
Ros berjalalan mengendap-endap sesuai dengan pergerakan Rora yang didepannya. Ros sempat merasa heran karena gadis itu bisa menghindari kamera CCTV yang berada di setiap sudut mansion.
Bahkan Aurora bisa mengetahui jalan pintas yang juga di laluinya saat itu. Dia bahkan dengan mudah melompat dari tembok tinggi itu. Anak itu juga melewati tembok itu tanpa bantuan apapun dan memanjat seperti orang terlatih.
"Aurora, siapa sebenarnya diri mu," batin Ros. Dia terus mengikuti jejak anak tirinya, namun dia tidak bisa seperti anak kecil itu yang bisa melompat tanpa bantuan tali.
Ros sadar ada nyawa yang harus di jaganya juga saat ini. Dia tidak boleh melakukan hal-hal esktrim. Dia mencari tali yang panjang di sekitar area itu.
Dengan pelan dan sabar Ros berusaha menaiki tali itu dengan perlahan. Setelah berhasil menuruni tembok itu, Ros melihat sebuah mobil sudah menanti anak itu.
Dengan cepat Ros menyebrang dan menghentikan taxi yang sedang melaju.
"Ikuti mobil didepan sana!" pinta Ros pada si supir.
Mobil yang di tumpangi oleh Aurora berhenti di salah satu cafe mewah. Ros juga segera turun agak jauh dari tempat Aurora.
Rora tampak memasuki cafe itu diikuti oleh Ros dibelakangnya. Namun dalam sekejap Rora menghilang dan hilang dari pandangan Ros.
"Dimana dia?" batin Ros sambil memasuki Cafe itu. Dia menelusuri sekeliling cafe dengan melihat ke segala arah.
Tidak sengaja saat berada di tengah meja cafe, Ros ditabrak oleh salah satu pelayan. Wanita itu menjadi pusat perhatian di sana. "Maaf Nona, maaf saya tidak sengaja," seru pelayan itu.
Ros yang lembut hatinya tidak marah sama sekali. Dia langsung menunduk dan membantu wanita itu membersihkan kekacauan yang di sebabkan oleh dirinya juga.
Para pelanggan cafe hanya menatap sebentar ke arah mereka karena kejadian itu hanya sekilas dan tidak menimbulkan keributan.
"Klan Rhadika adalah klan paling kuat di Spanyol. Aku tidak bisa begitu saja menembus pertahanan mereka," seru seorang pria di samping Ros yang sedang duduk berbicara dengan orang lain.
"Aku tidak peduli, kau harus bisa melawan Rhadika. Dengan itu, nanti aku akan bisa menjadi salah satu orang yang dekat bahkan berhasa untuk n Rhadika," seru wanita di depan pria tadi.
"Wanita itu? Bukankah dia Lili, ibu dari Aurora?" batin Ros. Dia sama sekali tidak menoleh ke arah pria dan wanita itu karena takut ketahuan identitasnya.
Meskipun dia selalu menggunakan pakaian tertutup, namun dia juga takut ada peluang untuk identitas dirinya di ketahui orang lain.
"Baik, kita akan menjalankan misi ini sesuai dengan rencana. Lusa, tapi aku tidak yakin pertahanan kami akan bertahan selama itu, bisa saja besok atau bahkan sekarang. Levi bukanlah pria yang tidak bisa di andalkan. Dia adalah pria jenius dengan ilmu IT kami hampir sama," seru pria itu.
"Baik, jika Rhadika sudah mengetahui titik lokasi kalian segera hubungi aku," seru wanita itu.
"Terimakasih Nona." Ros langsung sadar dan beralih perhatiannya ke pada pelayan yang menabraknya tadi. Ros berdiri dan beranjak dari sana agar tidak menimbulkan rasa curiga pria dan wanita yang sedang duduk berhadapan itu.
Setelah keluar dari Cafe itu, segudang dugaan ada di pikiran Rosaline. Ingatannya kembali pada anak tirinya. "Kemana Aurora," batin Ros.
"Cih, siapa kalian," tanya seorang gadis yang yang sudah dibasahi keringat karena sejak tadi dia beradu otot dengan para pria berjas hitam.
"Kau tidak perlu tau," seru seorang pria berjas hitam di sana.
"Tunjukkan vidionya!" seru seorang pria satu lagi. Seorang pria maju dan menunjukkan sebuah Vidio.
"Jika kau tidak menurut, peluru akan segera menembus kepala wanita di Vidio itu!" seru pria itu.
