Mafia Boss Little Wife

Mafia Boss Little Wife
Siapa Penghianatnya?



LIKE, KOMEN, SAMA FAVORITNYA MAK AGAR SELALU MENDAPATKAN NOTIFIKASI UPDATENYA๐Ÿ˜Š๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘


"Kau salah menargetkan keluarga ku," monolognya setelah melihat jarum kecil tertancap dileher sang sopir truk. Pria itu kembali kedalam mobilnya dimana wajah pucat wanita yang duduk dikursi depan itu masih tercetak jelas.


"Kakak ipar tenang, itu hanya kecelakaan biasa. Kita juga baik-baik saja bukan?" ucap pria muda itu berusaha menenangkan sang kakak ipar. Wanita itu hanya menganggukkan kepalanya dan menarik napas dalam.


Wanita yang masih berwajah pucat itu adalah Ros. Lagi-lagi nyawanya di ambang maut. Jika adik iparnya tidak menghindar dengan cepat mungkin mobil mereka yang akan hancur ditabrak oleh truk besar itu.


Ia memakai masker untuk menutupi seluruh wajahnya ketika sudah sampai didepan gedung pencakar milik suaminya. Ros turun dibantu oleh Levi. Adik iparnya itu memegang pinggang kakak iparnya prosesif layaknya suami istri. Kedatangan mereka tidak diketahui oleh pemilik gedung ini karena perintah wanita yang sedang berjalan memakai masker itu.


Para pegawai yang melihat siapa yang datang, terkejut bukan main. Pria ini juga dikenal sebagai salah satu bisnis man yang paling handal. Kekayaannya memang bisa dikatakan fantastis namun masih belum setara dengan pemilik gedung ini.


Tapi satu hal yang menggangu pemandangan mereka. Wanita yang memakai masker dan dipeluk secara posesif. Para pegawai kantor itu sangat penasaran, siapa wanita yang berhasil meluluhkan kan hati seorang businessman muda itu. Para karyawati merasa iri melihat wanita yang betapa posesifnya pria muda itu memeluk wanita bermasker itu.


Mereka naik menggunakan lift CEO. Pengawal yang melihat siapa yang akan memasuki lift menunduk hormat, mereka tau siapa pria muda didepannya. Sahabat dari bos besar mereka. Itulah yang diketahui para bawahan CEO perusahaan ini.


Setelah lift tertutup, Levi langsung melepaskan pelukan posesif tadi dari Ros. "Kakak ipar, aku tidak mau ketularan," ucap Levi tidak berperasaan sambil membersihkan pakaiannya seperti ada virus.


Ros yang mendengar itu menatap sendu kearah pria muda didepannya. Dia juga jaga jarak dari orang yang tidak ingin dekat dengannya. Ia menunduk sedih meratapi nasibnya.


Pria dengan wajah tampan yang dilift itu, merasa kasihan melihat kakak iparnya sedih. Tapi rasa usilnya mengalahkan rasa ibanya."Ayolah, jangan tanggung. Masalah bogeman mentah urusan nanti," batin Levi. Dia juga sebenarnya merasa takut, tapi jika sudah memulai sebaiknya selesaikan sampai akhir bukan?


Sesampainya di lantai paling atas, Levi langsung mengarahkan kakak iparnya kearah ruangan CEO. Sedangkan Levi langsung menuju ruangan Max.


Ketika Ros ingin masuk terdengar percakapan dari dalam ruangan yang menyita perhatiannya.


"Bagaimana kabarnya Max, apa dia baik-baik saja?"


"Nona baik-baik saja tuan, dan saya dengar beberapa bulan kedepan nona akan pulang."


"Setelah dia pulang atur pertemuan ku dengannya!" Dika terdiam sejenak.


"Felice? Bagaiman dengannya?"


"Baik Tuan. Tentang nona Felice dia dijaga dengan baik oleh Melvin."


Tok Tok Tok


"Max, apa kau tidak memberi tahu pengawal diluar bahwa kita sedang membahas hal penting," rahang Dika terlihat mengeras. Dia pikir Max lalai dengan pekerjaannya


"Sudah Tuan."


"Tapi sia...," "Sayang, boleh aku masuk?" Dika langsung menciut amarahnya. Ia tau suara lembut itu. "Lakukan tugasmu dengan baik Max!" ucap Dika sambil menjentikkan jarinya. Max mengerti apa yang diperintahkan tuannya.


Setelah Max keluar Ros langsung duduk dipangkuan suaminya. Air matanya mengalir tanpa permisi. Entah karena penyakitnya atau sesuatu yang di dengar dan mengejutkan tadi.


"Why? Kenapa Baby," tanya Dika heran melihat istrinya menangis. "Aku...aku akan mati sebentar lagi," ucap Ros menelungkup kan wajahnya kedada bidang pria didepannya.


