Love Me Please, L

Love Me Please, L
Tangis Cellin dan Aurel



"Milka kamu selalu beruntung selangkah diatas ku, sekarang kasih sayang mamaku pun kamu rebut yang tidak pernah sama sekali dia berikan dan tunjukkan kepada ku"


Aurel mengusap air mata perlahan sambil mengepalkan tangannya geram


Kedua sahabatnya saling pandang Azka dan Anye, heran menatap ke arah Aurel, lalu mereka berdua pun mengikuti arah pandangan mata Aurel


"Oooo pantauan kamu jengkel, ada dia toh" ucap Azka ikutan jengkel


"Sudah- sudah ngapain juga kita mikirin anak itu, mending kita lanjutkan makannya" ucap Anye kembali menyuap makanan


"Ngak aku udah kenyang" jawab Aurel melipat tangannya ke dada


"Ya aku juga" ucap Azka ikutan


"Kok jadi gini sih, ya udah aku aja yang ngabisin makanan kalian" ucap Anye semangat


Setelah kepergian Cellin yang diikuti Milka dan Sasha, mereka nampak cipika-cipiki di depan pintu Restoran dan melangkah menuju mobil masing-masing.


"Kalian berdua tau nggak wanita yang barusan bersama si Milka brengxxxx itu" ucap Aurel kesal


"Tahulah... Sasha kan teman sekelas kita juga" ucap Anye polos


"Ih.. dasar negara anak, makanya jangan makan melulu isi ni otak. maksud Aurel tu Tante yang lagi bersama Milka tadi" Celetuk Azka


"Oooo begitu ya...,, aku nggak kenal tuch. emang kamu kenal Aurel" tanya Anye


"Ya dia ibu kandung ku, yang tidak pernah memberikan ku kasih sayang apalagi menemuiku..aku hanya tahu jika dia ibuku berdasarkan keterangan pengasuh ku dan fotonya yang terdapat di Apartemen ku" menunduk sedih sambil menghapus air matanya yang membanjir


"Aurel....aku tidak menyangka bahwa hidup mu lebih pahit dari yang aku pikir" mereka bertiga berpelukan seakan ingin memberikan kekuatan pada sahabatnya itu.


"Thanks ya" ucap Aurel tersenyum pada kedua nya, mereka pun meninggalkan Restoran


Cellin hari ini mendatangi Apartemen Niko, tempat yang dihuni Aurel bersama pengasuh setia nya Tuti. beberapa kali Cellin memencet password Apartemen itu, selalu tidak bisa karena Aurel telah mengganti nya. terpaksa dia memencet bel yang terdapat di sana


"Aku harus mengambil hati Aurel, berharap dia mau menerima dan memaafkan ku, bagaimana pun aku harus menebus kesalahan ku. dan mulai memperlakukan nya dengan baik, seperti halnya Alexa memperlakukan Putri ku selama ini"


"Nyonya Cellin"


"Ya.... ini memang aku Tini" membalas ucapan Tini yang terlihat masih kaget dan tidak percaya melihat kedatangannya.


Cellin melangkah memasuki apartemen, mengedarkan pandangannya kesekeliling ruang, nampak sudah jauh berubah mulai dari tatanan perabotannya hingga sofa yang yang sudah diganti.


"Bagus sekali terlihat lebih hidup dan indah" gumam Cellin


"Ya Nyonya semua ini, Nona Aurel yang mendekor dan menyusun, agar dia merasa nyaman tinggal di sini"


Cellin berjalan menatap foto Aurel, dan tersenyum


"Ternyata dia tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik" tersenyum senang


"Iya Nyonya, tapi Nona Aurel kesepian karena....ku..kurang kasih sayang, dan tidak ada orang tuanya disini" Tuti segera menutup mulutnya menyadari posisi nya disini


"Maaf atas kekencangan saya Nyonya"


Cellin merasa nyeri yang teramat menyesali perbuatan masa lalunya, tak terasa air mata nya tumpah, membanjiri kedua pipinya.


"Kamu tidak perlu minta maaf Tuty, aku memang salah...aku tidak pantas menjadi seorang wanita dan dipanggil ibu. kesalahan ku terlalu banyak, hu...hu...Tuty bantu aku membujuk Aurel agar mau menerimaku" kembali menangis


"Tidak.... tidak aku tidak akan menerima mu sebagai ibuku. pergi dari sini...!!! aku benci...benci....benci " terdengar teriakan Aurel yang menangis mengagetkan kedua wanita itu.


Aurel berlari menuju kamar nya dan membanting kasar saat Cellin mengejar nya


"Maafkan ibu nak....ibu janji akan berubah dan menjadi ibu yang baik untuk mu"


"Tidak... tidak... kalian jahat" pekik Aurel disela tangisnya di balik pintu


"Sayang...tolong dengar Mama Nak, mama terpaksa meninggalkan mu...suatu saat secara perlahan mama akan menjelaskan padamu nak alasan yang sesungguhnya nya. apapun itu kesalahan Mama janji akan menembus nya, apapun keinginan mu Mama turuti nak... sekalian bersimpuh memohon maaf mu"


Tuti juga tak kuasa menahan tangis melihat perdebatan ibu dan anak yang sudah lama terpisah itu.