Mafia Boss Little Wife

Mafia Boss Little Wife
Part 60



Dika akhirnya selesai menggunakan setelannya dan keluar dari ruang walk in closet. Dia melihat istrinya sedang memegang ponselnya.


"Baby, jangan memegang ponselku," perintah Dika sambil merapikan rambutnya. Yang diperintah hanya mendelik tajam ke arah suaminya.


"Why?" tanya Dika karena melihat tatapan meneliti dan curiga istrinya. "Apa kau punya selingkuhan sehingga kau melarang ku memainkan ponsel mu?" tanya Ros dengan kesal berdiri di ranjang.


"Selingkuh, come on Baby. Hanya kamu dihidupku, tidak ada yang lain. Kamu sudah melihat bebrapa foto grafik dan data perusahaan disana bukan?" jawab Dika mendekat kearah istrinya.


"Benarkah?" tatapan menginterogasi Ros belum reda. Dika hanya mengangguk saja.


Ros tersenyum dan melompat ke arah pelukan sang suami. "Aku sudah memesan sesuatu kepada paman Vill. Let's go home," ucap Ros.


Dika tersenyum melihat tingkah istrinya. "Tapi Sayang aku melihat sebuah nomor mengirim foto anak kecil," seru Ros sambil membuka pesan diponsel suaminya. Ros menunjukkan foto itu pada sang suami.


DEG


Dika kaget bukan main. Ros bisa melihat perubahan raut wajah suaminya. "Ada apa," batin Ros.


"Sayang, apa kau mengenalnya?" tanya Ros. "Tidak Baby, aku tidak mengenalnya," jawab Dika. "Tapi kenapa wajahmu seperti kaget melihat foto wanita ini?"


"Tidak. Aku hanya heran kenapa orang itu bisa mengirim pesan pada nomor ku? Itu adalah nomor pribadi ku, tapi kenapa bisa ada pada orang itu. Aku hanya heran saja" jelas Dika panjang lebar.


Ros hanya mengangguk pertanda percaya. Memang benar apa yang dikatakan suaminya. Sebelum hubungan dia dan suaminya baik-baik saja, dia pernah diberitahu oleh paman Vill bahwa hanya orang tertentu saja yang memiliki nomor ponsel suaminya.


"Atau mungkin dia ingin melamar pekerjaan ke perusahaan mu. Terus dia melakukan hack atau semacamnya untuk langsung berkomunikasi denganmu." Ros mengatakan beberapa kemungkinan yang mungkin di lakukan oleh gadis itu.


Dika menatap heran pada istrinya. "Apa kau benar istriku? Kenapa kau tiba-tiba menjadi seorang detiktif yang sama sekali tidak berbakat?" tanya Dika disertai oleh bumbu ejekan.


"Ishh, aku kan hanya melakukan seperti yang kau katakan. Harus bisa memprediksi kemungkinan," jawab Ros kesal.


"Berikan ponselku, aku akan menelepon Max."


Dika menelepon Max namun tidak tersambung. "Tidak biasanya Max seperti ini," batin Dika.


Terpaksa Dika keluar dari hotel itu tanpa Max. Dika sendiri yang membawa mobil mereka untuk pulang ke mansion.


Dalam perjalanan Dika memikirkan tentang foto tadi. "Kenapa kau mengirim foto itu padaku," batin Dika. Dia melihat istrinya yang berada di sebelah nya sedang fokus bermain ponsel.


"Semoga tidak berubah," batin Dika kembali fokus ke jalanan. Dia berharap kebahagiaan yang didapatkan sekarang ini tidak akan berubah karena masa lalunya bersama wanita itu.


Bukannya Dika tidak ingin menjelaskan itu semua pada istrinya, tapi dia ingin waktu yang lebih tepat. Menunggu cinta diantara mereka sudah kuat dan tidak akan patah hanya karena masalah mas lalu.


Oleh karena itu Dika berharap istrinya bisa cepat hamil. Bagaimana pun jika ada janin di rahim sang istri, hubungan mereka akan lebih erat meskipun ada masalah yang menghampiri mereka.


Namun hingga saat ini belum ada tanda-tanda sang istri mengandung benihnya. Dia sangat berharap secepatnya akan memiliki anak sebagai penguat hubungan mereka.


