
Levi mempertajam penglihatannya. Dia penasaran kenapa kakak iparnya seperti orang yang dikejar oleh orang gila saja.
Setelah mengamati beberapa saat ternyata Ros dikejar oleh singa besar si raja hutan. Nampak hewan buas yang sudah jinak pada pemiliknya itu memasang wajah garang. Ros lari terbirit-birit untuk menghindari Mocci.
Tidak ada wibawa seorang Nyonya Browns lagi.
Levi tertawa terbahak-bahak di tempatnya. Begitu juga dengan Max dan Dika. Para pengawal disana yang biasanya memasang wajah datar tanpa ekspresi tidak dapat menahan wajah datar mereka. Mereka juga tertawa melihat tingkah konyol nyonya muda mereka
Pertolongan pertama yang dilakukan oleh seluruh penghuni markas yang melihat Ros dikejar oleh Mocci adalah tertawa terbahak-bahak.
Mocci juga sedang mengejar Ros. Seekor hewan yang pertama kali melihat aroma baru dan wajah asing, pasti akan mengejarnya ataupun menyerang. Itu adalah sikap si raja hutan itu sebagia bentuk pertahanan diri.
Tadinya saat ingin berkeliling, Ros melihat sebuah pohon yang sangat menarik. Ros tergiur untuk melihat pohon yang tumbuh disana. Ternyata itu adalah pohon jeruk Maroko. Dia berlari kecil menuju pohon berbuah segar itu.
Dia tidak sadar bahwa disebelahnya ada seorang anak buah klan ini yang sedang memegang tali. Namun Ros tidak melihat apa yang sedang dilakukan pengawal itu.
Ros melompat-lompat ingin mengambil buah jeruk Maroko. Tentunya si raja hutan yang bernama Mocci yang memiliki pendengaran tajam langsung mendeteksi asal gerakan itu.
Mocci langsung meronta dari tali yang dipegang oleh pengawal. Awalnya Ros tidak terlalu peduli, namun dia mendengar box besar yang berada disampingnya seperti terkena gempa dengan guncangan yang begitu besar.
"Nyonya lari! Mocci mencium aroma tubuh Nyonya. Mocci sangat sensitif dengan aroma yang baru!" Pengawal yang berusaha menahan Mocci menyempatkan diri untuk memberikan peringatan pada Nyonya mudanya.
Mocci sudah hampir ingin keluar dari kandangnya. Karena tubuh yang besar seimbang dengan kekuatanya. Taringnya sudah keluar bahkan raut wajah Mocci sudah menyeramkan.
Ros langsung melihat ke arah sepatunya yang memakai heels pendek. Dengan tergesa-gesa bercampur takut Ros berusaha dengan cepat membuka sepatunya.
"Ya ampun, kenapa di situasi seperti ini, sepatu s*ialan ini sangat susah di buka," seru Ros. Sepatu itu seperti di persulit kuat oleh sesuatu yang entah apa.
"Cepat Nyonya, Mocci hampir terlepas," seru pengawal itu bertahan memegang ikatan Mocci. Bahkan dia hampir terseret. Untungnya pengawal itu bisa melilitkan tali Mocci pada pohon hingga bisa menahan hewan besar itu walaupun hanya sebentar sebentar.
Ros berhasil membuka heelsnya dan mulai berlari sekencang mungkin. Entah mengapa Ros merasa seperti diambang kematian, tapi jika diingat-ingat ia sudah pernah mengalami hal lebih berbahaya dari ini. Namun kali ini hal ini, ini adalah ulah konyol nya sendiri yang tidak mendengar nasehat orang-orang yang berusaha menjaganya.
Satu tujuannya saat itu adalah berlari ke ruang transparan yang dikatakan oleh suaminya. Tepat saat 100 meter Ros berlari tali yang mengikat Mocci terputus.
Dengan sekuat tenaga Ros berlari sambil menenteng sepatu mahalnya itu. Masih sempat dia berpikir betapa mahalnya sepatu itu jika digigit oleh Mocci. Dia masih sempat menyayangkan barang mahalnya dibandingkan nyawanya.
Setelah melihat ruang transparan besar yang dikatakan oleh suaminya tadi, Ros langsung berteriak memanggil suaminya. Didengar tapi tidak ditolong. Dilihat tapi tidak bereaksi.
Ros sempat marah melihat ketiga pria yang masih sempat-sempatnya memandang dirinya yang diambang kematian dari sana. Tapi ini bukan waktunya, terutama adik iparnya si bocah besar itu sudah tertawa terbahak-bahak memegangi perutnya.
"Levi s*ialan, kau bahagia diatas penderitaan ku," batin Ros sambil berlari. Ros menatap ke arah belakang dan benar saja Mocci sudah hampir dekat dengannya.
Ros berlari dan langsung melompat ke pelukan suaminya. Ros menutup mata tidak ingin melihat dirinya diterkam oleh Mocci.
Dika yang melihat hewan peliharaannya itu tidak ingin berhenti langsung membentangkan tangan β dan otomatis Mocci langsung berhenti dan duduk seperti anjing patuh.
Kemudian Mocci berdiri dan mengelus kan kepalanya ke kaki Ros. Seperti manusia saja berlaku lembut sebagai tanda permintaan maaf. Mocci langsung peka bahwa manusia yang sedang dipeluk oleh tuannya adalah bagian penting dari tuannya.
Ros yang tadinya membenamkan diri dipelukan sang suami sejak tadi langsung melihat ke arah kakinya. Sedangkan Levi masih tertawa terbahak-bahak karena kejadian yang sangat lucu menurutnya.
"Hahahaha, Kakak ipar kau sangat lucu," seru Levi sambil memegang perutnya yang sudah sakit karena saking puasnya tertawa. Bahkan dia sampai jongkok untuk menahan tawanya yang belum bisa berhenti.
Ros sangat kesal. Jika hanya didepan ketiga pria ini, Ros sudah sering malu dan bersifat memalukan. Tapi ini didepan para pengawal markas ini rasanya seperti tidak ada harga dirinya terutama mereka terlihat sangat banyak.
"Baby, aku sudah mengingatkan mu tadi, tapi kau abai dan tidak ingin mendengar penjelasan kami," seru Dika mengelus rambut istrinya. Ros turun dari pelukan sang suami dan menendang punggung Levi yang sedang jongkok itu.
"Menyebalkan," ucap Ros sambil mengusap kepala Mocci. "Ini semua gara-gara kamu," ucap Ros memukul pelan kepala Mocci. Hewan itu tidak marah melainkan mengelus-elus kan kepalanya ke kaki tuan barunya.
"Aku wanita kuat, hahahaha," Levi mengulangi perkataan kakak iparnya tadi sambil tertawa.
"Diam kau bocah besar," seru Ros dengan kesal. Dia sudah malu dan ditambah malu lagi oleh adik ipar lain lakn*atnya itu. Bukannya menolong malah mengolok-oloknya.
"Apakah ada luka Baby," tanya Dika dengan lembut.
"Tidak, tidak sama sekali. Tadi aku hanya ingin mengambil jeruk Maroko yang ada disana, tapi Mocci langsung marah dan ingin menerkamku. Aku sangat lelah, tapi aku harus tetap mengambil jeruk itu, sebagai bentuk balas dendamku ," seru Ros. Dia malah menyalahkan tumbuhan itu sebagai bentuk pelampiasan.
"Tidak usah, aku naik Mocci saja, agar tidak lelah. Lanjutkan saja urusan kalian," seru Ros naik ke punggung Mocci.
"Be care full Kakak ipar," seru Levi belum berhenti tertawa. Ros kesal dan menaiki hewan yang hampir menerkamnya. Si raja hutan itu menurut saja dan berjalan menjauhi ketiga pria berkuasa itu.
Ros kembali menuju Pohon jeruk Maroko tadi. Dia tidak melompat-lompat lagi seperti pertama kalinya dia menginginkan buah segar satu ini.
Ros berdiri diatas punggung Mocci dan mengambil buah yang masih segar dan muda. Wanita kecil itu sama sekali tidak ingin meminta bantuan kepada pengawal markas yang berada disana. Dia hanya ingin memakan buah ini dengan menggunakan hasil keringatnya sendir.
