Mafia Boss Little Wife

Mafia Boss Little Wife
Part 81



Melihat beberapa peluru mulai bertebaran dimana-mana, Max menendang Odion yang berada didepannya. "Kau urus para tikus itu. Mereka adalah anggota Ghost Lion yang di kirim si bodoh itu."


Odion yang merasa seperti di lecehkan ingin membalas Max namun pria itu sudah menaiki tali dari helikopter. Terpaksa hanya Odion yang harus memimpin anggota lainnya.


"Cepat selesaikan, aku tidak ingin berlama-lama di tempat yang gelap dan tidak ada kehidupan ini," teriak Odion dengan kencang.


Para anggota Black Sky melakukan pembantaian dengan beringas sesuai perintah pimpinan tim mereka saat ini.


Helikopter Dika bisa meninggalkan tempat itu dengan aman. Asisten Max juga berada di sana. "Kenapa kau tidak membantu Odion?" tanya Dika.


"Aku sudah bosan di sana. Biarkan saja dia yang menikmati waktunya disana. Aku sudah merindukan ranjang apartemenku," jawab Max santai dan menyandarkan kepalanya ke belakang.


Tiga puluh menit dalam perjalanan, Dika bersama rombongannya sampai di atap rumah sakit. Rumah sakit itu adalah miliknya di mana Istri dan adiknya saat ini ada di sana.


Darren dan Levi sudah menunggu sejak di kabari oleh Max bahwa mereka akan pulang. Terlebih Darren dia sudah menyiapkan alat-alat untuk membantu sang sahabat.


Dika belum turun dari kendaraan terbang itu, Darren sudah berlari menerpa kencangnya angin akibat baling-baling si burung besi, kepalanya di masukkan ke dalam helikopter. Dia penasaran separah apa luka sahabatnya itu.


Dengan kesal, Max menyingkirkan Darren. "Minggir! Bukannya menolong," serunya membantu sang tuan turun.


Dika langsung di tidurkan di atas berankar, lalu turun melalui lift. "Apa kau baik-baik saja kak?" tanya Levi. "Seperti yang kau lihat, hanya luka sedikit," jawab Dika datar seperti biasanya.


Setelah selesai turun dari rooftop, Dika dibawa oleh Darren,bdimana ada satu ruangan khusus miliknya, Dika dibaringkan di sana.


"Lakukan dengan cepat! Aku ingin segera bertemu istriku." Dika langsung menutup mata. "Jangan gunakan obat bius, aku bukan orang lemah," serunya dalam keadaan mata tertutup.


"Tapi luka ini terlalu dalam, kau akan kesakitan nanti," jawab Darren. "Sudah ku katakan tidak perlu. Dan cepat lakukan!" perintah Dika.


Darren tidak bisa membantah, dia melakukan sesuai perintah yang di katakan oleh pasiennya sendiri. Dia mulai menyiapkan alat penanganan untuk darah berembes. Perawat seksinya pastinya selalu setia menemani dirinya di sana. Itu adalah semacam penyumbang stamina untuk pria berjas putih itu.


"Jika sakit, katakan saja," seru Darren namun tidak di tanggapi oleh Dika. Darren mulai memegang kayu yang masih belum tertancap di kulit Rhadika. Dengan cepat Darren menariknya. Tidak ada teriakan, hanya erangan kesakitan kecil yang keluar dari mulut pria itu.


Dengan sigap Darren melakukan penanganan untuk menghentikan darah yang sedang keluar. Dua puluh menit berlalu, Darren menyelesaikan tugasnya sebagai Dokter dan kembali menjadi seorang sahabat.


"Aku heran melihat mu. Bagaimana bisa kau menahan rasa sakit itu tampak obat bius. Jika aku yang mengalaminya, aku pasti akan berteriak dan memanggil seisi rumah sakit," seru Darren bicara panjang lebar sambil membersihkan tangannya yang sudah di sterilkan.


"Kau pikir aku orang lemah seperti mu? Bawa aku ke ruangan istriku," seru Dika menatap Levi. Pria yang ditatap langsung bergerak dan membantu kakaknya berjalan. Darren sudah mengatakan harus menggunakan kursi roda beberapa hari saja, tapi orang yang keras Kepala, batu pun akan kalah.


