
“Bagaimana, apa kau sudah bertemu dengan Wanita itu?” tanya seorang Wanita di seberang sana. “Sudah, aku sudah bertemu dengannya baru saja. Tapi nihil, tidak ada hasil. Sepertinya Wanita itu benar-benar sudah mencintai Rhadika.”
Wanita di seberang sana merasa hatinya menjadi panas. Dia tidak menyangka akan mendapatkan berita seperti ini.
“Bukan hanya itu info yang ingin ku beritahukan ke pada mu. Rhadika sepertinya sudah benar-benar mencintai Rosaline. Dia selalu menuruti apa yang di inginkan Wanita itu. Apa kau ingat bagaiman kita saat bersama Rhadika?”
Informan itu adalah Maura yang telah bekerja sama dengan Wanita masa lalu Rhadika. Sejak dia di jadikan sebagai bahan candaan untuk di gilir para pengawal di markas Rhadika, dia beruasaha mencari unag untuk memulihkan Kembali kecantikan dan kemolekan tubuhnya.
Karena bukan hanya inti tubuhnya yang di jamah para pria itu, namun mereka juga memberikan pelajaran dengannya dengan memeberikan beberapa luka dibagian tubuh lainnya terutama bagian wajhnya. Meskipun tidak separah dengan para tawanan lainnya, tapi bukan bagian dari diri Maura untuk tampil buruk rupa.
Dia awalnya ingin menjadi sugar baby utuk saipapun asalkan mendapatka uang, namun tanpa di sangka ada pesan yang masuk ke dalam ponselnya dan itu adalah Wanita yang saat ini sedang berbicara di telepon bersama dengan dirinya.
Mereka bekerja sama, namun Maura memilih hanya sebagai informan saja, karena dia tidak ingin mencari masalah dengan Rhadika dengan mengincar nyawa Nyonya muda Browns itu.
Mendengar pertanyaan informannya, wanita di seberang sana mengerti apa maksuda dari Wanita itu. Selalu di kekang kemanapun kita pergi, dan dia akan selalu ikut Bersama kita kemanapun kita pergi. Jika tidak, maka pilihan kita hanya tetap bersama Rhadika,” jawab wanita itu.
“Exactly Liliana Vishola, kau tepat sekali. Namun Ros saat ini begitu special di mata Rhadika, sepertinya wanita itu bukan hanya sekedar pelampiasan seperti wanita-wanita sebelumnya termasuk diriku. Hmm, kau sepertinya harus berusaha lebih keras sedikit,” seru Maura tersenyum tipis.
Jika di tanya apakah Maura masih mencintai Rhadika, tentu saja jawabannya adalah ya. Namun, saat ini matanya sudah terbuka lebar-lebar, meskipun rasa cinta itu sudah ada, namun dirinya tidak berani lagi beurusaha untuk mendapatkan itu. Saat ini saja saingannya bukan kaleng-kaleng.
“Aku yakin, wanita itu tidak sekuat seperti wajah yang kau lihat barusan. Mungkin saat ini dia bisa menyangkal, tapi tidak untuk hari esok,” seru Wanita yang dipanggil Liliana oleh Maura.
‘Siapa yang tau, tapi ingat pesan ku. Kau tidak berhadapan dengan orang lemah, salah jalan nyawa mu yang akan melayang. Kau tau bukan, Rhadika selalu mememgang kata-katanya. Seinci saja kau menggores tubuh wanitanya, maka seinci pula kulitmu akan terpisah dari tulang mu. Sebagai orang yang berpengalaman aku sudah menasehati mu,” jelas Maura.
“Cih, kau tidak perlu menasehati ku. Aku yang lebih mengenal Rhadika di bandingkan dengan mu.”
“Ya, benar tapi itu dulu, kemarin dan sekarang sudah berbeda Lili. Baiklah, aku akan keluar dari ruangan ini, masa sewanya sudah habis. Aku tidak ingin membuang-buang waktu di tempat mahal dan mewah ini. Ingat, kirimkan bayaran ku,’ seru Maura kemudian mematikan sambungan teleponnya dan segera beranjak dari tempat itu.
**
Setelah keluar dari ruangan di mana Maura disana, Clasy yang langsung mendapatkan peringatan dari sang nyonya, hanya bisa menurut saja. Dia juga tidak ingin ikut campur dengan persoalan itu, namun jauh di lubuk hatinya ingin membantu Wanita baik hati di sampingnya.
Kemudian mereka pergi ke arah tempat berbelanja. Bagaimanapun nantinya, dia harus bertahan untuk tetap tidak terlihat lemah. Dia bukan bodoh sama seprti dulu.
“Kau pikir hanya dengan beberapa kalimat mu itu aku akan mudur?’ batin Ros sambil memilih baju-baju Wanita yang sama sekali tidak dibutuhkannya.
“Aku bukan Rosaline yang dulu yang selalu pasrah. Aku bisa berjuang untuk diriku sendiri, yah aku tau aku bisa berjuang,’ batin Ros. Clasy yang melihat itu merasa tidak tega, sekilas dia melihat kearah samping dan melihat Maura juga sedang berbelanja.
“Nyonya, saya ingin ke toilet. Aapakah saya bisa ijin sebentar?” tanya Clasy.
