
LIKE, KOMEN, SAMA FAVORITNYA MAK AGAR SELALU MENDAPATKAN NOTIFIKASI UPDATENYAπππππ
Setelah drama diranjang selesai, Dika menggendong istri kecilnya kekamar mandi. Dengan lembut meletakkan di bathtub yang sudah mulai terisi air hangat.
Dika juga ikut masuk kedalam bath up memeluk istri kecilnya yang sedang merilekskan tubuhnya sambil menutup mata. Tangannya tak berhenti mengusap pelan tahi lalat di salah satu gunung kembar milik istrinya. Letaknya tepat disebelah kanan.
"Baby, kenapa ini bisa tumbuh disini. Biasanya tahi lalat akan ada di wajah tangan dan lainnya. Tapi ini sangat lucu," ucap Dika tersenyum tipis namun tangannya terus mengusap lembut tahi lalat itu. Sebelah tangannya lagi membersihkan punggung istrinya.
Bagian depan sudah selesai dibersihkan nya meskipun harus selalu menahan napas dan hasr*atnya.
"Sayang, stop it. Ros yang sedang menutup mata dari tadi langsung membuka matanya Kapan selesainya kau membersihkan tubuhku jika begini?" kesal Ros. Namun tangan suaminya tetap tidak berhenti.
Dengan kesal Ros menangkap tangan suaminya dengan tangan kiri. "Stop it!"
Ros tiba-tiba berhenti sejenak tidak melakukan protes lagi. Dika yang merasakan istrinya tidak bergerak dan membalikkan posisi tubuh istri yang membelakanginya.
"Ada apa Baby?" tanya Dika.
"Ini... ini...," Ros mengangkat tangan kirinya. Dika yang melihat itu tersenyum tipis.
"Ini cincin pernikahan kita, baru bisa diserahkan sekarang. Maaf aku tidak bisa seperti pria lain memberikannya secara romantis. Aku sudah berusaha namun tidak bisa," ucap Dika menatap lekat wajah istrinya.
Ros diam, namun sesaat kemudian langsung memeluk suaminya. "Hmm, tidak apa-apa. Ini hadiah pertama mu untukku terimakasih," ucap Ros dengan tulus.
"Dan aku akan sangat bahagia jika kau memberikan nya disertai kata cinta untuk ku," benak Ros dalam hati.
Sedangkan Dika ingin sekali mengungkapkan bahwa sejak awal melihat istrinya, hatinya sudah jatuh sedalam mungkin. Namun dia tidak ingin mengatakan itu, karena takut Istrinya akan dibebani dan menghindar darinya.
Kegiatan di bathtub diakhiri dengan Dika kembali menggendong istrinya ke walk in closet. Mereka berdua berpakaian seperti biasanya. Tidak ada yang terjadi, Dika tau istrinya masih merasakan sakit dibagian intinya.
Dika sudah selesai dengan setelan formalnya. Melihat istrinya memakai baju kebesaran miliknya, ia tersenyum. Terlihat juga leher jenjang milik istrinya dipenuhi karyanya semalam. Ros juga tidak menyadarinya, karena dia tidak akan pernah bercermin kecuali ingin keluar rumah baru dia akan berdandan didepan cermin.
"Sayang, kenapa arlojimu selalu yang berwarna silver itu saja? Biar kuambilkan yang lain yang lebih bagus." Ros bergegas ketempat penyimpanan arloji suaminya. Ia mengamati satu persatu dan pandangannya tertuju pada arloji warna hitam polos namun sangat menarik. Pandangannya terhenti ketika melihat sebuah cincin kecil.
"Cincin siapa? Sepertinya milik suamiku saat kecil. Tapi kenapa warna arloji ini sama dengan cincin ini. Desain nya juga hampir sama," ucap Ros berlalu tapi tidak terlalu memikirkan cincin berukuran kecil itu. Cincin itu sangat sederhana, berwarna silver juga. Namun dapat dipastikan meskipun terlihat sederhana, harganya pasti fantastis.
Ros memasangkan arloji milik suaminya. Ros ingin buka suara tentang cincin tadi yang ditemukannya di tempat koleksi penyimpanan jam tangan, namun dia pikir itu tidak terlalu penting. Mereka berdua kembali keluar dari walk in closet menuju kamar.
"Aku akan kekantor, tidurlah! Aku tau kau sudah sangat lelah. ucap Dika mencium kening istrinya. Dika kemudian mendekat kearah telinga istrinya.
"Permainanmu tadi malam sangat hebat Baby. Liar dan sangat nikmat," bisik Dika sambil berdiri.
Blush
Wajah Ros memerah dan langsung menelungkup kepalanya kedalam selimut. Dika yang melihat itu tersenyum. Istri polosnya memang selalu sangat menggemaskan.
"Aku pergi Baby," ucap Dika. Ros langsung keluar dari selimut dan mengecup singkat bibir suaminya. Setelah itu langsung menelungkup kan kepalanya kembali kedalam selimut. Ros bisa mendengar suara terkekeh suaminya.
"Aku akan menyuruh pelayan pribadi mu untuk mengantarkan sarapan untukmu," seru Dika berlalu keluar, sedangkan Ros tersenyum sendiri sambil berguling-guling di ranjang mengingat betapa liarnya dirinya tadi malam.