Dia memilih lebih menggunakan tongkat penyangga saja. "Apa istri ku sudah tidur?" tanya Dika di tengah perjalanan mereka. "Kakak ipar sudah tidur Kak. Sore tadi dia menangis sangat lama."


"Kenapa dia menangis?" tanya Dika kembali. "Ahem, katanya kakak ipar merindukan Kakak," Levi berdehem sebentar karena dia merasa janggal mengatakan itu.


Dika tersenyum dalam hatinya. "i'm coming baby girl," batin Dika. Sesampainya di ruangan itu Levi langsung keluar karena ada hal yang harus di urusnya.


Dika melihat seorang wanita yang sedang duduk di sofa, yang sudah menahan rasa kantuknya.


"Kamu sudah boleh pulang!" seru Dika datar. Clasy yang mendengar suara itu langsung cerah matanya.


"Maaf Tuan, apakah anda sudah kembali?" tanya Clasy basa basi. Dia melihat ke arah belakang Levi dan tidak menemukan siapapun.


"Seperti yang kau lihat. Kau boleh pulang sekarang!" seru Dika. Namun wanita yang diberikan perintah tidak bergerak sama sekali.


"Apa kau tidak mendengar ku?" tegas Dika. Dia paling tidak suka mengulang ucapannya untuk yang kedua kali.


"Maaf Tuan, apa saya boleh bertanya?" seru Clasy takut-takut sambil menunduk. Dika menatap ke arah Clasy dengan datar. Melihat itu Clasy langsung bicara. Dia tau kode yang di berikan tuannya.


"Apakah tuan Max juga ikut pulang?"


"Dia di apartemennya," jawab Dika lalu mendekat ke arah ranjang istri kecilnya. "Terimakasih Tuan," seru Clasy kemudian bergegas keluar dari ruangan itu.


Dika dapat melihat air mata yang sudah mengering di wajah wanita didepannya. Dika memperbaiki helaian rambut istrinya.


Kemudian dengan pelan Dika bergerak naik ke atas ranjang. Dia sangat berhati-hati agar tidak mengganggu tidur sang istri. Setelah merasa posisinya sudah aman, Dika mengarahkan tangannya untuk membalikkan posisi sang istri untuk menghadapnya.


Melihat ada perban di dahi sang istri, Dika merasa bersalah. Dia mencium perban itu dengan lembut. "I'm sorry my litle wife," batin Dika.


Tatapannya turun ke wajah imut sang istri. Wajah cantik dan imut serta berwarna yang sudah dibayangkannya saat dia akan pulang dari misi sudah terpampang jelas di depannya. Dika mengusap pelan pipi imut sang istri lalu turun ke bibir ranum yang sangat di rindukannya.


Dika mengusap pelan bibir seksi Istrinya. Pelan tapi pasti, Dika mendekatkan bibirnya ke bibir tipis sang istri. Bos mafia yang baru tiba dari misi itu sudah benar-benar merindukan olahraga panasnya bersama istri. Namun belum saatnya bukan?


Keduanya sama-sama sakit sekarang. Dika berhenti sebentar merasakan sensasi bibir istrinya. Kemudian secara perlahan Dika menyesap bibir sang istri. Bermain-main disana dengan sesuka hati.


Ros merasakan ada sesuatu terjadi dalam dirinya, khususnya bibirnya saat ini. Dia mencium aroma tubuh yang sangat familiar. Jantung Rosaline berpacu dengan cepat. Ini adalah aroma pria yang sangat di tunggu-tunggunya.


Tapi Rosaline tidak ingin membuka mata. Malah dia membalas sesapan suaminya. Terasa indah dan manis bagi Ros untuk kejadian saat ini. Tapi dia takut membuka mata, takut yang dirasakannya saat ini adalah mimpi belaka. Dia ingin merasakan ciuman ini sebentar saja atau Bahkan lama sekalipun agar bisa menuntaskan ke rinduannya pada sang suami.


"Aku harap ini benar-benar nyata, bukan hanya imajinasi tak berguna," batin Ros. Dia tetap tidak membuka mata, namun air matanya menetes karena begitu mengharapkan apa yang dialaminya sekarang adalah real.