"Baby, apa kamu ingin kita melakukan program hamil? Atau kita bisa mencoba untuk memeriksa rahimmu? Maksudku agar kita segera memiliki anak," ucap Dika dengan pelan agar istri nya tidak merasa tersinggung.


Mendengar itu Ros menatap dalam suaminya. "Apa kau sudah siap memiliki anak?" tanya Ros.


"Hmmm, aku tidak sabar menunggu nya," jawab Dika. "Aku juga ingin memiliki anak darimu. Tapi, aku tau ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku," batin Ros.


"Aku juga ingin memiliki anak. Tapi sampai sekarang aku belum hamil," ucap Ros menunduk.


"Tenang Baby, kita kan berusaha lebih kuat lagi. Tapi sebelumnya kita bisa konsultasi dulu pada dokter."


Ros mengangguk saja mendengar perkataan suaminya. Dia juga ingin segera memiliki anak dan bahagia bersama suaminya, tapi entah mengapa hati Ros belum yakin saat ini.


"Memangnya kamu ingin memiliki berapa anak?' tanya Ros penasaran akan jawaban suaminya.


"Ahem," Dika berdehem sebentar. "Sepuluh," jawabnya dengan santai. Ros menutup mulutnya tak percaya. "Kamu pikir aku ini mesin pembuat anak? Aku hanya ingin hamil dua kali saja, kalo lebih inti urusan nanti." jawab Ros tak terima hamil sebanyak sepuluh kali.


"Bagaimana jika aku terus bersatu bersamamu di atas ranjang. Dan terus menggempur mu hingga kau tak berdaya setiap harinya. Terus tanpa sengaja ada janin diperut mu," tanya Dika di sela-sela otak mesumnya.


"Dimana Max, tumben tidak bersama kita. Biasanya dia akan selalu ada dimana pun kamu berada," tanya Ros mengalihkan pembicaraan.


"Aku juga tidak tau. Tidak biasanya Max seperti ini," jawab Dika. Ros hanya manggut-manggut saja.


Dimansion Browns, Levi sudah bersiap-siap di depan pintu untuk menyambut Kakak iparnya. Masih dalam kurun waktu yang sangat singkat, Levi sudah sangat rindu pada kakak iparnya.


Dia juga ingin melihat keadaan kakak iparnya, siapapun tau jika wanita ceria dan lembut pada umumnya akan merasa trauma jika merasakan yang pelecehan.


Dia akan menjaga dan merawat kakak ipar kecil nya itu. Saat sudah melihat gerbang pintu dibuka dan menampakkan mobil kakak nya, Dika langsung turun dan dari rumah dan menuju mobil yang sedang melaju ke arahnya.


"Apa yang kau lakukan," seru Dika kesal melihat tingkah berlebihan adik tak sedarahnya itu.


"Kakak ipar buka pintunya, cepat!' Melihat itu Dika mulai muak melihat tingkah ipar itu. Dia meninggal kan dua orang yang akan memulai drama itu. Dipastikan drama itu nanti akan sangat panjang.


Ros membuka pintu mobil. "Kakak ipar, apa kau baik-baik saja?" Ros terlihat begitu pucat, bahkan bibirnya tidak berwarna sama sekali.


Wanita itu hampir tumbang ke lantai jika tidak langsung di tolong oleh Levi. "Aku... aku masih takut," ucap Ros memeluk Levi.


"Aku pulang saja ke Indonesia. Aku tidak mau disini lagi bersamamu," jawab Ros dengan wajah sedih di campur dengan wajah sok kesakitannya.


"Aku juga sudah minta persetujuan dari Rhadika bahwa kami akan cerai. Aku akan pulang ke Indonesia. Disini terlalu banyak yang menargetkan aku." Ros sengaja memanggil nama suaminya tanpa embel-embel seperti biasanya yaitu suamiku.


Levi yang mendengar itu membola matanya. Apa dia akan ditinggalkan sendiri dan akan seperti dulu lagi, menjadi orang bodoh yang tidak memiliki teman di mansion.


Levi mengangkat kakak iparnya kedalam dekapan nya. Sekarang tujuan nya adalah memarahi kakak nya yang tidak gentleman itu.


Ros dibawa dalam keadaan lemas tak berdaya. Dia seperti seseorang yang benar-benar tidak memiliki keinginan untuk bertahan hidup lagi.