Rora menajamkan matanya mendengar ancaman pria di depannya. Gadis itu melihat isi Vidio itu dimana wanita yang baru-baru ini sudah menjadi sosok ibu bagi dirinya sedang di incar oleh seorang penembak jitu. Rora bisa melihat sinar laser dari senjata Laras panjang itu sudah mengarah ke bagian kepala belakang sang mommy.
"Bren*gsek, jangan lukai mommy ku, akan ikut bersama kalian," seru Rora langsung mengangkat tangannya kebelakang kepalanya. Dia tidak boleh mengambil konsekuensi yang akan membahayakan mommy kesayangannya.
Seorang pria dan wanita tampak mendekat ke arah Aurora dan mengambil ponsel miliknya. "Ternyata kau, kau dalang di balik semua ini?" tanya Aurora menatap tajam wanita dewasa di depannya yang dengan berani menyentuh miliknya.
"Yah benar, anak kecil seperti mu bisa saja nanti menganggu rencana ku. Sebelumnya aku mengira kau akan melawan secara brutal, tapi ternyata begitu mudah. Apa kau sudah menyayangi ibu tiri mu yang akan sebentar lagi meregang nyawa?" seru wanita itu tersenyum licik.
"Apa maksud mu?" tanya Aurora.
"Bawa dia, jangan sampai lolos!"
"Seharusnya mulut kecil mu ini harus sopan ke pada orang yang melahirkan mu," ucap wanita yang ternyata adalah Lili ibu kandung Aurora. Dia mengabaikan pertanyaan Aurora sebelumnya.
"Cih, aku tidak sudi memiliki ibu seperti mu," teriak Aurora ketika sudah di bawa menjauh dari sana.
Ros yang sudah lama mencari keberadaan putri tirinya hingga sekarang belum menemukan jejak anak itu. Sebuah notifikasi masuk ke dalam ponsel Rosaline.
"Mom, aku keluar sebentar. Aku ingin bertemu dengan mommy Lili, aku takut minta izin langsung pada Daddy dan mommy. Ku mohon, berikan aku waktu bersama mommy Lili," itulah isi pesan yang di terima oleh Ros.
Wanita sebentar menaruh curiga, namun logikanya berjalan sesuai keadaan. Dia juga tidak mungkin melarang anak itu bertemu ibunya.
Ros menghela napas lega karena sudah mengetahui dimana keberadaan Aurora. Dia memesan sebentar makanan sesuai seleranya. Setelah itu, Ros pulang dengan kondisi mengendap-endap memasuki mansion.
Sambil memakan makanan itu, Ros berpikir keras tentang perkataan dua orang di cafe tadi. Dia masih bingung tentang pertahanan dan keberadaan yang di bicarakan.
"Apa sekarang kondisi markas dan perusahaan sedang bermasalah? Apa Rhadika benar-benar akan berperang dengan pria tadi?" Ros bertanya pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba dada Ros bergetar sebentar. Wanita itu memegang dadanya sebentar. "Kenapa aku merasa akan ada sesuatu yang terjadi," batin wanita itu.
**
"Got it, aku menemukan titik lokasinya Kak," seru Levi sambil melakukan peregangan jari.
"Dimana?" tanya Rhadika yang sedang duduk santai.
"Di rumah tua di salah satu lahan kosong yang berada di sebelah barat kota Livia," seru Levi.
"Max, berikan konfirmasi pada anggota klan. Aku tidak ingin membuang waktu lagi, besok kita kan menyerang Thomas. Besok semuanya harus tuntas," ucap Rhadika berdiri.
"Aku akan pulang sebentar melihat istri ku. Felice, apa kau tidak pulang ke mansion?" tanya Rhadika.
"Tidak, besok juga aku akan ikut. Tentang kakak ipar aku akan meminta pelayan Clasy menemaninya."
Melihat wajah Sang kakak seperti ingin memberikan penolakan Felice langsung angkat bicara.
"Aku tidak menerima penolakan kak, aku sudah besar dan bisa menjaga diriku sendiri," jawab Felice. Mau tidak mau Rhadika hanya bisa menyetujui keputusan adiknya.
Dia langsung bergegas ke basemen dan menaiki mobilnya. Dia menyetir mobilnya sendiri dengan laju kencang. Entah mengapa sebelum misi besok dia ingin melihat istrinya sebentar saja.
Jangan lupa likenya 😊😊👍
Horas ✋