"Levi mengatakan aku akan mati hiks. Penyakit yang kuderita sangat parah. Dan itu adalah penyakit langka. Perutku akan membusuk, bahkan kakiku akan patah," jelas Ros seperti yang dikatakan Levi.


"Levi? Memangnya dia tau apa tentang masalah penyakit langka? Dia hanyalah seorang ahli racun," monolog Dika.


"Memangnya penyakit apa Baby. Apa kalian sudah pergi kerumah sakit?" Ros hanya menggelengkan kepalanya.


"Lihat, bekas ini begitu banyak diseluruh tubuhku. Bahkan didada dan perutku. Paha sampai daerah milikku juga," ucap Ros dengan sendu sambil menunjukkan bagian-bagian tubuhnya yang seperti lebam itu.


Dika yang melihat itu mengumpat dalam hatinya. "Levi s*ialan, kenapa kau selalu mengerjai kakak iparmu," ucap Dika dalam hati.


Dengan tiba-tiba Dika mengubah posisi wanita dipangkunya. Ros mengangkang didepan suaminya. Tentu saja Ros langsung kaget.


"Sayang?" Ros terkejut ketika suaminya mengubah posisi mereka menjadi lebih intim. Lebih terkejut lagi ketika bibir suaminya mengecap bagian lehernya. Bahkan menyesap lebih dalam. Tanda merah seperti dibagian tubuh lainnya tercetak jelas. Dika langsung mengambil ponselnya dan memotret bekas kec*upannya tadi.


"Lihat baik-baik Baby!" Ros menutup mulutnya tanda tidak percaya. "Jadi..., jadi ini semua ulahmu dan bukan semacam penyakit yang mematikan?" tanya Ros. Tiba-tiba Ros, tanpa pikir panjang langsung membuka satu persatu kancing kameja suaminya.


Sedangkan diruangan Max terlihat dua orang sedang berbicara dengan serius. "Max, kejadian tadi bukanlah kecelakaan normal. Aku yakin itu direncanakan." ucap Levi menatap Max serius.


"Kenapa kau begitu yakin?" Mendengar pertanyaan Max, Levi tersenyum tipis. "Jika orang lain yang melihat itu, pastinya dikatakan kecelakaan biasa. Tadi aku melihat sebuah jarum kecil tertancap dileher belakang nya. Sangat kecil, jika hanya dilihat secara sekilas tidak akan tampak. Mereka pikir bisa mengelabuhi ku?" Levi terdiam sebentar.


"Tapi ada sesuatu yang terselip dalam pikiran ku setelah kecelakaan itu terjadi."


"Apa, apa kau mencurigai seseorang?" Max menerka apa yang dipikirkan oleh adik tuannya itu.


"Exactly. Tebakan mu benar Max. Aku mencurigai seseorang di mansion. Setiap orang itu tidak berada disisi Kakak ipar, pasti terjadi sesuatu pada Kakak ipar. Dan sebaliknya, jika dia disisi kakak ipar, tidak akan terjadi sesuatu," jelas Levi. Dia tidak akan mengatakan sesuatu tanpa bukti yang jelas.


Max semakin bingung. "Siapa, siapa yang selalu disisi nyonya yang menjadi penghianat?"


Levi tersenyum tipis. "Tapi kita harus bermain cantik Max. Kita harus mengumpankan tikus untuk menangkap kucing liar. Kita akan membuat percobaan untuk membasminya."


"Siapa s*ialan. Kau selalu mengoceh tapi tidak memberikan kejelasan." Max kesal bukan main, dari tadi pria yang beda jauh umur darinya selalu membuat nya ingin mati penasaran. Siapa, tapi jawabannya selalu diluar pertanyaan.


Sedangkan di sebuah tempat gelap ada seseorang yang sudah tergeletak lemah di lantai beralaskan keramik mahal. Darah segar terlihat mengalir dari kedua hidungnya.


"Hanya membuat kecelakaan kecil saja kau tak mampu. Apa aku terlalu baik memelihara anjing tak berguna seperti mu. Setiap rencana yang kususun selalu gagal karena kebodohan kalian."


"Ampun Tuan, saya sudah menembak sopir truk itu tepat waktu. Tapi pengendara mobil itu terlalu lihai. Dia bisa menghindar dengan cepat."


Bug


Satu bogeman mentah kembali melayang kewajah pria yang sudah berlumuran darah itu. "Bilang saja kau lemah, tidak perlu memuji bocah s*ialan itu didepanku." Pria yang diklaim bos itu tidak terima jika bocah musuhnya dipuji didepannya. Ia tidak ingin mendengar orang lain lebih kuat darinya.


"Urus pria tak berguna ini. Aku muak mendengar setiap kata kegagalan yang keluar dari mulut semua sampah ini!"


Selamat hari kemerdekaan untuk kita semua๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉMerdeka