
LIKE, KOMEN, SAMA FAVORITNYA MAK AGAR SELALU MENDAPATKAN NOTIFIKASI UPDATENYAπππππ
Pagi hari tiba menampakkan cahaya jernihnya. Media sosial di Spanyol digemparkan oleh berita simpang siur tragedi penembakan pemilik perusahaan raksasa di negara mereka. Banyak yang mengatakan bahwa salah satu pria terkaya pemilik gedung itu sedang sekarat karena kehabisan darah. Ada juga yang mengatakan bahwa pria kaya itu sudah mati.
Bagaiman tidak? Berita tentang pria sukses itu sudah tersebar bahwa perusahaannya hanya diurus oleh sang asisten dibantu bawahnya yang lain. Berita itu memuat bahwa pemilik Ra Company tidak bisa bekerja selama sebulan. Namun tidak ada berita yang valid tentang keadaan tokoh utama yang trending dimedia sosial saat ini.
Seorang pria tua yang sedang menonton Televisi melempar kan asal remot TV yang ada ditangannya, lalu meraih ponsel dimeja yang berada didepannya. Wajah tuanya terlihat marah bercampur menyaksikan berita receh tadi.
"Bagaimana keadaan pria itu?" tanyanya. "Aku tidak tau Dad, mata-mata ku disana belum memberi informasi," jawab pria itu.
"Bodoh, sampah macam apa lagi yang kau kirim kesana. Tidak becus!" Pria tua itu langsung mematikan sambungan teleponnya.
Pria yang disebut bodoh diseberang sana mengumpat pria yang menyebut nya bodoh.
"S*ialan, jika bukan ingin menguasai klan, sudah kubunuh pria tua bau tanah itu."
**
Pagi cerah yang menyinari bumi seakan mendukung keadaan yang menegangkan dirumah belakang mansion Browns. Belum acara pembukaan ataupun buka suara, para pelayan sudah keringat dingin termasuk paman Vill karena ditatap tajam oleh asisten tuan mereka.
Max, dia disana memperhatikan satu persatu pelayan yang mengelilinginya. Tatapan tajam nya jatuh pada salah satu wanita yaitu pelayan pribadi sang nyonya. Levi juga menatap sinis kearah wanita itu.
"Apa benar yang dikatakan Levi bahwa wanita polos ini adalah penghianat nya. Tapi dia terlihat tenang, tidak seperti yang lain seakan mereka merupakan pelakunya," batin Max menatap lekat kearah wanita itu.
Wanita yang ditatap oleh Max dan Levi adalah Clasy. Sedangkan wanita itu mulai salah tingkah melihat kearah Max. Sedangkan baginya tatapan adik tuannya sekaligus sahabat pria yang menatap lekat dirinya, itu sudah biasa. Clasy selalu merasa waspada terhadap Levi.
"Apa kalian tau ada seorang atau bahkan lebih penghianat di mansion ini?" Para pelayan yang mendengar itu sontak semuanya terkejut. Mereka pikir telah melakukan kesalahan besar hingga dikumpulkan ditempat ini, ternyata ada penghianat diantara mereka. Bahkan semua pelayan diruang utama mansion dipindahkan ke ruang belakang karena ada penghianat.
Clasy yang mendengar itu, jantungnya berdetak lebih cepat. Sama seperti pelayan lainnya, dia mulai gugup. Tingkah pelayan pribadi nyonya rumah ini tidak lepas dari pandangan Max.
"Saya akan bertanya sekali dan ini untuk pertama dan terakhir kali. Jika mengaku dengan sendirinya, mungkin akan diampuni nyawanya. Namun sebaliknya, jika saya sendiri yang menemukannya, maka Kakak ku sendiri yang akan menghabisnya. So, who? Siapa diantara kalian," ucap Levi panjang lebar menatap tajam satu persatu pelayan beserta pengawal yang sebelumnya berada di mansion bagian depan.
Tidak ada satupun orang yang berkutik dan berbicara membuat Levi tersenyum iblis. "Baiklah, jika tidak ada yang mengaku. Semuanya keluarkan ponsel masing-masing dan letakkan di meja ini!" perintah Levi.
Semua pengawal dan pelayan yang berjejer disana mengeluarkan ponsel masing-masing. Clasy juga mengeluarkan ponselnya dengan enggan. Hal ini semakin membuat pria muda disana semakin yakin dengan dugaannya.
Ponsel yang sudah terletak disana mulai diperiksa satu persatu oleh pengawal kepercayaan Levi dan Max. 30 menit berlalu, ada dua ponsel yang diletakkan terpisah dari yang lain.
"Yang merasa ponselnya selain yang dua bagian yang saya pegang, silahkan ambil dan keluar dari ruangan ini! Levi buka suara dan mengamati dua ponsel ditangannya.
Setelah para pelayan mengambil ponselnya masing-masing, tertinggal dua orang disana. Satu pria yang ternyata adalah pengawal gerbang depan dan terbilang masih muda dan satu wanita yang ternyata adalah Clasy pengawal pribadi nyonya rumah ini.
