Mafia Boss Little Wife

Mafia Boss Little Wife
Part 77



Darren yang tadinya sedang bersenang-senang kini harus berhenti ketika mendengar suara gedoran di pintu. Dengan kesal Darren menggunakan pakaian lengkap dan memakai jas putihnya.


"Ada apa," serunya dengan kesal dan menatap tajam pria yang menggunakan setelan serba hitam di depannya.


"Tuan, nyonya pingsan?" seru pengawal itu.


"Apa tadi dia sudah sempat sadar?" tanya Darren sembari melihat asisten perawatnya ke dalam ruangannya.


"Benar Tuan, tapi setelah itu nyonya langsung pingsan." Pria itu tidak menjelaskan detail kejadiannya.


"Bawa semua peralatan ke ruangan VVIP utama," seru Darren ke pada perawatnya dan segera bergegas ke ruangan Ros.


Terlihat disana Levi menunduk dengan kedua tangannya disatukan dan menumpu di dahinya.


"Apa yang terjadi?" tanya Darren sambil membuka mata Ros dan mengamati bola mata wanita itu. Namun tidak ada jawaban yang didapatkan atas pertanyaannya.


Darren menghela napas melihat ke arah wanita yang sedang terbaring di ranjang.


"Ambilkan stok darah dan pasang kembali kantong darahnya," perintah Darren ke pada perawatnya. Kedua orang beda jenis kelamin dan beda profesi itu berlaku profesional.


Itulah sifat Darren, penggila bawah pusar tapi tidak pernah ingin berkomitme.


Kemudian pria berjas putih itu berjalan ke arah Levi yang sedang duduk di sofa.


"Apa yang terjadi?" tanya Darren kembali. Levi menghela napas dan menceritakan detail kejadian Kakak iparnya yang pingsan hingga kejadian yang menimpa kakaknya di sana.


"Apa kau akan pergi dan mencari kakak mu?"


"Siapa yang akan menjaga Kakak ipar. Aku tau Kakak masih hidup, tidak semudah itu dia akan mati. Hanya karena bom dia tidak akan meninggal," jawab Levi.


"Benar apa yang kau katakan. Tapi, bagaimana dengan kakak ipar. Bagiman jika dia sadar dan bertanya kembali?" tanya Darren.


"Aku juga bingung, Kakak juga tidak ada kabar bahkan hanya klu pun tidak ada sama sekali," Levi mengusap rambutnya kasar.


Sebenarnya bukan Dika yang paling di khwatirkan oleh Levi, karena dia tau kakaknya itu pasti hidup dan bisa survive di luaran sana. Hanya menunggu waktu saja untuk kembali melihat wajahnya, berbeda dengan kakak iparnya yang masih lemah dan selalu khwatir berlebihan.


Darren juga terlihat memijat pelipisnya. Dia teringat sesuatu, "bagaimana dengan pertandingan MMA mu? Apakah tetap berjalan atau kau mengundurnya?" tanya Darren.


"Max sudah mengaturnya kemaren. Katanya dimundurkan dan menunggu persetujuan ku," jawab Levi.


"Baiklah." Darren juga kepikiran dengan pertandingan itu, biar bagaimanapun nama klan Black Sky milik sahabatnya itu dipertaruhkan namanya.


"Jadi bagaimana? Apa salah satu dari kita akan pergi ke sana untuk mencari jejak Rhadika?" tanya Darren.


Levi kembali mengusap wajahnya. "Jika kau pergi, siapa yang akan merawat kakak ipar? Jika aku pergi siapa yang akan memimpin markas dan perusahaan?"


Hal ini memang sangat sulit diputuskan karena nyawa Ros, perusahaan, markas. Diantara itu semua tidak ada yang boleh dipilih, semuanya penting dan sangat penting.


Siapa yang akan memegang kendali atas itu semua jika salah satu dari mereka pergi?


Darren hanya mengerti tentang dunia kedokteran, sedangkan Levi hanya mengerti tentang racun tapi tidak dengan mengobati orang-orang.


"Odion, bagaimana dengan dia?" tanya Darren tiba-tiba. "Benar, bagaimana aku lupa dengan dia?" Levi langsung mengambil ponsel dan menghubungi Odion.


"Halo Tuan," jawab Odion disana. Nafasnya terdengar seperti orang yang sedang kelelahan. Levi mengernyitkan dahinya.


"Dimana kau?" tanya Levi. Dia sudah berpikir hal macam-macam mengingat sikap Darren juga sering ngos-ngosan ketika di dalam ruangannya.


"Maaf Tuan, saya sedang berada di gunung tempat kejadian Tuan terkena bom," jawab Odion. Levi yang mendengar itu terkesan salut dengan sikap Odion yang selalu gerak cepat.


"Untuk saat ini belum Tuan, tapi saya akan berusaha semaksimal mungkin," jawab Odion di seberang sana.


