
"Ada apa dengan Kakak ipar," ucap Levi. Suaranya terdengar begitu bergetar dan sangat khawatir.
"Tubuh Kakak ipar juga semakin dingin. Bagaimana ini Darren," seru Levi.
"Kakak ipar harus sesegera mungkin mendapatkan donor darah. Dalam waktu tiga puluh menit, nyawa kakak ipar akan melayang," seru Darren dengan nada rendah seperti ikut merasakan rasa sakit itu.
"Coba hubungi Rhadika, apakah mereka sudah mendapatkan donor darah itu?"
Levi segera mengambil ponselnya dari saku celana lalu menghubungi Kakak nya.
"Bagaimana?" tanya Darren.
"Tidak aktif, apa yang harus kita lakukan?" tanya Levi di sela-sela ke khawatirannya. "Aku juga tidak tau. Bagaimana sebenarnya Kakak mu itu, dasar tidak becus," seru Darren.
"Aku butuh udara segar untuk menenangkan pikiran ku dan membuka jalan untuk berpikir. Siapa tau aku bisa menemukan solusi setidaknya untuk menahan masa kritis istri Rhadika," seru Darren berlalu dan meninggalkan ruangan itu.
Hening kembali, Levi juga tidak buka suara dan meninggalkan ruangan itu.
**
Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit melewati medan licin yang begitu sulit, akhirnya rombongan Dika sampai pada tempat yang sudah ditentukan oleh musuhnya.
Kedatangan Dika disambut dengan acungan senjata oleh anggota pria bertopeng disana. Dika tersenyum tipis dan keluar dari mobilnya.
"Kenapa kau melanggar perjanjian kita?" seru Dika melihat pemimpin rombongan musuh menggunakan topeng.
"Why? Bukankah aku datang dan menunjukkan wajahku. Dibagian mana aku melanggar perjanjian," tanya pria itu dengan santai.
"Kenapa kau tetap menggunakan topeng?"
"Aku rasa kita tidak memiliki perjanjian tentang penutup wajah atau semacamnya."
"Cih, kau memang seorang pengecut," seru Dika dengan cibirannya. Sedangkan pria bertopeng disana hanya tersenyum mendengar cibiran lawannya.
"Apakah darahnya sudah sampai di bagian rumah sakit?"
"Tunjukkan terlebih dahulu surat pemindahan kekuasaan itu!"
Max mengambil sebuah dokumen dari dalam mobil dan melebarkan dokumen tersebut. "Barang mu sudah ada didepan mu sekarang. Bagaimana dengan barang ku?"
Pria bertopeng nampak mengeluarkan ponsel yang ada didalam saku jasnya. "Bawa barang kita ke depan pintu rumah sakit, tunggu aba-aba dariku," ujarnya k muda menutup sambungan teleponnya.
Dika juga sudah mendapatkan notifikasi dari Darren bahwa dia sudah melihat barang yang mereka tunggu-tunggu.
"Bagaimana, apakah sudah deal?" tanya pria bertopeng itu. Dika nampak berat ketika melihat dokumen itu berpindah tangan sekarang.
Pria bertopeng yang melihat itu, dia menyentuh sebentar ponselnya.
"Jangan berat hati Rhadika, apa kau mau mendengar sesuatu?"
Pria bertopeng itu memperdengarkan sebuah audio. Audio itu berisi pembicaraan Levi dan Darren yang membahas tentang Ros yang sudah tidak bisa bertahan lagi.
"Max, berikan dokumen itu," perintah Rhadika langsung setelah mendengar isi audio tersebut. Pria bertopeng disana tersenyum. "Sebentar lagi," batin pria itu.
Max maju dan memberikan kertas itu. Pria disana mengamati isi lembaran dokumen tersebut.
"Kenapa belum ditandatangani?" tanya pria itu kembali melihat isi dokumen tersebut.
Tiba-tiba ada sebuah peluru yang menuju dada Dika. Dengan cepat pria itu menghindar dan kembali mengeluarkan senjata dan langsung menembak timah panas ke arah pria bertopeng, namun belum tepat sasaran.
Dika bersembunyi di balik mobilnya. Banyak pohon disekitar pegunungan yang curam itu. Dika berdiam diri sebentar dan memastikan isi peluru dari kedua pistol yang sedang dipegangnya full.
Seperti belut dan hantu yang tidak tampak, Dika bergerak licin dari satu pohon ke arah pohon lain. Tujuannya saat ini adalah untuk memburu pria bertopeng itu.
Diantara satu pohon Dika melihat pria bertopeng itu sedang fokus mengeluarkan timah panas ke arah anggota klan Black Sky. Dika tersenyum tipis dan melanjutkan aksi licin seperti belut itu.
Max berusaha mengendalikan perhatian si pria bertopeng dengan menyerang secara brutal dengan timah panas. Strategi kedua pria itu memang selalu jenius. Satu menarik perhatian dan satu lagi melakukan aksinya.
"Dimana dia," seru si pria bertopeng bersembunyi di balik pohon untuk danmenghirup napas sebentar.
Tiba-tiba sebuah siluet bayangan nampak dari arah sebelah kirinya. "Are you looking for me( Apa kau mencariku)," tanya Dika menunduk sebentar lalu menatap tajam ke arah musuh.
Pria bertopeng sempat gelagapan. Dia langsung mengarahkan pistolnya ke arah Rhadika. Dengan satu tendangan kaki, pistol itu terjatuh jauh ke dalam jurang.
"Pengecut seperti mu tidak layak untuk mendapatkan kesempatan hidup dua kali," seru Dika dengan datar.
Dengan cepat pria bertopeng itu menyerang Rhadika dengan tangan kosong. Dengan senang hati dan tangan terbuka, Rhadika melayani adu otot yang dimulai oleh pria itu.
Kedua pria disana melakukan baku hantam sama seperti Darren saat ini.
Darren sedang bersenang-senang dengan musuhnya saat ini. Rumah sakit yang awalnya ramai akan pengunjung dan pasien yang lalu lalang untuk mencari udara segar, kini telah diungsikan ke ruangan dimana alat penyadap berfungsi. Sehingga orang-orang yang berada dirumah sakit tidak mendengarkan keributan yang berada didepan rumah sakit.
Awalnya kedua kubu itu juga baik-baik saja, sama seperti Rhadika dan pria bertopeng namun, ketika anggota Ghost Lion terlalu lama memberikan kantong darah tersebut, Darren tidak sabaran dan menjentikkan jarinya.
Para penembak bayangan langsung mengeluarkan peluru dari tiap rooftop yang ada disekitar rumah sakit. Tingkah tidak terpuji Darren mengundang kekesalan seorang pria yang sedang menatap proses kejadian itu dari laptopnya.
"Darren, what the hell," seru Dika dengan pelan takut menggangu keadaan wanita yang sedang setia dengan tidur panjangnya.
"Aku tidak ingin berlama-lama bocah," sahut Darren mengeluarkan timah panasnya.
"Babat habis. Ini adalah perintah dari ketua kalian!" seru Darren dari earphonenya.
"Kau tidak perlu mengaturku," seru Darren namun mengikuti perintah Levi. Darren sekarang sedang memburu pria berotot yang dikatakan oleh Levi.
"Lawan yang lumayan seimbang," batin Darren. Kini peluru datang kearahnya. Pria berotot itu tidak memberikan ruang pada Darren untuk melakukan serangan balik.
"Arah pukul sepuluh. Lumpuhkan kaki pria berotot disana," perintah Levi melalui earphonenya.
Salah satu penembak bayangan langsung mengarahkan senapan panjangnya ke arah target. Satu peluru langsung bersarang di kaki si pria berotot.
Darren tersenyum melihat lawannya sudah mulai lemah. Dengan cepat Darren mengeluarkan timah panasnya dan tepat mengenai perut si pria. Satu peluru secara tak terduga juga meleset ke arah Darren. Telinganya terkena goresan sedikit. Darren langsung berbalik dan bersembunyi kembali.
"Yuhuh, wow ini sangat menyenangkan," teriak Darren bersorak di tengah bisingnya peluru yang berkeliaran di sekitar rumah sakit.
"Darren, mobil yang akan membawa kantong darah ingin pergi," seru Levi dari sana.
"Got it," jawab Darren melihat mobil yang membawa kantong darah tersebut.
Darren mengarahkan senjatanya ke arah ban mobil tersebut. Dua ban mobil berhasil di bolongi oleh peluru Darren.
"Piuh
"Darren meniup ujung senjatanya. "Good job," batin Darren.
"Fokus untuk mendapatkan darahnya! Sayap kanan dan penembak bayangan, fokus pada anggota musuh yang masih hidup. Dan kau Darren bawa anggota lain untuk mengambil darah itu." Dika berhenti sebentar dan mengamati mobil yang ada di sana dengan memperbesar titik keberadaan mobil.
"Hati-hati, disana ada tujuh orang," seru Levi.
"Got it, over!" jawab Darren ala tentara barat.
"Fokus Darren, jangan banyak tingkah."
"Kau diam saja bocah, kau tinggal susun saja strateginya. Nyawaku yang sedang ku pertaruhkan," jawab Darren dengan kesal.
"Kau sangat berlebihan, bercanda sekali saja sudah bertindak berlebihan. Berperang sambil bercanda tidak masalah bukan? Selagi kita bisa menikmati moment demi moment dengan catatan tidak menggangu misi, kenapa tidak?
"Terserah," jawab Levi. Kemudian dia menatap layar laptopnya. Darren terlihat waspada dan mengendap-endap mendekati mobil tersebut, saat akan mengarahkan pistol ke arah kaca samping, seseorang tiba-tiba membuka pintu dengan kencang dan membuat pistol Darren jatuh.
Keenam orang lainnya sudah berhasil disingkirkan oleh Darren dan anak buahnya kecuali si supir yang duduk dibagian paling depan.
Pria yang baru keluar nampak badannya besar dan berotot. Tato menghiasi seluruh tubuhnya yang terlihat. Darren mundur saat melihat lawan yang didepannya.
"Cih, apa kau sudah berubah menjadi pengecut?" sindir Levi dari sana. Para pengawal yang juga mendengar itu serempak melihat ke arah Darren.
Untuk mengurangi rasa malunya didepan anggota Black Sky, Darren kembali maju. Dia melihat bahwa pria berbadan besar itu tidak memegang senjata apapun. Darren mengerti kode tersebut.
"S*ial, melihat wajahnya saja aku ingin kabur. Bagaimana tubuh ku yang putih mulus ini, jas putihku ditambah wajah ku yang cool bisa menang melawan pria ini? Jika saja sejak dulu aku mengikuti pelatihan bersama si Dika dan Max sialan itu, aku pasti dengan mudahnya menang," batin Darren.
"Jika kalah, harga dirimu akan jatuh dan menghilang di depan anak buahku," ejek Levi disana. "Sangat menyenangkan," batin Levi. Kapan lagi dia bisa mengontrol pria mesum itu.
Darren maju dan mulai mengangkat tangannya. Namun nihil, pria badan besar itu tidak merasakan apapun. "Hahaha, Darren kau benar-benar lemah dan tak berguna," tawa Levi disana.
"S*ialan kau Levi," Darren merasa sangat malu melihat keadaannya sekarang. "Serang bagian lengannya, sepertinya itu baru terluka." Levi memberikan arahan pada Darren yang sudah lelah tapi tidak memberikan hasil.
Dengan cepat Darren menyerang bagian lengan pria itu. Pria itu langsung meringis. "Wow, tebakanmu benar Levi," seru Daren senag.
Tiba-tiba pria badan besar itu menatap tajam ke arah Darren dan meninju bagian hidung Darren.
DUG
Darren merasakan tulang hidungnya hampir patah. Darah segar mengalir begitu saja dari hidung putih itu.
"Breng*sek," Darren yang terjungkal tadi bangkit dan menatap tajam ke arah pria berbadan besar.
Disaat inilah jiwa gila Darren keluar. Darren melompat dan memukul keras dahi pria itu hingga terjungkal ke belakang. "Impas bukan?" seru Darren.
Pria bertubuh besar itu tumbang. "Kesempatan bagus," Darren langsung menendang kepala pria yang baru saja ingin bangun.
Darren maju dan melihat pria itu. "Masih bernapas rupanya. Berikan pistol ku!"
Dor Dor
Tembakan kembali bersarang tepat di dahi pria itu. Dua bolongan peluru terlihat di dahi pria itu.
"Piuhhh, finally." Darren membersihkan tangan dan melap keringatnya. Dia masuk kedalam mobil dan mengambil kantong darah itu.
"Lumayan," ucap Darren melihat beberapa kantong darah itu. "Bersihkan seluruh mayat ini. Bakar disatu tempat!" seru Darren kemudian masuk ke arah rumah sakit.
"Tugasku sudah selesai. Aku ingin mengobati hidungku bersama perawat ku. Aku harap kau tidak menggangu ku!"
"Darah Kakak ipar sudah hampir habis," jawab Levi menatap kantong darah yang masih habis setengah dialirkan melalui infus.
"Kau tidak usah berbohong. Kau ingin membohongi seorang dokter bocah?" Darren langsung melepaskan earphone nya dan berjalan menuju ruangannya dimana hidung dan yang lainnya akan segera di obati dengan sentuhan memabukkan raganya nanti
Gays, novel ini juga sudah ada audionya. Jangan lupa dengarkan dan like, masukkan ke favorit juga yah
i'm waiting for you gays😊
Horas👐