Mafia Boss Little Wife

Mafia Boss Little Wife
Part 83



Clasy yang mendengar ucapan Max langsung melepaskan pelukan di pinggangnya. Dia kemudian berdiri tegak dan berdiri dengan stabil di atas ring kedua kakinya.


"Maaf Tuan, saya tadi tidak sengaja," jawab Clasy sambil menunduk. Max tersenyum melihat tingkah wanita yang ada di depannya.


"Tidak ada yang tau isi hati mu," seru Max acuh lalu berjalan ke arah pintu masuk rumahnya. Clasy yang mendengar itu merasa seperti di tuduh menjadi seorang wanita penggoda.


"Tuan saya benar-benar tidak sengaja tadi," jelas Clasy sambil mengejar langkah panjang pria didepannya. Dia mengatakan itu dengan lantang, karena dia memang tidak sengaja. Max tersenyum tipis mendengar penjelasan wanita dibelakangnya yang berusaha memberikan penjelasan.


Sesampainya mereka di ruang tamu, Clasy nampak melihat desain rumah itu. Klasik tapi mewah, nuansa alam terlihat menjadi desain utama vila ini membuat hati menjadi lebih nyaman.


"Duduklah, aku akan memakai pakaian ku," ujar Max dan diangguki oleh Clasy. Clasy nampak duduk sebentar di sofa mahal itu. Namun lama kelamaan dia merasa bosan juga.


Dia berdiri dan melihat lukisan-lukisan di rumah itu. Clasy yang tidak mengerti dengan seni lukis hanya melihat sekilas dan tidak terlalu tertarik. Ada satu yang dicari-carinya sedari tadi. Foto pemilik vila ini tidak ada sama sekali.


Bahkan dia sudah menelusuri setiap sudut ruang tamu, namun Clasy sama sekali tidak menemukan foto apapun.


Kemudian Clasy berjalan ke arah dapur. Bersih seperti dapur wanita profesional biasanya. Clasy sejak tadi memperhatikan se isi vila, namun tidak menemukan satu pun pelayan yang menampakkan wajah.


"Apa dia bisa memasak?" tanya Clasy pada dirinya sendiri. "Apa kau belum sarapan?" tanya Max tiba-tiba masuk ke dalam ruang dapur.


Clasy mengangguk dan kemudian buka suara. "Maksud saya sudah Tuan, saya sudah sarapan di mansion," jawab Clasy yang sekarang berada tepat di depan wastafel.


Max yang melihat kegugupan wanita itu langsung berjalan perlahan dan mendekat hingga mengunci pergerakan Clasy. Wanita itu sejak tadi sudah mundur, tapi langkahnya selalu diikuti oleh pria didepannya. Bahkan wanita yang menampakkan tulang selangkanya itu mulai terlihat lebih gugup.


Kini posisi keduanya termasuk dalam kategori intim dimana posisi Max adalah dominan.


"Jadi apa tujuan mu datang ke sini?" tanya Max sambil mendekatkan wajahnya pada Clasy. Max benar-benar ingin mencari kebenaran di wajah cantik wanita di depannya.


"Sa... saya hanya ingin menanyakan kabar anda Tuan?" seru Clasy dengan gugup. "Apa hanya karena itu?" Max semakin mendekat dan membuat wanita itu semakin merendahkan punggungnya ke belakang.


"Benar Tuan, saya datang kesini hanya untuk menanyakan kabar anda. Sama seperti yang anda lakukan pada saya waktu dimana saya terkena tembakan peluru," jawab Clasy apa adanya.


"Wanita ini kenapa sangat jujur," batin Max. Dia berharap wanita itu mengatakan hal lain sejenis rasa khwatir atau semacamnya atau basa basi lainnya mungkin. Dengan kesal Max bergerak dari posisi menghimpitnya.


"Seperti yang kamu lihat, aku sekarang baik-baik saja," jawab Max keluar dari ruang dapur. "Jika begitu saya izin pergi Tuan. Anda juga baik-baik saja. Saya juga harus ke rumah sakit untuk menemani nyonya," seru Clasy.


"Kita akan pergi bersama, aku juga ingin ke rumah sakit," seru Max mengambil jas formalnya. Dia tau keadaan perusahaan pasti sudah mulai tidak seimbang.


Levi pastinya akan mulai lepas tanggung jawab karena melihat kehadirannya. Bukan tipe pria muda itu untuk mengemban tanggung jawab perusahaan jika sudah ada yang selalu menghandlenya.


Clasy mengangguk dan mengikuti perintah Max. Kedua orang itu terlihat memasuki mobil dengan Max sebagai drivernya.


