
Semua orang yang terlibat dalam masalah di ruang tamu nampak berkumpul di ruang keluarga.
Paman Vill yang keluar dari persembunyiannya sambil memegang kamera masih setia dengan kegiatannya. Tadi saat adu otot itu, paman Vill awalnya ingin keluar, tapi perintah sang nyonya melekat di kepalanya.
"Jangan keluar sebelum aku memanggil mu, apapun yang terjadi," itu adalah perintah mutlak sang nyonya.
Darren diobati oleh Clasy sedangkan Levi yang babak belur di obati oleh Ros. Dia masih sesenggukan mengobati luka di wajah adik iparnya akibat ulah suaminya.
Sedangkan Dika di abaikan oleh istri kecilnya dan malah mengurus adik lakn*atnya itu. Ini membuatnya sangat kesal dan ingin baku hantam lagi dengan pria muda yang sedang bersandar di pangkuan sang istri. Wajah sok penuh kemenangan itu membuat Dika san jijik.
"Yang seharusnya marah disini siapa," kesal Dika menatap istri kecilnya. Seharusnya dialah yang harus marah karena sudah dijadikan sebagai bahan candaan atau apalah itu.
"Aku, jelas aku yang harus marah. Dan kau, kaulah yang bersalah dan paling harus di salahkan di sini!" seru Ros menatap sengit ke arah suaminya. Dia sangat marah pada pada suaminya, bagaimana mungkin seorang kakak memukuli adiknya hingga babak belur begini.
Bahkan didepannya sendiri orang penting dalam hidupnya berkelahi karena kesalahpahaman. Ros menggeleng kepalanya melihat suami dan adik iparnya.
Levi yang mendengar percakapan suami istri itu bangun dari pangkuan kakak iparnya
Dia sangat menikmati wajah pias kakaknya.
"Kau tidak lihat wajah adik mu ini. Semuanya berdarah dan terluka. Nanti tidak ada wanita yang ingin menikah dengannya," seru wanita itu sambil mengobati luka adik iparnya.
Dika diam tidak bisa menjawab pernyataan istrinya. "Bisa kau simpan kamera mu itu Paman Vill?" Dika melampiaskan kekesalannya pada Paman Vill yang menyoroti dirinya.
"Kenapa, aku yang menyuruh paman Vill. Kau tidak terima?" tanya Ros masih setia dengan wajah tidak menyenangkannya. Levi tertawa melihat kakak nya yang terkenal kejam, dingin, berhati iblis itu tidak berkutik di depan kakak iparnya.
Tawa Levi tentunya mengundang rasa marah Dika. Belum Dika bergerak ingin membalas adiknya, Ros terlebih dahulu memukul kepala Levi.
"Ini semua juga gara-gara kau," tunjuk Ros kepada adiknya itu. "Aku hanya menyuruh mu untuk akting saja, tapi kau malah membalas pukulan Kakak mu bodoh," seru Ros dengan kasar. Perlahan tapi pasti sifat orang-orang di sekitar Ros mulai tertanam di dirinya.
"Aku hanya mencoba untuk melawan kakak. Aku tidak pernah adu kekuatan dengannya. Jadi aku pikir sekalian saja, tapi ternyata aku hanya menang sedikit dan kalah banyak," seru Levi menghela napas.
"Cih, jadi kau melawan ku hanya karena ingin bertarung dengan ku?" Cih, kau masih anak kecil yang masih bau kencur. Mimpi mu terlalu tinggi bocah besar, untuk mengalahkan aku" seru Dika.
Dia juga heran sebelumnya, bagaimana cara Levi bertarung. Dika bisa merasakan bahwa Levi mengeluarkan seluruh tenaganya ketika mereka bertarung tadi.
Wajah serius pria muda itu juga bisa terlihat. Tehnik yang digunakan juga merupakan tehnik utama yang sering di ajarkan oleh dirinya ke pada adiknya itu.
"Jadi kau membuat kerusuhan hanya untuk menunjukkan kelemahan mu? Cih, anak-anak yang belum dewasa memang biasanya seperti itu. Sudah lemah, tak ada keahlian dan tidak tau batas kemampuannya sendiri. Memalukan," sindir Max.
"Bagaimana jika tangan mu tadi patah jika suami ku mengeluarkan tenaganya. Kau ini bodoh atau sebenarnya tidak punya otak. Katanya jenius," seru Ros sambil menekan kain kasa ditangannya ke luka adik iparnya.
Levi meringis merasakan kain kasa itu ditekan ke wajahnya. "Kenapa kalian semua menyudutkan aku? Aku hanya ingin mencoba saja. Tadi juga sudah ku katakan sebelumnya, tanya Kakak ipar dulu. Kakak saja yang langsung main baku hantam. Ya, dengan senang hati aku meladeni kakak karena ini juga yang kutunggu-tunggu," jawab Levi tidak mau kalah dan disalahkan.
"Diam, sudah banyak luka tapi masih banyak bicara," bentak Ros. Pria itu menjadi diam, dia sama seperti kakaknya diam tak berkutik dihadapan wanita ini.
Sedangkan Clasy, dia begitu menikmati kehangatan keluarga kecil di depannya. Mereka menyayangi dengan cara yang berbeda-beda. Clasy jelas begitu iri, dia saat ini hanya memiliki seorang ayah. Itupun ayahnya berada di tangan pria sialan yang masih mengontrol hidupnya.
