
Lee tiba-tiba bermimpi dengan kedua orang tua nya, timbul rasa rindu yang mendalam karena sudah lama sekali Lee meninggalkan kampung halaman nya, serta Rumah kecil sederhana itu.
"Aku harus pulang kampung untuk mengunjungi makam Ayah dan ibu sekarang, mimpi ku ini mungkin pertanda bahwa mereka merindukan ku, serta membersihkan Rumah kecil kami. Lee mengemasi beberapa pakaian nya.
Lee mengambil ponsel yang di atas nakas yang terus berdering, tertera nama "Nona Alexa ku "di layar ponselnya.
"Hallo ada Alexa ada apa ? Lee berbicara seperti tergesa-gesa Karena sedang berkemas.
"Lee aku kesepian di rumah besar ini, aku main ke toko bunga mu ya , please" bujuk Alexa
"Emang Kakek belum pulang ? lagian kamu punya banyak teman, ada Rian juga Alexa" ucap Lee sambil menarik resleting ransel.
"Kakek balik tiga hari lagi lee, lagian kamu lupa ya bahwa kita pacaran semenjak malam itu" Alexa meninggi k suaranya kesal, karena Lee seperti hilang ingatan dan melupakan ucapnya malam itu.
"Maaf kan aku Alexa" ucap Lee sambil menggigit bibir menahan perasaan.
Semenjak malam itu Lee semakin tidak bisa menahan perasaan Ingin memiliki Alexa seutuhnya, namun Lee sadar mereka tidak akan pernah bisa bersama, karena Lee yakin Kakek tidak akan memberikan restu, apalagi setelah mendengar rumor buruk mengenai Lee.
"Lee pokoknya kita harus Bertemu, titik" Alexa masih ngotot dengan pendiriannya
"Alexa aku mohon mengerti lah, lagian aku mau pulang kampung beberapa hari ini. aku harap setelah kembali nanti kamu sudah bahagia dengan Rian seperti dulu lagi, karena perasaan kita ini salah Alexa"
"Love me please Lee" Alexa berbicara lemah, putus asa mendengar penuturan Lee
Namun tidak ada jawaban dari Lee, tanpa pikir panjang Alexa nekat dengan mengambil beberapa pakaian nya, langsung menuju ketempat tinggal Lee Rumah Bi Uty.
"Bi Uty Lee mana ? Alexa dengan nafas ngos-ngosan sampai depan pintu, namun Lee sudah tidak nampak lagi
Tanpa pikir panjang lagi Alexa memerintahkan sopirnya untuk melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju stasiun, dari kejauhan nampak Lee turun dari motor yang di boncengin pak de.
"Pak Agus, jangan bilang-bilang Kakek ya tentang ini" benak Alexa sambil menyalip kan beberapa lembar Uang ke tangan sopir pribadi Kakek.
"Beres Nona" sambil tersenyum senang mencium lembaran uang kertas itu.
Alexa turun dari mobil sambil menyandang ransel, berlari ke arah Lee yang sedang mengantri tiket di antara desakan banyak orang.
"Lee tunggu" ucap Alexa
"Alexa" Lee mengerutkan keningnya tidak percaya
"Aku ikut kemanapun pacar jadi jadian ku ini pergi" sambil berdiri di depan Lee ikut mengantri.
Lee akhirnya pasrah dan membiarkan Alexa ikut menaiki kereta api kelas ekonomi. menunju desa kecil tempat kelahiran Lee, sepanjang perjalanan senyum kebahagiaan tidak lepas dari bibinya. berdiri di antara kepadatan penumpang tentu ini sesuatu yang sangat mustahil yang pernah Alexa alami, namun karena berada di samping Lee yang dengan setia memompang tubuhnya saat oleng karena desakan.
Saat kereta berhenti di salah satu stasiun utama, sebagian penumpang banyak yang turun, Lee dengan sigap menarik tangan Alexa untuk segera duduk sebelum penumpang berikut nya menduduki gabin itu. Alexa mengedarkan pandangannya ke luar kaca kereta, nampak pemandangan desa yang begitu indah penuh dengan kedamaian tanpa hiruk-pikuk kehidupan perkotaan. udara bersih yang terasa begitu adem dan sejuk.
Sawah yang menghijau dan para gembala sapi, yang dikelilingi dengan bukit - bukit yang menjulang tinggi, seperti deretan gunung di belakang nya.
"Lee ini begitu indah, aku suka sekali" tidak mengalihkan pandangan nya keluar jendela
"Ya Alexa jalan menuju kekampung ku memang indah, apalagi setelah kamu nanti sampai di desa ku, dengan para penduduk nya yang ramah serta masih memegang adat istiadat nya.