“Tentu saja, hati-hati,” jawab Ros. Clasy menunduk kea rah Ros.
“Aku menitip nyonya sebentar,” seru Clasy mengahadap ke arah Odion kemudian dia bergegas kearah wanita sasarannya.
Setelah sampai di tempat belanja Maura, tanpa basa-basi, Wanita itu dengan kasar menyeret tangan Maura kearah kamar mandi, dimana tidak ada orang disana. Dengan gerakan cepat Clasy langsung mengangkat kakai kananya dan mengarahkan kaki itu ke arah leher Mauara.
Clasy menggunakan pakaian formal sama seperti Odion karena dia juga berperan sebagai pengawal pribadi sang nyonya. Gerakannya semakin bebas saat ini
Seetelah Clasy sudah merasa puas melihat wajah kesakitan Maura, dia melepaskan kakinya. ‘Bagaiman rasanya, apakah enak?” sindir Clasy dengan tenang. “Bren*gsek, aku tidak ada masalah dengan mu sialan,” umpat Maura.
“Itu pelajaran untuk mu karena sudah berani mengganggu nyonya ku. Aku heran, kenapa wanita seperti mu sangat bodoh. Sudah di tendang dan di jadikan sampah, tapi kau tetap tidak tau diri,” ejek Clasy.
“Cih, penghianat seperti mu tidak cocok mejadi seorang penasehat. Cih, bagaimana jika Rhadika mengetahui bahwa ada seorang penghianat berkeliaran di sisinya. Aku rasa kau akan menjadi santapan binatang peliharaannya nanti.”
Kedua Wanita itu sama-sama memberikan pendapat tentang lawan main mereka sendiri. “Atau jika kau takut, aku bisa menjadikan mu seorang ja lang nantinya di salah satu bar milik temanku. Apa kau bersedia?”
PLAK
“Ini balasan untuk mu tempo hari karena ulah mu akan tertembak.”
PLAK
‘Ini untuk mu karena dengan beraninya mengatakan aku sebagai profesi mu.”
Maura ditampar dua kali secara berturut-turut. Wanita itu tampak tidak berdaya karena yang dilawannya bukan wanita lemah seperti dirinya yang tidak bisa bela diri sama sekali.
“Ini peringatan untuk mu, jangan pernah lagi mengusik Wanita yang ku hormati. Dan satu lagi, jangan pernah mengusik atau mengganggu ke hidupan ku. Urus saja hidup sampah mu itu, bye,” seru Clasy dengan pedas dengan no filter.
Maura merasakan wajahnya sangat panas. “Wanita sialan, ingat aku akan membalasmu!” teriak Mauara berhasil membuat kegaduhan di tempat itu.
Clasy yang sudah berada di belakang nyonyanya, wajahnya tampak memerah. “Clasy, kenapa wajah mu memerah, apa kau baru saja sedang marah? Kepada siapa?” tanya Ros.
“Saya baik-baik saja Nyonya, tadi tidak sengaja ada orang yang berkelahi dan saya melerai mereka. Karena iu, wajah saya memerah karena membantu melerai mereka tadi,” jawab Clasy berbohong.
“Baiklah, kita pulang. Aku ingin tidur sebentar sebelum acara pertandingan Levi.” Setelah dari mall, rombongan nyonya Browns langsung menuju mansion. Sesampainya di depan pintu mansion, nampak Odion bergerak cepat dari tempat kemudi dan membukakan pintu untuk nyonya mereka.
“Odion, jika suamiku menghubungi mu, beri tahu aku sedang tidur. Aku sangat Lelah hari ini.”. Odion mengangguk mendengarkan perintah sang nyonya sedangkan Clasy hanya daim tidak buka suara. “Semoga nyonya tidak terpengaruh dengan perkataan wanita licik itu,” batin Clasy.
Hingga pukul tujuh malam Ros tampak baru keluar dari kamar pribadi mereka. Dia sebelumnya sudah memikirkan matang-matang masalah ke depannya, bertahan. Itulah pilihan Rosaline. Sanggup atau tidaknya, dia akan melihat itu nanti saja. Dia juga tidak terlalu percaya dengan perkataan Maura, dia tau betul sifat dari Wanita yang selalu ingin menjatuhkan dirinya.
Saat ini Ros sudah Kembali dengan wajah cerianya. Dai tidak terlalu pusing memikirkan hari esok, dai juga tidak ambil pusing dengan perkataan Maura. Yang terpenting sekarang adalah pertandingan adik iparnya.
“Nyonya, anda terlambat. Pertandingannya sudah di mulai sejak lima belas menit yang lalu,” seru Clasy yang sudah berada di depan TV dimana disana ada dua orang yang sedang adu otot.
Ros melihat sebentar ke arah TV. “Tidak ada pelindung wajah," tanyanya lagi ketika melihat ke arah TV. Tepat saat itu juga wajah Levi terkena pukulan dan Ros langsung menutup mata.
Dia juga mendengarkan para reporter mengatakan bahwa di babak ini adik iparnya akan kalah.
"Odion kita ke sana," seru Ros dengan tegas.
Jangan lupa like nya 😊👍👍
Horas👐