
"Clasy, jaga Kakak ipar ku dengan baik. Jika ada sesuatu yang terjadi kabari Darren atau kau bisa menghubungi ku," ujar Levi dengan datar. Pria itu masih sama seperti dulu tidak menyukai pelayan kakak iparnya ini.
"Sebentar lagi Darren juga akan datang, dia hanya berkeliling sebentar untuk memeriksa beberapa bangsal di rumah sakit ini," jelas Levi.
"Baik Tuan," jawab Clasy menunduk namun tidak ditanggapi oleh Levi. Clasy hanya bisa maklum melihat sifat ipar nyonya mudanya.
Levi bergegas keluar dari ruangan itu, kemudian dia mengambil ponselnya. "Bagaimana, apakah semuanya sudah berkumpul di ruang meeting?"
"Ya, mereka sudah disana, maaf aku tidak bisa menemani mu. Aku juga harus tetap stay di samping kakak ipar nanti," jawab Darren di sana sambil menulis data-data pasien.
"Baiklah, setelah pekerjaan mu selesai, jangan lupa langsung ke ruangan kakak ipar! Aku tidak terlalu percaya dengan wanita itu."
"Baik" jawab Darren. Kini mereka akan kembali sebagai anggota dari AX Company, terutama Levi. Di sebelah tangannya di memegang laptop yang berisi modal untuk bermain dengan para tikus yang tidak tau diri di perusahaan kakaknya.
Dia menggunakan mobil lamborghini, kali ini adalah mobil milik Levi yang di beli dengan harga tinggi. "Let's play the game," batin Levi tersenyum smirk.
Sesampainya di perusahaan Ax Company, dia disambut heran oleh para penghuni perusahaan. Mereka berpikir bahwa yang akan mengambil alih perusahaan adalah pria muda tersebut.
Mereka sangat yakin, karena mereka tau siapa pria itu. Sahabat dari pemilik perusahaan yang mereka tempati.
Levi berjalan dengan wajah cool beserta wajah dinginnya. Dia menaiki lift khusus CEO. Setelah sampai di lantai atas, tanpa mengulur waktu Levi langsung bergegas ke ruang rapat. Disana semua pemegang saham perusahaan sudah hadir dan menunggu orang yang menyelenggarakan rapat.
Awalnya para pemegang saham perusahaan kaget melihat orang yang datang. Sama seperti karyawan lainnya, para pemegang saham berpikir apakah pria muda Asia nan tampan ini yang akan menjadi pimpinan mereka.
"Baik, sebelum memulai rapat apa ada yang ingin bertanya?" tanya Levi sebagai awal pembukaan rapat. Dia tetap setia dengan wajah datarnya.
"Saya tuan. Saya ingin bertanya apakah anda yang akan mengambil alih perusahaan Ax Company dan akan menjadi pemimpin baru?" tanya pemegang saham A.
Levi tersenyum tipis mendengar pertanyaan itu. "Apa ada yang lain?"
"Saya Tuan. Belakangan ini, saya mendengar isu bahwa perusahaan ini sudah ganti pemilik dan itu di setujui oleh Tuan Rhadika," tanya pemegang saham B.
"Apa kau memiliki bukti yang valid?" Pemegang saham B itu langsung diam tak berkutik. Ruangan yang sudah dipasang oleh AC itu tiba-tiba menjadi panas.
Tekanan yang diberikan oleh Levi begitu mengintimidasi pengisi ruangan rapat. Bagaimana tidak pertanyaan yang diberikan di jawab dengan pertanyaan juga.
"Jangan membawa yang namanya isu ke dalam perusahaan ini. Apa kau pikir perusahaan ini kecil hingga kau membawa isu ke sini. Bagaimana jika isu yang keluar dari mulut mu tersebar ke luaran sana. Apakah kau ingin bertanggung jawab atas kerugian perusahaan nantinya?"
Pemegang saham B hanya menunduk tidak bisa menjawab. "Baik, saya juga akan menyampaikan tujuan saya berada di sini saat ini." Levi berdiri dan mulai menyalakan laptopnya dan menyambungkan ke proyektor.
"Saya di sini sebagai pengganti sementara pemimpin kalian. Saya disini sebagai CEO pengganti sementara. Tidak ada perpindahan kekuasaan atau semacamnya. Jadi, jangan mengatakan isu yang bisa merugikan kalian." Levi berdiri dan mulai berjalan mengelilingi ruangan rapat itu.
"Saya mendengar anda ingin menjual saham anda dengan harga murah ke pasar saham di luaran sana?"
Levi menepuk-nepuk bahu pria yang sedang membelakanginya. Suara pria itu juga terdengar berat seperti sedang melempar tombak ke jantung orang yang sedang di interogasinya.
"Ma...af Tu...an. Saya ha...nya mengantisipasi jika terjadi sesuatu yang bisa merugikan saya," jawab pria itu dengan gugup. Satu yang sedang di interogasi, pemegang saham lainnya menunduk dan instrospeksi diri.
Levi kembali ke kursinya. Dia menekan tombol di laptopnya, sebuah foto laki-laki dan perempuan muda terlihat sedang berc*umbu disana. Pria tadi gelagapan dan langsung berlutut.
Levi tersenyum licik di sana. "Tuan, saya mohon. Ampuni saya, saya tidak akan mengulangi kesalahan seperti ini lagi," ucap pria itu.
Inilah yang ditunggu-tunggu oleh Levi. Orang yang awalnya bertindak di luar batasan kini sedang memohon dan berlutut untuk minta di ampuni.
"Bagaimana jika istri dan anakmu melihat ini. Hmmm, apakah kau akan langsung di buang? Aku dengar istri mu adalah pengusaha terkenal di bidang kecantikan," seru Levi terlihat berpikir.
"Tuan saya mohon," ucap pria disana sambil menyatukan tangannya di depan dada. Levi tidak menanggapi pria yang sedang memohon padanya.
"Bukan hanya dia, ini semua adalah peringatan untuk setiap orang yang ada disini. Terutama untuk mu," ujar Levi menunjuk pemegang saham B.
"Aku tau, kau adalah dalang dari penjualan saham yang terjadi." Levi sudah mempersiapkan hal-hal yang berkaitan dengan pemegang saham saat di ruangan kakak iparnya. Dia tidak hanya fokus pada satu hal, tapi banyak hal yang harus dipikirnya.
Kemudian Levi mengganti satu persatu gambar yang berada di laptopnya. Semua foto dan file yang ditunjukkan oleh Levi adalah kebusukan dari orang-orang yang berada disana, tidak terlewatkan sedikitpun.
"Apa ada orang yang ingin menjual sahamnya kembali," tanya Levi duduk di kursi yang biasa di duduki oleh kakaknya. Tidak ada yang berkutik dan buka suara, semuanya Dian dan menunduk.
"Cih, dasar penjilat. Jika kebusukan kalian tidak ingin ku publish, setiap satu persen dari saham yang kalian miliki aku akan ambil alih. Jika ada yang komplain dan tidak terima akan berhadapan langsung dengan saya" ucap Levi kemudian berdiri dan mengambil laptopnya.
Dia berjalan keluar dari ruangan yang menurutnya sangat membosankan. "Dasar bodoh, kalian pikir dengan kejadian ini kalian akan mendapatkan keuntungan? Seorang Levi harus selalu mendapatkan keuntungan," batin Levi.
Tiba-tiba ponsel Levi berdering. Levi melihat sebentar ke arah nama si penelepon.
"Ada apa?" tanya Levi datar. "Tuan, nyonya baru saja sadar. Nyonya memaksa ingin pergi. Tuan Darren sedang menahan nyonya." Clasy di sana berbicara sambil menangis.
"Baik, aku akan segera ke sana. Kunci pintu dan jangan biarkan Kakak ipar keluar dari sana!" Setelah mengatakan itu, Levi berlari dengan tergesa-gesa. Para karyawan dan karyawati heran melihat pria muda yang akan menjadi pemimpin mereka.
Levi langsung memasuki mobil dan meninggalkan perusahaan. Tanggung jawab nya saat ini sungguh besar.
"Jika kau kembali kak, kau harus membayar jerih payah ku," seru Levi sambil mempercepat laju mobilnya.
Sesampainya di rumah sakit, Levi berlari dari pintu depan rumah sakit. Dia tidak peduli lagi tentang aturan parkir rumah sakit.
