
Lee memperhatikan wajah cantik Alexa yang tersenyum sambil tertawa senang melihat ke luar jendela. refleks tangan Lee merapikan rambut panjang Alexa yang tergerai dan menyelipkan nya dibawah telinga.
Alexa membalikkan badan, tersenyum kearah Lee sambil merapatkan tubuh mereka karena udara yang dingin. tangan mereka saling menggenggam erat membagi kehangatan.
"Lee masih lama ya" tanya Alexa dan merangkul lengan Lee
"Kenapa menyesal ya ?" goda Lee kerena dia yakin Alexa sangat menyukai suasana dan tempat ini.
"Bukan begitu, tapi..." menutup mulutnya sambil menguap
Lee paham merentangkan tangannya dan membiarkan Alexa membenamkan wajahnya di dada bidang nya, sambil menyangga dengan tangan kepala Alexa "tidurlah didekapanku Tuan Putri" yang dibalas senyuman terindah Alexa.
Mereka berdua begitu dimabuk asmara sehingga mengabaikan tatapan penumpang yang menggelengkan kepalanya, dan ada juga yang tersenyum sendiri seperti terhanyut dengan suasana romantis ala mereka berdua.
Lee menghubungi salah satu kerabat ibunya, Paman eko yang selama ini mengurus dan merawat Rumah kecil peninggalan orang tua nya. Lee meminta nya merapikan Rumah dan menyediakan makanan. semula Lee berencana melakukan nya sendiri namun mengingat sedang bersama Alexa. Lee membatalkan niatnya itu.
"Siap Lee paman Eko mu ini akan melaksanakan perintah dengan segera" ucapnya semangat.
Mengingat Lee sering membantu dan mengiriminya uang selama ini, meskipun dengan jumlah yang tidak seberapa namun cukup membantu kebutuhan nya, yang hidup sendiri (bujang lapuk)
"Terima kasih Paman" Lee menutup panggilan mereka
Kereta api yang mereka tumpangi berhenti di stasiun terakhir, perlahan Lee membangun kan Alexa yang masih enggan untuk membuka matanya.
"Sayang kita sudah sampai ya" mengucek mata mengedarkan pandangannya keseliling kereta yang sudah mulai sepi.
"Sudah ayok" Lee melangkah duluan sambil menenteng kedua tas ransel punya dia dan Alexa, sementara Alexa mengekor di belakang Lee sambil memegang ujung kemeja Lee. takut terlepas karena mata Alexa masih merem melek untuk dibuka.
Mereka menaiki sebuah angkot kecil menuju ke Rumah Lee, serasa desa itu memang terlihat sepi karena banyak diantara mereka lebih memilih merantau dan menetapkan di kota, dari pada membangun desa yang indah itu.
Angkot yang mereka tumpangi berhenti di sebuah persimpangan, Lee mengajak Alexa turun dan menempuh jalan kecil menuju Rumah Lee yang sudah terlihat.
"Selamat datang di desaku yang indah, tempat kelahiran ku" ucap Lee senang karena dapat menghirup suasana ini lagi.
Masyarakat yang ramah selalu menyapa dengan bahasa daerah yang tidak dimengerti Alexa, namun dia tetap menyungging kan senyum ramah untuk menyapa mereka.
"Duh Lee kamu sudah besar dan tampan sekali ya sekarang" ucap beberapa orang yang menyalami mereka
"Istri mu juga sangat cantik, siapa nama mu nak ? ucap salah seorang ibu-ibu yang tidak menggunakan bahasa daerah sehingga Alexa mengerti.
"Alexa Bu" membalas salam mereka
"Kenapa baru sekarang pulang kampung nya Lee ?
"Ya Bi karena terlalu sibuk mengadu nasib di kota, sekarang ada kesempatan untuk pulang sekalian menengok makam kedua orang tuaku" ucap Lee seperti menahan kesedihan nya.
"Sekalian memperkenalkan Istrimu, dan meminta restu mereka ya Lee" ucap ibu RT
"Ya" jawab Alexa spontan
Lee yang mendengar memandang Alexa sekilas, nampak gadis itu tersenyum menang. dan melanjutkan perjalanan mereka kembali.
"Sudah sampai" Lee mengajak Alexa masuk, nampak mang Eko masih sibuk menyiapkan makanan untuk mereka berdua.
"Abdule Jailani keponakan ku sudah sampai" ucap Paman lebai berjalan ke arah mereka.
"Ya Paman" Lee merengkuh bahu pamannya senang karena sudah lama tidak bertemu.
"Lee nanti Paman ikut kamu ya ke kota, biar Paman dapat istri cantik juga" berkata penuh percaya diri
"Alexa ini Paman ku" ucap Lee
"Alexa" ucap Alexa menunduk memberi salam.