**
Ketiga pria yang berada di ruang transparan itu kembali melanjutkan rapat mereka. Kedap suara dan kaca buram otomatis dibuat oleh Max. Odion juga sudah bergerak dari mansion menuju markas karena di panggil oleh asisten bos mafia itu.
"Bagaimana, rencana apa yang akan kita lakukan," Odion buka suara.
"Aku sudah punya rencana, tapi melibatkan Nyonya muda," seru Max.
Sontak tatapan Kakak beradik yang ada disana langsung menajam ke arah Max.
"Apa kau gila Max. Hanya demi misi ini kau ingin mengorbankan nyawa Kakak ipar?" Levi tentu saja tidak terima.
"Aku tidak setuju Max. Ini terlalu berbahaya," tambah Odion.
"Jelaskan!" Dika mengambil titik tengah. Dia harus bersikap bijak disini. Bukan posisinya untuk menolak saran dari anggotanya. Jika bisa dipertimbangkan, maka dia akan memutuskan jalan yang terbaik.
"Kapan acara MMA mu Lev?" tanya Max menatap Levi. "Minggu depan."
"Dari yang ku lihat mereka akan muncul dan menampakkan diri jika Nyonya selangkah saja keluar dari mansion. Itu artinya sasaran utama mereka adalah Nyonya."
"Maksudmu, kita kan membawa istri ku ke pertandingan MMA?" tanya Dika. Max mengangguk disana.
"Kau bermimpi Max. Kakak ipar tidak pernah mau menonton acara pertandingan kekerasan seperti itu. Apa lagi melihat adik iparnya berkelahi. Dia tidak akan mau," jelas Levi
"Aku tidak memberikan izin Max. Ini terlalu berbahaya. Kau tau bukan, istriku belum bisa menjaga diri dengan baik," Dika membuat keputusan dari perdebatan orang-orang didepannya.
"Baiklah, jadi bagaimana? Apa ada ide lain?" tanya Max.
"Bukankah dia terluka parah," tanya Dika mengalihkan tatapannya dari Max ke Levi. Levi mengangguk membenarkan perkataan kakaknya.
"Jika begitu, dia membutuhkan waktu untuk pulih kembali. Kita kan merencanakan strategi setelah acara pertandingan Levi."
Max setuju mendengar saran ketuanya. Dia juga berharap Levi memenangkan pertandingan ini karena pertandingan yang digelar kali ini membawa nama Klan Black Sky. Dan lawan mainnya juga bisa dikatakan kuat.
Begitu juga Odion dia mengangguk setuju. "Yah benar, kau lebih baik fokus pada pertandingan MMA mu Lev. Jangan membuat malu nama klan kita Lev." Odion berbicara apa adanya tanpa ada no filter.
"Cih, kau pikir aku akan kalah. Kau saja masih jauh dibawahku," jawab Levi kesal.
Keempat pria itu tidak sadar, wanita yang selalu mereka lindungi tidak menampakkan diri dari tadi. Jika bermain bersama dengan Mocci, tidak mungkin tidak menampakkan diri sejak tadi. Dika yang pertama kali sadar.
Dia langsung berdiri dan keluar dari ruang rapat. Dia berjalan ke arah pohon jeruk dan bertanya kepada para pengawal yang ada di sana.
"Dimana istriku," tanya Dika pada salah satu pengawal. "Saya tidak tau Tuan, saat Mocci sudah tidur, saya tidak melihat nyonya. Saya pikir Nyonya sudah kembali ke tempat Tuan."
"S*ial, cari disetiap sudut tempat ini!" Levi yang dari tadi melihat kakak nya sedang khawatir langsung bergegas menemui Kakaknya.
"Levi, periksa CCTV, istri ku sejak tadi tidak menampakkan diri!" Levi langsung bergegas sedangkan Odion dan Max langsung memimpin pengawal untuk menyusuri setiap sudut mansion.
Selama lima belas menit, orang-orang belum menemukan jejak wanita yang sedang mereka cari. "Kak, CCTV yang mengarah ke kandang Mocci rusak," beritahu Levi.
"S**hit, apa yang harus kulakukan." Dika mulai khawatir.
jangan lupa like dan hadiahnya ππ
Horasπ