aku lupa biasanya pepatah mengatakan like father like Son, sayangnya kau tidak memiliki seorang putra" seru Levi.
Tidak ada rasa sopan terhadap pria paruh baya itu meskipun memiliki beda umur yang sangat jauh.
Bahrat meninju kuat perut pria yang menodongkan senjata padanya. Dengan cepat dia ingin mengambil pistol dari balik punggung nya.
Bug
Dengan sigap anggota Levi melompat dan menendang perut Bahrat. Pria tua yang sudah mulai melemah tulangnya langsung terpental ke arah meja disamping nya. Meja itu hancur akibat kuatnya tubuh Bahrat terpental ke atas meja.
Anak buah Levi mengangkat tubuh Bahrat dan menjongkok kan tepat di bawah kaki Levi.
"Dasar iblis. Aku sudah memberikan sebagian wilayah klan ku padamu, tapi kau menghancurkan nya dan mengambil seluruh aset klan milikku," seru Bahrat dengan wajah kesakitannya.
Memang benar, waktu Selena di siksa oleh Levi, dia menerima tawaran Bahrat untuk tidak membunuh Selena. Tapi bukan Levi namanya jika hanya mendapatkan sedikit keuntungan dar bisnisnya.
"Kenapa aku selalu mendapat gelar yang sangat keren seperti itu. Hmm, hampir imbang dengan Kakak ku," seru Levi manggut-manggut.
"Tapi aku menyukai gelar yang kau berikan. Ah, kenapa persis seperti putri mu waktu itu memberikan gelar iblis pada Kakak ku. Ah, dan ku dengar kau sedang mencari putri mu. Apa kau sudah menemukannya?" tanya Levi santai.
"Memang kau adalah iblis yang menjelma menjadi manusia. Bahkan kau menyembunyikan putri satu-satu ku," seru Bahrat dengan marah.
"Ternyata kau belum menemukan putri kesayangan mu itu. Yah memang dia sangat sulit ditemukan. Bahkan aku juga tidak tau dimana dia ditempatkan oleh Max. Atau mungkin dia sudah mati? Mungkin saja, karena Max bukan tipe orang yang akan berlaku baik untuk orang yang mengusik orangnya," seru Levi terlihat sedang berpikir.
"Sedikit saja kau melukai putri ku, aku akan membunuhmu," teriak Bahrat.
"Pria tua, kau jangan berteriak, nanti suaramu habis. Kau harus ingat umur tua mu yang sudah bau tanah," ucap Levi.
"Come on, jangan terlalu jauh memikirkan nyawa putri mu. Pikirkan dulu tentang nyawa mu. Bukankah kau memiliki seorang cucu?" tanya Levi.
Bahrat tiba-tiba menciut nyalinya mengingat bahwa masih ada yang harus diperjuangkan olehnya. Cucu yang masih kecil dan sangat butuh perlindungan dan kasih sayang.
Tiba-tiba Bahrat menunduk kan kepalanya dan mengatupkan kedua tangan didepan dadanya.
"Tuan, saya mohon jangan bunuh saya. Saya masih memiliki cucu saya. Dia masih kecil dan masih butuh kasih sayang," ucap Bahrat.
Levi tertawa melihat aksi tiba-tiba tawanannya. "Ohw, sifat mu memang sangat mudah berubah-ubah Tuan Bahrat. Pendirian mu sangat tidak stabil," seru Levi.
"Baiklah nego kita sesuai dengan informasi yang kudapat kan. Darimana kau mengenal wanita itu?"
"Dia datang pada saya Tuan. Seseorang mengenalkan dia pada saya karena tujuan saya sama dengan dia untuk menghancurkan keluarga anda. Termasuk Kakak anda."
Levi mengernyitkan alisnya. "Keluar!" perintah Levi menatap semua orang kecuali pengawal klan Black Sky.
Setelah melihat semua orang sudah keluar, Levi meneliti ruangan dan melihat beberapa CCTV. Levi menembak satu persatu CCTV itu.
"Cari yang lain," perintah Levi. Dia ingin memastikan bahwa tidak ada perekam suara atau pun CCTV yang bisa merekam aktivitas nya disini.
"Dari mana kau tau bahwa aku memiliki seorang kakak?"
"Bahkan aku tau bahwa bukan anda ketua dari klan Black Sky," jelas pria tua itu. Dia berharap dengan berkata jujur, dia bisa mendapatkan kebebasan.
"Nama Kakak adalah Rhadika Browns. Pemilik perusahaan terbesar di Spanyol bernama AX Company. Memiliki seorang istri bernama Rosaline Malorie." Levi semakin mengernyitkan alisnya. Baru kali ini ada seorang tawanan yang memiliki info lengkap tentang status keluarga nya.
"Saya mengetahui sebagian informasi itu dari wanita yang menyuruh anak buah saya untuk menggilir wanita tuan Rhadika. Kalau tidak salah namanya adalah Ma...."
"Maura," seru Levi memperjelas nama yang ingin dikatakan oleh Bahrat. "Ya benar Tuan, dia adalah wanita yang mengajak saya bekerja sama, tapi kami terhubung karena dikenalkan oleh seorang pria bertopeng."
"Pria bertopeng? Siapa dia?"
"Kemaren saya mendengar bahwa dia adalah ke.."
DOR
Satu tembakan meleset tepat ke arah jantung Bahrat. Dia tumbang sebelum memberikan informasi. Tepat saat itu seorang anak kecil masuk dan melihat grandpa nya sudah berlumuran darah.
"S*ial, kejar penembak jitu itu!" perintah Levi pada pengawalnya.
Anak kecil disana menangis sejadi-jadinya. Orang yang selalu menjaganya mati didepan matanya sendiri. Seorang anak kecil dengan mental yang masih lemah melihat orang yang disayanginya meninggal tepat didepan matanya.
"Paman, aku mohon selamat kan grandpa ku. Dia adalah orang baik. Aku mohon Paman" ucapnya menatap Levi dan memeluk erat grandpa nya yang sudah berlumuran darah.
Levi mendekat dan memeriksa nafas Bahrat. "Grandpa mu sudah mati anak kecil, dan tidak bisa lagi di selamat kan."
"Dan kau adalah pembunuh nya. Kau juga sudah membunuh mommy ku" teriak anak kecil itu berlari dan meninggalkan grandpanya bersama pria yang di lihatnya sebagai pembunuh orang yang disayanginya.
Levi juga tidak ada niatan untuk membunuh pria tua ini. Meskipun Rhadika nantinya ingin melenyapkan nyawa Bahrat, jika Levi mengingat kan bahwa masih ada anak kecil cucu pria tua ini, Dika pasti memakluminya. Kesalahan yang dibuat oleh Bahrat juga tidak terlalu besar, ternyata karena ada pengaruh dari pria bertopeng itu Bahrat menjadi ambisius.
"Kuburkan dia dengan layak!" perintah Levi berlalu meninggalkan rumah komplotan preman jalanan itu.
Sesampainya di bawah, para pengawal yang mengejar penembak jitu itu sudah kembali.
"Bagaimana? Siapa pria itu?" tanya Levi.
"Kami tidak mendapatkan informasi apapun Tuan. Orang itu di jemput oleh sebuah helikopter," jawab salah satu pengawal.
"Apa clear tidak informasi yang kalian dapatkan?"
"Di helikopter yang kami lihat Tuan, saya melihat lambang klan Ghost Lion Tuan," jawab pengawal itu.
"Ghost Lion pengecut itu," umpat Levi. Tanpa diduga ada sebuah cahaya merah tegak lurus ke arah Levi. Seperti laser, tapi terlihat sangat pekat.
Dor
Levi bergerak dengan cepat menghindari peluru itu. Para pengawal beserta preman jalanan yang berada disana menjadi waspada.
Levi mengamati sekitar dan benar saja ada pria bertopeng yang memasuki gang itu. Pria bertopeng memiliki banyak pengikut, sepertinya ada dua puluh orang pengawal yang berada di belakangnya.
Prok Prok Prok
Pria itu bertepuk tangan. "Ternyata benar apa yang dikatakan orang-orang. Insting seorang Levi Browns sangat tinggi. Wait, Browns? Apa kau keturunan dari seorang Browns? Hahahaha, sepertinya tidak." Pria itu tertawa di balik topengnya.
Levi tetap tenang. Dia tau pria bertopeng ini ingin memancing emosinya agar bertindak gegabah.
"Jadi kau pengecut yang lemah dan tidak berani menampakkan diri itu. Pantas saja, dari sikapmu saja sudah terlihat. Datang membawa pengawal yang banyak. Jiwa pengecut mu langsung terlihat," seru Levi manggut-manggut.
"S*ialan," umpat pria itu maju dan langsung menyerang Levi. "Cih, terpancing," batin Levi maju dan meladeni pria bertopeng itu.
Para pengawal pria bertopeng dan pengawal Levi diam di tempat. Mereka tau posisi sekarang ini adalah waktu untuk dua orang pria berkuasa itu, sedangkan mereka tidak perlu ikut ambil bagian saat ini.
Kedua pria itu beradu kemampuan. Nampak kedua pria itu hampir imbang. Levi mulai menelisik lawan. Dia begitu penasaran dengan wajah di balik topeng itu.
Ketika si pria bertopeng ingin meninju perut Levi, dengan cepat pria muda itu menangkap tangan lawan dan mengangkat badan si pria bertopeng dan dihempaskankan kuat dengan keadaan terbaring.
Dengan cepat tangan Levi ingin membuka topeng tersebut, namun Levi kurang fokus dan wajahnya terkena bogeman.
Tidak berdarah namun itu meninggalkan bekas kemerahan. Pria bertopeng itu tersenyum melihat wajah lebam lawannya.
Tentu saja Levi tak terima dan semakin brutal melawan pria bertopeng. Dengan gerakan cepat Levi menendang tulang kering pria itu dan mencekik leher pria bertopeng dengan kuat.
Karena hampir ke habisan napas pria bertopeng mulai curang dan mengeluarkan pisau dari pinggangnya. Dengan napas yang mulai tercetak, tangan pria itu bergerak mengarahkan belati yang diambilnya ke tangan Levi yang sedang mencekiknya.
Levi yang membaca gerakan lawan langsung melepaskan cekikan nya. "Cih, dasar pengecut. Lemah," seru Levi berjalan santai kepada anak buahnya sambil menerima belati kecil.
Kedua pria itu kembali beradu belati kecil. Kali ini resiko dari permainan ini bukan main-main. Bisa membuat nyawa melayang atau setidaknya darah akan berembes.
Kedua belati kecil itu dengan lihai dimainkan oleh dua orang pria itu. Ketika belati kecil lawan ingin ditancapkan ke arah leher Levi.
Dengan sigap pria muda itu menunduk dan mengarahkan belatinya ke arah perut lawan namun tangannya di tahan dan dihempaskan. Namun kaki Levi tidak tinggal diam dan menendang wajah si pria.
Topeng itu sudah mulai retak. Levi tersenyum, "Hampir imbang," batinnya mengingat wajah luka lebam di wajahnya. Levi kembali berlari ke hadapan si pria begitu juga dengan lawan.
"Kesempatan bagus," batin Levi berlari dan berguling secara tiba-tiba.
Srek
Paha pria itu terkena sayatan kuat Levi. Dipastikan karena tajam dan dorongan Levi memegang belati itu, luka yang ada di paha pria itu pasti dalam.
"Ouh, apakah aku barusan melakukan kesalahan," seru Levi merasa bersalah.
Tring
"Apakah aku juga mengambil belati mu? Aku tidak sengaja," seru Levi lagi tersenyum iblis. Pria tadi menatap Levi nyalang.
Pria itu berbalik dan mengambil pistol dari tangan pengawalnya. Bukan Levi namanya jika hanya bekerja denga otot. Dia langsung bersembunyi di balik tembok.
Perang dengan senjata api itu dimulai. Suara tembakan mulai menggema di gang itu. Levi tersenyum ketika melihat beberapa mobil menepi di sekitar gang tempat mereka beradu otot tadi.
"S*ial, kita dijebak," ucap pria bertopeng. Beberapa mobil mulai berdatangan dan itu adalah mobil anggota Blac Sky.
"Memang benar, otot tidak ada bandingannya dengan otak jika digunakan dengan baik."