Sesampainya di dalam mansion, Ros masih setia dalam dekapan Levi. "Kak, kenapa kakak memutuskan hal yang tidak baik seperti ini. Jangan mengambil keputusan dalam keadaan emosi dan hati yang tidak tenang," ujar Levi panjang lebar.


"Turun kan aku bocah besar, makanan kesukaan ku," seru Ros turun dengan cara paksa dari delapan adik iparnya.


Sesampainya di meja makan, Ros mengambil tissu dan menjauh sedikit dari meja makan. Menghapus semua bedak putih seperti hantu di wajahnya.


Ros tidak tahan lagi mencium aroma makanan kesukaannya. Makanan khas suku Batak asal negaranya.


Naniarsik, makanan khas Batak yang merupakan penghuni Danau Toba, yaitu Danau terbesar di dunia, terletak di Sumatera Utara provinsi Medan.


Awalnya paman Levi memberi tahukan bahwa bumbu dari makanan itu sangat sulit ditemukan, tapi ketika dicari ke beberapa penjual bahan makanan pokok, ada satu toko yang menyediakan bahan-bahan makanan asal Indonesia. Hingga makanan naniarsik itu jadi.


"Aish, Kakak ipar kau membodohi ku?"


"Terserah," jawab Ros dengan entengnya. Levi kesal dan menendang pelan kursi Kakak iparnya. "Dasar menyebalkan," seru Levi.


"Makanan aneh macam apa ini?" tanya Levi merasa aneh dengan bentuk dan nasi yang mirip seperti nasi goreng yang pernah dimakannya.



"Makan saja bocah besar!" perintah Ros. Giliran dengan pria disamping nya dengan telaten Ros melayani sang suaminya.


Siapa yang tidak iri melihat adegan seperti itu? Tapi jomblo seperti Levi memang terlihat abadi. "Apa memang harus pake tangan kakak ipar. Jorok," seru Levi.


"Asal kau tau saja Levi, di negara Indonesia. Most of people di Indonesia, kalau malam pasti pake tangan. Apalagi orang Batak, mana bisa menggunakan sendok dan pisau jika makan dengan seperti ini, mana puas. Jadi pake tangan saja."


Dika yang mendengar penjelasan sang istri hanya diam saja. Dia merasa aman karena sang istri sudah menyiapkan makanan nya. Dan selanjutnya dia disuapi dengan tangan mungil istri kecilnya.


"Cih, seperti anak kecil saja," seru Levi merasa jijik melihat aktivitas dua sejoli itu. "Iri bilang boss," jawab Ros dengan meledek Levi.


Levi akhirnya berusaha sendiri untuk bisa makan dengan menggunakan tangan. Menurut nya sangat jorok dan janggal. Tapi lama kelamaan menurut nya makan pakai tangan sangat unik. Dan lebih enaknya bisa makan sesuai porsi isi tangan kita.


Menurut Levi benar, jika makan menggunakan sendok, bagaimana cara memakan ikan yang memiliki duri yang sangat tajam ini. Bahkan durinya berbentuk huruf y. Jika tidak pakai tangan bisa-bisa setiap suapan durinya akan menyangkut di kerongkongan.


Saat orang-orang di meja makan menikmati sarapannya, tiba-tiba ada suara tapak kaki yang mendekat sangat cepat. Ternyata adalah paman Vill sambil memegang sebuah ponsel.


"Ada apa?" tanya Dika datar karena makan romantis bertemakan Batak nese food itu terganggu.


"Mohon maaf Tuan, tapi saya diminta oleh tuan Max untuk menyampaikan ini pada tuan Levi. Mendengar namanya disebut Levi mengernyitkan dahinya.


"Kenapa dengan ku?"


"Ini Tuan, nama anda trending di media sosial," seru paman Vill menyodorkan ponsel yang berada di tangannya.


"Apa kau membuat ulah lagi?" Dika mulai tak bersahabat wajahnya. Lagi-lagi si bocah besar ini selalu membuat sesuatu viral di media sosial dan menjadi trending topik ketika adiknya itu membuat sensasi di media sosial.


Levi melihat isi dari ponsel itu, tatapan tajam tiba-tiba dilayangkan pada kakak iparnya.


Jangan lupa like nya๐Ÿ˜Š๐Ÿ‘๐Ÿ‘


Horas๐Ÿ‘