"Informasi sekecil apapun beritahu padaku!" "Baik Tuan." Kemudian Levi membuka ponselnya untuk melihat apakah ada berita tentang hilangnya pemegang kendali AX Company dan asistennya.


Dan benar saja berita itu sedang ternding di beberapa paltform media sosial. Bahkan sudah ada bagian negara lain yang menyoroti nya.


"Darren, periksa saham perusahaan, apakah masih tetap bertahan di posisi? Aku akan membersihkan dulu berita sialan ini."


Kedua orang yang tidak pernah berkecimpung di dunia perusahaan itu harus memutar otaknya habis-habisan kali ini. Mereka adalah orang yang harus bertanggungjawab atas perusahaan kali ini.


"Levi, pasar saham perusahaan terjun bebas, bahkan ada pemegang saham yang ingin menjualnya dengan harga murah." Dengan otak jenius entah dari mana Darren bisa menguasai dalam sejenak perkembangan dan penurunan saham.


"Sial," Levi mengumpat. Berita itu juga belum reda. Sepertinya berita ini juga bukan berasal dari agensi periklanan, ada orang yang sengaja menyebarkan ini dan orang itu adalah seorang hacker yang handal," seru Levi sambil mengetik dengan cepat.


"Berikan aku waktu lima belas menit, pikirkan juga solusinya," lanjut Levi. Darren mengangguk dan berusaha memikirkan jalan keluar dari permasalahan ini.


Namun perhatian Darren dialihkan oleh suara tangan Darren yang dengan lentiknya mengutak atik tombol laptop yang berada didepannya. Kepala Darren yang sudah pusing memikirkan masalah hari ini semakin pusing melihat kelincahan tangan dan angka-angka yang dimasukkan oleh Darren.


"Semoga Felice tidak melihat berita ini," batin Levi.


"Clear," seru Levi sambil merilekskan kedua tangannya. "Bagaimana, apa kau sudah mendapatkan ide?" tanya Levi menatap Darren.


"Ahem, sudah," jawab Darren. Levi bersiap mendengarnya. "Aku pikir bagaimana jika kita menculik para pemegang saham dan mengancam mereka untuk tidak menjual saham mereka?" Itulah jalan keluar yang dipikirkan oleh pria berjas putih itu.


Setidaknya dia mempunyai ide selain bermain dengan pisau bedahnya bukan?


"Terlalu mencolok," jawab Levi. "Berikan perintah pada seluruh pemegang saham perusahaan untuk berkumpul hari ini di ruang rapat perusahaan. Aku sendiri yang akan menangani mereka satu persatu," perintah Levi dan kembali fokus pada laptopnya.


Darren tidak bisa menolak perintah Levi, meskipun anak itu lebih muda tapi Darren tidak boleh membawa-bawa umur sekarang. Dia tau juga Levi sedang bekerja untuk menuntaskan masalah ini.


Darren bergerak keluar dan segera melakukan perintah Levi. Saat pria muda itu sedang fokus dengan aktivitasnya, sebuah panggilan tiba-tiba masuk ke dalam ponselnya.


"Halo, to the point," jawab Levi datar.


"Halo Tuan. Saya melihat berita bahwa Tuan Rhadika menghilang Tuan. Apakah itu benar?" tanya pria di seberang sana.


"Benar, apa Felice sudah mengetahuinya?" tanya Levi.


"Tidak Tuan, belum sempat. Saya melihat berita itu tiga menit yang lalu dan sudah menghilang sekarang."


"Bagus. Apa Feli baik-baik saja Vin?"


"Nona baik-baik saja Tuan. Tidak hanya dipantau oleh saya, anggota dari Tuan Zevano juga ikut mengawasi nona dari jarak jauh."


"Baiklah," jawab Levi. "Satu lagi Tuan, apakah Nyonya baik-baik saja? Mengingat tuan Rhadika sedang menghilang."


"Tidak, kakak ipar juga sedang tidak sadarkan diri. Tapi tidak perlu kau beritahu pada Felice!"


"Baik Tuan." Percakapan itu akhirnya berakhir. Sebenarnya Melvin ingin pulang ke Spanyol untuk membantu Levi, tapi dia juga sedang memegang tanggung jawab besar, jadi dia tidak punya pilihan lain.


Levi kembali fokus pada laptopnya. Dia sekarang sedang berusaha untuk kembali menaikkan saham perusahaan yang sedang terjun bebas. Dan benar saja dalam waktu satu jam saham perusahaan kembali normal.


"Lumayan," seru Levi menyelesaikan pekerjaannya. Dia merasa bahwa dia juga sebenarnya cocok menjadi miliarder perusahaan tapi ini bukan tipenya.


Levi berdiri dan mendekat ke arah kakak iparnya. "Kakak ipar, aku pergi sebentar. Kerajaan kak Dika sedang di incar oleh para anjing yang sebentar lagi tidak akan bisa menggonggong. Kakak akan ditemani oleh temanmu, okay," ucap Dika menyalim kakak tangan kakak iparnya.