Max memberikan kode agar paman Vill dan Clasy pergi. Dia ingin membahas sesuatu yang penting dan pribadi.
"Apa kau tidak melihat bagaimana keadaannya saat ini Max. Apa kau sudah kehilangan akal mu juga?" tanya Ros. Tatapannya mulai mengintimidasi pria didepannya.
"Bukan begitu Nyonya, pertandingan ini antar ketua mafia. Pertandingan ini membawa nama klan Black Sky," seru Max berusaha menjelaskan.
"Jadi apa lebih penting Black Sky dari pada kesembuhan Levi. Begitu?" tanya Ros kembali membuat Max skakmat dan tidak bisa menjawab.
Ros bisa membuat tiga orang penting sekaligus di klan mafia Black Sky hari ini bungkam dan tidak bisa melawan perintahnya.
Dika yang melihat kelakuan istrinya menghela napas. "Sudah ku katakan aku akan turun jabatan," batin Dika.
"Baby, jika begitu kau saja yang menjadi lawan mafia itu. Aku rasa kau bisa menjadi rivalnya nanti di ring," seru Dika. Ros yang mendengar itu menatap tidak suka pada suaminya. Dika menghela napas.
"Kau tau bukan Levi tidak pernah kalah dalam pertandingan. Bahkan wajahnya tidak pernah tergores kecuali dia baku hantam dengan ku," seru Dika.
"Nama klan kami akan dibawa kesana. Orang luar mengetahui Levi adalah ketuanya. Sudah diundur kemarin. Apapun alasannya orang-orang pasti mengira bahwa ketua dari Black Sky takut, lemah dan itu artinya dia kalah sebelum bertanding," jelas Max.
"I'm okay. I'm ready to morrow, atur saja jadwalnya Max besok malam," jawab Levi menatap kakak iparnya seakan meminta izin.
"Tapi kau masih sakit setelah di pukuli. Bagaimana nanti jika kau kalah karena masih merasa sakit? Perut mu bagaimana, itu pasti masih belum sembuh?" Pertanyaan Ros menandakan bahwa rasa khwatir nya sangat besar pada adik iparnya itu.
"I'm Strong Kakak ipar. Aku pasti menang, dan medalinya untuk mu," seru Levi tersenyum.
"Ingat, jangan menambah luka lagi. Dan maaf, aku tidak bisa menemani mu, aku akan menonton atau mendengar melalui audio," seru Ros.
"It's okay Kakak ipar," jawab Levi. "Apa basa basinya sudah selesai. Aku ingin tidur," seru Dika kesal karena iri melihat kekompakan saudara ipar itu.
"Tidur yang cukup, jangan meminum alkohol, jangan begadang," seru Ros ketika suaminya sudah memegang posesif pinggang kecilnya. Levi hanya tersenyum menanggapi kakak ipar kecilnya. Meskipun tidak akan ikut sebagai supporternya, Levi sudah bersyukur ada seorang wanita yang berperan seperti ibunya.
Sesampainya di kamar, Dika bersama istrinya langsung ke walk in closet untuk bersih-bersih sebelum tidur. Setelah itu Dika langsung merebahkan diri di ranjang di ikuti oleh istrinya.
Ros langsung masuk kedalam dekapan suaminya. "Kiss sebelum tidur," ucapnya keluar dari dekapan sang suami. Ros berharap lebih, namun hanya kecupan yang diterimanya.
Dika kembali mendekap erat sang istri. Ros mulai merasa aneh, dia kembali memikirkan sikap sang suami belakangan ini. Biasanya setelah bangun tidur, jika morning kiss suaminya akan melakukan lebih. Bahkan belakangan ini suaminya tidak pernah meminta haknya sebagai suami.
Ros merenung sebentar, pikirannya mulai tidak terkendali. Pikirannya mulai melayang-layang entah kemana. Dengan sengaja Ros meraba-raba dada bidang suaminya bahkan secara perlahan turun ke perut kotak-kotak suaminya.
Nihil tidak ada reaksi, Ros tau suaminya belum tidur. Oleh karena itu, dia berusaha memancing suaminya. Tangannya secara perlahan turun ke bagian bawah suaminya. Namun tiba-tiba Dika berbalik dan pura-pura tidak nyaman dengan posisinya.
Hati Ros tiba-tiba sakit. Dia tidak melanjutkan kegiatannya dan ikut juga berbalik memunggungi suaminya. Ros kemudian pura-pura tidur. Hingga pukul dua subuh, Ros terus terjaga karena pikirannya saat ini sudah melayang kemana-mana.
Tiba-tiba suaminya bangun dari tempat tidur dan bergerak ke arah kamar mandi. Ros pura-pura tidur, suaminya terlihat pergi ke arah kamar mandi. Setelah melihat suaminya menutup pintu, Ros juga beranjak dari ranjang dan melihat apa yang dilakukan suaminya di dalam kamar mandi. Dia hanya mengintip dari pintu agar tidak terlihat oleh suaminya.
Ros menatap tak percaya pada sang suami. "Biasanya dia yang lebih antusias. Kenapa sekarang jadi begini? Apa aku tidak menarik lagi untuknya," batin Ros kembali ke ranjang sebelum suaminya keluar dari bathroom
Jangan lupa likenya πππ.
Horasπ