Clasy nampak gugup, sedangkan Max biasa saja. Dia mengemudikan mobil itu dengan wajah tenang. Wajah datar yang sedingin es yang tidak akan pernah cair itu sudah kembali seperti semula. Dan itu adalah hal yang membuat Clasy semakin terpana. Berbeda halnya saat di gunung kemarin. Max berubah seratus delapan puluh derajat menjadi seorang ibu dipasaran.


Sesampainya di rumah sakit, Max turun bersama dengan Clasy membuat seorang pria yang ingin memasuki pintu rumah sakit terlihat mengernyitkan dahinya.


Dia adalah Darren si jas putih. "Wow, wow, lihat siapa yang datang. Pasangan baru yang serasi," seru Darren sambil bertepuk tangan.


Darren terlihat mendekati Max. Jiwa kepo seorang dokter muda itu mulai keluar. "Max, sejak kapan?" bisik Darren di telinga Max berniat menanyakan kapan hubungan mereka mulai berjalan.


"Bagaimana keadaan nyonya dan tuan?" tanya Max dan mengabaikan pertanyaan sahabat keponya tadi.


Darren menghela napas sambil mengikuti langkah Max, begitu juga Clasy yang berada di belakang.


"Mereka baik-baik saja, tapi keduanya tidak memberikan kabar setelah Rhadika memasuki ruang rawat kakak ipar," jawab Darren.


"Biarkan mereka disana. Jangan ada yang menggangu sampai salah satu dari mereka memanggil kita." Max sudah menebak dalam hatinya apa yang sedang dilakukan oleh pasangan suami istri itu.


Sembari tuannya menunggu keluar dari ruangan itu, Max bersama Clasy dan Darren menuju ruang kerja Darren.


"Jadi, bagaimana? Apakah luka tuan termasuk parah? Perkiraan berapa lama akan sembuh. Kau tau bukan, dia paling tidak suka menunggu untuk waktu yang lama," tanya Max secara beruntun.


"Tidak terlalu parah. Minggu depan dia sudah bisa berjalan normal namun belum bisa melakukan hal berat dulu seperti berlari, atau melakukan aktivitas yang memberatkan kakinya."


"Baiklah," ucap Max. Ditengah perbincangan mereka seorang perawat nampak membuka pintu kerja Darren dan memberitahukan ada pasien darurat yang harus ditngani oleh Darren.


"Saya akan segera datang ke sana." Darren terlihat bersiap-siap untuk melakukan kegiatan rutinnya.


"Aku pergi dulu, jika nanti kakak ipar datang, hubungi saja," seru Darren lalu keluar dari tempat itu.


Clasy disana kembali merasa canggung karena hanya tinggal mereka berdua di ruang kerja Darren.


Max nampak memegang iPad nya dan terlihat fokus pada benda pipih besar itu. Sedangkan Clasy yang melihat visual Max saat ini seperti idaman saja yang ingin siap di mangsanya.


"Apa kau akan berdiri seperti patung disana?" tanya Max namun fokusnya tetap pada iPad di depannya. Clasy langsung sadar dan duduk di sebelah Max. Dia penasaran apa yang di kerjakan oleh pria itu.


Namun otak Clasy hanya masuk hingga rata-rata saja sama seperti Ros. Angka-angka di depannya terlihat memusingkan. "Kau tidak akan mengerti jika hanya menggunakan otak bodoh mu ini," seru Darren menatap ke arah Clasy.


**


"Baby, sebenarnya kau melakukannya dengan sepenuh hati atau tidak?" kesal Dika ketika melihat istrinya sangat lamban memainkan miliknya. Satu memegang ponsel dan satu lagi bekerja di bagian miliknya.


Kegiatan utama Ros adalah melihat vidio-vidio singkat seperti biasanya dan tugas sampingannya adalah melakukan perintah suaminya.


"Kau pikir aku ini tukang pijat yang mempunyai keahlian lebih. Kau pikir tangan ku tidak pegal. Hampir lima belas menit," kesal Ros tetap menaik turunkan jarinya di milik sang suami.


"Aku sudah mengatakan lebih cepat dan lebih nikmat dengan mulut mu saja atau dengan gua sempit mu. Tapi kau keras kepala dan memilih jalur yang lama."


"Kau, otak mesum. Jorok, aku tidak mau memasukkan nya ke dalam mulut ku. Mana muat, dan itu sangat kotor," jawab Ros.


Dia sangat kesal dengan suaminya. Sudah sakit tapi masih meminta untuk olahraga pagi. Ros tidak ingin mengambil resiko meskipun suaminya sudah berusaha membujuknya dengan mengatakan akan melakukannya dengan pelan-pelan, hati-hati dan lembut.


Namun Ros menolaknya dan Dika yang tidak adalah seorang pebisnis juga tidak ingin kalah pun membuat sebuah penawaran.