Levi tersenyum sinis kearah wanita yang berdiri disana. "I got you," batinnya. Levi menyerahkan ponsel biru langit milik wanita itu ke tangan Max. Dia tidak sudi memegang barang wanita yang sok polos itu. Dan lebih memilih ponsel pengawal yang sedang gemetaran disana.
Levi memeriksa ponsel ditangannya. Satu yang menarik perhatiannya dari ponsel itu, beberapa panggilan tak terjawab tepat dihari kejadian penembakan di pesta itu.
"Aku pasrah, aku lupa menghapus log in panggilan pria s*ialan itu," ucap Clasy dalam hatinya ketika melihat asisten sang tuan yang menatap lekat kearah ponselnya.
Sedangkan Levi tangannya beralih menekan kotak masuk ponsel ditangannya. Rahang nya mengeras melihat isi pesan itu. Ia kembali menelusuri keseluruhan isi ponsel.
Dan terakhir ia menekan nomor telepon itu namun tidak aktif. Levi tiba-tiba berdiri dan melayang kan bogeman mentah kearah pengawal yang awalnya berdiri tegak sebelumnya.
"Bre*ngsek. Jadi ternyata kamu. Akan kuhabisi kau! Seret pria ini ke ruang penyiksaan." Pria itu jatuh tersungkur dan mengeluarkan darah segar dari mulutnya.
Pengawal dengan sigap melaksanakan perintah tuannya. Levi juga ikut keruang penyiksaan dan meninggalkan Max bersama Clasy disana.
Melihat Levi bersama pengawal pergi keruang penyiksaan, Max berdiri dan melangkah pelan tapi tegas kearah Clasy. Wanita itu yang melihat wajah tegas dan tatapan tajam pria didepannya berjalan mundur mengikuti langkah kaki pria didepannya.
Clasy yang merasa sudah mentok di ding-ding merasa gugup karena pria didepannya semakin mendekat kearah nya.
Max mendekat dan sangat dekat kearah Clasy. Merasa Clasy yang gugup Max tersenyum iblis. Tangannya terangkat dan mencengkeram kuat rahang wanita didepannya. Lama dan semakin lama, tangan itu semakin kuat mencengkram kuat rahang nya.
"Tu... tuan sakit. To...long lepaskan Tuan." Clasy sangat susah untuk mengucapkan kalimat nya karena cengkraman kuat pria didepannya. Max semakin tersenyum iblis disana.
**
Dikamar pribadi Rhadika Browns, wanita yang semalam tidak bisa tidur nyenyak mulai terganggu dengan cahaya matahari yang masuk melalui jendela kamar transparan milik mereka.
Wanita itu bangun dengan wajah bantalnya. Rambut kusut dipadukan dengan wajah khas bangun tidurnya. Bola matanya masih samar melihat kearah jam ding-ding. Dia ingin meraih ponsel dengan mata masih buram, namun tak sengaja tangannya menyenggol punggung suaminya yang terluka.
Sejak tekena tembakan, karena luka itu, suaminya bertelanjang dada ketika tidur sehingga letak luka itu terlihat jelas dimana posisinya nya.
"Tidak sakit?" Ros bertanya pada dirinya sendiri. Kain kasa itu terlihat sudah terlihat tidak beraturan. Mungkin karena suaminya gresek tidur tadi malam. Namun anehnya, luka itu tidak berdarah sedikit pun.
"Biasanya luka baru yang tersenggol atau terkena benturan sedikit saja pasti langsung berdarah. Luka ini juga kenapa semakin sedikit. Apa bisa luka sembuh dalam semalam?" Ros mengucek matanya agar bisa lebih jelas melihat luka yang mengecil itu.
Dia mengambil air minum yang ada dimeja nakas, meneteskannya sedikit ke luka yang sudah mengecil dalam semalam. Ia membuka kain kasa itu pelan dan mengusapnya pelan. Suaminya yang sedang tertidur tidak merasakan sakit sedikit pun, lalu wanita yang sedang diambang kebingungan itu mengusap lebih keras. Luka itu semakin lama semakin habis.
Wajah Ros yang sedang bingung tadi menjadi marah. Dia juga mengambil ponsel suaminya, tidak memiliki sandi memudahkan Ros mengutak atik isi ponsel suaminya.
Matanya membola melihat perintah suaminya pada paman Vill dan Odion. "Bahkan Levi juga ikut? Awas kau Levi s*ialan," batin Ros menatap tajam kearah suaminya yang masih tidur telungkup.
Ros pergi keruang walk in closet. Mengambil beberapa dasi suaminya. Dengan kesal naik kearah tempat tidur
Dengan kasar, Ros membalikkan tubuh suaminya. Meskipun sangat susah tapi karena amarahnya dia menjadi kuat.
Pria yang dibalikkan badannya dengan kasar membuka matanya pelan dan samar melihat seorang wanita sedang duduk diatas perutnya. Tangannya diikat kasar, kuat ke besi ranjang milik mereka.
"Apa yang kau lakukan Baby?" Wanita yang ditanya tersenyum smirk diatas perut telanjangnya.