Dimeja makan pelayan yang sedang menyipkan sarapan, melihat tuan mereka tersenyum sambil berjalan terkejut bukan main. Begitu juga Levi yang sedang menyantap sarapannya. Dia menjatuhkan sendok ditangannya. Max juga yang melihat itu hampir menjatuhkan iPad yang ditangannya.
"Suruh pelayan pribadi istriku mengantar sarapan pagi ke kamar!" perintah Dika sambil duduk.
"Max apa kau sudah makan? Bergabunglah!" Levi dan Max yang mendengar itu heran bukan main. Belum pernah sejarahnya bos mafia ini bertanya bagaimana keadaan sang asisten.
Max yang mendengar itu ikut bergabung sarapan pagi di meja makan. Bukan sampai disitu saja, saat akan memasuki gedung pencakar langit Ra company, Bos mafia itu juga selalu tersenyum tipis. Para karyawan yang disana gelagapan.
"Apa ada meeting hari ini? Habislah kita," ucap pegawai A. "Semoga saja tidak, jika tidak hidup kita akan berhenti saat itu juga," ucap pegawai B. Mereka mengartikan senyum bosnya sebagai lambang kematian. Bagaiman tidak, senyuman itu akan keluar ketika ingin melenyapkan penghianat perusahaan.
Sedangkan di mansion Browns, terlihat Clasy membawa sarapan untuk sang nyonya. Ros sudah menunggu sarapan itu. Ketika ingin meletakkan nampan tidak sengaja Clasy melihat kearah leher sang majikan.
Clasy tertunduk malu melihat bekas sisa percintaan itu. Clasy mengetahui apa penyebab warna merah merah kebiruan dileher sang nyonya karena dia juga pernah mengalaminya. Lamunan Clasy terhenti ketika mendengar bunyi dering ponselnya beserta suara sang nyonya.
"Terimakasih Clasy. Ponsel mu sejak tadi berbunyi apa kau tidak ingin menjawabnya? tanya Ros sambil mengambil sendok dari nampan. "Siapa tau penting, mungkin dari keluargamu," ucap Ros mulai memakan sarapannya.
"Oh, iya Nyonya. Saya permisi sebentar," seru Clasy berjalan keluar setelah melihat anggukan sang nyonya.
Saat diluar pintu Clasy melihat panggilan masuk tersebut. Wajah Clasy tiba-tiba gugup dan langsung berjalan cepat kearah kamar pribadinya. Ia masuk kedalam kamar mandi kecilnya. Ia tidak yakin jika berada didalam kamarnya akan aman.
Panggilan itu masuk dalam bentuk vidio. "Halo tuan," seru Clasy mengarahkan kamera ke arah wajahnya.
"Lepaskan oksigennya!" perintah pria diseberang sana. Tampak orang yang yang di ranjang kecil dan sempit itu sesak dalam tidur panjangnya. Dadanya naik turun tidak beraturan.
"Tuan, saya mohon jangan lakukan itu. Saya mohon pasang kembali oksigennya. Saya mohon Tuan," ucap Clasy memohon dibanjiri dengan air mata.
Setelah beberapa menit, oksigen kembali dipasang kehidung orang lemah tak bergerak di ranjang.
"Kau kuperintahkan kesana bukan untuk bersenang-senang dengan keluarga s*ialan itu. Tapi untuk memberikan info detail tentang isi rumah itu. Tapi kau justru melawan ku secara terang-terangan," ucap pria diseberang sana.
Clasy tampak terisak, tangan kanannya mengepal kuat. "Bertahanlah Clasy, bertahan. Ini demi orang yang kau sayangi," benak Clasy.
"Maaf Tuan saya lalai dalam tugas saya. Saya berfikir jika tuan Rhadika dan Levi bersama, anda akan sulit bergerak dan menembus pertahanan mereka," jawab Clasy mengusap bersih air matanya.
"Cih, siapa kau berani menasehati ku. Sampah seperti mu hanya anjing peliharaan untuk menggigit musuhku. Apa kau pikir derajatmu lebih tinggi dari seekor anjing peliharaan. Ku ingatkan sekali lagi, kartu as mu kupegang.
Jika sekali lagi kau tidak memberi info tentang nyonya mudamu, kau tau bukan apa yang bisa kulakukan," seru pria diseberang sana sambil menunjuk kearah orang yang sedang di tempeli beberapa selang yang membantu orang tersebut untuk bertahan hidup.
Clasy mengepalkan tangannya namun tak berani menunjukkan dihadapan lawan bicaranya. "Baik Tuan, saya mohon jangan menyakitinya. Akan saya lakukan apapun yang anda perintahkan," jawab Clasy dengan tenang.
"Cih, memang seharusnya!"
Pria diseberang sana langsung mematikan panggilan tersebut. Clasy meremas kuat ponselnya. Dia menghempaskan seluruh benda yang ada didepannya. Seperti orang gila yang tidak mendapakan keinginannya.
"Bertahanlah Clasy, kamu bisa," ucapnya sambil duduk dilantai kamar mandi kecilnya. Ia menangis dengan membenamkan kepalanya di antara kedua lututnya.
"Nyonya begitu baik padaku hiks... tapi mengapa keadaan selalu memaksaku. Apa yang harus kulakukan? Apa aku bisa bertahan menjadi orang egois demi menyelamatkan diriku sendiri dan mengorbankan orang lain?" isaknya dibanjiri air mata.
Thank you π