Levi yang sudah sampai di pintu mendengar suara teriakan dan barang-barang yang dilempar. Pria muda itu langsung menggedor pintu dan dibukakan oleh Clasy.
Ros yang melihat adik iparnya datang, dia langsung menuju Levi. "Bagaimana Levi, apa sudah ada kabar dari suamiku?" Levi melihat kakak iparnya sebentar dan mengamati kembali ruangan itu.
Levi yang melihat keadaan kakak iparnya, hatinya sangat sedih. Pakaian ala pasien itu sudah tidak teratur lagi, wajah basah yang di tempeli beberapa rambut basah, rambut yang berantakan.
Levi langsung memeluk kakak iparnya dan itu sukses membuat air mata wanita yang ada dalam dekapannya semakin mengalir lebih deras.
Levi juga merasa bersalah, dialah yang seharusnya pergi waktu itu, agar ketika bangun kakak iparnya bisa langsung mendapatkan dekapan hangat dari orang yang dicintainya.
"Kakak ipar, tenang dulu," seru Levi mengurai pelukannya dari Kakak iparnya.
"Hiks... bagiamana aku bisa tenang jika suamiku saja aku tidak tau bagaimana keadaannya. Dia berjuang untuk ku di luaran sana hanya untuk menyelamatkan nyawaku. Sedangkan aku disini hanya duduk dan menikmati kesembuhan ku. Bukankah aku terlalu jahat?" ucap Ros menunduk sedih.
"Jika kakak ipar pergi dan ingin menyelamatkan kakak di luaran sana, apa kakak ipar bisa bertahan dengan keadaan lemah seperti ini? Dan jika suatu saat nanti kakak pulang dan melihat Kakak ipar lemah seperti ini, apa Kakak nanti akan senang? Justru dia akan merasa menjadi seorang suami yang paling tidak berguna kakak ipar. Aku mohon mengerti lah."
Clasy dan Darren yang juga ada disana terharu melihat kekompakan adik ipar disana. Ros lah yang seharusnya bersikap dewasa dibandingkan Levi. Tapi pria muda disana sangat mengerti dalam memahami situasi dan keadaan.
"Jadi jika aku sembuh, aku bisa mencari suamiku?" tanya Ros menatap Levi. Yang ditanya berjalan mendekat dan merapikan rambut kakak iparnya.
"Setelah Kakak ipar sembuh kita bisa mencari Kakak sesuka Kakak ipar. Tapi percayalah, kakak bukan orang lemah. Kita hanya menunggu saja, kita hanya berperang dengan waktu saja. Jika kakak ipar sembuh, maka Kakak juga akan senang dan usahanya tidak akan sia-sia," seru Levi. Tangannya tidak berhenti untuk memperbaiki rambut dan menghapus air mata kakak iparnya.
"Baiklah, dan jika dia tidak datang sampai besok aku akan marah padanya," ucap Ros sambil tersenyum tipis. Dia melihat wajah adik iparnya juga yang sangat lelah. Lingkaran hitam di matanya nampak terlihat jelas.
Ros menjadi serba salah. Dia merasa sangat egois dan tidak memikirkan hal lain yang lebih penting. Di tersenyum agar adik iparnya tidak terlalu memikirkan kondisinya.
Ditengah pikiran keempat orang yang sedang beradu argumen dengan pikirannya sendiri, dering ponsel Levi memecahkan keheningan.
"Dari siapa?" tanya Ros berharap.
"Dari perusahaan. Tunggu sebentar, dan kau Clasy panggil pihak kebersihan rumah sakit. Jangan terlalu banyak."
Levi keluar dari ruangan itu. "Bagiamana Odion, apa kau mendapatkan petunjuk?" tanya Levi to the point sambil melihat ke arah pintu ruangan kakak iparnya. Dia takut kakak iparnya akan mendengar informasi yang belum pasti ini
"Belum pasti Tuan, tapi saya melihat ada satu petunjuk panggilan darurat dari milik Tuan Rhadika. Tapi saya juga belum bisa memastikan apakah itu jebakan musuh atau benar-benar kode dari tuan Rhadika."
Jangan lupa likenya ππ
Horasπ