Dia masih sangat kesal dengan ucapan suaminya yang tercetak jelas di ingatannya.


"Baby, aku ingin kita melakukan olahraga pagi, bolehkah?"


"Tidak, kita berdua sama-sama sakit dan tidak boleh melakukan itu untuk saat ini. Saat sudah sembuh saja, kau bisa melakukannya semaumu," jawab Ros.


"Tapi aku sudah tidak tahan. Baiklah, jika kau tidak mau aku akan memanggil perawat seksi Darren." Ros tidak bisa melawan lagi. Dia berdalih bahwa kepalanya sakit sehingga membuat pria itu membuat tawaran untuk bermain dengan tangan istri kecilnya.


"Lebih cepat Baby," seru Dika. Sesuai dengan perintah, Ros yang sudah kesal tetap menuruti permintaan suami mesumnya.


Akhirnya Dika mengeluarkan lahar miliknya di lantai bathroom. Sebenarnya Ros menyayangkan benih itu, tapi dia juga tidak ingin mengambil resiko untuk keduanya.


"Baby, kau hebat," seru Dika sambil mengangkat jari jempolnya. Res membersihkan bekas benih suaminya dan membantu keluar dari bathroom.


"Aku sudah bosan di sini, aku ingin keluar," seru Dika kembali berdiri dari ranjang. "Tunggu disini, aku akan mengambil kursi roda," seru Ros.


"Tidak perlu, aku menggunakan tongkat saja." Mata Ros tampak memicing ke arah Dika. "Jika ku katakan memakai kursi roda, kursi roda saja."


"Tapi Baby, itu tidak perlu. Ini saja sudah bisa."


"Aku tidak menerima penolakan."


Dika hanya pasrah saja, istrinya itu sudah mulai meniru sifatnya yang tidak ingin dibantah. Setelah melihat istrinya keluar dari pintu Dika menghela napas.


"Sepertinya sebentar lagi, aku akan turun jabatan dari seorang suami menjadi seorang istri," seru Dika merebahkan dirinya kembali.


Ros berjalan ditemani para pengawal, tujuannya saat ini adalah ruangan Darren. Dia juga ingin bertanya tentang keadaan suaminya. Ketika hampir sampai di depan ruang kerja Darren seorang perawat nampak berjalan ingin melewati Ros.


"Permisi, apa dokter Darren ada di dalam?" tanya Ros dengan sopan. Perawat yang melihat orang penting didepannya langsung menunduk hormat kemudian memberitahukan keberadaan Darren.


"Tuan Darren ada di bangsal X Nyonya. Sepertinya ada pasien darurat tadi. Mungkin sekitar lima atau sepuluh menit lagi sudah selesai," jawab perawat itu lalu pergi meninggalkan wanita terhormat itu disana.


Ros berniat menunggu Darren di ruang kerja pria itu saja. Waktunya juga hanya menunggu beberapa menit lagi.


Saat Ros akan masuk, dia melihat ada dua orang yang berada di atas ranjang pasien Darren sambil menutup diri dengan selimut pasien.


Dua orang disana terlihat bergerak tidak beraturan di atas ranjang itu. Ros menutup mulutnya dan keluar secara perlahan agar tidak menggangu orang yang sedang beraktivitas di sana.


Ros langsung dengan cepat berjalan ke arah ruangan di mana suaminya berada. Pikiran wanita itu melayang-layang saat ini memikirkan dua orang yang berada di ruang kerja Darren. Bahkan dia berpikir, siapa orang yang berani melakukan hal tidak senonoh itu di ruangan petinggi di rumah sakit ini.


Pemegang jabatan tertinggi di rumah sakit ini adalah Darren yaitu sebagai direktur rumah sakit.


"Sayang kau tau? Tidak, tidak, berikan dulu ponsel mu. Ada keadaan gawat darurat. Bahkan ini sangat menakjubkan," seru wanita itu sambil mengambil ponsel suaminya yang disodorkan ke depannya.


Dika awalnya ingin buka suara, tapi melihat sikap istrinya Dika memilih untuk diam saja.


Dia menekan nomor Darren. Belum sempat pria disana berbicara karena kesal di ganggu saat bekerja, Ros terlebih dahulu menyerocos tidak sabaran.


"Darren cepat ke ruangan ku sekarang! Ada keadaan yang sangat darurat." Ros langsung menutup sambungan telepon itu lalu menarik napas.


Mendengar suara wanita di seberang sana, Darren langsung bergegas dan mengalihkan pekerjaannya pada dokter disampingnya.


"Sial, jangan sampai karena olahraga pagi mereka aku lagi yang harus jadi korban," seru Darren sambil berlari di koridor rumah sakit.


Jangan lupa likenya πŸ˜ŠπŸ‘πŸ‘


HorasπŸ‘