Dika yang melihat air mata istrinya menghentikan tautan lidahnya membuat wanita yang ada di depannya tambah deras air matanya. "Ternyata hanya sebentar. Mimpi yang begitu menyiksa," batin wanita itu.


Kemudian dia bergerak ke arah depan Dika. Wanita itu masuk ke dalam dekapan sang suami, dan senang hati Dika melayani sang istri. Ini adalah salah satu hal yang di rindukannya. Dia memeluk tubuh sang istri dengan hangat dalam dekapannya.


Sedangkan seorang wanita yang berada di kota London sedang marah-marah di depan pengawal pribadinya. Bagiamana tidak? Informasi penting tentang kakak iparnya dan kakak kandungnya tidak diberitahukan padanya.


"Apa ku gila Vin, bagimana mungkin kau menyembunyikan informasi penting seperti ini. Kau baru menyampaikannya di saat semuanya sudah terjadi," wanita itu benar-benar kecewa dengan sikap pengawal pribadinya ini.


"Bukan begitu Nona, Levi juga mengingatkan saya agar anda tidak perlu diberitahukan tentang informasi itu, jawab Melvin.


"Levi? Dia tidak tau apa-apa. Bagiaman jika waktu itu kakak ipar ku meninggal? Bagiamana jika kakak ku hilang dalam setahun? Apa Levi juga yang akan menjadi patokan mu? Bukankah kedudukan kalian sama, kalian berdua adalah bawahan dari kakak ku. Seharusnya kau lebih mendengarkan dan patuh perintah ku sebagai pengawal pribadiku."


"Saya hanya menjalankan perintah Levi Nona. Biar bagaimanapun Levi adalah atasan saya meskipun saya dan dia adalah bawahan tuan Rhadika. Bagaimanapun juga Levi adalah adik dari ketua kami. Jadi dia adalah yang tertinggi dari saya," jelas Melvin.


"Adik? Cih, dia bukan adik kakak ku, camkan itu!" Felice lebih kesal lagi mendengar kata adik dar mulut pengawal pribadinya membuat wanita itu tambah kesal.


Mengapa? Karena ini adalah salah hal yang selalu menganggu perasaannya untuk bersatu dengan seseorang yang sudah lama ditunggunya.


Felice sudah berusaha untuk berpaling dari rasa itu dengan berkencan dengan pria-pria lain. Bahkan dia harus mengancam Melvin untuk tidak melaporkan kegiatannya ini pada Levi dan kakaknya dengan mengatakan bahwa ini adalah privasinya.


Namun sangat disayangkan, hati Felice sudah terkunci oleh satu orang pria yang sialnya adalah saudara tak sedarahnya sendiri.


"Aku akan pulang Minggu depan, tapi belum tentu, hanya rencana saja. Beritahu kakak ku tapi tidak dengan kakak iparku. Aku akan memberikan kejutan untuknya nanti."


Melvin mengangguk, wajah datarnya masih setia di depan Felice. "Vin, apa kau tidak lelah dengan wajah datar mu itu. Bahkan kau seperti es batu yang tidak ada rasanya," ejek Felice. Melvin tidak menjawab pernyataan Felice yang menyudutkannya.


Berbeda dengan seorang wanita yang sedang berbaring gelisah di tempat tidurnya. Sejak tadi dia memegang dan melempar secara tiba-tiba ponselnya.


Wanita itu adalah Clasy. Sejak dia di perintahkan untuk pulang, dia ingin pergi ke apartemen rekan kerjanya Max. Tapi dia tidak tau alamat apartemen itu. Ingin bertanya pada sang tuan, tapi nyalinya tidak cukup.


Ingin menelepon si pemilik apartemen nyalinya lebih tidak cukup. "Setidaknya aku harus bertanya tentang kabarnya bukan? Saat aku tertembak, bahkan dia langsung menolong ku. Tapi, apa aku pantas?" seru Clasy sambil berpikir.


Sedangkan Max, dia sedang menunggu telepon dari seseorang tapi tak kunjung ada notifikasi atau semacamnya dari benda pipih yang di pegangnya .


Jangan lupa likenya πŸ‘πŸ‘


HorasπŸ‘